Ayo Ikut Lomba Karaoke di SocMedFest!

September 23, 2011 by titiw  
Filed under Events

Heyho kamyuh dan kamyuh yang #eksisbanget! Udah pada tahu Social media Festival 2011 kan? Ajang kopdar terbesar antara pengguna social media di Indonesia itu lho.. Coba cek Twitternya di @SocMedFest biar tau acara-acara seru di sana.

Curipandang juga gak mau ketinggalan SocMedFest nih.. Selain ngadain workshop Modus Anomali dan nonton bareng Bulan Tertusuk Ilalang kerjasama bareng BicaraFilm, kita juga ngadain… *drum roll* LOMBA KARAOKE! GRATIS! Iyes! Kamu gak salah lihat ataupun salah denger! Acaranya bakal diadain di fX Sudirman dimana terjadi keriaan SocMedFest.

Hey Hey Kara-Okey!

Tempat: di mana lagi kalo bukan Inul Vista F7.
Waktu: Sabtu, 24 September 2011
Pukul: 17:00 – 20:00.

Cara registrasinya gimana kakak? Hanya sepotong kue! Langsung datang di jam yang ditentukan alias registrasi on the spot, atau hubungi Twitter @curipandang, @_dita dan @TitiwAkmar biar jelas. Karena ini lomba, pastilah akan ada hadiah-hadiah hooh menanti. Gemana cara menang lomba? Suara bagus mah nomer 27, yang penting seru dan gokil! Mau sendiri, bedua, rame-rame, semua boleeeh! Be there, or be ka Ambon! *krik*

(c) Image

A Glance of Java Rockin’ Land Day 2

August 5, 2011 by titiw  
Filed under Musics

Tahun ini adalah tahun pertama saya bertandang ke Java Rockin’ Land alias JRL 2011. Terima kasih untuk curipandang.com yang lagi-lagi memberi saya tiket gratisan yang bisa dipakai untuk lala lili di hari Sabtu. Kenapa saya pilih Sabtu? Karena hari itu.. Hari itu.. The Cranberries manggung! Whoo Haaa! Sekali menonton Cranberries di tahun 2002 sepertinya belum cukup untuk memenuhi hasrat saya sebagai die-hard fan mereka.

Karena dateng ke JRL yang bertempat di pantai Carnival Ancol dengan motor, maka tidak ada kendala yang berarti. Parkir santai, dan jalan kaki untuk masuk ke lokasi tidaklah seribet dan sejauh Java Jazz. Penampilan pertama yang saya tonton sore itu ialah Powerslaves. Kesan pertama: Apa nih cowok2 toku, gondrong, dan gak ada yang kece. Hihi.. Etapi pas mereka udah perform, wiih.. Bayangan masa-masa SD tiba-tiba terpampang di ingatan. Ini dia nih grup rock yang megang di tahun 90an! Jangan salah, saya sempet sing along di salah satu lagu, yaitu “Impian”. Huahahaha..

Heydi Powerslaves: Lagu Kok Dieja

Dari situ, penampilan yang saya tunggu adalah God Bless. Meski gak tahu banyak lagunya, tapi saya cukup suka dengan grup yang umur semua personelnya kayaknya udah lebih dari setengah abad itu. Dari Panggung Sandiwara, Rumah Kita, dan Menjilat Matahari dibawakan dengan prima oleh sang vokalis, Achmad Albar a.k.a mas Iyek.

Malam menjelang, dan saya menclok ke depan panggung dimana Young The Giant yang berasal dari California tampil. Never heard the band before, let alone the songs. Surprisingly, lagu-lagu mereka enak. Gak cuma enak, tapi enak banget! Well, gak bisa dibilang rock juga sih. But yeah, what the fuss with genre? Setelah dirasa cukup dengerin lagu-lagu mereka, saya beranjak ke tempat dimana Cokelat manggung. Baru inget kalo Kikan udah gak jadi vokalis di sana. Si mbak vokalis ini suaranya sama sekali nggak jelek meskipun cengkoknya lebih cocok kalo dibawa ke arah yang lebih ndangdut, tapi.. Tetep aja gak sreg kalo bukan Kikan yang nyanyi. Kalo kata temen, saya termasuk jamaah Kikaniyah.

Gak foto ama yang beneran ama yang karton jg gpp..

