Bersepeda Pagi ke Taman Mini

July 15th, 2010 -- Posted in Green Act, Traveling | 20 Comments »

Gairah saya bersepeda ke tempat-tempat jauh yang akhir-akhir ini menurun karena meluapnya aktivitas, seakan terbangun lagi. Ini dikarenakan beberapa teman terdekat saya sudah membeli sepeda dan mengajak saya gowes. Pemanasannya ketika saya berdua mas Anggit sok2 chasing sunrise hari Jumat lalu. Jalan-jalannya nggak jauh2 amat, dari rumah kami di Pondok Bambu II, meluncur ke Duren Sawit, Banjir Kanal Timur slash Kanal Banjir Timur, dari jam 5.30 hingga 7.30. Sehat, murah, ramah lingkungan, pas, tidak berlebihan. Bersepedahan hari itu ditutup dengan sarapan bubur di ayam di depan SMP kami, SMP 51, dengan oleh-oleh sepotong fajar yang merekah.. :)

Pagi, matahari.. :)

Dua hari ke depannya, masih dengan mas Anggit, saya menggowes ke Taman Mini Indonesia Indah. continue reading »

Popularity: 1% [?]

Bersepeda di Jakarta Dengan Tetap Gaya

March 28th, 2010 -- Posted in Front, Green Act | 33 Comments »

Jakarta kota polusi memang tidak bisa dipungkiri. Asap di sana serta asap di sini jamak dijumpai. Bagaimana jika dari diri kita sendiri mengurangi asap dan polusi itu? Caranya adalah dengan berkendara dengan sepeda. Jadi coba deh umpetin dulu kunci mobil kamu jauh-jauh, karena ini saatnya kita BER-SE-PE-DA! Iya, Bersepeda!

“Tapi, kalo naik sepeda pasti kan keringetan, terus jadi kumel, pokoknya culunnya pol! Gemana mau tetap hidup hijau namun juga tetep gaya?“. Tenang anak-anak, di sini saya akan memberikan tips-tips untuk kamu yang ingin naik sepeda, namun ingin tetap bergaya dan merona.

  1. Siapkan kebugaran. Apakah hari itu kamu fit..? Jika tidak, lupakan bersepeda nak. Dengan tangan dan kaki loyo, mata sembab, kamu tidak akan terlihat cantik di atas sepeda lipat nan manis itu.
  2. Apakah sepeda kamu sudah siap untuk mengarungi kejamnya ibukota? Ban tidak kempes, rem berfungsi, helm sudah dipakai, dan segalanya sempurna? Tariiik!
  3. Untuk outfit bersepeda, paling pas jika atasannya kamu memakai baju berbahan kaos lengan panjang supaya tangan terlindungi dari terik matahari. Untuk bawahannya pake bicycle pants ataupun celana pendek/panjang dengan bahan yang tidak kaku, agar kaki-kaki itu bisa mengayuh dengan leluasa.
  4. Sunblock is a must, darling! Meskipun hari sedang mendung, sinar UV itu tetap bisa merasuk dan menggerogoti kulit dan kemudaan kamu.
  5. Pakai sepatu running dengan kaos kaki, atau sendal gunung yang terikat kencang. Kalo ada sarung tangan, boleh juga dikenakan. Biar kinclong, cari sarung tangan yang warna warni biar hari-hari kamu terlihat makin berwarna.
  6. Kacamata cengdem alias sun glasses juga benda wajib. Selain melindungi mata dari teriknya matahari, doi juga berguna untuk melindungi mata dari debu jalanan. Ngomong-ngomong debu jalanan, masker juga ok dipakai untuk kamu yang gak mau ngemil debu. Disarankan pake masker yang bisa dicuci ulang, jangan yang sekali pake, apalagi masker bengkoang.
  7. Untuk naro barang2 kamu, bawa aja tas pinggang yang gak ribet ataupun tas ransel berbentuk serut yang ringan. Pas sepedahan, gak disarankan bawa benda-benda ribet macem kipas angin, boneka kesayangan, ataupun bed cover. Cukup bawa handphone, handuk kecil, minuman, uang secukupnya, jas hujan dan kamera poket untuk tetap eksis dimanapun kamu berada.
  8. Jika kamu memutuskan untuk menggowes sambil mendengarkan musik, pastikan kalo volumenya gak ngalahin volume panggung dangdut di kampung sebelah. Hal ini supaya kamu tetap mendengar klakson2 dari belakang ataupun suara-suara misteri yang lain.
  9. Selalu berada di lajur kiri dan tetap perhatikan rambu-rambu lalu lintas.

