Celengan Lebaran dari Pasar Gembrong
“Hwaaa!!! Azis pengin, Mak! Pengin banget celengan!”
“Zis.. yang sabar ya nak, kamu kan lagi puasa..”
“Ya udah, Azis berenti nangis, tapi Emak beliin celengan buat Azis!”
Aku yang sedang menyetrika baju kantor melirik cermin yang merefleksikan bayangan Emak dan Azis yang sedang meraung. Duh.. Masih pagi si Azis sudah merengek minta dibelikan celengan, padahal aku tahu kalau Emak yang sudah 9 tahun menjanda belum punya uang. Duit upah dari mencuci sehari-harinya belum keluar sudah dua bulan. Entahlah, Ibu Ratri yang dari baju suaminya sampai behanya dicucikan oleh emakku belum mau memberi Emak uang yang menjadi haknya. Padahal, sekarang sedang puasa, apa-apa semakin mahal dan mahal. Terkadang orang kaya memang tidak mau melihat ke bawah, merasakan apa yang orang miskin seperti diriku rasakan.
Aku pun bertanya pelan-pelan kepada Azis sambil menggoda..
“Zis.. Emang buat apa kamu beli celengan..? Kayak punya uang banyak aja..”
“Abang emang gak ngertiin Azis! Azis itu pengen punya celengan biar duitnya kekumpul pas Lebaran! Biar kita bisa punya ongkos nengok kuburan Bapak!”
Tek. Hatiku tersentak. Ya, kuburan Bapak. Sudah bertahun-tahun lamanya tanah itu kering, tanpa ada doa-doa yang dikirim langsung di atas pusaranya dari kami bertiga.
Bapak meninggalkan kami bertiga 9 tahun yang lalu. Di mana aku masih duduk di kelas 2 SMP, dan Azis adikku baru berumur 3 bulan. Jarak umurku dengan Azis memang jauh, dan itu membuatnya sangat manja kepada diriku. Aku pun tak tega jika tidak menuruti keinginannya. Bapak meninggalkan kami untuk selamanya karena gerobak rumput yang dibawanya tiap sore ke peternakan sapi tiba-tiba saja ditabrak dari belakang oleh pengendara mobil mabuk yang tak bertanggung jawab. Hari itu adalah hari yang paling suram dalam sejarah kehidupanku.
Ramadhan itu aku merengek rengek tanpa henti kepada Bapak untuk dibelikan sepeda. Aku malu karena hanya aku satu-satunya murid di SMP 3 Karawang yang tidak naik sepeda untuk ke Masjid. Maka daripada itu, Bapak bekerja lebih giat untuk menuruti permintaanku. Jika biasanya pukul 4 sore Bapak sudah di rumah, 9 tahun lalu di bulan Ramadhan juga, Bapak belum pulang hingga pukul 7 malam. Untuk mencari rumput. Jika rumput yang dibawa ke peternakan makin banyak, makin banyak pula rupiah yang bisa ia bawa pulang. Namun malang tak dapat ditolak, Bapak tertabrak dan tewas seketika di jalan tanpa ada kata-kata terakhir untukku, Emak dan Azis. Aku merasa paling bersalah atas kematian Bapak.
Ingatan masa laluku terhenti dengan makin kerasnya suara Azis menangis. Dengan bercanda aku berkata pada Azis,
“Eh, emangnya Azis inget sama Bapak..? Bapak kan udah nggak ada pas Azis belom bisa ngomong, belom bisa ngapa-ngapain!”
“Azis inget. Bapak orangnya brewokan. Suka ketawa-ketawa sampe gigi ompongnya di depan keliatan.”
Tek. Sentakan kedua terhadap hatiku yang kudapat hari ini. Sungguh tak bagus untuk jantung, bisa membikin lemah dan mati mendadak.
“Eh.. Kok Azis tahu..? Diceritain Emak yaa..?“
Jawabku sambil masih berusaha menebarkan pesona canda dalam kalimat.
“Enggak. Emang Azis inget, titik. Abang nggak percayaan banget sih! Makanya, Azis pengin celengan biar bisa punya ongkos untuk ke Karawang!“
Duh, padahal Karawang tidak begitu jauh dari Jakarta ini, tepatnya di Jatinegara tempat kami tinggal. Namun jika harus ke sana bertiga, belum lagi ongkos menginap jika menginap, dan jajan-jajan untuk Azis, upah pembersih kuburan, air mawar untuk menyegarkan pusara, dan lain dan sebagainya, setengah gajiku bisa ludes hanya untuk sehari. Padahal, gajiku itu juga masih harus dibagibagi untuk uang sekolah Azis dan cicilan TV di rumah.
“Zis.. Makanya yang sabar ya.. nanti abangmu pulang bawa celengan, biar kita semua bisa sama-sama nengok Bapak.”
