July 16th, 2010 -- Posted in Blab |
Sudah satu jam aku menunggu di sini. Katanya pesawat menuju Jakarta di delay karena ada masalah dengan bahan bakarnya. Hah, aku kira cuma di Indonesia yang jadwal keberangkatan pesawatnya tidak tentu begini. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, namun ruangan ini jadi semakin dingin. Syal coklat yang baru kubeli di Orchard Road kemarin kuikat dengan erat di leher yang makin keriput ini. Lagu Tiger In The Rain dari Michael Franks berkumandang lamat-lamat dari pengeras suara yang di ujung sana. Pilihan yang cukup bagus, karena Michael Franks adalah salah satu dari sekian banyak penyanyi jazz favoritku.
Kantuk menyerang, tapi lebih baik jangan mengikuti nafsu ini untuk tidur karena aku takut kebablasan. Untuk itu, aku pakai kacamata bacaku dan mulai membaca buku kumpulan Esai karya penulis kawakan Remy Sylado. Buku ini hadiah ulang tahunku yang ke-60 dari cucuku, Dhika. Pikiran ini melayang menuju 10 tahun yang lalu, malam ketika Dhika dilahirkan.

continue reading »
Popularity: 1% [?]
October 26th, 2009 -- Posted in Titiw Inside |
“Ya ampun.. di sana mah harga nih makanan bisa nyampe 20 dolar! kok bisa ya di Indo cuma 3 dolar..”
Kurang familiar dengan kalimat2 ini? Ini adalah tipikal kalimat2 yang menyembur dari mulut anak2 Indonesia yang setahun dua tahun kuliah (biasanya bisnis) di Ostrali atau Amerika. “Di sana” dimaksudkan dengan negara tempat dimana dia kuliah dulu, dan “Indo” refers to Indonesia. Indonesia.. tanah air beta, dimana sekarang agama yang paling dihayati di negeri ini adalah fulus. Dimana orang2 yang dapat bertanggung jawab sangat langka untuk ditemukan. Menjawab saja sih bisa, namun untuk menanggung? tunggu dulu..
Dulu (kurang tau sekarang), pasti orang2 tak dikenalpun selalu tersenyum dan berkata “Mampir dek.. mampir neng.. Bade kamana?” dan semacamnya ditambah embel2 senyum manis di bibir yang sangking manisnya udah kayak gula ilegal. Kalo sekarang mah, ditegor dikit kita pasti udah setel wajah kendur sambil meringsek menjauh dari yang empunya suara. Belum lagi ditambah berita2 miring, kriminil dan mbalelo dari program2 tivi semacam buser, derap, tikam, yang membuat ketakutan orang2 Indonesia semangkin paripurna.
Mud saya selalu mengencang dan mengulur jika membicarakan hal2 tentang Indonesia. Banyak sekali agonia yang terjadi di dalam dan luar diri si Ibu pertiwi.
Ia selalu memperhatikan anak-anaknya yang terkadang gembira sehabis makan daging rendang dari nasi kotak 1000 harian si mbah di komplek sebelah..
Anak2nya yang terkadang sedih sampai mukanya bagaikan lembaran seribu yang sobek..
Anak2nya yang sedang terjepit hatinya sampai mukanya terlihat bagaikan pengungsi Vietnam yang nahan berak sampai 11 hari..
Namun apakah anak-anaknya memperhatikan rautnya yang lelah sangat..?
Lara dan lelah mukim di hatinya sampai air mata itu hablur dalam senja di batas sana..

Indo-Nesia
Indonesia.. dimana orang2 menjadi sangat religius jika pesawat yang ditumpangi melewati ruang hampa udara..
Indonesia.. yang katanya 2 dari 3 orang cowok menyeleweng.. namun berarti ada juga 2 dari 3 orang perempuan yang menampung tindakan tersebut..
Indonesia.. dimana masing2 orang mempunyai trufkaart orang lain..
Indonesia.. dimana kebanyakan orang mengambil kesempatan orang lain selayaknya sambil menyelam minum air dan sekalian kencing..
Indonesia.. dimana para pemerkosa hanya didenda 5 juta rupiah, yang jelas2 uang itu sangat jauh dari biaya pembangunan lift monas seharga 540 juta. Padahal untuk harga diri yang terinjak, tersia, sampai masa depan kelam dan hancur, perlu lebih dari sekadar perbaikan, tapi juga restorasi nama baik..
Makanya saya males ngomong “Indo”, kesannya kayak pernah kuliah di luar negeri aja. Lagipula wajar saja kalo kepercayan kita kepada Indonesia setengah-setengah. Wong menyebut namanya saja cuma setengah. Tapi tunggu dulu.. Tentu tidak semuanya begitu.. jangan selalu under estimate dengan bangsa sendiri.. siapa yang membangun negara ini kalo bukan kita2 juga.. Sedikit kasih kepercayaan lah sama si Indonesia ini..
Namun.. tetap.. di balik kekecewaan yang ungu.. terdapat sebuah kerinduan yang biru..

