Menawar Arti Sebuah Persahabatan

October 21st, 2009 -- Posted in Titiw Inside | 30 Comments »

Di umur saya yang tidak dapat lagi dikatakan muda ini (Yaa.. Meski saya suka ngaku-ngaku masih ABG sama kapster di salon, atapun ngaku masih kuliah supaya dikasih diskon sama tukang ojek), saya  mulai rancu apa arti persahabatan itu. Makin menanjak usia kita, makin kabur pendar-pendar keemasan di sekeliling kata “SAHABAT” yang bersinar terang di kala kita kecil dan dipakaikan bedak secara semena-mena oleh Mamah, ataupun di saat bangku SMA ketika diospek bareng-bareng sama teman-teman yang nantinya akan kita panggil “sahabat”. Arti sahabat tidak secemerlang dulu. Tidak sekinclong dulu. Dan tidak membuat rasa bahagia kita melonjak-lonjak lagi seperti dulu.

Dulu, di saat kita dengan sombongnya menantang dunia dengan sahabat-sahabat kita, tak ada harga yang tertempel di jidat para sahabat. Kita tidak ragu untuk bersahabat dengan siapapun, karena persahabatan memang tidak untuk dijual. Not For Sale. Namun sekarang? Sahabat kita mulai satu persatu meninggalkan kita. Untuk kuliah di luar negeri, pindah rumah, dan yang jamak untuk orang2 di umur saya, ditinggalkan untuk menikah. Kita merasa tertinggal hingga akhirnya pacaran dengan ABG kuliahan dan minta kawin ketika ia bahkan belum selesai kuliah. Sahabat kita mulai tidak membalas sms kita dengan alasan sibuk meeting dengan klien yang membicarakan prospek batu bara di Kalimantan. Ada apa dengan batu bara..? Dulu waktu pelajaran Geografi, dia orang paling sucks dalam batu-batuan, dan sekarang dengan sok mau bicara tentang batu bara..? Sahabat kita mulai tidak bisa kongkow2 lucu lagi di hari Sabtu karena suaminya melarangnya pulang malam. “Siapa yang nanti menjaga si adek Mam..? Papa kan udah capek kerja, masa masih Papa juga yang begadang ngebersihin popoknya“? Itu adalah kalimat-kalimat yang kita baca dengan tingkat kekepoan cukup tinggi ketika melirik isi sms seorang sahabat yang sedang terlihat panik ketika kita baru 5 menit ketemu dengannya di mall paling hip di Ibukota.

Kalimat-kalimat seperti “People change” dan “Dia berubah, aku ngerasa jalan kita udah beda“, dengan liar ngebut dengan cepat di lintasan otak kita. Sebenarnya.. Siapa yang berubah..? Sahabat kita..? Atau kita..? Atau sudut pandangnya yang sekarang sudah berbeda..? Dulu cekakak dan cekikik kita berkumandang di loteng sambil mendengar lagu “Bermimpi” dari Base Jam dengan lypsinc murahan yang disempurnakan dengan sisir sebagai mic yang tidak kalah murahannya. Dan yang paling murahan, memang gaya kita waktu itu. Kita sama2 bermimpi untuk meraih apa yang kita inginkan di hadapan bintang dan bulan di malam itu. Well, pada jamannya, langit di Jakarta masih banyak bintang lho, tapi bulannya tetep 1 kok.

Sahabat kita bermimpi jadi guru, kita bermimpi jadi atlet basket. Sahabat kita bermimpi untuk menjadi pemain seppatu roda terkenal, kita bermimpi untuk jadi dokter bedah plastik kalau-kalau si sahabat luka dan harus dioperasi. Di rumah lain pada masa yang sama, ada sahabat-sahabat yang berjanji untuk menanam semacam time capsule yang akan mereka buka 20 tahun kemudian, di saat umur mereka 30. Namun tampaknya, tidak ada lagi yang bersemangat untuk mengumpulkan serpih2 mimpi dari kapsul yang masih belum digali itu. “20 th lagi aku udah jadi Profesor”; “Pas kapsul ini dibuka, aku mau masih tetep temenan sama kalian berlima”; “20 th lagi, aku udah jadi pelukis terkenal yang bisa bikin karikatur presiden dan dipanggil sampe luar negeri untuk ngelukis“, hanyalah penggalan kata-kata bisu yang mungkin hanya dapat menghibur satwa dalam tanah. Seperti puisi gemerlap bagi belatung-belatung dan tikus tanah dalam ruang lingkup hidupnya yang gulita.

