April 22nd, 2010 -- Posted in Events, Green Act |
Selamat Hari Bumi! Apa sih yang udah kalian lakukan untuk bumi? Matiin lampu gak kepake? Make kertas daur ulang? Atau bawa tas sendiri kalo belanja, alih-alih make kantong plastik? Apapun pengimplementasiannya, WWF Indonesia mau ngundang kalian para earth warrior untuk bergabung di acara “DO BETTER FOR EARTH” hari Minggu, 25 April 2010 di Ancol, Jakarta Utara.

Ada apa aja sih di sini? Well well.. Tentu aja karena acara ini diadain dalam rangka hari bumi, maka kegiatannya juga super hijau dooonk. Coba ya anak2, catet nih di buku utang, akan ada kejadian apa sajakah di hari Minggu pagi pukul 06.00 – 12.00 itu:
- Fun Bike: Namanya juga bike, pasti kita sepedaan. Dan karena ada kata FUNnya juga, pastilah kita bersenang-senang. Caranya? Dengan ngider2 keliling Ancol make sepeda bersama Ibu Tatiek Fauzi Bowo. Kalo sempet, Menteri kehutanan kita juga mau join!
- Aksi: Apakah aksi ini? Adalah ratusan payung bertuliskan “Do Better For Earth” akan wara wiri di samping pantai. Membuat keriaan pagi itu makin ria! Whoo Hoo!
- Edutainment: Yes, G-Pluck si band yang bawain lagu2 The Beatles bakal tampil di sini. The Rombengs, para adik2 kita yang main musik dengan alat2 musik bekas juga bakal beraksi di sini. Selain itu, bakal ada pameran foto Wonder Eyes (Sumatera di Balik Lensa) yang kayak waktu itu ditampilin di acara Year of Tiger.
Seru2 banget kaan? Gak cuma itu, Mobil Panda yang keren itu juga bakal kongkow di sana, sehingga kamu bisa tahu lebih banyak tentang WWF dan program2 mereka yang ramah lingkungan. Kayaknya sih saya bakal ngeceng di booth Climate sama temen2 yang ikut tur Jawa Bali kemarin. O ya, jangan lupa bawa thumbler (botol minum) sendiri kta nyediain isi ulangnya kok. Astalavista bibeh! Sampe ketemu di sana ya!
PS: Gratis bike tag WWF buat kamu yang bawa sepeda sendiri. Hurray!
Popularity: 17% [?]
November 23rd, 2009 -- Posted in Events, Green Act |
September, Oktober, November Desember. Bulan berakhiran “Ber” sudah datang, itu berarti musim hujan mulai menghadang. Dan di bulan Desember 2009 yang merupakan bulan terakhir di kalender ini, akan diadakan konferensi perubahan iklim UNFCCC di Kopenhagen. Yang berunding dan berbicara? Tentu saja manusia, yaitu para pejabat tinggi negara yang, moga-moga, dapat menyerukan aspirasi ibu pertiwi kepada manusia. Loh, memangnya, apa sih yang mau dibicarakan dan diisyaratkan bumi? Coba kita telaah lebih jauh. Kalau bumi bisa bicara, pembicaraan macam apa yang kira-kira akan ia lontarkan kepada manusia ya..?
1. “Ya ampuun.. banjir di mana-mana sampai meluap dari tubuhku, udah gitu yang disalahin pemerintah. Tiap seseorang nunjuk orang lain, dia harus bisa mempertanggungjawabkan tuduhannya itu, apakah dia sudah lebih baik dari yang ia tunjuk..? Kalo kamu tetep buang sampah sembarangan padahal kamu sudah lulus TK, maka kamu merendahkan pendidikan kamu. Kan, dari TK juga udah diajarin supaya nggak buang sampah sembarangan?!” (Sungai Ciliwung)
2. “Et dah kan maen nih bocah-bocah.. Sakit tahu bodi gw digores-gores! Lo pikir gw anak gothic yang suka nyilet-nyilet bodi sendiri? Hadoh getah yang keluar dari badan gw banyak banget. CIH.” (Pohon Asem di Depok)
3. “Saya sebenarnya tidak masalah digunakan dan dieksploitasi untuk menyuplai listrik masyarakat banyak. Namun mengapa masyarakat tidak menerima dan menggunakan apa yang telah saya hasilkan ini dengan baik? (Air Terjun Pembangkit Tenaga Listrik di Bogor)
4. “Bu.. Aku gak kuat lagi.. Aku sesek..”
“Iya nak.. yang sabar ya.. Ibu juga sebenernya gak kuat, tapi semua keluarga kita juga ngerasain asep ini”
“Uhuk.. uhuk.. Betul nak, Ayah juga kayaknya jadi kena bronchitis nih. Bahkan negara tetangga juga kena imbas akan asap yang ditimbulkan. Yang kita bisa lakukan hanyalah bersabar dan tawakal”. (Keluarga pohon yang terbakar di Hutan Kalimantan)
5. “Aku capek terus menerus keluar. Aku capek terus menerus menyembur. Aku capek dibenci orang banyak. Aku ingin kembali lagi ke dalam tanah, tempat dimana aku tidak terkena cahaya dan mendengar cercaan serta makian banyak orang. AKu ingin ketenangan dan kedamaian.” (Lumpur Porong, Sidoarjo)
6. “Plastik lagiiii.. ah.. Plastik lagi… Kutak mauuu.. ah.. ditimbun plastik lagi… *mabuk lagi mode: on* (Tanah di tempat pembuangan sampah Bantar Gebang)
7. “Booo!!! Gini-gini eike tuh transparan ya.. Tapi gemana mau transparan lagi? Kalo tiap hari disembur apa itu item-item dari asap knalpot mobil-mobil? Duh.. Badan eike jadi gak bersih lagi! Say no to dust! Eike benci benci benciiiii!!” (Udara sekitar Gatot Subroto-Sudirman-Thamrin di hari kerja)
8. “Pengen lari-lari lagi di padang rumput. Pengen guling-gulingan lagi sama sodara-sodara di hutan belantara. Bukannya dikerangkeng di jeruji besi nggak jelas begini yang tiap hari cuma diliatin secara takjub oleh kerabat-kerabat manusia yang mengambilku dari alam lepas.” (Macan tutul Afrika, di sebuah rumah pejabat di Menteng)
9. “Yak bagooos.. Pake bom aje terus.. Pake dong otaknya!! Kalo kalian ngebom kita-kita, bukannya dapet ikan-ikan gede, malah ikan-ikan kecil juga mati! Terumbu karang yang dipergunakan hewan laut untuk bersembunyi dan mencari makan juga mati! Yang mana kalau kalian ke sini lagi besok-besok, udah gak ada ikan-ikan yang tersisa, karena semua udah MATII!! (Ikan-ikan di perairan Pangkep Sulawesi Selatan)
10. “Kenapa sih aku selalu digunakan berjam-jam dengan daya yang luar biasa? Padahal jika dayaku dikurangi atau dimatikan sama sekali, listrik yang seharusnya digunakan dapat mengaliri desa sebelah dengan baik.” (Lampu-lampu Candi di daerah Jawa)
Wah.. Masihkah kita diam dan tidak berbuat apa-apa hingga akhirnya bumi benar-benar mengalah dengan keadaan, dan menjadi tidak “segitunya lagi” dengan kita? Jangan. Berbuatlah dengan langkah kecil yang dimualai dari kita sendiri. Misalnya? Seperti mengikuti Earth Hour. Apa itu Earth Hour? Intinya, program ini dilaksanakan untuk mematikan semua lampu dan listrik dalam waktu 1 hari, tepatnya hanya 1 jam saja, dalam waktu sekali dalam setahun. Earth Hour di dunia sudah dilaksanakan sejak tahun 2007 di dunia, namun di Indonesia baru diadakan tahun 2009. Meskipun demikian, tidak sedikit dari masyarakat yang mendukung dan ikut mengimplementasikan gerakan ini.

