Talking Bout My Generation

January 14, 2011 by titiw  
Filed under Events, Musics

Senin 10 Januari 2011, selasar Kineforum Taman Ismail Marzuki yang baru saja selesai direnovasi dipenuhi sosok-sosok anak muda kreatif yang mengikuti diskusi “Talking ‘Bout My Generation”. Diskusi ini sendiri merupakan rangkaian acara setelah sebelumnya film “Untuk Anak Muda” diputar di Kineforum. Sebenarnya apa yang perlu disuarakan anak muda sekarang ini?

Anak muda tentu perlu menyuarakan dirinya sendiri, entah itu tentang persoalan pribadinya, pandangannya terhadap politik, maupun ekspresi diri lewat media-media yang sesuai jaman mereka. Pemutaran film dokumenter “Untuk Anak Muda” juga bertujuan untuk mengetahui kisah di balik kesuksesan majalah anak muda paling berjaya di tahun 70an, yaitu “Aktuil”.

Film yang dinamakan rockumentary ini, sempat disebut-sebut sebagai rockumentary terbaik yang pernah dibuat di Indonesia. Dalam film juga ditampilkan tokoh-tokoh di belakang majalah “Aktuil” dan orang-orang di belakangnya yang mendapatkan pengaruh besar dari majalah ini, secara langsung, maupun tidak. Puncak kesuksesan “Aktuil” terjadi pada tahun 1975 ketika mereka berhasil membawa grup band legendaries Deep Purple untuk konser di Stadion Utama Senayan.

Setelah pemutaran film, program diskusi “Talking ‘Bout My Generation” dilaksanakan pukul 18.00 dengan Soleh Solihun (jurnalis Rolling Stone Indonesia) sebagai moderator, dan Ika Vantiani (pembuat Zine, Peniti Pink Zine distributor). Awalnya, Remy Sylado yang merupakan tokoh di balik majalah Aktuil didapuk sebagai pembicara, namun beliau berhalangan hadir. Diskusi tersebut juga diikuti Lisabona Rahman, Wendi Putranto, dan beberapa pelaku kreatif di bidang musik dan film.

NOTES

  1. Di atas adalah tulisan saya untuk kerjaan, sehingga maaph kalo rada intelek terdengar. Ha.
  2. Mbak Lisa itu hooh ya. Kalo jadi lines, saya demen tuh yang gitu2. *eh*
  3. Damn, saya nggak tahu kalo film “Untuk Anak Muda” Itu ada hubungannya sama majalah Aktuil. Jadi telat deh. *manyun*
  4. Yang paling pol: Saya.. PATAH. HATI. BANGET. Pas tau Remy Sylado nggak dateng! Padahaaal.. Saya udah buru2 dari rumah, dengan membawa beberapa buku beliau untuk ditandatangani! Huhu..
  5. Majalah Aktuil yang mana Remy Sylado merupakan salah 1 pentolan di dalamnya itu.. KEREN. ABIS! Lo boleh bilang majalah manapun keren, gak ada tandingannya sama majalah ini! Soleh Solihun dan Wenzrawk aja juga mengakuinya. Di tahun 70an, majalah ini contentnya underground gila, tapi penjualannya mainstream! FYI, kata kon*ol dan j*mbut mereka tuliiis dong di dalemnya, padahal itu jamannya Soeharto lho. Bayangkan betapa rebelnya mereka, sodara sodari!
  6. Intinya, saya jadi pengen nyari majalah Aktuil ah.. Buat koleksi.
  7. Besok saya mau traveling lagi, ke Pulau Gusung Pandan. Jadi jangan kangen sama tante. Kthxbai.

Once Upon A Time In Changi

July 16, 2010 by titiw  
Filed under Blab

Sudah satu jam aku menunggu di sini. Katanya pesawat menuju Jakarta di delay karena ada masalah dengan bahan bakarnya. Hah, aku kira cuma di Indonesia yang jadwal keberangkatan pesawatnya tidak tentu begini. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, namun ruangan ini jadi semakin dingin. Syal coklat yang baru kubeli di Orchard Road kemarin kuikat dengan erat di leher yang makin keriput ini. Lagu Tiger In The Rain dari Michael Franks berkumandang lamat-lamat dari pengeras suara yang di ujung sana. Pilihan yang cukup bagus, karena Michael Franks adalah salah satu dari sekian banyak penyanyi jazz favoritku.