Kalau bisa menawar, saya ingin kalau sahabat itu dapat dibeli ataupun dijual. Agar hal-hal di dunia bisa menjadi lebih mudah. Membelinya dengan mahal agar kita tidak menyia-nyiakannya, ataupun menjualnya sajalah daripada ia hanya kita simpan di etalase bernama “kumpulan sahabat”, yang mana mereka sendiri mungkin tidak pernah mempertimpangkan sedikitpun untuk menjadikan kita sahabat. *menghela napas* Sampai sekarang, saya masih punya orang-orang yang saya pertimbangkan sebagai sahabat. Meskipun sekali dua kali mereka membatalkan janji temu karena ini dan karena itu. Hal itu menjadi biasa di umur segini dengan aktifitas yang segitu.

Terakhir, pesan saya terhadap anak jaman sekarang yang moncong tangannya masih berani untuk dikepalkan ke langit dan masih bisa nyolot dengan dunia: Hey nak, ingatlah baik2 hari ini. Hari dimana kalian menorehkan tulisan “Friendship Forever” di meja kayu dalam kelas komputer. Ingatlah detik ini dimana tulisan “TheGals” kalian jahit di sweater yang kalian beli kodian untuk dipakai bersamaan. Dan jangan pernah lupakan “nama kamu & nama sahabat kamu” yang ditulis dengan huruf besar2, keriting dan berdempet di agenda yang kalian tukar tiap jam istirahat. Karena, saat itulah.. Saat itulah dimana arti persahabatan adalah fixed price, harga mati yang tidak dapat ditawar. Ingat. Tawa. Canda. Sekolah. Kelompok. Best Friend. Forever. Selamanya.

Once Upon a Time

Once Upon a Time

Popularity: 12% [?]

“TIK” Maka Waktupun Terhenti!

May 19th, 2009 -- Posted in Blab | 17 Comments »
.!.

Tulisan di bawah ini adalah tulisan teman saya IQBAL AIDAL yang biasa dipanggil IBHE. Sedikit saya tambah atau kurangi tanpa menghilangkan makna yang dikandung (makna bisa hamil?!). Ditaro di sini, karena tulisannya menyegarkan bagaikan melihat tukang cingcau di kejauhan ketika jam 2 siang di bulan Romadon. Here you go!

“APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN JIKA DAPAT MENGHENTIKAN WAKTU?

Suatu ketika, bulletin board di friendster –yang makin terpuruk- pernah menampilkan pertanyaan seperti diatas. Namun pilihan yang diberikan sangat-sangat terbatas! hanya tiga? Kurang banget kan? Apalagi untuk seorang penghayal seperti aku.

Ya sudah, akhirnya aku terpaksa membuat sendiri list-nya. Supaya aku tidak lupa, hey, siapa tahu teknologi masa depan -kalo ramalan kiamat 2012 tidak terjadi- dapat mengaplikasikan kemampuan yang MANTAB seperti ini di dalam kehidupan sehari-hari. Cukup dengan menjentikkan jari, “TIK” maka waktupun terhenti! Namun aku memberlakukan 2 aturan didalam kemampuan ini. Waktu hanya dapat berhenti atau melambat (ya, saya penggemar berat hi-speed camera). Tidak bisa diulang, tidak bisa fast forward apalagi lompat ke masa depan. Berhenti atau melambat. Itu aja.

Weleh, aku sendiri nggak tahu harus mulai dari mana. Susunan ini tidak harus berurutlah, sesuai kebutuhan aja. Yuk kita simak *dengan gaya Riyanni Djangkaru saat membawakan acara ‘Jejak Petualang’ yang fenomenal itu… i love u Riyanni.. cup! Loh?*

1. Time paused saat orang sedang bersin!
Haha.. ekspresi manusia saat bersin -for some reasons i can’t explain- menurutku “priceless”!!
Jarang ada fotografer yang professional atau yang kacangan-nan-minim-pengalaman-bisa menangkap momen ini. Saat mereka menunjukkan gelagat ingin bersin, waktu kuperlambat, lalu dengan menjentikkan jari, “TIK” maka waktupun terhenti! Nguknguk, sambil tertawa aku mengamati muka mereka yang mirip beruk. Setelah puas terpingkal aku akan abadikan dengan kamera dari Sony Erection, eh.. ericsson K550i milikku atau dengan kamera lomo immation-ku yang jadul. Setelah ter-capture, aku edit sesegera mungkin di sotosop lalu ku timbun di harddisk-ku untuk koleksi. Setelah kurasa koleksiku cukup, aku akan menggelar pameran fotografi/lomografi yang berjudul “plastic-face” atau “sneeze-pleeze “ atau “sneeze-breeze” , atau bahkan “face-book”.

