Let’s Go Biking & Get Hooked!
Wiih.. Udah lama nggak cerita-cerita dunia persilatan saya di dalam bersepeda. Heng..? Jadi niatnya ini mau silat apa sepedahan kakak? Ya bersepeda doong! Akhir Februari lalu, saya berkesempatan untuk sepedahan di event yang diadain sama STB atau Singapore Tourism Board bersama kolega saya seperti mbak Ventura, Adhi, dan mas Danny.

Meeting Point
Saya yang waktu itu ditawarin sama Nona Dita, tentunya tidak menampik acara-acara yang mengakomodir hobi saya ini. Kocaknya, gowes mulai jam 10an dan di hari Kamis, haha.. Meski gitu, sepedahannya tetep asoy karena aman & bareng-bareng dengan ratusan sepeda lain. Eh eh eh, gak cuma itu, kita juga gowes bareng artis lho! Di tim saya, ada Indra Herlambang Bekti yang dengan sukacita menawarkan diri untuk berfoto sama saya. Lah, apakah ini tanda-tanda bahwa saya udah cocok jadi artis? Kenapa doski yang minta foto bareng saya? Haha..

Eh mas Indra, perutnya jangan nyolek2 aku dong.. xD

Seleghbghitis
Di tim lain, ada juga personil-personil RAN dan Raditya Dika. Gowes tim saya start dari Indocement, ngelewatin BEJ, lanjut ke bunderan Senayan. Sampe di sana, tenggorokan langsung disiram pake soda dingin. Ahh.. Selain ada konfrensi pers, ada juga mbak dan masnya yang ngedens-ngedens di bunderan Senayan, sekitar jam 1 siang bolong. Selamat ya mbak, mas. Mungkin acaranya bisa lebih rame kalo diadain weekend dan pagi hari nih. Tapi jempol lah buat STB yang tau aja kalo saya suka sepedaan! Undang lagi dong kalo yaa kalo ada begini-beginian!

Do the Bartman!
Bersepeda Pagi ke Taman Mini
Gairah saya bersepeda ke tempat-tempat jauh yang akhir-akhir ini menurun karena meluapnya aktivitas, seakan terbangun lagi. Ini dikarenakan beberapa teman terdekat saya sudah membeli sepeda dan mengajak saya gowes. Pemanasannya ketika saya berdua mas Anggit sok2 chasing sunrise hari Jumat lalu. Jalan-jalannya nggak jauh2 amat, dari rumah kami di Pondok Bambu II, meluncur ke Duren Sawit, Banjir Kanal Timur slash Kanal Banjir Timur, dari jam 5.30 hingga 7.30. Sehat, murah, ramah lingkungan, pas, tidak berlebihan. Bersepedahan hari itu ditutup dengan sarapan bubur di ayam di depan SMP kami, SMP 51, dengan oleh-oleh sepotong fajar yang merekah..
Dua hari ke depannya, masih dengan mas Anggit, saya menggowes ke Taman Mini Indonesia Indah. Personel bertambah 2 orang, yaitu Jayeng dan mas Thalique yang berbulan2 cari sepeda, namun setelah sehari saya komporin, besoknya langsung beli sepeda. Hoho.. Perjalanan ke TMII agak siang, yaitu 06.30 karena Jayeng kesiangan. Maklumlah malemnya semi final piala dunia. Dari rumah di Pondok Bambu, menggoweslah kita ke tempat tujuan lewat Jatiwaringin, Pondok Gede.

Markiber! Mari Kita Berangkat!
Setelah terakhir ke TMII 3 th yang lalu, akhirnya ke sini lagi. HTM untuk pesepeda sebesar Rp 5.000, dan TMII di jam 7 pagi memang sangat-sangat penuuh! Kadung lapar, nyareplah kita roti yang dibawa Jayeng di anjungan Lampung. Lanjut ngelilingin TMII, foto2 di anjungan Jawa Timur, makan bubur ayam enak, ngeliat bazar2 yang ruame, liat2 tempat latihan inline skate dan skate board, sampe foto2 di depan keong Mas.