Kantuk menyerang, tapi lebih baik jangan mengikuti nafsu ini untuk tidur karena aku takut kebablasan. Untuk itu, aku pakai kacamata bacaku dan mulai membaca buku kumpulan Esai karya penulis kawakan Remy Sylado. Buku ini hadiah ulang tahunku yang ke-60 dari cucuku, Dhika. Pikiran ini melayang menuju 10 tahun yang lalu, malam ketika Dhika dilahirkan.

Read more

Trivia Remy Sylado

May 25, 2010 by titiw  
Filed under Books

Dewan Kesenian Jakarta membuat program yang rencananya akan diadakan sebulan sekali dengan tajuk “Bincang Tokoh”. Event ini bertujuan untuk memberikan ruang diskusi yang tidak berjarak antara siapapun peminat sastra dengan tokoh sastra Indonesia yang telah teruji kualitasnya. Untuk Bincang Tokoh pertama, tokoh sastra yang terpilih adalah REMY SYLADO. Karena kebetulan (baca: DINIATIN) hari itu saya datang ke TIM, tepatnya Galeri Cipta II untuk ngintip2 acara itu, saya menangkap banyak sekali Trivia mengenai Opa Remy Sylado yang bikin.. merinding rinding badinding gemanaaa gituh..

Remy Sylado di Bincang Tokoh

  1. Sampai sekarang, Remy Sylado masih make mesin tik. Sehingga semua karyanya termasuk cerbung “Aku Mata Hari” yang sedang tayang di Kompas harus diketik ulang.
  2. Sehebat2nya tokoh yg dibuat Remy Sylado, tidak ada yg lebih hebat dari beliau sendiri. Si spionase Mata Hari bisa 7 bahasa. Remy? Lebih! Ples bahasa Sunda, Manado, Jawa, dll.
  3. Dulu, tiap Remy Sylado buat karya, selalu dibilang pop. Sekarang, dibilang sastra tingkat tinggi. Ini Remy yg maju/sastra yg mundur?
  4. Ada salah seorang penanya yang memanggil diri sendiri “mbak diah” & tiba-tiba seperti meramal Remy dengan menjumlahkan angka dari nama re-mi-si-la-do = 1. Artinya leader. Mantap!
  5. Kata Remy Sylado, budaya kita adalah budaya bicara, atau budaya cangkem. Sedangkan di luar sudah budaya tulis. Jadi akan naif kalo kita menyamakan semua dan menganggap luar negeri selalu lebih bagus.
  6. Remy Sylado pernah membuat kamus bahasa Minahasa-Indonesia dengan nama asli, yaitu Yapi Tambayong. Begitu juga ketika dia buat ensiklopedia musik yg meraih penghargaan “One Man Achievement” dari Amerika. Iya, karena dia bikin ensiklopedia SEORANG DIRI.
  7. Ketika ditanya, hal apa yang belum tercapai dalam hidup seorang Remy Sylado? Remy dengan senyum simpul menjawab asal: “MASUK SURGA”
  8. Orang nyentrik yang selalu berpakaian serba putih ini selalu make arloji 2 buah. 1 di kiri kurang 2 menit. 1 di kanan lebih 3 menit, sebagai simbol bahwa mesin aja bisa beda, apalagi pemikiran. Jamnya terlihat seperti mahal, tapi dia bilang “Ini jam 50.000 aja beli di Senen!”
  9. Remy dengan kapasitasnya sebagai Munsyi (ahli bahasa) berkata: “Selain welcome, apalah itu yang bahasa inggris, fuck you, dan lain-lain, kadang orang kita keder pake bahasa. Mau masuk & keluar gedung kok tulisannya in & out. Emang kita shuttle cock? Entrance & exit kali!” –> Di sini saya ngakak gilaa!
  10. Dan yang paling menggegerkan adalah: Beliau bukanlah seorang muslim, namun sudah khatam Quran di usia 14 th, dan bisa menulis huruf arab gundul!!

Hwaaah! Maaf nih saya berapi-api banget nulisnya.. Secara ngefens banget sama beliau! Di akhir acara, saya minta tanda tangannyalah di buku Jalan Tamblong (buku naskah ples CD musik) yang baru dibeli, beserta 3 buku Remy lain yang saya bawa dari rumah. Gak lupa tentunya foto bersamaaa! *pingsan*

“Itulah Remy Sylado, semua dikerjakannya dan hasilnya selalu bagus.” (Martin Aleida)

Mengapa Saya Anti Berkata “Indo”

October 26, 2009 by titiw  
Filed under Titiw Inside

“Ya ampun.. di sana mah harga nih makanan bisa nyampe 20 dolar! kok bisa ya di Indo cuma 3 dolar..”