2. Didalam Percintaan dan Bercinta, Kemampuan ini sangat berguna. Sebetulnya ingin menghentikan waktu saat salju turun, tapi berhubung di endonesya tidak turun salju maka tiada akar, rotan pun jadi. Tiada salju, hujan pun jadi. Cara ini bakal jadi senjata pamungkas buat naklukin cewe yang ingin –tapi ga tau kapan- aku nikahi! Coba? Siapa yang ga lemes kalo dikasih liat miracle yang kaya gitu? Jadi ceritanya pas lagi hujan deras, “TIK” maka waktupun terhenti! Butir-butiran air yang melayang di udara akan jadi pemandangan aneh. Cewe –yang-sangat-beruntung- itu pasti akan lupa berkedip, lupa menutup mulut, bahkan lupa bernapas saat ngeliat butir air terhenti didepan matanya. Trus aku ajak jalan menyurusi, eh.. menyusuri rintik-rintik hujan, dancing -in the rain- without anyone watching. WUUAAA.. seperti dipilem! Beuh, under that circumstance, merugi seumur hidup kalo sampe ga “jadi” ama guah *nyengir a-la Mas Sugeng di pilem warkop yang ada Elvi Sukaesihnya*
3. Ah, pastinya aku juga ingin merasakan menjadi superhero. Kemampuan ini akan kugunakan untuk menolong orang! Apa saja. Dan mudah-mudahan bisa sabar jadi pahlawan tanpa tanda jasa. amiinn

4. Time paused saat Tempat Fitness lagi sepi.. aku ingin fitness tanpa dilihat orang. Ingin fitness tanpa membawa embel-embel-tetek-bengek fitness club-ku. Biasa sajalah, baju nggak mesti terlihat baru, celana nggak mesti terlihat baru, sepatu nggak mesti terlihat baru. Hehe “sehat itu mahal” memang betul, tapi tidak buatku. “TIK” maka waktupun terhenti! Senin pagi biasanya fitness club di dekat kantorku sepi, aku bebas memilih otot yang ingin ku latih. Aku bebas berlari sendiri. Dua bulan kemudian, badanku kekar terisi. Aku memandang cermin risih “mestinya aku nggak fitness tiap hari”. Sekarang aku terlihat seperti atlit angkat besi! Sama sekali tidak seksi. Hahaha

5. Time paused saat ditokil plokis! Ditilang Polisi adalah hal yang paling dongkolin. Saat mereka, para plokis mencari kesalahan lalu tersenyum licik kalu mendapatkannya. Saat aku kena tilang karena keadaan fisik motorku nggak lengkap, “damai aja deh pak” tawarku sambil menyisipkan cebanan ke tangan kirinya. Saat duitnya di pirit sambil nyengir se-emprit, “TIK” maka waktupun terhenti! Nggak usah yang jahat-jahat deh, Aku ambil kembali duitku. Nyalain motor, lalu kabur!

6. Time paused saat kepingin barang tapi nggak punya duit. Tapi pasti sekali nyuri ketagihan deh. Buntut-buntutnya jadi tukang klepto yang mencuri bukan karena butuh, tapi habit.. biarpun nggak butuh-butuh amat, tapi karena bentuknya menarik, “TIK” maka waktupun terhenti! Sikat aja! Mumpung deket. Sekarang udah cukup puas, besok jadi tambah buas!. Hey, i got time! I’ll be the best thief in the world. Aku jadi penjahat. Karena kejahatan terjadi bukan karena ada niat dari sang pelaku, tapi karena adanya kesempatan. WASPADALAH.. WASPADALAH *bergaya seperti Bang Napi*

7. Time paused saat lewat didepan sebuah ruangan yang bertuliskan “Fitting Room”. Aku lihat dibawah gordyn yang tertutup ada sandal/sepatu wanita, “TIK” maka waktupun terhenti! *langsung ngintip, sambil ngeces, tiba-tiba mengidap voyeourism*