Pagi-pagi Nyabu
Pukul 9.30, pulanglah kita ke rumah. Mau lewat Halim, tapi provost yang sengak itu gak bolehin kita lewat sana, katanya ada acara. Padahal kita kan naik sepeda, mamen! Gak ada polusi udara, suara, atau kerusakan yang berarti, bukan..?! Jadi inget pas ke Bogor, eh sepeda gak boleh masuk Kebun Raya. Tapi yaah.. Orang2 kecil emang lebih sengak daripada bos2 sehingga kami pulang dengan rute yang sama. Aah.. Senang sekali bersepeda dengan mereka. Tujuan selanjutnya sih sudah kita wacanakan, yaitu ke Lubang Buaya. Tunggu tanggal mainnya, happy biking!
Bersepeda di Jakarta Dengan Tetap Gaya
Jakarta kota polusi memang tidak bisa dipungkiri. Asap di sana serta asap di sini jamak dijumpai. Bagaimana jika dari diri kita sendiri mengurangi asap dan polusi itu? Caranya adalah dengan berkendara dengan sepeda. Jadi coba deh umpetin dulu kunci mobil kamu jauh-jauh, karena ini saatnya kita BER-SE-PE-DA! Iya, Bersepeda!
“Tapi, kalo naik sepeda pasti kan keringetan, terus jadi kumel, pokoknya culunnya pol! Gemana mau tetap hidup hijau namun juga tetep gaya?“. Tenang anak-anak, di sini saya akan memberikan tips-tips untuk kamu yang ingin naik sepeda, namun ingin tetap bergaya dan merona.
- Siapkan kebugaran. Apakah hari itu kamu fit..? Jika tidak, lupakan bersepeda nak. Dengan tangan dan kaki loyo, mata sembab, kamu tidak akan terlihat cantik di atas sepeda lipat nan manis itu.
- Apakah sepeda kamu sudah siap untuk mengarungi kejamnya ibukota? Ban tidak kempes, rem berfungsi, helm sudah dipakai, dan segalanya sempurna? Tariiik!
- Untuk outfit bersepeda, paling pas jika atasannya kamu memakai baju berbahan kaos lengan panjang supaya tangan terlindungi dari terik matahari. Untuk bawahannya pake bicycle pants ataupun celana pendek/panjang dengan bahan yang tidak kaku, agar kaki-kaki itu bisa mengayuh dengan leluasa.
- Sunblock is a must, darling! Meskipun hari sedang mendung, sinar UV itu tetap bisa merasuk dan menggerogoti kulit dan kemudaan kamu.
- Pakai sepatu running dengan kaos kaki, atau sendal gunung yang terikat kencang. Kalo ada sarung tangan, boleh juga dikenakan. Biar kinclong, cari sarung tangan yang warna warni biar hari-hari kamu terlihat makin berwarna.
- Kacamata cengdem alias sun glasses juga benda wajib. Selain melindungi mata dari teriknya matahari, doi juga berguna untuk melindungi mata dari debu jalanan. Ngomong-ngomong debu jalanan, masker juga ok dipakai untuk kamu yang gak mau ngemil debu. Disarankan pake masker yang bisa dicuci ulang, jangan yang sekali pake, apalagi masker bengkoang.
- Untuk naro barang2 kamu, bawa aja tas pinggang yang gak ribet ataupun tas ransel berbentuk serut yang ringan. Pas sepedahan, gak disarankan bawa benda-benda ribet macem kipas angin, boneka kesayangan, ataupun bed cover. Cukup bawa handphone, handuk kecil, minuman, uang secukupnya, jas hujan dan kamera poket untuk tetap eksis dimanapun kamu berada.
- Jika kamu memutuskan untuk menggowes sambil mendengarkan musik, pastikan kalo volumenya gak ngalahin volume panggung dangdut di kampung sebelah. Hal ini supaya kamu tetap mendengar klakson2 dari belakang ataupun suara-suara misteri yang lain.
- Selalu berada di lajur kiri dan tetap perhatikan rambu-rambu lalu lintas.