Bergayalah meskipun di depan kali

Yak, itu semua tips dan trik dari saya untuk hidup sehat dan hijau dengan bersepeda di ibukota. Dengan persiapan yang matang dan fisik yang okeh, siapa sangka perjalanan kamu yang dimulai dari komplek rumah, tiba2 dari kejauhan kamu melihat plang “Selamat datang di kota Bogor”. Yo wes, selamat menggowes! ;)

Popularity: 20% [?]

Bersepeda di Bogor Hingga Betis Segede Bogor

January 10th, 2010 -- Posted in Front, Green Act, Traveling | 85 Comments »

Kegiatan bersepeda makin mendarah daging di tubuh saya yang sintal ini. Setelah perjalanan ke Ancol, Kota Tua, Monas, ataupun daerah Jakarta dan sekitarnya, saya mulai merambah ke luar kota, tepatnya di kota hujan, Bogor. Jangan terperangah seperti itu nak, saya tidak menggowes dengan segitu liarnya sehingga betis ini harus dipekerjakan secara rodi. Yak, intinya saya bersepeda DI Bogor, bukan KE Bogor.

Di pagi hari yang sedikit mendung di akhir bulan Desember 2009, saya bersepeda dengan 3 orang karib, Mas Nugi, Ibhe, serta Vina yang masih anak bawang dalam persepedaan. Kami berkumpul di rumah saya di daerah Pondok Bambu, dan menggowes ke stasiun kereta Tebet. Berangkat jam 7 pagi, sampai di Tebet pukul 7.30, dan bertepatan dengan sampainya kami di sana, kereta Express yang menjadi media transportasi kami pun datang. Mengapa kami memilih kereta Express AC seharga Rp 11.000? Karena kalau naik kereta AC ekonomi yang berhenti di tiap setasiun itu, kami takut sepeda kami mengganggu, apalagi kalo naik kereta ekonomi biasa yang cuma 2000 perak itu. Bisa-bisa sampe Bogor, sepeda kami sudah menjadi onderdil tanpa bentuk karena berdesakan dengan ayam, kambing, bawang, dan apapun yang disumpelin ke kereta ekonomi itu.

Suasana di Atas Kereta

Petugas KA di stasiun Tebet cukup ramah, mereka membantu saya menaikkan sepeda ke dalam kereta. Perjalanan Tebet-Bogor via kereta makan waktu kurang lebih 45 menit. Akhirnya sampai juga di stasiun Bogor yang terkenal banyak copetnya itu. Tempat pertama yang kami datangi adalah Istana Bogor. Bagian luarnya aja sih, tapi lumayan cekrak cekrek di sana dan dapet foto bareng rusa. Udara segar Bogor memenuhi paru-paru ketika kami menggowes di jalanan yang menurun menuju ke Taman Kencana untuk sarapan. Perjalanan diteruskan dalam rangka sepedaan di dalam Kebun Raya Bogor.

Ahh! Rusa Bogooor!

Cihuy, sampe juga nih di Kebun Raya yang biasanya menjadi tujuan utama wisatawan jika mengunjungi Bogor. Dengan hati riang, kami sudah mau masuk kebun raya, ketika satpam dan mbak2 tiket di Kebun Raya berkata “Maaf, sepedanya tidak bisa masuk ke dalam ya..” WHAT THE F…??!! Yep, kita gak boleh masuk kebun raya karena kami memakai sepeda!! Sedangkan mobil boleh masuk! Saya super nggak ngerti. Seinget saya waktu dulu pernah ngunjungin kebun raya, banyak kok orang yang sepedaan. Lagipula kalo mau dipikir2, yang lebih bikin polusi itu mobil kan daripada sepeda..?! Ada nih satu satpam di sana bilang gini “Ya, soalnya dulu ada yg naik sepeda di sini, terus jatuh, luka parah sampe masuk kali Ciliwung, mbak“. Lah, kalo begitu caranya mah gak usah bangun jembatan layang, jalan tol, dll yang bisa menimbulkan kecelakaan! Lumayan kecewa nih gak bisa masuk sini, akhirnya kita jalan lagi entah menuju ke mana.

