Raindrops Keep Falling On My Head: An Interpretation

March 3, 2009 by titiw  
Filed under Musics

Jim selalu merasa menjadi seorang loser. Seseorang yang selalu kalah. Dalam hal apapun. Ketika kecil, kedua orangtuanya selalu bertengkar dan bertengkar dan bertengkar lagi. Pagi hari ketika ia harusnya masih tertidur nyenyak dengan mendekap boneka beruangnya, ia malah mendengar ibunya berteriak mengenai uang belanja kepada ayahnya. Siang hari ketika ia harusnya dijemput dari sekolah, orangtuanya bertengkar dalam memperjuangkan siapa yang harus menjemput Jim. Jim hanya dapat menunggu lama sekali di halaman sekolah dengan tatapan menghina dari teman-teman sebayanya. Dan ketika malam, dimana semua anak kecil yang ia kenal duduk bersama orangtuanya dalam lingkaran makan malam yang hangat, ia hanya duduk sendiri di pojokan dapur sambil menyantap sup kalengan dingin yang ia buka dengan susah payah memakai pembuka kaleng karatan. Orangtuanya? Masih juga bertengkar dalam menentukan channel tv yang mereka inginkan. Selalu dan selalu ia memandangi jendela, dan hanya hujan yang terpapar di depan matanya. Matanya merah seiring dengan rangkaian air yang tercurah dari atas sana.

Jim tumbuh menjadi pria yang bertemperamen tinggi.. Tak terhitung berapa tetes darah yang mengalir karena tenaga yang ia fokuskan pada tangan dan kakinya. Ya, ia hanyalah seorang pengecut yang mengedepankan emosi dibandingkan pikiran dan perasaan. Dan ketika ia melayangkan pukulannya sekali lagi kepada lawannya yang sudah kepayahan, matanya lagi-lagi merah. Hujan pun turun membasahi tubuhnya yang kekar di luar namun ringkih di dalam.

Sampai suatu waktu di kala hujan, ia bertemu Christy. Seorang penjual sayur di dekat taman kota yang bermata sendu. Melulu Christy mengingatkan Jim untuk berhenti menjadi pria yang selalu mencari masalah. Jim pun berbalik emosi sambil memaki Christy “Tukang sayur seperti dirimu tahu apa dengan yang namanya masalah?! Aku dilahirkan dari masalah, besar dengan masalah, dan nampaknya akan mati karena masalah. Jadi, apa salahnya jika aku berteman dengan masalah?!”

Christy membalas tatapan nanar Jim dengan bijak “Aku tahu kau selalu merasa tidak pantas di manapun. Kau tidak harus menyalahkan dirimu untuk semua masalah. Kau sebenarnya orang yang lembut Jim, bebaskan perasaan bersalah itu dan berdamailah dengan diri sendiri, sehingga kau menjadi orang yang bebas.” Jim melangkah menjauhi Christy dengan mata yang lagi-lagi merah. Suara Christy tertelan oleh angin dan hujan yang kelaparan di pinggiran kota London yang selalu hujan dan melembabkan hati dan pikiran.

Keangkuhan Jim terjatuh bersamaan dengan jatuhnya ia di tanah becek. Lima orang mengeroyoknya tanpa ampun. Ia tidak tahu mengapa mereka begitu bernafsu memburunya. Sekilas, ia ingat bahwa dirinya pernah menghina seorang di antara mereka. Seseorang yang paling pojok, pria berjerawat dengan hidung pesek yang kerjanya hanya menyuruh temannya untuk menjatuhkan Jim tanpa turun tangan langsung. Tendangan demi tendangan secara simultan mengecup ganas mukanya, ulu hatinya, hingga tulang keringnya. Sepertinya tidak ada bagian dari anggota badannya yang luput dari perhatian mereka. Wow, mereka sangat adil dalam hal itu. Wajah-wajah familiar terngiang dalam pikirannya. Ibunya yang selalu membentak, ayahnya yang selalu mencambuk dengan ikat pinggang, serta teman-teman masa kecilnya yang selalu menghinanya dengan sebutan “si anak terlantar”.
Jim kehilangan kesadaran.

Jim mulai merasakan kalau ia masih hidup ketika satu persatu bulir-bulir air dari langit membelai kelopak matanya, keningnya, pipinya.. Jim berusaha keras untuk membuka mata, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah awan berwarna abu yang mengucurkan gerimis kepada dirinya. sayup-sayup terdengar lagu “Raindrops Keep Falling On My Head”, dan sejurus kemudian ia tersadar bahwa ia berada di.. Tumpukan sayur? Ya, ia diletakkan oleh seseorang di atas pick up yang mengangkut sayuran.

Pengemudi pick up itu menyadari bahwa penumpangnya tersebut sudah bangun. “Hei, kau tidak apa-apa?! Istirahat saja di situ. Aku menemukanmu tergeletak di dekat pasar, dan kebetulan aku akan menemui Christy. Kau temannya Christy kan? Kuharap kau tidak keberatan tetap di situ untuk sementara waktu.” Tanpa berpikir panjang Jim menjawab “Ya, aku temannya Christy, tidak apa-apa aku di sini. Paling-paling aku jadi beraroma bawang.” Pria di balik kemudi tersenyum tanpa mengucap satu kata pun.