Bergayalah meskipun di depan kali
Yak, itu semua tips dan trik dari saya untuk hidup sehat dan hijau dengan bersepeda di ibukota. Dengan persiapan yang matang dan fisik yang okeh, siapa sangka perjalanan kamu yang dimulai dari komplek rumah, tiba2 dari kejauhan kamu melihat plang “Selamat datang di kota Bogor”. Yo wes, selamat menggowes!
Bersepeda di Bogor Hingga Betis Segede Bogor
Kegiatan bersepeda makin mendarah daging di tubuh saya yang sintal ini. Setelah perjalanan ke Ancol, Kota Tua, Monas, ataupun daerah Jakarta dan sekitarnya, saya mulai merambah ke luar kota, tepatnya di kota hujan, Bogor. Jangan terperangah seperti itu nak, saya tidak menggowes dengan segitu liarnya sehingga betis ini harus dipekerjakan secara rodi. Yak, intinya saya bersepeda DI Bogor, bukan KE Bogor.
Di pagi hari yang sedikit mendung di akhir bulan Desember 2009, saya bersepeda dengan 3 orang karib, Mas Nugi, Ibhe, serta Vina yang masih anak bawang dalam persepedaan. Kami berkumpul di rumah saya di daerah Pondok Bambu, dan menggowes ke stasiun kereta Tebet. Berangkat jam 7 pagi, sampai di Tebet pukul 7.30, dan bertepatan dengan sampainya kami di sana, kereta Express yang menjadi media transportasi kami pun datang. Mengapa kami memilih kereta Express AC seharga Rp 11.000? Karena kalau naik kereta AC ekonomi yang berhenti di tiap setasiun itu, kami takut sepeda kami mengganggu, apalagi kalo naik kereta ekonomi biasa yang cuma 2000 perak itu. Bisa-bisa sampe Bogor, sepeda kami sudah menjadi onderdil tanpa bentuk karena berdesakan dengan ayam, kambing, bawang, dan apapun yang disumpelin ke kereta ekonomi itu.

Suasana di Atas Kereta
Petugas KA di stasiun Tebet cukup ramah, mereka membantu saya menaikkan sepeda ke dalam kereta. Perjalanan Tebet-Bogor via kereta makan waktu kurang lebih 45 menit. Akhirnya sampai juga di stasiun Bogor yang terkenal banyak copetnya itu. Tempat pertama yang kami datangi adalah Istana Bogor. Bagian luarnya aja sih, tapi lumayan cekrak cekrek di sana dan dapet foto bareng rusa. Udara segar Bogor memenuhi paru-paru ketika kami menggowes di jalanan yang menurun menuju ke Taman Kencana untuk sarapan. Perjalanan diteruskan dalam rangka sepedaan di dalam Kebun Raya Bogor.

Ahh! Rusa Bogooor!
Cihuy, sampe juga nih di Kebun Raya yang biasanya menjadi tujuan utama wisatawan jika mengunjungi Bogor. Dengan hati riang, kami sudah mau masuk kebun raya, ketika satpam dan mbak2 tiket di Kebun Raya berkata “Maaf, sepedanya tidak bisa masuk ke dalam ya.

Gagal Bersepeda di Kebun Raya Bogor
Di jalan, kami melewati sebuah Vihara bernama Dharmakaya. Sayang nih kalo dilewatin, sehingga kita menyempatkan berfoto di sini, dengan Ibhe yang udah merinding rinding masuk ke sini. Huh, anting di kuping si Ibhe boleh bejejer, hati mah teteup penakuut! Cupu! Lanjut lagi merangsek jalanan kota Bogor yang mulai riweuh dengan angkot2 yang semrawut. Mana kebanyakan jalanannya tanjakan pula, huhu.. Kesian si Vina yang make sepeda lipet tanpa gigi. Yang dia bisa cuma nyengir dan selalu jadi paling belakang dalam kegiatan bersepeda kita kali ini. Akhirnya ketemu sebuah tempat pariwisata lain, yaitu Istana Batu Tulis. Tapi eh ternyata istana tersebut udah jadi rumahnya Ibu yang pernah menjabat menjadi Presiden RI itu, sehingga udah gak jadi tempat wisata lagi. Hadoh. Ampun dijeee.