Gak lama di situ, saya menyeret langkah menuju panggung dimana The Cranberries bakal manggung. Ternyata Ed mantan vokalis dari band Live masih perform di situ. Beberapa lagu tenar dari Live seperti Selling The Drama dan I Alone dibawakan. Niat merangsek ke depan setelah Ed klaar ternyata tidak dikabulkan Tuhan. Orang-orang di bagian bibir panggung nggak beranjak pergi! Damn! Mereka juga nungguin Cranberries, padahal masih 1 jam lagi Cranberries manggung. Walhasil, saya dapet tempat kira-kira 15 baris dari panggung. Cis.

Ed Kowalczyk dari Live

Untunglah kekecewaan itu gak berlangsung lama, karena tepat jam 11 malam Dolores dkk mendobrak panggung tersebut dengan lagu Analyze! Yeah! lanjut lagi ada How, Dreaming My Dream, Just My Imagination. Penonton makin koor bareng pas hot mommy ini bawain Linger, Ode to My Family, dan Free to Decide. Saya loncat-loncat di belakang sampe nginjek kaki orang dan hampir ngejatohin kamera orang belakang. Lagian, konser rock kok pada diem kayak pelajaran statistik?! Ada 2 lagu baru yang mereka bawain juga yang gak lama lagi dirilis.. Nice. Penampilan ditutup setelah encore lagu Promises dan Dreams. Total-total ada sekitar 18 lagu yang mereka kasih ke penonton yang galau dengan ingatan-ingatan saat band ini lagi jaya-jayanya. Puas sampe ubun-ubun. Yang gak nonton Cranberries, nyesel banget deh.. Cause I saw it live! And I saw it live, twice! HA! Yah, sekian laporan JRL dari saya, semoga JRL tahun-tahun berikutnya makin mantab dengan line-line artis yang makin ngerock.

Dolores FTW!

PS: Selamat menjalankan ibadah puasa. Rock this month! \m/

The Cranberries: A Blast From The Past

May 24, 2011 by titiw  
Filed under Musics

The Cranberries. Band dari Irlandia ini punya satu tempat yang cukup khusus dalam kehidupan saya. Tahun 90an dimana saya merasa itu adalah tahun terhebat di dunia, mereka muncul dan menggebrak dunia musik. Tidak, saya tidak akan menjabarkan berapa copy album mereka yang laku di pasaran. Saya juga tidak akan menceritakan detail kehidupan pribadi personel band yang berjumlah 4 orang itu. Well, meskipun secara personal saya memang suka karena mereka selalu berteriak kencang dalam lagunya mengenai anti perang, protes sosial atas dibangunnya pabrik-pabrik yang punya judul besar kapitalisme, dan hal-hal yang tidak melulu soal cinta.

Lalu, apa yang ingin saya ceritakan? Seperti judul postingan ini, a blast from the past, saya punya dorongan kuat untuk berdongeng mengenai cerita di balik lagu-lagu The Cranberries yang membangun masa lalu saya. Agak-agak mirip dengan tulisan di SINI, namun kali ini lagu yang saya list adalah lagu-lagu yang diciptakan oleh Dolores O’Riordan, Noel Hogan, Mike Hogan, dan Fergal Lawler yang Alhamdulillah sempat saya tonton pertunjukan live-nya di tahun 2002.

Gambar ini pernah saya pake buat nyablon kaos! :D

1. Dreams
Ada yang tahu lagu ini? Ya, lagu ini merupakan salah satu dari ost You’ve Got Mail. Setiap mendengarkan Dreams, hal yang terbayang di ingatan adalah sahabat saya Luky yang menceritakan liburannya di Australia. Somehow yang terbayang adalah taman hijau terbuka, burung-burung merpati yang beterbangan, dan hijau di kiri kanan. Salah satu lagu wajib yang didengarkan ketika kamu melakukan road trip.

2. Linger
17 Agustus di kompleks saya merupakan suatu yang sakral. Sesuatu yang harus diresapi dengan hati dan juga harus dimeriahkan oleh semua belah pihak. Saya dan beberapa teman yang merasa sudah cukup tua untuk melakukan performance di hadapan orangtua sebenarnya sangat malas untuk melakukan pertunjukan apapun. Ironis, karena saat kecil saya adalah anak yang selalu pertama hadir setiap latihan nari untuk 17 Agustusan. Namun karena tidak enak karena ibu saya adalah ketua RT di sekitar tahun 2001-2002, maka naiklah saya & Kiky ke panggung kecil itu dengan menyanyikan lagu linger yang diiringi gitar kopong oleh mas Anggit & Kenton. Sekedar tambahan, lagu ini ada di film Click-nya Adam Sandler yang lumayan menguras air mata.