Kurang familiar dengan kalimat2 ini? Ini adalah tipikal kalimat2 yang menyembur dari mulut anak2 Indonesia yang setahun dua tahun kuliah (biasanya bisnis) di Ostrali atau Amerika. “Di sana” dimaksudkan dengan negara tempat dimana dia kuliah dulu, dan “Indo” refers to Indonesia. Indonesia.. tanah air beta, dimana sekarang agama yang paling dihayati di negeri ini adalah fulus. Dimana orang2 yang dapat bertanggung jawab sangat langka untuk ditemukan. Menjawab saja sih bisa, namun untuk menanggung? tunggu dulu..

Dulu (kurang tau sekarang), pasti orang2 tak dikenalpun selalu tersenyum dan berkata “Mampir dek.. mampir neng.. Bade kamana?” dan semacamnya ditambah embel2 senyum manis di bibir yang sangking manisnya udah kayak gula ilegal. Kalo sekarang mah, ditegor dikit kita pasti udah setel wajah kendur sambil meringsek menjauh dari yang empunya suara. Belum lagi ditambah berita2 miring, kriminil dan mbalelo dari program2 tivi semacam buser, derap, tikam, yang membuat ketakutan orang2 Indonesia semangkin paripurna.

Mud saya selalu mengencang dan mengulur jika membicarakan hal2 tentang Indonesia. Banyak sekali agonia yang terjadi di dalam dan luar diri si Ibu pertiwi.
Ia selalu memperhatikan anak-anaknya yang terkadang gembira sehabis makan daging rendang dari nasi kotak 1000 harian si mbah di komplek sebelah..
Anak2nya yang terkadang sedih sampai mukanya bagaikan lembaran seribu yang sobek..
Anak2nya yang sedang terjepit hatinya sampai mukanya terlihat bagaikan pengungsi Vietnam yang nahan berak sampai 11 hari..
Namun apakah anak-anaknya memperhatikan rautnya yang lelah sangat..?
Lara dan lelah mukim di hatinya sampai air mata itu hablur dalam senja di batas sana..

Indo-Nesia

Indo-Nesia

Indonesia.. dimana orang2 menjadi sangat religius jika pesawat yang ditumpangi melewati ruang hampa udara..
Indonesia.. yang katanya 2 dari 3 orang cowok menyeleweng.. namun berarti ada juga 2 dari 3 orang perempuan yang menampung tindakan tersebut..
Indonesia.. dimana masing2 orang mempunyai trufkaart orang lain..
Indonesia.. dimana kebanyakan orang mengambil kesempatan orang lain selayaknya sambil menyelam minum air dan sekalian kencing..
Indonesia.. dimana para pemerkosa hanya didenda 5 juta rupiah, yang jelas2 uang itu sangat jauh dari biaya pembangunan lift monas seharga 540 juta. Padahal untuk harga diri yang terinjak, tersia, sampai masa depan kelam dan hancur, perlu lebih dari sekadar perbaikan, tapi juga restorasi nama baik..

download #1 cheerleader camp full

Makanya saya males ngomong “Indo”, kesannya kayak pernah kuliah di luar negeri aja. Lagipula wajar saja kalo kepercayan kita kepada Indonesia setengah-setengah. Wong menyebut namanya saja cuma setengah. Tapi tunggu dulu.. Tentu tidak semuanya begitu.. jangan selalu under estimate dengan bangsa sendiri.. siapa yang membangun negara ini kalo bukan kita2 juga.. Sedikit kasih kepercayaan lah sama si Indonesia ini..
Namun.. tetap.. di balik kekecewaan yang ungu.. terdapat sebuah kerinduan yang biru..