Vihara Dharmakaya

Riweuhnya kota Bogor yet Menenangkan
Fyuh, setelah 3/4 Bogor kita kelilingin, mampirlah di Tugu deket terminal Bogor yang jadi tempat foto2 kita juga. Kalo kata Mas Nugi mah, nama tugu ini ialah Tugu Kujang. Dahaga mulai mengetuk-ngetuk lambung, sehingga kita mampir ke sebuah FO sambil minum teh poci dingin. Sempet pula masuk2 FO tanpa beli apa2. Jam menunjukkan pukul 2, udah waktunya makan siang nih, jadinya kita menuju Yun Sin, restoran Mie yang katanya paling “megang” di Bogor. Eits jangan seneng dulu. Rute jalanan kita menuju Yun Sin cukup horor, ma men! Nyebrang jembatan yang mana air sungai di bawahnya beriak kencang, dan tanjakan yang 45 derajat. Masya Awloh.

Tugu Kujang

Si Jembatan Bergojang

Si Tanjakan Neraka, tapi Pas Nyampe Viewnya Bagus!
Sesampainya di restoran tersebut, Ibhe nampak sangat excited dengan rasa mie yang disajikan. Saya rasa sih pake babi, tapi kalo disembelihnya pake Bismillah gak papa kali ya *CUIH*. masih di restoran, hujan menghadang, sehingga kita tetep kongkow di restoran sambil main games berantai yang gak penting tapi lumayan bikin ngikik2. Hujan masih gerimis, tapi kita nekat nerusin perjalanan. Untung bawa jas ujan, jadi jangan lupa bawa jas ujan kalo gowes ke mana-mana ya nak.. Berhubung hari sudah sore, maka kami langsung mengarah ke stasiun kereta untuk ke Jakarta Aku Kan Kembali *koes Plus Mode: on*. Anehnya, ketika kita di stasiun Bogor, mereka meminta agar sepeda kita juga dibeliin tiket. Another WHAT THE F… with Bogor, people..?! Kalo keretanya penuh mah kita juga ngertiin kali. Tapi ini keretanya super kosong! Ah sudahlah, akhirnya ketika si kenek minta biaya tambahan, saya bilang aja “Pas tadi pagi saya di Tebet nggak harus bayar lagi tuh pak..” Eh si kenek gendut tua dan sepertinya kehidupan seksnya sudah tidak asoy lagi itu bilang gini “Ya.. Emang orang2 Tebet itu gak bener, gak pernah komunikasi sama kita“. lah, kalo mau curhat mah bikin blog, Pak! Jangan curcol sama penumpang, malih!

Mie Yun Sin

Sepeda Kita Sudah lelah
Eh ternyata ada juga bikers (jiyeh, bikers) yang naik kereta selain kita. Entah deh mereka diminta bayaran juga atau nggak. Sampai di Tebet, kita menggowes ke arah rumah saya, dengan sedikit kengerian ketika melewati terowongan prumpung yang macet dan berdebu. Sebelum sampe rumah, sempet duduk2 dulu di sebuah toko roti & es krim rumahan di daerah Cipinang Muara. Seumur2 saya tinggal di daerah sini, saya gak tau nih ada tempat ini. Mereka juga bikin roti buaya yang guede dengan harga murah! Hihi, kalo saya kawin mesen di mari ah.. (emang lo orang Betawi, tong?!). Dan finally.. Sampai juga di rumah saya dengan baik-baik saja meskipun kaki berasa segede Bogor. Thx for the companion, guys! Can’t wait to have another journey with y’all!