3. I Can’t Be With You
Jujur saja. Saya mencari jati diri di usia kala duduk di bangku SMP. Hampir semua rasa pernah saya cicipi di stage ini. Dimusuhi banyak teman, berteman dengan banyak orang, hingga merasakan cinta pertama *ehem*. Di suatu sore, seorang karib bernama Ratna dari kelas lain menelpon dan mengundang saya ke rumahnya yang lagi ulang tahun. Saya yang sedang tidur siang panik dong. Pakai baju apa ke rumah Ratna? Siapa saja yang ada di sana? Apakah anak-anak yang -saya anggap- cukup gaul akan ada juga di sana? Dan karena merasa “dianggap”, datanglah saya dengan semangat tahun 97. Dan “pesta” yang diadakan memang super keren (at least di mata saya yang minusnya masih 1/2 kala itu). Pesta ulang tahun Ratna diwarnai dengan punch buah, nasi kuning, anak-anak gaul yang memakai baju keren, dan lagu kencang yang berputar di udara. Ya, lagu yang dipasang adalah lagu-lagu dari The Cranberries, dan lagu I Can’t Be With You menjadi ost saya untuk joget2 menggila dengan teman-teman yang memakai tank top ketika saya hanya memakai kaos Felix The Cat yang sederhana. You know what.. Perasaan diterima adalah SEGALANYA untuk anak-anak di umur itu. :)

4. Zombie
Suatu saat di jaman SD saya bermain di rumah tetangga bernama Firly. Kebetulan Firly yang waktu itu menang rebutan remote control TV dengan adiknya menyetel ANTV yang menyiarkan MTV. Dan tebak video clip apa yang sedang disetel? Zombie dari The Cranberries. Sebagai bocah ingusan yang pikirannya hanya sekolah di pagi hari, tidur di siang hari, dan ngaji di sore hari, tentu sangat tidak mengerti apa arti dari lagu Zombie. Anehnya, saya menonton video clip dengan konsentrasi yang cukup tinggi. Seperti kata orang bijak, kadang hati bekerja lebih kuat dari otak. Dan yang saya rasakan atas video clip zombie adalah kesedihan yang menyayat. Setelah besar, saya baru menyadari bahwa lagu ini merupakan bentuk protes mereka terhadap matinya 2 anak di Inggris karena pemboman.

5. When You’re Gone
Nah, lagu yang satu ini mengingatkan era SMA saya yang cukup manis. Jadi ceritanya saya pernah ditembak cowok, trus saya tolak. Eh pas udah ditolak kok kayaknya saya nyesel. Kebetulan saat itu lagi ada sinetron yang dibintangin Cindy Fatika Sari & Teuku Firmansyah. Judulnya lupa, tapi inget banget kalo sinetron itu ditayangin di Indosiar. Ada 1 adegan dimana si cewek ngelempar bunga ke arah belakang dengan lagu ini sebagai latar belakangnya. Scene itu membuat saya semakin yakin kalo saya harus jadian sama si cowok yang saya tolak. Si cowok yang tertolak itu mungkin ngerasa kalo saya nyesel nolak dia, dan dia nembak lagi. Tentulah saya terima, meskipun hubungan kita hanya berjalan selama 3 bulan saja. Kalo liat dari Facebooknya sih, dia udah married. Best wishes for you, Ollie :)

6. Daffodil Lament
Mungkin banyak orang yang kurang aware sama lagu ini. Tapi entah kenapa di sore yang hujan & gelap, ketika lagi muter ulang dan ulang album No Need To Argue, lagu Daffodil Lament inilah yang paling tercerap di otak saya. Sontak jari-jari saya yang saat itu masih SMP kelas 3, langsung menulis lirik lagu ini ke dalam agenda yang covernya terbuat dari kaleng, dengan kertas daur ulang yang saya buat sendiri. Cara ngopinya tentu bukan googling dengan mudah kayak sekarang, tapi dengerin kasetnya, pencet stop, tulis dikit, rewind, tulis, rewind, stop, forward. Dan seterusnya. God bless MP3 & internet.