Gagal Bersepeda di Kebun Raya Bogor

Di jalan, kami melewati sebuah Vihara bernama Dharmakaya. Sayang nih kalo dilewatin, sehingga kita menyempatkan berfoto di sini, dengan Ibhe yang udah merinding rinding masuk ke sini. Huh, anting di kuping si Ibhe boleh bejejer, hati mah teteup penakuut! Cupu! Lanjut lagi merangsek jalanan kota Bogor yang mulai riweuh dengan angkot2 yang semrawut. Mana kebanyakan jalanannya tanjakan pula, huhu.. Kesian si Vina yang make sepeda lipet tanpa gigi. Yang dia bisa cuma nyengir dan selalu jadi paling belakang dalam kegiatan bersepeda kita kali ini. Akhirnya ketemu sebuah tempat pariwisata lain, yaitu Istana Batu Tulis. Tapi eh ternyata istana tersebut udah jadi rumahnya Ibu yang pernah menjabat menjadi Presiden RI itu, sehingga udah gak jadi tempat wisata lagi. Hadoh. Ampun dijeee.

Vihara Dharmakaya

Riweuhnya kota Bogor yet Menenangkan

Fyuh, setelah 3/4 Bogor kita kelilingin, mampirlah di Tugu deket terminal Bogor yang jadi tempat foto2 kita juga. Kalo kata Mas Nugi mah, nama tugu ini ialah Tugu Kujang. Dahaga mulai mengetuk-ngetuk lambung, sehingga kita mampir ke sebuah FO sambil minum teh poci dingin. Sempet pula masuk2 FO tanpa beli apa2. Jam menunjukkan pukul 2, udah waktunya makan siang nih, jadinya kita menuju Yun Sin, restoran Mie yang katanya paling “megang” di Bogor. Eits jangan seneng dulu. Rute jalanan kita menuju Yun Sin cukup horor, ma men! Nyebrang jembatan yang mana air sungai di bawahnya beriak kencang, dan tanjakan yang 45 derajat. Masya Awloh.

Tugu Kujang

Si Jembatan Bergojang

Si Tanjakan Neraka, tapi Pas Nyampe Viewnya Bagus!

Sesampainya di restoran tersebut, Ibhe nampak sangat excited dengan rasa mie yang disajikan. Saya rasa sih pake babi, tapi kalo disembelihnya pake Bismillah gak papa kali ya *CUIH*. masih di restoran, hujan menghadang, sehingga kita tetep kongkow di restoran sambil main games berantai yang gak penting tapi lumayan bikin ngikik2. Hujan masih gerimis, tapi kita nekat nerusin perjalanan. Untung bawa jas ujan, jadi jangan lupa bawa jas ujan kalo gowes ke mana-mana ya nak.. Berhubung hari sudah sore, maka kami langsung mengarah ke stasiun kereta untuk ke Jakarta Aku Kan Kembali *koes Plus Mode: on*. Anehnya, ketika kita di stasiun Bogor, mereka meminta agar sepeda kita juga dibeliin tiket. Another WHAT THE F… with Bogor, people..?! Kalo keretanya penuh mah kita juga ngertiin kali. Tapi ini keretanya super kosong! Ah sudahlah, akhirnya ketika si kenek minta biaya tambahan, saya bilang aja “Pas tadi pagi saya di Tebet nggak harus bayar lagi tuh pak..” Eh si kenek gendut tua dan sepertinya kehidupan seksnya sudah tidak asoy lagi itu bilang gini “Ya.. Emang orang2 Tebet itu gak bener, gak pernah komunikasi sama kita“. lah, kalo mau curhat mah bikin blog, Pak! Jangan curcol sama penumpang, malih!

Mie Yun Sin

Sepeda Kita Sudah lelah

Eh ternyata ada juga bikers (jiyeh, bikers) yang naik kereta selain kita. Entah deh mereka diminta bayaran juga atau nggak. Sampai di Tebet, kita menggowes ke arah rumah saya, dengan sedikit kengerian ketika melewati terowongan prumpung yang macet dan berdebu. Sebelum sampe rumah, sempet duduk2 dulu di sebuah toko roti & es krim rumahan di daerah Cipinang Muara. Seumur2 saya tinggal di daerah sini, saya gak tau nih ada tempat ini. Mereka juga bikin roti buaya yang guede dengan harga murah! Hihi, kalo saya kawin mesen di mari ah.. (emang lo orang Betawi, tong?!). Dan finally.. Sampai juga di rumah saya dengan baik-baik saja meskipun kaki berasa segede Bogor. Thx for the companion, guys! Can’t wait to have another journey with y’all!

Finally, Jakarta!

Popularity: 17% [?]

Next »