Boulevard De Clichy

Boulevard De Clichy

Ditulis kembali untuk Remy Sylado
-Depok, 2007-

Festival Palang Pintu, Kemang

August 26, 2009 by titiw  
Filed under Events

Palang Pintu dijadiin FESTIVAL??! Apaan sih?? Jelaskan dengan komprehensif dooong!!! Festival Palang Pintu yang diadakan tanggal 2 Agustus 2009 merupakan festival yang diadakan dalam rangka mensosialisasikan kultur betawi terhadap masyarakat. Pertamanya, saya pikir festival ini adalah festival Kemang seperti yang biasa diadakan setiap tahunnya. Karena, festival ini juga menutup akses jalan di Kemang dan sekitarnya, namun jalan yang ditutup tidak sepanjang yang biasanya seperti jika festival Kemang diadakan.

Panggung Utama. Jakarta berprestasi ya..

Panggung Utama. Jakarta berprestasi ya..

Et dah mpok, kan maen!

Et dah mpok, kan maen!

Saya datang ke festival tersebut dengan Vina dan Mbak Moi sekeluarga, langsung dari Garage Sale. Hehe, belom puas belanja belanji di Garage Sale, Festival ini dihajar juga. Variasi barang yang dijual rupa2 banget. Dari makanan, minuman, mainan, sampe binatang peliharaan. Ada pula makanan2 khas betawi kayak bir pletok, kerak telor, dan lain sebagainya. Meskipun begitu, kalo mau dibandingkan lagi sama festival Kemang, barang-barangnya kurang banyak, dan kurang “anak muda”.

Kuwa kuwa

Kuwa kuwa

Dalam festival ini juga ada panggung, menampilkan kesenian tradisional betawi, dan ada juga Bang Fauzi Bowo, yang gak sempet saya liat. Lagi asik2 sikat2 mata di situ, tiba2 aje nih ada mas2 yang wawancarain saya. Damn. Divideoin pula. Udah tahu eike kurang video genic. Katanya sih buat sebuah portal berita, di suatu website yang saya lupa namanya. Tenang aja mas, bukan saya doang yang situ dapatkan gambarnya. Situ juga saya foto. Cekrek!

Mas2 yg wawancarain saya

Mas2 yg wawancarain saya

Di sana saya agak amazed dengan varian barang-barang yang dijual. dari barang super baru, baru dibikin di situ, sampe barang bekas. Eh saya ketemu sahabat saya yang namanya Ayu. Ayu ini akan buka bisnis jualan gendongan bayi, yang dia kasih merk “AUBREY”. Haha, saya tahu nih asal muasal nama ini, kalo kamu tahu ada band namanya Bread, carilah lagu Aubrey yang mereka bawakan. Ayo teh Ayu, kalo mau mempromosikan barangnya blog aku terbuka sekali lho, hehe..

Ayuning si pemilik Aubrey

Ayuning si pemilik Aubrey

Pengunjung interlokal. LHO?!

Pengunjung interlokal. LHO?!

Hasil buruan di Festival Palang Pintu:

Celana mantai yg melorot mulu

Celana mantai yg melorot mulu

Masker 10.000 dapet 3

Masker 10.000 dapet 3

Engkau liilin lilin wangiii

Engkau liilin lilin wangiii

Kerudung Merah Kirmizi! FINALLY!

Kerudung Merah Kirmizi! FINALLY!

  • – 2 celana pendek buat mantai @ Rp 10.000
  • - Masker Rp 10.000 dapet 3 bijix2. Parohan deh sama Vina.
  • - Lilin wangi Rp 5000 dari Kedaung. Saya beli for old times sake aja, dulu pertama kali beli lilin ginian di Kedaung juga soalnya.
  • - Best buy: buku 2nd Remy Sylado dengan kondisi 85% baik “Kerudung Merah Kirmizi” seharga Rp 10.000! HUAAA!! Kenapa saya seneng banget, karena buku ini udah discontinued. Alias gak diterbitin lagi sama Gramedia, dan saya belum pernah punya. Entah kenapa, padahal buku ini dapet Khatulistiwa Award lho.

Sekian laporan pandangan mata saya dari Festival Palang Pintu, Kemang. Selamat menjalankan ibadah puasa dan tabik.

Books vs Movies Ala Remy Sylado

November 24, 2008 by titiw  
Filed under Movies

Kita masih saling argue dengan hal2 seperti ah-kerenan-bukunya-daripada-filmnya cliche atau sebaliknya? Pasti berasa banget tuh untuk film Laskar Pelangi, Harry potter, dll. Nah.. Saya yg orang awam perfilman atupun perbukuan akan sedikit

For the Moment film

banyak mengutip catatan Remy Sylado ketika duluuuu banget dia pernah menghadiri seminar di kampus saya, sewaktu dia membahas tentang novelnya yang difilmkan, yaitu Ca Bau Kan. Nggak semuanya saya tulis, karena ada beberapa paragraf yang kurang sesuai dengan tema kita kali ini. Btw, doi nulisnya pake mesin tik lho, hehe.. Semoga membantu memperluas pandangan kamu2 selama ini. Cheers!