Jim berpikir “Well, sejak kapan aku bisa menjadi orang yang lucu seperti itu? Teman? Christy?” Dua kata terakhir membikin hatinya tetap hangat meski ia berada di tengah-tengah dinginnya cuaca dan basahnya sayuran. Sekali lagi Jim mendengar sayup lagu tadi dari tape butut mobil pick up ini. Jim tetap telentang di antara sayuran dan menutup matanya. Bibirnya membentuk kurva yang bernama senyum, yang mungkin sudah lama sekali tidak ia praktekkan di kesehariannya. Badannya sangat sakit, namun ia tahu kalau rasa sakit itu sedikit saja ia tampukkan kepada orang lain, ia dapat menjauh dari masalah. Jim berpikir sambil terus tersenyum “Ya, aku harus berdamai dengan diri sendiri. Mataku tidak boleh merah lagi, karena sekarang aku adalah orang yang bebas. Tidak ada hal-hal yang harus aku khawatirkan, karena aku orang yang bebas..

Raindrops keep fallin’ on my head
And just like the guy whose feet are too big for his bed
Nothin’ seems to fit
Those raindrops are fallin’ on my head, they keep fallin’

So I just did me some talkin’ to the sun
And I said I didn’t like the way he got things done
Sleepin’ on the job
Those raindrops are fallin’ on my head, they keep fallin’

But there’s one thing I know
The blues they send to meet me won’t defeat me
It won’t be long till happiness steps up to greet me

Raindrops keep fallin’ on my head
But that doesn’t mean my eyes will soon be turnin’ red
Cryin’s not for me
‘Cause I’m never gonna stop the rain by complainin’
Because I’m free
Nothin’s worryin’ me

It won’t be long till happiness steps up to greet me

Raindrops keep fallin’ on my head
But that doesn’t mean my eyes will soon be turnin’ red
Cryin’s not for me
‘Cause I’m never gonna stop the rain by complainin’
Because I’m free
Nothin’s worryin’ me

-B.J Thomas, 1981-

Aliens vs. Predator: Requiem movie download

(c) Gambar album

It’s Just Not Your Day, Akmar!

January 27, 2009 by titiw  
Filed under Titiw Inside

.!.

Padahal libur, terpaksa bangun pagi.
The Tailor of Panama divx

Katanya mau dikasih kerjaan di hotel Borobudur, sehingga ngarep2 mules pengen dapet duit ke sono.
Ternyata no job for me. Hilang harapan grepe2 beberapa lembar duit berwarna biru itu.
Pulang, mampir di gramedia matraman.
Nyari2 e-book reader, mas2 dan mbak2 gramet bodoh2, gak ada yg ngerti, malah ditawarin aipot (duit dari mana tong??!! Bulu ketek?! which yg tdk saya miliki pula..)
Laper, yg deket cuman dankin donat. Harga paketnya 24.900. Ternyata gak dikembaliin 100. Sok2 asertif minta 100 nya, mbak2 dan mas2 di situ langsung bisik2 tetangga.
Iya, saya tau, saya pasti dicap pelit, lebih oke kalo dicap pelit kaki tiga. Padahal coba kalo 100 rupiah x 1000 orang, berapa untung dia tanpa ngapa2in? berapa??! (ok, you do the math).

Mau beli buku, kok mahal2 amat, 645 kali ngangkang sampe perih dan beset2 juga belon kebeli itu buku fashion yg harganya 400 rebu.
The Accused movies The Transporter film
Ada pembagian tanaman gratis di luar gramet, pengen minta, gak boleh kalo gak nempel stiker dia di mobil kita. Shit. Mana punya guah mobil? Kalo punya ngapain saban ari bersetubuh sama angkot dan bus2 kota yg seksi ituh?
Tiga jam kemudian pulang (yeah, 3 jam hanya untuk jalan2 di gramet).
Eh ternyata Jatu ajak ketemuan di blok M.
Nunggu bus lama banget, baru nyadar, dr depan gramet ga ada yg lewat blok M. Keluar duit lagi deh naik kopaja ke depan Megaria.
Pas mau naik kopaja, oren jus yg td beli di dankin jatoh, tumpah di kaki. Apakah ini karena ketidak iklasan mas2 dankin balikin 100 saya? Walhasil kaki lengket dan njijiki.
Hah.. It’s Just Not Your Day, Akmar!

The Unbearable Lightness of Being buy

(c) cermin retak

Romantisme Mati Lampu

April 29, 2008 by titiw  
Filed under Titiw Inside

“Mati lampu mati lampu mati lampu.. Di komplek ini semuanya mati lampu..” Masih ingat sepenggal lagu bernada datar yang dibawakan siapa-sih-itu-nama-bandnya yang ada dalam kompilasi pesta rap? Lagu itu berkobar di dalam dada kira2 di tengah tahun 1990an. Ketika saya yang masih SD lagi getol2nya berinline skate-ria di komplek yang jalanannya gak alus ituh. Maklum, daerah saya mayoritas gak milih golkar, jadi jalan gak diaspal (No offense, people!!)

Mati lampu selalu meniupkan romantisme tersendiri di dalam semilir kehidupan masa kecil saya. Jaman itu, mati lampu sering terjadi di kompleks kecil ini. Ketika terdengar ‘jleb’ dan pandangan tiba2 gelap, saya selalu mengintip keluar, apakah mati lampu ini cuma sepihak atau tidak. Kalau mati lampu terjadi secara massal, maka ada teriakan ‘HOREEE!!’ terselubung di setiap pikiran anak kecil di kompleks ini, termasuk saya. Bagaimana tidak? Mati lampu berarti hilangnya kewajiban untuk belajar, bisa bermain lilin yang ditetes2kan ke tangan, serta berkumpulnya kami sesama anak kompleks, tanpa direncanakan.

Para orangtua menuju teras untuk mengusir rasa gerah, sedangkan kami larut dalam permainan2 yang hanya kami sendiri yang mengerti. Bermain menjadi pengusir hantu merupakan salah satu opsinya. Pemburu hantu ala ghost buster, bukan pengusir hantu yang ada di tivi komersial, dimana hantu yang tertangkap dimasukkan ke dalam botol bekas sirup berinisial A, B dan C. Read more