8. Time paused untuk nabokin Saepul Jamil, Indra Bekti, Ivan Gunawan, Ruben Onsu dan Artis-artis cowok norak-katro-bego lainnya –you name ‘em, i’ll gladly do it- biar hilang dari peredaran. Biar kaumku –yang sudah semakin sedikit- ga ikutan terbawa arus gemulai. C’mon lah, cukup! Kenapa sih mereka masih aja dipake? “TIK” maka waktupun terhenti! Culik mereka, sekap di tempat yang pengap, bau tokai, banyak belatung, kelabang, lintah, tikus got, tarantula, monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoak bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik!.. eh kok jadi cela’an Mas Kas ya? Yaaa pokoknya tempat-tempat yang kaya gitu deh. Tapi sebelumnya tempat itu udah dipasangin kamera video yang tersembunyi, direkam, trus upload ke youtube, di menit2 terakhir videonya aku sisipkan “tanya kenapa” *biar nggantung kaya iklan rokok itu*. Nah, mereka kan jadi ngetop tuh? Pasti asumsi mereka -yang nonton streaming-an videonya- berbeda satu sama lain. Biar kacau! Biar mereka meracau.
Ehhh.. tiba-tiba Roy Sukro, eh.. Suryo- muncul dengan analisanya “yang sangat tokai” tentang videoku! Dia bilang “kalo memperhatikan metadatanya, ini vidoe aseli! Dan dari ke-tidak jelas-an gambar, menunjukkan bahwa sang pelaku tidak paham penataan cahaya, jadi saya ndak bisa memastikan siapa saja yang ter-rekam” Hihi “TIK” maka waktupun terhenti! Roy suryo tiba-tiba nggak ada lagi di tivi

9. Time paused, menculik Dewi Persik, Julia Perek <-bukan mistype, emang sengaja, Ivan Gunawan (amphibi), Okky Lukman dan Artis-artis cewek norak-katro-bego lainnya –you name ‘em, i’ll gladly do it- biar hilang dari peredaran. Biar kaum wanita –yang seharusnya gemulai- ga ikutan terbawa arus ngejablay. C’mon lah, cukup! Kenapa sih mereka masih aja dipake? Lalu menelanjanginya didepan umum agar jadi pusat perhatian, daripada cuma buka2an nanggung di bioskop atau tipi. Hihi “TIK” maka waktupun terhenti! Saat mereka sedang asik ber-bacot didepan serendeng mic yang dicokot. SREEETTT! Buka bajunya! Hahahaha.. Pasti mereka panik, menutupi apa yang terlanjur terlirik. Di setiap kesempatan akan kulakukan. Execution yang win-win solution. Kalo Ivan Gunawan aku polorotin aja celananya, biar dia sadar kalo dia masih punya ular!
Ehhh.. tiba-tiba Mama Loren, muncul dengan analisanya “yang sangat mustajab” tentang ulahku! Hihi “TIK” maka waktupun terhenti! Mama Loren tiba-tiba nggak ada lagi di tivi

10. Time paused, waktu ketemu Mariana Renata di Mall Kalibata. Ahhh.. relaaa kehilangan waktu seminggu cuma buat merhatiin dia doang! Berdebar terpesona. Seperti tak bosan-bosannya. Hihi “TIK” maka waktupun terhenti!
Mariana Renataaaaaaaa.. poto bareng sebanyak2nya! bentar bentar pause, ganti gaya. Lagi dan lagi.
Jadilah aku Stalker-nya Mariana Renata.
Pengamat Mariana Renata,
Pecinta Mariana Renata,
Pemuja Mariana Renata.
Akan kulindungi dari berbagai bencana.
Jika ada yang berani mengganggunya, menyakiti perasaannya… “TIK” maka waktupun terhenti! Aku akan menjadi seperti vampire di twilights –tapi aku nggak vegan.
Pokoknya Mariana Renata forever!

Itu baru sepuluh, sebetulnya masih banyak janda-janda miskin.. eh.. masih banyak lagi deng.. tapi aku jadi terdiam. Terdiam cukup lama sambil mikir.
Saat aku mengetik kalimat ini aku tersenyum. Ternyata angan-anganku –yang-ingin-bisa-mencuri-waktu- telah mencuri waktuku sendiri. Akh sial! Waktuku sendiri tetap berjalan saat aku mencuri waktu orang lain. Waktu tetap berjalan saat aku memperlambat waktu orang lain. Aku akan cepat tua sementara yang lain tetap seperti sedia kala. Aku nggak ingin,deh, menghentikan waktu.

Popularity: 10% [?]