7. Animal Instinct
Satu serpihan dalam kisah SMA saya adalah ketika lagi getol-getolnya bermain basket. Bermain basket di sekolah sendiri, di sekolah temen, nebeng latihan di sekolah orang, sampe main basket di sebuah klub underdog di bilangan Pondok Bambu. Nah lagu tersebut gak tahu kenapa selalu ada di kepala saya tiap ada ajang basket. Berputar dan berputar, bermain dan terus bermain, meskipun saya sedang tidak menyetel kaset tersebut dalam walkman usang Sony yang saya miliki.

Kalo ditanya, masih banyak lagu The Cranberries yang dapat menceritakan kepingan-kepingan hidup seorang Rahmayanti Akmar. Tapi disimpen dulu buat besok-besok, karena kata rumor yang beredar, band ini bakal manggung di Java Rockin Land tahun 2011! *pingsan* Jadi, ditunggu aja, apakah akan ada lagi potongan lagu The Cranberries yang mengingatkan saya akan JRL 2011? Semoga!

It’s great when you get to a point where you can laugh to your past. ~ Dolores O Riordan.

Peranan Music Director

May 5, 2011 by titiw  
Filed under Titiw Inside

Music Director (MD) alias tukang puter lagu merupakan salah satu passion saya dalam hidup. Passion yang nggak terlalu dipaksain sih, karena tiap hari juga udah nyari playlist sendiri untuk main, untuk kerja, untuk di kendaraan, sampe untuk ngetrip. Kecuali di radio, MD sering dipandang sebelah mata, apalagi sama Stevie Wonder, pasti sama sekali gak dipandang!

Padahal menurut hemat saya *buset, bahasa gue orde baru bener*, MD memiliki peran yang cukup penting dalam berbagai aspek kehidupan, ataupun aspek kematian. Kenapa kematian? Coba kalo dulu pas Lady Di meninggal, tapi yang diputer bukan lagunya Elton John – Candle In The Wind, melainkan Wake Me Up Before You Go Go dari Wham! Pasti Lady Di yang udah jadi ahli kubur jadi agak keder & bawaannya malah pengen senam SKJ. Coba saya bedah satu-satu tempat dimana MD itu sangat diperlukan, dan menjadi job desc khusus, bukan hanya sekedar disambi.

1. Radio.
MD adalah tombak dari radio ini sendiri. MD harus punya wawasan musik yang luas, harus tahu target pendengar radio sehingga lagu yang diputer sesuai, dan harus apal mati lagu apa yang udah diputer atau yang akan diputer hari itu. Salah 1 MD yang menurut saya nggak ada matinya ialah Prita, yang udah bertahun-tahun dipercayain sama HardRock FM Jkt untuk jadi MD-nya. Btw, prita masih jadi MD di sana kan ya? :)

2. Restoran
Nah, terkadang beberapa restoran yang saya datengin kurang gemanaa gitu sama lagu yang diputer. Resto mahal, berkelas, dan makanannya enak, kok nyetel lagu yang super duper kenceng dengan lagu-lagu rock melayu dari band yang lagi hits ditanggep di Dahsyat atau Inbox. Beuh, langsung jatoh nilai resto itu ciyn! Kalo tempatnya adalah tempat hang out anak muda, bolehlah lagu-lagu top 40 bule yang sering dicover sama GLEE diputer di sana.

3. Salon/tempat relaksasi.
Harus diingat, salon atau tempat massage atau tempat lulur merupakan tempat dimana orang ingin memanjakan tubuh dan bikin badan rileks, bukan malah bikin capek hati denger lagu-lagu yang gak beres! Pernah saya ke salon, eh yang diputer lagunya Didi Kempot aje dulu! Lah, rasanya kan malah pengin goyang, nanti mbak-mbak yang mijet jadi susah dong ngejar-ngejar saya yang lagi asyik masyuk. Nah, ada 1 tempat di Pondok Kelapa bernama Sehat Rileks, yaitu salon langganan saya pijet yang pinter dalam memilih lagu. Lagu yang diputer adalah lagu evergreen tanpa vokal, dengan volume yang lamat-lamat. Bikin merem melek enak karena pijetannya yang hooh & lagunya yang cuco.