Finally, Jakarta!
Free Sunday Biking @ Ancol
Rute bersepeda saya makin menggila. Kali ini, Ancol menjadi sasaran saya dan partner untuk menggowes untuk mendapatkan betis kencang nan padat macem Agnes Monica. Minggu, 25 Oktober merupakan hari dimana pihak Ancol berkomitmen untuk menggratiskan pengunjung yang datang dengan memakai sepeda hingga jam 9 pagi. Event yang dinamakan “Ancol Commuter” tersebut akan diteruskan hingga ke depannya. Manteb toch? Titik start saya di Minggu pagi yang cerah tersebut adalah Mangga Dua Square pada pukul 07:30. Hari itu, moodnya lagi pengin pake topi ala kumpeni yang saya beli di Garut beberapa waktu yang lalu. Hehe, gak penting ya?

Starting Point

Mangga Dua Square. Ni Hao Ma?
Setelah saya sampai ke Ancol, saya baru mengetahui bahwa tenyata selain gratis masuk, Ancol juga menyediakan banyak sepeda untuk dipinjamkan bagi pengunjung. Gratis untuk satu jam, namun jika waktunya lebih, kena charge Rp 10,000. Intinya, kalo kamu main 2 jam ataupun sampai 5 jam, bayar tetep Rp 10,000, tapi kalo di bawah sejam, gratis.

Sampai Ancol!

Peminjaman Sepeda
Di dalam Ancol, banyaaak sekali sepeda yang datang, entah itu perseorangan atau rombongan. Ada pula orang-orang yang sekedar jogging, pacaran, ataupun berkumpul dengan keluarga. Tujuan bersepeda saa yang pertama adalah sisi Marina Ancol, tempat di mana kapal2 berlabuh.

Ancol Pagi Itu

My Bike Goes to Marina
Dari pengalaman saya bersepeda ini, saya melihat ada niat baik dari pihak Ancol dari berbagai segi. Misalnya saja, di mana-mana tulisan GRATIS dipasang dengan besar dan nyolot. Seakan-akan ingin menegaskan bahwa “Anda masuk Ancol sudah mahal, tidak perlu lagi membayar apa-apa di dalam”. Misalnya di mana-mana ada tulisan parkir gratis, di sana-sini terpampang papan WC gratis. Belum lagi untuk pengendara sepeda, di dalam ancol ada bike lane tersendiri, malahan Pantai Carnival sudah sah dijadikan “Bike Beach”.

Bike Lane

Zona Sepeda

Dermaga Cinta. HALAH.
Setelah foto-foto barbuk di dermaga dan sekitarnya, sarapan nasi uduk yang dibawa dari rumah memang mantep. Saya sarapan di tempat “Outbondholic”, yang rindang, ditemani sepoi-sepoi angin semilir. Lanjut, saya sempatkan untuk ke North Art Space, yang baru diresmikan tahun ini. Dekorasi semut-semutnya yang lucu menghantar saya masuk dan naik untuk melihat pameran lukisan dan foto yang dinamakan “Urbantopia”. Di dalamnya, ada karya-karya dari Davy LInggar, Agan Harahap, Oscar Motuloh, Imelda Mandala, dan lainnya. Dari situ, sempet lihat sedikit keramaian karena hari itu adalah hari terakhir Urban Fest 2009. Festival besar tahunan yang diadakan di Pasar Seni ini akan diramaikan banyak musisi, dengan menampilkan beberapa kontes seperti kontas Low Rider Custom Bicycle.

Our Breakfast

Ngaso dulu sambil sarapan

North Art Space

Kontes Low Rider Bike
Setelah muter-muter di Pasar Seni, kami memutuskan untuk kongkow2 dulu di A&W. Dahaga terpuaskan, meluncurlah ke pantai carnival yang dinamakan bike beach tersebut. Ternyata di sana shelter penyewaan sepeda lebih banyaak, dan ada juga lintasan sepeda untuk sepeda yang naik turun. Klaar liat2, saya mampir ke EREVELD. Ada yang tahu apa itu Ereveld..? Mungkin belum banyak yang tahu kalau di Ancol ini ada kuburan. Yak, kamu tidak salah dengar. KUBURAN, tepatnya kuburan Belanda. Hawanya rada nggak enak pas masuk situ, mana tiba2 mendung menggelayut, dan saya dilarang masuk oleh penjaga kuburan. Setelah ngasih pandangan ala puss in the boot, akhirnya kami diperbolehkan masuk. Banyaaak banget kuburan di sini, rapi, dan bersih. Mungkin ada 500 kuburan lebih, dengan papan nisan yang kebanyakan tidak bernama. Kata si penjaga kubur, kebanyakan di sini adalah orang Belanda yang dieksekusi mati pada saat perang dunia ke-2. Bahkan katanya, Ayah dari Suzanna (yeah, Suzanna si ratu horor itu) juga dikuburkan di sini.

