Phil Collins: An Interpretation

June 8, 2009 by titiw  
Filed under Musics

Phil Collins. Setiap mendengar lagu dari pria semi botak yang berasal dari Inggris ini, saya selalu merasa melankolik. Khususnya ketika mendengar lagu2 baladanya yang sedikit slow. Bukan tipe melankolik yang dimiliki abg yang menyukai guru sejarahnya, ataupun tipe melankolik seorang pegawai kantoran yang naksir dengan rekan kerjanya di divisi yang lain. No no no.

Tiap mendengar “Do You Remember“, “Everyday“, “Against All Odds” sampai “Why Can’t It Wait Till Morning“, saya selalu berimajinasi bahwa si pria yang bernyanyi adalah seorang pria berusia 30an akhir, yang romantis, baik hati, namun belum mempunyai pasangan sehidup semati. Tipikal pria yang baik, selalu mendapatkan wanita2 populer, namun ia tidak membangga-banggakan hal itu. Ia introvert di hadapan publik, namun ekstrovert di dalam dunianya sendiri.

Underworld: Rise of the Lycans dvdrip

Wanita-wanita yang mengejarnya, pertama-tama jatuh cinta karena auranya yang dingin dan menarik bagai magnet, namun mereka meninggalkan ia pula karena si pria dirasa terlalu dingin. Tiap ia ditinggalkan wanita-wanita itu, ia tidak pernah fight untuk mendapatkan mereka lagi. Bukannya tidak mau, tapi ia selalu berpikir bahwa semua orang berhak akan kebebasannya dan ia tidak mau mengklaim bahwa itu miliknya. Wanita-wanita yang pertamanya hanya menggertak si pria, lama-lama merasa bahwa si pria benar-benar tidak mengharapkan dirinya, dan si wanita pergi untuk selamanya. Setelah ditinggalkan, si pria hanya duduk depan piano tuanya, tersenyum pahit, sambil jari-jarinya menekan tuts hitam dan putih itu dengan melodi yang indah nan sendu.


Memakai sweater berwarna marun tua yang sudah mulai pudar, si pria masih memainkan lagu-lagu yang ia ciptakan setiap ia ditinggalkan seseorang. Oh, sudah tidak terhitung berapa lagu yang ia ciptakan yang lahir dari rasa perih hatinya karena ditinggalkan orang-orang yang ia pikir pernah ia cintai. Sang pria tidak merasa bahwa ada wanita yang sebenarnya betul-betul menyukainya dalam hening. Suara bel rumahnya berbunyi, ia bergegas menuju pintu rumahnya, dan tampak seorang wanita yang membawakan pie ayam yang masih hangat, disertai senyum yang hangat pula. Sang pria membalas senyum itu dengan hal yang sama. Setelah basa-basi berterima kasih kepada wanita tetangganya itu, ia masuk lagi dan meneruskan permainan piano dengan memakan pie tersebut dan memberi remah-remahnya kepada kucingnya yang bergelung manja di dekat perapian.

Phantasm III: Lord of the Dead movies

Sang wanita kembali pulang ke rumahnya yang hanya berjarak satu blok dari rumah si pria. Hatinya bernyanyi riang karena ia telah melakukan sesuatu bagi si pria. Moga2 si pria mengetahui, bahwa ia mencintai si pria sejak beberapa waktu lalu. Beberapa waktu lalu dimana udara dingin menerpa, ketika ia baru pindah ke kota itu, yang mana sejurus kemudian ia melihat seorang pria yang mengeluarkan sorot mata sedih namun tegar di sudut kafe seberang jalan sana. Ia jatuh cinta pada sorot itu, pada senyumnya yang tulus ketika melihatnya, dan pada denting-denting piano yang sayup-sayup terdengar di tengah keheningan malam. Semoga pria itu merasakan hal yang sama seiring dengan seringnya mereka bertemu.

Sang pria tertidur di samping kucingnya, dengan remahan kue masih tertempel di pipi kiri. Tersangkut jenggot kasarnya yang belum tercukur tadi malam karena sedikit bertengkar dengan wanita yang pagi ini meninggalkannya. Dalam mimpinya, ia bertemu seorang peri baik hati yang setiap hari memberinya pie ayam sehingga membuatnya lebih gemuk, lebih segar, dan lebih sering tertawa. Dalam mimpi itu pula, ia menciptakan lagu untuk si peri karena perjumpaan mereka, bukan karena perpisahan mereka.

Begitulah. Enam paragraf yang menjelaskan bagaimana saya menginterpretasikan Phil Collins dan lagu2nya. Sekian.

descarca never let me go

(c) Phil, Hits