4. Toko Buku
Bayangkan lagi di toko buku yang adem, dikelilingi buku favorit, dan ada tempat duduk untuk baca buku-buku tanpa beli (a.k.a pelit). Surga kecil pastinya untuk kamu yang suka baca.. Tapi kalo keadaan di atas ditemenin sama info lalu lintas yang nggak berenti-berentinya diputer dari speaker toko gimana?! Gengges banget kan?! Nah itulah yang dilakukan oleh TB Gramedia Matraman! MD atau siapanya itulah, selalu dan selalu nyetel RADIO, dan radio yang dipilih itu kayaknya Sonora atau El Shinta, yang kerap nyiarin betapa macetnya Mampang, betapa lancarnya jalan kalo lagi lebaran, dan alasan Casablanca ditutup! Gila, males banget sih toko buku paling gede se-Indonesia buat sekedar hire MD beneran. Kalopun emang mau nyetel radio, yang dipilih tuh yang isinya lagu-lagu, broder! Cocoknya sih yang disetel KIS FM, Lite FM, ataupun Brava Radio.

5. TV
Nah, MD-MD yang dipake di TV ini nih yang sering banget blunder dalam masukin lagu ke footage-footage sebuah tayangan. Mbok ya pas Jepang lagi berduka kemaren ketika gempa, yang disetel lagu apa gitu kek ya.. Ini yang diputer lagu soundtrack dari anime Inuyasha.. -_-” mendingan kan disetel shalawat nabi atau lagunya Maher Zein biar orang-orang lebih inget Tuhan! *eh*. Masih banyak contoh blunder dari MD TV ini, tapi saya udah nggak tega ngejembrenginnya.

Yah, sekian tempat-tempat yang sekiranya butuh MD beneran. Kalo ada yang punya ide, di  mana tempat yang butuh MD dan tipe lagu yang harusnya diputer, silakan berkomen dan komen kamu akan saya selipin di atas. Selamat mendengarkan lagu yang ciamik di hari yang rintik ini! :)

Fiksi Mini Bernyanyi

April 29, 2011 by titiw  
Filed under Events

Untuk yang sering mantengin twitter, pasti nggak asing lagi dengan akun @fiksimini (FM). Iya, akun dimana orang-orang bikin cerita yang singkat, absurd, dan nendang, maksimal 140 karakter, yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama. Setahu saya-yang-bukan-anak-fiksimini-tapi-pernahdiRT-sekali ini *ehem*, FM emang rajin bikin gathering, ketemuan, sampe rajin godain cewek-cewek di timeline twitter secara berjamaah.. (Sebut saja Mawar, korban godaan FM).

Selamat Ultah FM!

Nah, untuk kali ini, mereka bikin kompetisi yang dinamain Fiksi Mini Bernyanyi. Kita harus nyiptain lagu yang idenya bisa dari cerita FM ataupun bukan, selama durasi lagunya tidak lebih dari 3 menit, apalagi 3 jam. Dari ratusan peserta, terpilihlah 10 finalis yang – nggak tanggung2 – udah dibikinin NSP-nya sama Telkomsel! (PS: Telkomsel, tolong perbaikin koneksi Anda, saya udah 3 hari gak kerja dari HP karena koneksi situ).

Intan

Acara pemilihan pemenang pun diadakan hari Minggu lalu (24/4) di Cafe Rolling Stone Ampera. Suasana terlihat akrab dan menyenangkan di cafe yang semi outdoor tersebut. Oiya, saya sendiri datang karena “dipaksa” oleh si botak & emang mau lihat penampilan dari @Intan_AP. Sebelum pertunjukan, ada tiup lilin dulu, baru satu persatu finalis tampil deh. Saya pribadi suka sama lagunya @jemarimenari & @ikavuje. Dan surprisingly mereka emang jadi juara ke-2 & ke-3! :D Kalo juara pertama dari Medan, sehingga dia nggak perform. Tapi kalo denger dari rekamannya sih oke juga.

.....

Congratz untuk para pemenang, sakses terus untuk FiksiMini! :)

Java Jazz 2011 – Day 3

March 17, 2011 by titiw  
Filed under Events, Musics

Akhirnyaa.. Bagian ke-tiga alias terakhir dari Java Jazz Festival 2011 akan saya gelontorkan di sini setelah Day 1 & Day 2 kemarin. Sebenarnya agak galau sih mau dateng ke sini, karena mau datang ke kawinan seorang kawan. Namun karena partner in crime di Curipandang, si Nyonyah Dhita nggak dateng, saya wajib meliput hari terakhir festival akbar ini. Jiyeh.