-Catatan seadanya untuk seminar “Novel Mampir Ke Bioskop”, di FISIP UI, 22 November 2006-

Muppets from Space

BAHASA TEKSTUAL KE BAHASA PIKTORIAL

Casablanca psp

Terlebih dulu harus dikatakan untuk diingat, bahwa bahasa novel sebagai bahasa tekstual tidak muradif dengan bahsa film sebagai bahasa piktorial. Dalam bahasa anglo-Amerika, kita dapatkan pengertian teoritis akan wujud asasi film, yaitu, sebagai piranti budaya yang dapat dinikmati masyarakat luas dalam waktu yang bersamaan. Film adalah sebuah “motion picture”, artinya lukisan atau gambar bergerak yang menceritakan kehidupan. Sebelum istilah “motion picture”, pada 1905 orang masih menyebut film sebagai “story picture”, dihubungkan dengan film yang dibuat oleh Edwin S. Porter pada 1903, The Great Train Robbery. Di Indonesia, sampai 1960-an orang pun masih lazim menyebut film sebagai ‘cerita gambar” atau “gambar hidup”.

movie season of the witch trailer

Yang segera kita pahami dari istilah-istilah itu adalah, bahwa film merupakan cerita dramatik -apapun jenisnya- yang dinikmati penonton melalui aktor-aktor yang menafsir peri kehidupan insani melalui alat-alat tubuhnya, yang digali dari sumber eksternal dan internal, lewat seni aktingnya, dibantu oleh kamera yang merekamnya dengan berbagai sisi kepandaian. Mulai dari konsep artistik sutradara, teknikalitas di bidang suara, cahaya, penyuntingan, sampai ilustrasi musiknya, dst.

Bahwa sebuah film sangat ditentukan oleh bintang, memang tak disangkal. Tetapi setelah itu, sebuah film tak akan menjadi sebuah “motion picture” jika pengerjaannya tanpa skenario, tanpa sutradara, tanpa pekerja pandai di bidang lampu, suara, kamera, musik, dst, juga tak disangkal. Yang sedang kita bahas di sini adalah gambaran kehidupan yang ditafsir dari novel. Sejarah melintasnya novel menjadi film, sebagai tontonan teater, kira-kira sejalan dengan rangsangan naskah drama yang awalnya diperagakan di teater, lantas dibentuk sebagai film di bioskop.

Salah satu novel yang termasuk banyak menantang sutradara untuk membuatnya menjadi film adalah karya Nathaniel Hawthorne, The Scarlet Letter, cerita tentang Hester Prynne yang membayang zina di Salem, berselingkuh dengan Hanson. Terakhir, pada 1995 cerita ini disutradarai oleh Rolland joffe dengan bintan Demi Moore, Gary Oldman, Robert Duvall, dll. Sebelumnya, pada 1973 cerita ini disutradarai oleh Wim Wenders dengan bintang Senta Berger, Lou Castle, Hans-Christtian Blech, dll. Mundur 40 tahun ke belakang lagi, pada 1934 cerita ini disutradarai oleh Robert G. Vignola dengan bintang Colleen Moore, Hardie Albright, Henry B. Walthall, dll. Dan mundur satu dasawarsa di belakangnya lagi, pada 1926 cerita ini disutradarai oleh Victor Seastrom dengan bintang Lillian Gish, Lars Hanson, Henry B. Walthall, dll.

Dari gambaran selintas ini kita mendapatkan jawaban yang telah disinggung di atas, sebagai bukti, bahwa novel sebagai pustaka bisa awet di semua masa dalam berbagai waktu. Sementara pandangan-pandangan filmis menyangkut estetika sinematografis, bisa berubah-ubah menuruti prayojana mode, selera, dan gaya hidup yang berlangsung di dalam progresi budaya, dan di situ mau tak mau orang mesti pula menghiraukan semboyan-semboyan kepentingan pasar.