Emak berkata-kata dengan mata yang berkaca-kaca. Kulihat kulit tangan Emak yang kisut, bagaikan buah apel yang sudah dikupas dan dibiarkan selama berhari-hari tanpa ada yang memakannya. Ah, kasihan Emak. Dadaku sesak, karena uang gaji yang baru saja kuterima sudah dipakai untuk membeli sedikit daging sapi untuk sahur. Kasihan Azis yang tidak pernah makan rendang. Gajiku sebagai office boy di sebuah Agency model di bilangan Senen memang sangat sangat tidak seberapa. Belum lagi untuk ongkos kereta dalam kota, angkutan yang kunaiki sehari-hari. Aku memegang tangan kurus Azis dan berkata,
“Zis.. Sekarang sudah 2 hari lagi sebelum Lebaran. Azis doakan abang dapet THR ya, supaya abang bisa beliin Azis celengan di pasar Gembrong.”
“Hah..? Pasar Gembrong bang..? Pasar yang jualan-jualan mainan itu..? Eastern Promises hd
Mata Azis yang tadinya sendu mulai menampakkan semangat.
“Iya Zis, di pasar Gembrong. Azis mau celengan yang kayak gimana sih emangnya..?”
“Yang kayak gimana aja bang, asal bisa cukup sama semua duit Azis!”
Aku dan Emak tertawa dengan kepolosan Azis.
“Ah kamu, Zis, emangnya uang kamu banyak..?” sahut Emak sambil tersenyum lebih lebar.
“Ya banyak Mak, kalo ditabung!”
Ah.. Azis.. ia belum terlalu mengerti konsep menabung, bahwa ia harus punya uang sedikit-sedikit dulu untuk ditabung, agar celengannya bisa penuh. Setelah pakaian yang sudah kusetrika kupakai dengan rapih, aku pun siap untuk berangkat ke kantor.
“Ya udah, abang berangkat dulu ya! Assalamualaikum!”
***
Di kantor, makin banyak saja pekerjaanku. Mendekati hari Lebaran, para model dari Agency banyak yang dipakai untuk acara-acara spesial Lebaran. Dari yang peran utama, hingga peran ecek-ecek yang hanya 3 menit tampil, itupun hanya terlihat punggungnya saja. Sehingga aku harus mencuci gelas dan piring berkali kali dan berulang-ulang. Tak ada atmosfer Ramadhan di kantor ini, semuanya makan, semuanya minum. Yah.. Memang aku tidak boleh berpendapat seperti itu juga sih. Kan tidak semua orang berpuasa. Sampai pukul 4 sore di hari terakhirku kerja ini, tak ada tanda-tanda THR akan dibagikan. Fyuh.. Memang sih, aku baru 6 bulan kerja di sini, bisa jadi THR hanya didapatkan orang yang berkerja lebih dari setahun. Besok mulai libur, dan 4 hari setelah Lebaran, baru aku memulai kerja kembali.
Duh.. Azis.. Maafkan abangmu ini ya.. Duit di kantong hanya cukup untuk ongkos kereta sekali lagi. Hanya untuk pulang. Dan tiba-tiba, Mbak Dini, seorang model senior yang memang terkenal baik itu melihatku.
“Loh, Rahman belum pulang..?”
Wah, aku ditegur, jarang-jarang ada orang yang menegurku, apalagi sampai tahu namaku. Dengan canggung aku menjawab pertanyaannya
“Eh.. Iya Mbak.. Masih nunggu..”
“Nunggu apa..? Orang-orang udah pada mau balik lho.. Ada acara buka bareng di RCTI malem ini. Semuanya ke sana. Kamu ikut..?”
“Eh.. nggak Mbak. Saya mau buka aja di rumah sama Adik dan Emak saya.”
“Oh, kamu punya adik..? Masih kecil..? Emang rumah kamu di mana..? Bener gak mau ikut aja..?”
“Enggak Mbak, makasih. Iya adik saya masih kelas 3 SD.. eng.. Rumah saya di Jatinegara.”
“Jatinegara..? Oh yang deket pasar Gembrong itu ya..? Saya suka tuh beli mainan di sana kalo ada acara-acara 17 Agustusan di rumah. Lebih murah soalnya.”
“Iya Mbak, nggak jauh dari sana.”
“Ya udah kalo kamu gak mau ikut, kita ketemu lagi setelah Lebaran ya.”, ucap Mbak Dini dengan senyum manisnya.
“Iya Mbak.. Sampe ketemu, maafin kalau ada salah-salah ya Mbak..”
Mbak Dini pun melangkah ke luar dan aku hanya disisakan bunyi kletak kletok dari sepatu tingginya itu. Akhirnya aku juga keluar kantor dengan lunglai. Apa yang harus aku katakan kepada Azis nanti..? Kasihan Azis punya abang yang tidak dapat diandalkan seperti diriku. Begitu aku membuka pintu keluar, hampir saja aku menabrak orang yang mau masuk.
“Mbak Dini..? Kok kembali lagi Mbak..?”
“Iya, aku lupa. Kamu bilang tadi kamu punya Adik..? Nih sedikit hadiah Lebaran untuk adik kamu ya.”