Pantai Carnival, The Bike Beach

Ereveld Outside

Ereveld Inside
Hihi, seru.. seru.. Sebelum benar-benar keluar dari Ancol, saya menyempatkan diri untuk melihat aksi anak-anak muda yang main sepeda BMX di area “Bikaholic”. Di situ, sepeda yang namanya “Dirt Bike” itu disewakan jug. Malah pas saya ke situ, ada perlombaan. Wih.. guts anak-anak muda emang kenceng ya, liat aja foto mereka ini, sampe jatoh2 lho ngelakonin hal ini. Bagus-bagus, positif buat anak muda.

Bika Holic

Aksi Para Bikers
Akhirnya pukul 12:30, saya benar-benar keluar Ancol untuk kembali ke tempat menaroh mobil, yaitu Mangga Dua square dengan usaha yang lumayan, melewati derasnya arus kendaraan di bawah terik itu. Gemana? Tertarik bersepeda ke Ancol? Secara sekarang udah gratis buat kamu-kamu para pesepeda. Tunggu apa lagi? Yuk meluncuur.. Happy biking!!

Bike Shadow Fine Art
Polygon Monarch Lady: Sepeda Baru, Alhamdulillah!
I super love my new bike!! Haru banget setelah akhirnya bisa beli sepeda dengan duit sendiri. Alhamdulillah di bulan puasa ini honor nulis saya udah keluar. Hehe.. Sehinggaaaaaa.. Terbelilah sebuah sepeda Merk Polygon dengan tipe Monarch Lady berwarna merah. Inget gak sih wishlist saya di postingan yang Tagged & Untagged ini? Yak, ada kata SEPEDA di dalamnya. Dulu waktu kecil pernah punya peda federal tapi ilang. CIH. Saya beli sepeda baru ini di Rodalink kalimalang tanggal 18 September 2009, setelah sebelumnya cari2 di Internet, sepeda apa yang gak terlalu mahal dengan kualitas lumayan.
Daaaan tertumbuklah mata dan hati saya kepada si merah yang seksi ini. Garansi untuk frame (batangan di sepeda) sampe 5 tahun, sedangkan garansi untuk servis2 lucu aja sih setahun 3 kali. Eh udah jam 4, ngabuburit puasa hari terakhir sambil nyepeda keliling komplek ah.. Eh jangan lupa kalo ada yg mau sepedaan kemane gitu ajak2 kita orang yaa!!
Spesifikasi Polygon Monarch Lady:
Harga:
- Sepedanya: Rp 1,175,000
- Polygon spiral borg with key (konci pake gembog): Rp 45,000
- Fender Set Polygon (yg dipasang di roda, supaya air gak nyiprat): Rp 38,000
Frame & Fork
- Frame: Hi Ten Biaxial Frame
- Fork: Hi-ten big fork bent
Part
- Handlebar: Rise Steel Black
- Stem: Black
- Headset: Threaded Oversized H. Part
- Saddle: Selle Royale Energy
- Seatpost: Alloy micro adjust SSABK
Drivetrain
- Chainwheel: Suntour NEX110 48T
- Chain: KMC Z50
- Shifting Lever: Shimano RS31 Dual SIS 18sp
- Brake Lever: Tektro Resin Alloy
- Front Derailleur: Shimano TZ31
- Rear Derailleur: Shimano TX18
- Brake: Power Steel
Other part
- Pedal: One pice PP
- Tyre: Kenda TRAVELITE (K847) 26″ X1.95 Black AV
- Rim: HJC P6N
- Spoke: UCP
- Front Hub: Formula Steel
- Color: Silver/blue , silver/red