Boulevard De Clichy
Ditulis kembali untuk Remy Sylado
-Depok, 2007-
Popularity: 11% [?]
August 26th, 2009 -- Posted in Events |
Palang Pintu dijadiin FESTIVAL??! Apaan sih?? Jelaskan dengan komprehensif dooong!!! Festival Palang Pintu yang diadakan tanggal 2 Agustus 2009 merupakan festival yang diadakan dalam rangka mensosialisasikan kultur betawi terhadap masyarakat. Pertamanya, saya pikir festival ini adalah festival Kemang seperti yang biasa diadakan setiap tahunnya. Karena, festival ini juga menutup akses jalan di Kemang dan sekitarnya, namun jalan yang ditutup tidak sepanjang yang biasanya seperti jika festival Kemang diadakan.

Panggung Utama. Jakarta berprestasi ya..

Et dah mpok, kan maen!
Saya datang ke festival tersebut dengan Vina dan Mbak Moi sekeluarga, langsung dari Garage Sale. Hehe, belom puas belanja belanji di Garage Sale, Festival ini dihajar juga. Variasi barang yang dijual rupa2 banget. Dari makanan, minuman, mainan, sampe binatang peliharaan. Ada pula makanan2 khas betawi kayak bir pletok, kerak telor, dan lain sebagainya. Meskipun begitu, kalo mau dibandingkan lagi sama festival Kemang, barang-barangnya kurang banyak, dan kurang “anak muda”.

Kuwa kuwa
Dalam festival ini juga ada panggung, menampilkan kesenian tradisional betawi, dan ada juga Bang Fauzi Bowo, yang gak sempet saya liat. Lagi asik2 sikat2 mata di situ, tiba2 aje nih ada mas2 yang wawancarain saya. Damn. Divideoin pula. Udah tahu eike kurang video genic. Katanya sih buat sebuah portal berita, di suatu website yang saya lupa namanya. Tenang aja mas, bukan saya doang yang situ dapatkan gambarnya. Situ juga saya foto. Cekrek!

Mas2 yg wawancarain saya
Di sana saya agak amazed dengan varian barang-barang yang dijual. dari barang super baru, baru dibikin di situ, sampe barang bekas. Eh saya ketemu sahabat saya yang namanya Ayu. Ayu ini akan buka bisnis jualan gendongan bayi, yang dia kasih merk “AUBREY”. Haha, saya tahu nih asal muasal nama ini, kalo kamu tahu ada band namanya Bread, carilah lagu Aubrey yang mereka bawakan. Ayo teh Ayu, kalo mau mempromosikan barangnya blog aku terbuka sekali lho, hehe..

Ayuning si pemilik Aubrey

Pengunjung interlokal. LHO?!
Hasil buruan di Festival Palang Pintu:

Celana mantai yg melorot mulu

Masker 10.000 dapet 3
Engkau liilin lilin wangiii

Kerudung Merah Kirmizi! FINALLY!
- – 2 celana pendek buat mantai @ Rp 10.000
- - Masker Rp 10.000 dapet 3 bijix2. Parohan deh sama Vina.
- - Lilin wangi Rp 5000 dari Kedaung. Saya beli for old times sake aja, dulu pertama kali beli lilin ginian di Kedaung juga soalnya.
- - Best buy: buku 2nd Remy Sylado dengan kondisi 85% baik “Kerudung Merah Kirmizi” seharga Rp 10.000! HUAAA!! Kenapa saya seneng banget, karena buku ini udah discontinued. Alias gak diterbitin lagi sama Gramedia, dan saya belum pernah punya. Entah kenapa, padahal buku ini dapet Khatulistiwa Award lho.
Sekian laporan pandangan mata saya dari Festival Palang Pintu, Kemang. Selamat menjalankan ibadah puasa dan tabik.
Popularity: 15% [?]