Tangan halus Mbak Dini menyorongkan uang berwarna merah kepadaku. Seratus ribu.
“Mbak.. Aduh.. jangan merepotkan Mbak..”
“Nggak papa, soalnya tadi kita ngomongin pasar gembrong, saya jadi inget kalo anak-anak kan pasti seneng kalo dibeliin mainan untuk hadiah Lebaran. Yuk, sampai ketemu lagi ya, Man!”
Alhamdulillah.. Dengan dungunya aku hanya bisa terpaku melihat selembar uang yang berada di tangan dan tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada Mbak Dini.
***
Pukul 4.15 sore, kupercepat langkahku menuju stasiun kereta. Jika aku buru-buru naik kereta ke Pasar Gembrong, aku sempat membeli celengan, dan sempat pula berbuka dengan Azis dan Emak. Namun sesampainya di stasiun.. Orang-orang tumpah ruah di dalamnya. Wah, iya ya hari terakhir orang-orang bekerja, pantas jika stasiun penuh sekali. AKu bertanya kepada bapak-bapak gendut di sbelahku
“Kereta ke arah Jatinegara sudah lewat Pak..?”
“Wah.. bukannya sudah lewat! Saya nunggu hampir sejam itu kereta malah nggak lewa-lewat! Katanya sih ada gangguan dari stasiun yang ada di Kota.”
Oh.. Begitu.. Wajar kalau orang-orang memadati stasiun kecil ini. Eh, apa itu dari kejauhan..? Wah.. Kereta! Tapi.. Penuhnya… Masya Allah.. Bagaimana ini..? AKu harus mengejar waktu agar dapat membeli celengan Azis. Takutnya besok pasar Gembrong sudah tutup karena penjualnya pada mudik.
Dengan nekat akhirnya aku pun meringsek masuk kereta begitu kereta sampai di depanku. Upaya yang sangat sia-sia ternyata. Tunggu dulu. Mataku menangkap adanya tempat kosong. Tepat di atas badan kereta. Naik.. Tidak.. Naik.. Tidak.. Bayangan Azis yang menangis, tangan kisut ibu, pusaran Bapak yang kering, Mbak Dini, uang seratus ribu, semuanya berkelebat dan memecah batas antara kesadaran dan imajinasiku. NAIK. Aku nekat untuk naik ke atas kereta dengan upaya yang lumayan keras. Memanjat jendela kereta, dan hup. Sampai di atas. Kereta mulai beranjak pergi, wah tidak ada orang yang berani untuk naik ternyata. Tumben. Aku tersenyum dan semilir angin seperti menyambut mulutku yang kerontang. Aku tetap tersenyum tanpa menyadari orang-orang di bawahku berteriak-teriak ke arahku. Aku melihat bapak gendut yang tadi di sebelahku berteriak-teriak hingga bibir gendutnya ikutan monyong. Wah.. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka ucap. Let..? Oret..? Apa sih..? Orlet..? Ah sudahlah, aku pun memalingkan muka dari mereka dengan segenggam harapan di benakku sendiri.
“Mas!! Turun mas!! Keretanya Korslet!!! Di atas korslet!! Turun mas!! Nanti gosong!! Turuuunnn!!!” “Ya Allah.. Kawat di atas itu korslet!! Orang itu tidak dengar!!” Orang-orang berteriak panik kepada Rahman. “Allahuakbar!!!”
Kereta berhenti. Badan hangus diturunkan dari atas kereta dengan seruan-seruan kecil di sekelilingnya.
“Aduh.. Kasihan, padahal masih muda..” “Periksa KTPnya.. Di mana alamatnya..”
Seorang mas-mas berseragam pemda inisiatif merogoh kantong celana korban.
“Kosong, tak ada tanda pengenal. Hanya selembar uang yang ikut hangus nih.” “Wah.. gimana dong..? Eh sudah mau buka puasa nih.. Pulang ah.. Nanti juga keluarganya nyari”.
Mereka pun berbondong-bondong meninggalkan seonggok mayat hangus di pinggir rel kereta api untuk menuju ke rumah masing-masing.
***
“Mak.. udah Adzan Subuh kok Bang Rahman belum pulang..? Katanya mau bawain Azis celengan dari Pasar Gembrong..?”, tanya Azis dengan sedikit tersengguk.
“Sabar ya nak.. Abangmu itu orang sibuk, pasti ia sibuk cari duit biar bisa beli celengan buat Azis. Azis sabar ya.. Kan udah gede.. Bapak juga pasti seneng liat Azis puasanya penuh sampai hari ini. Sekarang hari terakhir, sahur yang banyak ya.. Ya nak ya..? Sabar ya.. Sabar.. Sabar..”
Emak mengulang-ngulang jawabannya sambil nanar menatap TV kecil cicilan mereka yang mengumandangkan Adzan Subuh di hari puasa yang terakhir.
(c) Gambar celengan

