Trivia Remy Sylado
Dewan Kesenian Jakarta membuat program yang rencananya akan diadakan sebulan sekali dengan tajuk “Bincang Tokoh”. Event ini bertujuan untuk memberikan ruang diskusi yang tidak berjarak antara siapapun peminat sastra dengan tokoh sastra Indonesia yang telah teruji kualitasnya. Untuk Bincang Tokoh pertama, tokoh sastra yang terpilih adalah REMY SYLADO. Karena kebetulan (baca: DINIATIN) hari itu saya datang ke TIM, tepatnya Galeri Cipta II untuk ngintip2 acara itu, saya menangkap banyak sekali Trivia mengenai Opa Remy Sylado yang bikin.. merinding rinding badinding gemanaaa gituh..
- Sampai sekarang, Remy Sylado masih make mesin tik. Sehingga semua karyanya termasuk cerbung “Aku Mata Hari” yang sedang tayang di Kompas harus diketik ulang.
- Sehebat2nya tokoh yg dibuat Remy Sylado, tidak ada yg lebih hebat dari beliau sendiri. Si spionase Mata Hari bisa 7 bahasa. Remy? Lebih! Ples bahasa Sunda, Manado, Jawa, dll.
- Dulu, tiap Remy Sylado buat karya, selalu dibilang pop. Sekarang, dibilang sastra tingkat tinggi. Ini Remy yg maju/sastra yg mundur?
- Ada salah seorang penanya yang memanggil diri sendiri “mbak diah” & tiba-tiba seperti meramal Remy dengan menjumlahkan angka dari nama re-mi-si-la-do = 1. Artinya leader. Mantap!
- Kata Remy Sylado, budaya kita adalah budaya bicara, atau budaya cangkem. Sedangkan di luar sudah budaya tulis. Jadi akan naif kalo kita menyamakan semua dan menganggap luar negeri selalu lebih bagus.
- Remy Sylado pernah membuat kamus bahasa Minahasa-Indonesia dengan nama asli, yaitu Yapi Tambayong. Begitu juga ketika dia buat ensiklopedia musik yg meraih penghargaan “One Man Achievement” dari Amerika. Iya, karena dia bikin ensiklopedia SEORANG DIRI.
- Ketika ditanya, hal apa yang belum tercapai dalam hidup seorang Remy Sylado? Remy dengan senyum simpul menjawab asal: “MASUK SURGA”
- Orang nyentrik yang selalu berpakaian serba putih ini selalu make arloji 2 buah. 1 di kiri kurang 2 menit. 1 di kanan lebih 3 menit, sebagai simbol bahwa mesin aja bisa beda, apalagi pemikiran. Jamnya terlihat seperti mahal, tapi dia bilang “Ini jam 50.000 aja beli di Senen!”
- Remy dengan kapasitasnya sebagai Munsyi (ahli bahasa) berkata: “Selain welcome, apalah itu yang bahasa inggris, fuck you, dan lain-lain, kadang orang kita keder pake bahasa. Mau masuk & keluar gedung kok tulisannya in & out. Emang kita shuttle cock? Entrance & exit kali!” –> Di sini saya ngakak gilaa!
- Dan yang paling menggegerkan adalah: Beliau bukanlah seorang muslim, namun sudah khatam Quran di usia 14 th, dan bisa menulis huruf arab gundul!!
Hwaaah! Maaf nih saya berapi-api banget nulisnya.. Secara ngefens banget sama beliau! Di akhir acara, saya minta tanda tangannyalah di buku Jalan Tamblong (buku naskah ples CD musik) yang baru dibeli, beserta 3 buku Remy lain yang saya bawa dari rumah. Gak lupa tentunya foto bersamaaa! *pingsan*

“Itulah Remy Sylado, semua dikerjakannya dan hasilnya selalu bagus.” (Martin Aleida)
Potongan Cerita di Kartu Pos
Book Review
Book Title: Potongan Cerita di Kartu pos
Author: Agus Noor
What:
Buku kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Kompas. Di dalamnya termuat 9 cerita, dilengkapi dengan biodata Agus Noor, sang penulis yang dinobatkan sebagai sastrawan angkatan 2000 oleh Korie Layun Rampan.
Background baca buku ini:
Simply because it’s cheap. 10.000 aja kakak, saya beli pas ada sale di FX, mol baru yang cukup hip di Jakarta Selatan.
Tiw’s Opinion:
Unik, karena di setiap ceritanya diawali dengan tulisan di atas kartu pos. Misalnya di cerpen pertama, ada “Kartu Pos Dari Teman”, yang isinya kurang lebih: “Aduh, aku baru ajah baca cerpenmu di Koran Tempo… Hmm, kenapa belakangan ini kamu seperti sangat fasih kalau menuliskan kisah-kisah penuh gairah ya?” Itu untuk cerpen pertama, untuk cerpen ke-2 dan selanjutnya, ada lagi kartu pos-kartu pos seorang teman untuk pacar gelapnya, kartu pos dari teman untuk calon pembaca, dsb. Ceritanya pun aneh yet menghibur. Hm.. Agus Noor, Anda sepertinya mulai masuk ke celah hati ini dalam dunia sastra Indonesia yang saya cinta..
Cocok untuk:
Kamu2 yang jarang baca buku sastra karena alasannya “Ah, berat baca buku sastra”. Oh, tenang, keabsurdan dan keanehan serta gairah yang terangkum dalam buku ini sudah cukup untuk membuat kamu menjadi pembaca pemula. Betul. Saya tidak bohong lho.
Happy Reading!!
(c) Cover Buku