Di sore yang gerimis, pertunjukan pertama yang saya pantengin adalah Farah Di and The Band. Pertamanya sih band yang dimotori oleh anak-anak muda tersebut belum ada vokalnya. Lagu pertama: Spain. Not bad at all. Dan ketika vokalis yang namanya Farah Di muncul, saya terkesiap. Dia masih.. Bocah! Maksimal 12 tahun lah. Tapi suaranya itu.. Suaranya sadis! Dengan vokal yang cenderung mengeluarkan nada-nada alto, ia juga menggandeng vokalis lain yang lebih dewasa bernama Caca. Intinya sih, they were nothing but awesome!

Farah Di & The Band

Setelah selayang pendengaran.. Mampirlah ke Hall Kemendag yang mana lagu-lagu yang bergaung di dalamnya merupakan lagu-lagu yang berirama latin. Betul saja, Los Amigos yang pianisnya merupakan orang India itu cukup mendengarkan untuk didengar dan dibuat joget. Buktinya, ada pasangan yang nari salsa dengan asoynya di bibir panggung. Kalo tante Venna melinda ngeliat, pasti haru dengan kapabilitas mereka.

Los Amigos

Mau dengerin Bonita & The Hus Band, tapi kok masih ditutup ya tempatnya? padahal di jadwal sih seharusnya udah main. Jadilah saya melipir ke tempat di mana hawa nostalgia pasti akan sangat kental. Yak, ke mana lagi kalau bukan mau nonton KA.HIT.NA! Oh Waw! Band yang saya tonton dari eSDe manggung?! Langsung pepet baris depan ciyn! Performance mereka dibuka oleh lagu-lagu fusion tanpa vokal. Ternyata, kata Yovie Widianto salah satu personel Kahitna, aslinya Kahitna memang band yang membawakan lagu-lagu jazz fusion sampai akhirnya beralih ke lagu-lagu cinta yang kita semua suka!!

Hail Tembang Kenangan!

Tak salah saya ambil tempat agak depan. Kahitna benar-benar menyenangkan! Mereka semua (terutama vokalis, terutama akang kasep Hedi Yunus) sangat-sangat sincere kepada penonton. Lagi di panggung, Mario, Hedi, dan Carlo sempet-sempetnya foto-foto lewat HP yang diacungkan fans-fans di barisan depan. Ah.. Saya benar-benar sing along dari hati deh pokoknya. Belum lagi aksi-aksi panggung mereka yang tak kalah menarik. Gak salah mereka tetap bertahan hingga 25 tahun, yang mana konser usia perak mereka akan dihelat September ini. Sakses terus Kahitna! :)

Dari Kahitna, mari beralih menuju Indonesia NuProgressive tribute to Harry Roesli. Dari namanya aja udah provokatif nih. Dan ternyata betul! Mereka sangat-sangat menghibur dengan lagu yang dilengkapi oleh aksi-aksi teatrikal. Konyol, segar, indah, haru, senang, kocak, semuanya lengkap di sini. Saya memang kurang akrab dengan lagu-lagu Harry Roesli, namun ada satu lagu yang saya tau, yaitu Malaria. Gak itu aja, Danny Java Jive yang saya kagumi ituh juga hadir sebagai guest vocal! Di akhir performance, salah satu personel mengatakan bahwa misi mereka adalah agar Indonesia dilihat sebagai bangsa yang kreatif. Salut untuk Indonesia NuProgressive!

Indonesia NuProgressive

LOL!

Setelah dari situ, penasaran sama Hall yang orang-orang sampe ngantre. Ternyata New York Voices yang manggung. Masuk, duduk, bosen. Keluar. Siapa sih mereka? Saya gak pernah denger tapi kok rame nian ya? Nah.. Lanjut pengen nonton George Benson lagi nih saya kak. Maklum, udah gratisan masa gak didatengin yang Special show, hehe.. In Your Eyes, Kissing In The Moonlight, dibawakan dengan ciamik. Suasana di ruangan itu lebih santai karena tidak disediakan kursi seperti kemarin. Namun setelah ia membawakan Greatest Love of All dan Nothing’s Gonna Change My Love For You, saya keluar karena lagu-lagu itu sudah ia bawakan kemarin.

