500 Days of Summer
This is a story of a boy meets girl… but you should know up front
This is not a love story
Setelah mendownloadnya kemudian menontonnya jam 3 pagi, I can’t resist to share my feeling of happiness with you all. Film ini sulit digambarkan dengan kata-kata karena sangat normal, sederhana, dan terjadi di tempat yang biasa-biasa saja. Jalan cerita 500 days of Summer kurang lebih seperti ini:
- Tom, cowok asal New Jersey yang belajar arsitek dan malah bekerja sebagai penulis kartu ucapan adalah seorang yang commonly romantic. Percaya dengan cinta dan hal-hal romantis lainnya.
- Summer, asisten baru di perusahaan kartu tempat Tom bekerja, disisi lain, tidak percaya cinta dan tidak suka terikat dengan hubungan.
- Saat pertama melihat Summer, Tom tahu Summer adalah orang yang tepat buat dirinya.
Kira-kira begitu garis besar jalan ceritanya. Simple, tapi banyak faktor yang membuat film ini memikat dan bisa senyum-senyum sendiri nontonnya. Here’s some of the few factors:
- Zoey Deschanel. Pemain ini nggak terlalu banyak tampil di film-film besar, terakhir yang saya tahu Zoey bermain bersama Jim Carrey di Yes Man. Rambutnya yang hitam dan poninya yang lucu serta senyumnya yang khas membuat karakter Summer mengendap di hati cowok-cowok (at least mine).
- Joseph Gordon Levitt. Kalau nggak inget film Bricks yang dulu dibintangi Joseph dan meraih pujian dari banyak kritik nggak papa, soalnya itu film Indie dan sulit didapat di toko DVD bajakan. Tapi kalau 10 Things I Hate About You masih inget dong? Cowok bertubuh kecil bernama Cameron yang ngejar-ngejar Bianca? Penampilan Joseph di 500 days asik ditonton. Gagap-gagap nervous dan chucklesnya terlihat wajar. That’s what I like about him. Gesture-gesture awkwardnya memberi aksen pada karakter Tom.
- Plot Cerita. Plot cerita yang non linier membuat 500 days menjadi cerdas dan tidak dangkal. Di hari-hari awal, Tom dan Summer terlihat bersama dan menikmati kemudian di jauh hari kemudian Tom terlihat sendiri dan sedih. Scene senang dan sedih silih berganti mencampur adukkan perasaan penonton. Walaupun non linier, film ini mudah dicerna via indikator hari.
Film ini disutradarai oleh Marc Webb dan ini adalah film pertamanya. Canggih juga kan? Film pertama tapi sukses dan enak ditonton. Buat cowok-cowok yang nggak suka film romance, tenang, film ini nggak lembek kok, nggak girly kayak Twilight, nggak kompleks kayak Eternal Sunshine of The Spotless Mind. It’s clever and simple.. Nice soundtrack, too…
Buat yang mau download:
Wanita yang Jatuh Cinta pada Pria Berbau Mi Ayam
Ia jatuh cinta. Ia, wanita, jatuh cinta. Jatuh cinta yang teramat sangat ketika menyusuri trotoar depan kantornya. Pria itu.. Ah.. Pria itu memikat hatinya hanya dalam satu hirupan nafas. Ia merasa terbuai dan terlena dengan bau si pria. Bukan, bukan bau parfum terkenal yang seharga setengah gajinya, ataupun parfum KW2 maupun KW3 yang biasa diisi di botol2 kecil berbentuk pulpen. Pria itu.. Berbau mi ayam..
Sejak kecil, ia sudah jatuh cinta pada mi ayam. Khususnya mi ayam bikinan ayahnya. Tepung diberi tepung lagi, diberi bumbu, dipilin, dipotong, dilempar, dan semua gerakan2 atraktif dari tangan ayahnya yang membuatnya sangat senang melihat pembuatan mi ayam. Ketika mi ayam sudah jadi, ia makin jatuh dan mencinta dengan bau mi ayam yang sudah bercampur dengan kaldu, dengan vetsin, dengan bawang, dengan pangsit, dan dengan dengan lain yang terblender menjadi satu di indra penglihatan dan penciumannya.
Ya, pria itu sudah beberapa kali lewat di depannya. Sekali, hidungnya merasa samar-samar antara bau mi ayam bercampur keringat si pria. Dua kali bertemu, tiga kali bertemu, sampai berkali-kali bertemu, ia makin yakin bahwa pria itu.. Berbau mi ayam. Mi ayam yang bukan sembarang mi ayam. Bau yang meruap di udara dan tertangkap oleh buluh getar di hidungnya tidak salah lagi, adalah bau mi ayam yang selalu ia kagumi ketika kecil.
Itty Bitty Titty Committee video Pria mi ayam.. Siapa namamu..? Di mana rumahmu..? Mengapa kau berbau mi ayam..? Apa yang kau lakukan hingga kau dengan mudahnya membuatku jatuh cinta..?
Di tempat yang tidak jauh dari si wanita, seorang wanita lain menegur seorang pria.
Gifted Hands: The Ben Carson Story rip “Bo, kemana aja sih kemaren-kemaren..? Tiap jam makan siang gak makan di kantin lagi..?” Si pria menjawab “Aku makan mi ayam“. “Mi ayam..? Setiap hari?” “Iya, setiap hari.” “Supaya apa?” “Supaya aku cepat mati” “Loh, kenapa kau mau cepat mati?” “Kata dokter hidupku sebentar lagi. Lambungku rusak parah. Biar cepet mati, aku makan mi ayam banyak2 saja supaya lambungku cepat hancur.” “Lalu? alasan lain selain itu?” “Karena tidak ada orang yang mencintaiku.” “Baiklah, sekarang kau mau ke mana?” Dan sang pria menjawab lirih namun pasti: “Makan mi ayam.
“
Sang pria pun berlalu diiringi pandangan penuh cinta dari seorang wanita di ujung jalan.
(c) gambar mi ayam