Di Earth Hour 2010 yang rencananya akan dilaksanakan tanggal 27 Maret 2010 pukul 20:30 hingga 21:30 waktu setempat. Tapi nggak nunggu 2010 dan memulainya dari sekarang di rumah masing-masing juga lebih ok lho. Selain program ini, ada juga film dokumenter ciamik yang mensupport gerakan penyelamatan bumi ini, namanya The Age of Stupid. Tertarik untuk ikut mendukung dan melebur dalam gerakan ini? Ayo ajak teman dan kerabat untuk mengikuti gerakan yang pastinya membuat bumi tersenyum. Karena ingat, bumi selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi tidak untuk memenuhi kerakusan manusia. Yuk kita dukung Earth Hour 2010 dan moga-moga yang kita dengar dari ibu pertiwi tidak lagi kesedihan, melainkan kegembiraan karena telah dirawat dengan baik di tempat yang bernama Bumi. Semoga.
Popularity: 14% [?]
May 7th, 2009 -- Posted in Green Act, Traveling |
.!.
Setelah keluyuran di pantai Pulau Peucang, Ujung Kulon, dan sudah akrab sama babi dan rusa di sana, sekarang saya beralih untuk melacur ke gunung. Pulang dari pantai tanggal 12 April dengan bodi luluh dan lantak, besoknya saya harus ke Gunung Gede Pangrango untuk survey tempat untuk sebuah program CSR. Huah.. Rada kurang menikmati karena badan lagi greges, tapi overall nice kok. Sebelumnya, karena ini tulisan laporan saya buat kantor, jadi mohon dimaklum kalo rada formil ya, hihi..
ExxonMobil, sebuah perusahaan minyak yang sudah seratus tahun lebih berada di Indonesia akan mengadakan program volunteering penanaman pohon untuk diadopsi bagi para karyawannya. Acara yang rencananya akan dilaksanakan bulan Mei 2009 ini bermitra dengan Yayasan Mitra Mandiri sebagai koordinator program, dan juga Green Radio sebagai media partner. Program pengadopsian pohon sendiri merupakan program dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Namun disosialisasikan kepada masyarakat untuk ikut membantu gerakan penghijauan ini.
Area penanaman terletak di Resort Sarongge Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Cianjur. Waktu tempuh ± 2,5 jam perjalanan dari Jakarta. Masuk lewat Desa Ciputri, ± 2 km akan sampai ke Wisma, tempat yang disediakan untuk memarkir mobil. Naik lagi keatas, ± 0,5 km sampai ke tempat yang ada plang ”Resort Sarongge”. Dari situ, perjalanan ditempuh dengan mobil ranger ± 0,5 jam sampai taman bunga. Jalan kaki ke tempat yang nantinya akan menjadi tempat seremonial ditempuh ± 0,5 jam. Dan untuk tempat penanaman pohonnya sendiri masih harus naik ± 15 menit lagi.