New York Voices

Keluar-keluar hall.. Saya ngeliat ada cewek berkacamata, bertato dan agak kurus. Oh oh oh.. itu Sashi! Sashi Gandarum vokalisnya band Drew yang awesome itu! Oh, dan saya pun memberanikan diri untuk minta foto bareng. Padahal sebelumnya saya udah pernah foto bareng juga di Kemang. Ehehehe.. Aku padamu Sashi.. ;) Setelah itu, ke booth Axis untuk Live Blogging dari sana untuk ngedapetin merchandise berupa 3 CD love song & thumbler. Ditawarin meet & greet juga sih sama Sandy Sondoro.. Thanks, but no, thanks.

Me & Sashi! :)

Setelah dari situ, saya pun pulang dengan hati riang sambil memikirkan apa yang akan saya tulis dari liputan 3 hari yang menyenangkan ini. Anyway, tahun depan kan JJF dilaksanakan tanggal 2,3, dan 4 Maret 2012. Kenapa nggak gandeng perusahaan rokok dengan angka 234 itu ya? Hehe.. semoga kita semua diberi sehat dan umur panjang supaya JJF tahun depan bisa bersua lagi yes. AMEN! Oya, yang mau liat lebih banyak foto-foto Java Jazz 2011 saya, sila buka Album Java Jazz 2011. Kiss Kiss for you all! ;)

Sun Basah! xD

Java Jazz 2011 – Day 2

March 14, 2011 by titiw  
Filed under Events, Musics

Heyya folks! Setelah Java Jazz Day 1, kembali lagi bersama saya Rahmayanti Akmar untuk membahas Java Jazz 2011, hari ke-2! Oke, nama di atas itu memang nama asli saya, dan saya gak akan mengulangnya lagi, sehingga camkan itu baik-baik. Nah, untuk JJF hari ke-2 ini, pertunjukan pertama yang Rahmayanti Akmar datengin adalah Special show of the day: George Benson.

Dengan langkah mungil dan senyum semanis gula ilegal, saya buru-buru ke Hall tempat special show dengan harapan akan mendengar George benson melantunkan lagu-lagu indah garapan Nat King Cole. Tak dinyana, ternyata pers gak boleh masuk! Siyok banget dong! Katanya sih, ruangan sudah sangat penuh, dan mereka mendahulukan orang-orang yang membeli tiket. Memble deh kite! Saya dan Dhita (partner curipandang eiks) pun kongkow di depan dengan tatapan ngarep pengin masuk. Dan sekitar 15 menit kemudian, barulah pers boleh masuk. Hamdalah.

Such An Evening With George Benson

Ternyata, di pertunjukan George Benson ini disediakan bangku sehingga penonton tidak umpel-umpelan. Lagu When I Fall In Love, Smile, Ramblin’ Rose, Nature Boy, Greatest Love of All, dan Nothing’s Gonna Change My Love For You dinyanyikan dengan semangat olehnya, diiringi sing along dari saya dan Dhita yang memang menggemari lagu-lagu tembang kenangan macem ini. Sayang, ia menutup penampilannya tanpa ada encore, padahal saya udah teriak-teriak “Curanmor” dengan napsu agar ia mau balik dari balik panggung untuk nyanyi lagu terakhir. Katanya Dhita sih, mungkin di jaman doski belum jaman yang namanya encore. LOL! xD

Seperti tahun-tahun sebelumnya, crowd JJF di hari Sabtu pasti penuhnya udah kayak orang lempar jumroh di Mekkah *sotoy*. Ilang sinyal? Yah, harus pasrah, daripada hilang dompet. Dari departemen makanan, sejumlah resto-resto tenar ikut jualan di sini dengan harga yang sedikit didongkrak. Bayangkan, ada Bebek Kaleyo yang nendang itu! subhanallah! *lost focus*.

Background: Wall Batik di Hall Kemendag

Dari George Benson, saya mengunjungi pertunjukannya East Mania feat Kai Eckhardt yang bassisnya jagoan. Sepertinya, malam itu memang menjadi malamnya Elfa Secioria. Hall D2 yang guede banget itu didesaki penonton yang ingin menonton pertunjukan tribute to Elfa Secioria. Peter F Gontha sendiri sampai membuka acara ditemani oleh istri Elfa. Dari choir yang muda, ABG, hingga Elfa’s Singer dan Titi DJ ikut berpartisipasi di sini. Tampak sekali bahwa mereka menyanyi dari hati. Elfa Secioria & his legacy lives on!