Saya rasa, dengan melihat gambaran ini, maka pernyataan tentang novel sebagai bahasa tekstual dan film sebagai bahasa piktorial, bisa berarti: Saya bisa memahami terjadinya tafsir yang beda, dan bahkan menyimpang atas film Ca Bau Kan yang berangkat dari novel. Ca Bau Kan bukan novel pertama saya yang dibuat film, Pada 1977 novel saya Gali Lobang Gila Lobang, ditulis pada 1970, difilmkan dengan skenario yang dibuat oleh Sjumandjaja dan sutradara Abrar Siregar. Bayangkan, cerita yang memakai set kota Manila lengkap dengan benturan-benturan kultural bangsa Pilipina -yang sosoknya seperti Cina, namanya Spanyol, dan bahasa resminya Inggris- dipindahkan ke Banten karena alasan-alasan biaya dan perizinan di sana.

Ca Bau Kan

Ca Bau Kan

Yang hendak saya katakan di sini, bahwa saya bisa mengerti perbedaan visi dalam menafsir sebuah latar bahasa tekstual menjadi bentuk bahasa piktorial. Untuk itu malah saya bisa memberi apresiasi khusus, sejauh bahwa yang diejawantahkan itu adalah suatu karya interpretasi terhadap kehidupan insani disertai dengan pelbagai aspek menyangkut ciri-cirinya secara sosial, etnikal, kultural. Terhadap masalah ini, lumrah terjadi sikap dan visi yang berjalan seiring denga progresi tatanan yang berubah atas mode, selera, dan gaya hidup tersebut.

Barangkali contoh paling evidensial mengenai kasus ini adalah menonton film Mutiny On The Bounty. Saya memberi contoh film Amerika, sebab pameo sinis yang berlangsung di antara pekerja film Indonesia, adalah: Jika orang Indonesia menonton film Amerika, sikapnya menjadi murid, sementara jika menonton film Indonesia sikapnya menjadi guru yang sok-pintar.

Dua kali novel Mutiny On The Bounty karya Charles bernard Nordhoff & James Norman Hall ini difilmkan di Hollywood. Keduanya bertolak belakang pada teks aslinya. Yang pertama, pada tahun 1935, cerita disutradarai oleh Frank lloyd dengan bintang Charles Laughton, Clark Gable, dll. Di situ Clark Gable pulang ke Inggris untuk diadili. Lalu, pada 1962 cerita ini disutradarai oleh Lewis Mitchell dengan bintang Marlon Brando, Trevor Howard, Richard Harris, dll. Di situ Marlon Brando ngumpet di sebuah pulau kawasan Pasifik bersama kekasihnya Tarita.

Jangan kira hanya terhadap teks novel saja film Amerika menunjukkan imaginasinya yang liar dari interpretasinya yang berbeda tersebut. Malahan teks-teks yang peka bagi umat beragama, dalam hal ini Kristen, Hollywood bisa mekakukannya dengan bebas.

Ambil contoh sosok Kristus dalam teks Perjanjian Baru. jika kita menonton The Greatest Story Ever Told oleh sutradara George Stevens, The greatest Story Of All Time oleh sutradara Roger Young, King of Kings oleh sutradara Nicholas Ray, setidaknya boleh dikatakan alkitabiah. Artinya bersumber pada kitab-kitab kanonik, yaitu teks-teks yang diterima gereja sebagai kitab suci. Tetapi, dimulai dari Jesus Christ Superstar, opera rockyang ditulis oleh Tim Rice dan Andrew lloyd Webber dan disutradarai oleh Norman Jewison, kita lihat terjadinya interpretasi yang berbeda dengan teks kanonik. Dan terakhir, The Last Temptation of Christ, sungguh menyimpang dari injil kanonik, yang membuat penganut Kristen geram. Tetapi, sementara itu film yang membuat semua orang Kristen menerima dengan bulat hati, walaupun juga tidak tersurat detailnya di dalam injil kanonik, adalah The Passion of The Christ, yang disutradarai mel Gibson.

The Rudolph Red-Nosed Reindeer dvdrip

Dengan memberikan catatan kecil tentang ini, akhirnya saya bermaksud mengatakan bahwa “KITA MASUK KE BIOSKOP BUKAN UNTUK MENONTON NOVEL, TETAPI UNTUK MENONTON FILM”.

(c) Scarlet Letter, The Great Train Robbery, Ca Bau Kan, Mutiny on The Bounty, The Passion of The Christ Gambar buku True Colors release