Di bayangan saya sih, yg namanya mobil ranger gak gini.. hee..

Naik naik ke puncak gunung
Jenis-jenis pohon yang akan ditanam nantinya adalah Puspa, Suren, Rasamala, Manglit dan Saninten, karena pohon-pohon itu merupakan vegetasi alami di sana. Untuk pengadopsian pohon saat ini dapat dilakukan oleh:
• Lembaga/ Korporasi (minimum 3 hektar untuk 3 tahun)
• Perorangan (minimum 1 pohon untuk 3 tahun)
Jika suatu perusahaan atau lembaga mau mengadopsi pohon, sebagai tanda nantinya akan dipasang plang nama perusahaan tersebutdi tempat mereka menanam sebanyak satu buah. Sedangkan perorangan, nantinya akan dihitung titik koordinatnya. Dari titik berapa sampai berapa atas nama siapa-siapa saja. Jadi, nama kita akan tertera bersama nama orang lain di wilayah tertentu.

Contoh Plang Perusahaan
Harga pengadopsian untuk satu pohon sebesar Rp 108.000 rupiah, yang sudah termasuk bibit pohon, dan juga untuk pemeliharaan pohon selama tiga tahun. Lamanya waktu pemeliharaan hingga tiga tahun, karena tiga tahun pertama adalah masa kritis pohon. Jika sebelum tiga tahun ada pohon yang mati, maka pohon tersebut akan diganti dengan yang baru, yang menurut masyarakat di sana istilahnya “disulam”. Biaya penyulaman pun sudah termasuk dalam biaya Rp 108.000 tersebut.
Menurut Bapak Hidayat, Kepala Bagian Resort, dari biaya Rp 108.000 tersebut juga disisihkan untuk biaya program kesejahteraan petani yang memelihara pohon-pohon yang diadopsi. Program kesejahteraan tersebut nantinya adalah pemberian ternak, dimana untuk waktu ke depannya, para petani ini tidak diijinkan lagi untuk bertani di lahan Taman Nasional tersebut. Pada intinya, selain untuk menjaga lingkungan, program ini juga baik untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

Data Program Adopsi Pohon
Luas seluruhnya dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mencapai 7000 hektar. Sedangkan untuk satu blok untuk program adopsi pohon seluas 37 hektar, yang dikelola oleh 153 petani. Untuk pengunjung dalam sekali kunjungan penanaman pohon, dibatasi hingga 50 orang. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kerusakan ekosistem sekitar. Jarak tanam dari satu pohon ke pohon lain adalah 5 meter. Satu pohon dapat mensuplai kebutuhan oksigen untuk sekitar 2 orang, jadi menebang 1 pohon itu artinya membunuh 2 orang.

Pohon yang terbentuk dari berbagai quote dan ayat2 dari kitab mengenai pentingnya menjaga alam. Merinding disko bacanya.
Dulunya, Taman Nasional Gunung gede Pangrango dikelola oleh Perhutani, sehingga hutan di situ merupakan Hutan Produksi. Hutan yang bertujuan untuk memberikan benefit secara materi. Namun sejak tahun 2003, taman ini dihibahkan kepada Hutan Pangrango, di bawah Departemen Kehutanan. Sejak itu, fungsi hutan berubah menjadi hutan konservasi, hutan yang harus dilindungi. Sejatinya, hutan konservasi tidak boleh difungsikan untuk tempat tinggal. Namun, karena dulu Perhutani mempunyai program PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat), maka di sekitar taman tersebut masyarakat diijinkan untuk bercocok tanam.

Budidaya kembang merupakan salah satu mata pencaharian selain sayur mayur
Untuk lebih jelasnya mengenai program adopsi pohon, masyarakat dapat membacanya di sini. Atau dapat menghubungi:
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]
Jl. Raya Cibodas, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia 43253
Tel: +62-263-512776 Fax: +62-263-519415
Email: info@gedepangrango.org

Ngeceng dulu sama anak2 Green Radio
Tertarik untuk mengadopsi pohon atau malah mau memulai menanam pohon di depan rumah? Yuk yuk yuk.. Karena kita harus ingat:

Menanam Berarti Menabung
(c) Tree pic
Popularity: 10% [?]