Elfa's Singer

Hari ini juga, masih ada special show Santana dengan antrian yang mengular naga panjangnya. Artis yang saya tonton setelah tribute to Elfa Secioria ialah Jamie Lidell yang joged-joged cacing, dan Tohpati Bertiga , sebuah kolaborasi baru antara Tohpati, Indro, dan Bowie dari Gugun Blues Shelter. Terlihat abg-abg yang berlari-lari ingin menonton Maliq, namun saya yang sudah tidak abg lagi undur diri dari Java Jazz hari ke-2. See you on Java Jazz Day 3!

Java Jazz 2011 – Day 1

March 10, 2011 by titiw  
Filed under Events, Musics

Java Jazz Festival selalu menciptakan kurva melengkung ke atas pada bibir saya setiap tahunnya. Sebagai penikmat lagu Jazz seperti Gerimis Mengundang dan Mencari Alasan, tentu saja saya merasa terakomodir dengan baik dengan adanya festival musik terbesar di Indonesia ini. Apalagi, sudah beberapa tahun belakangan saya selalu bisa masuk acara musik yang dipromotori oleh Peter F Gontha & partners dengan gratis. Cuma kasih paha aja. Terima kasih saya haturkan kepada curipandang.com yang bisa bikin saya mendapatkan kartu sakti bertuliskan “PERS”. Hah? Yang pake baju oren itu ya kak? Duh, catet ya adek-adek. Yang pake baju oren itu PERSija, bukan pers!

Paviliun Kemendag

Di Java Jazz kali ini, pertunjukan pertama yang saya tonton adalah Danjil. Bukan, bukan yang buat buka puasa, itu mah Tajil. Siapakah mereka? Ditilik dari sini, mereka adalah musisi asal Maluku yang sempat malang melintang di Belanda. Alunan irama lagu-lagu mereka cukup manis, namun banyak yang cover version dari musisi lain. Satu titik yang bikin saya merinding adalah ketika mereka membawakan lagu dari almarhum Chrisye berjudul Damai Bersamamu yang dibawakan secara akustik. Perfecto.

Danjil

Dari Danjil, saya buru-buru menuju hall D2 karena band jazz non-vocal favorit saya perform di sana. Siapakah mereka? Acoustic Alchemy, people! Ah.. Petikan-petikan gitar nan jernih seperti yang biasa saya dengar dari album mereka mengapung di udara. Jamaica Heartbeart, Overnight Sleeper, semuanya bikin saya menggila! Kalo yang gak tau siapa ini Acoustic Alchemy, lagu-lagu mereka suka dipakai kalo ada acara-acara bertajuk “Rumah Asri” di channel tivi kesayangan Anda.

Acoustic Alchemy

Setelah menikmati musik-musik dari musisi luar, rasa nasionalisme saya tergelitik dengan penampilan dari Minangapentagong Sawahlunto yang tampil dengan warna merah mengilap. Sangat Minang. Jazz, fusion, tradisional, sampai tari piring terblender halus di dalamnya. Jangan salah, mereka aseli diterbangkan dari Sawahlunto untuk tampil di Javajazz, dengan performance tak kalah dari musisi nasional ataupun internasional. Kenapa saya tau? Karena mereka yang ngomong terima kasih kepada pemerintah Sawahlunto dong. Salut!

Minangapentagong Sawahlunto

Java Jazz tak hanya menyediakan lagu-lagu ataupun musisi baru. Ketika mau sedikit bernostalgia, saya pun melipir ke panggung outdoor yang mana KSP tampil di sana. KSP guys! Ini kan band pas saya SMP banget! Tapi kok muke mereka gitu-gitu aja ya? Apa cemilannya sehari-hari botox cah kecap? Entahlah.

Dan.. Akhirnya.. Special show hari itu saya sambangi pula dengan semangat 2011. Siapakah dia? Itu loh, musisi gaek newlywed yang pernah duet sama Michelle Branch. Yak, betul. Carlos Santana a.k.a SANTANA! Opa yang satu ini outfitnya memang selalu khas dengan topi dan baju-baju longgar ples aksesoris emasnya yang bikin tambah kental keMEKSIKOannya. *halah*. Black Magic Woman terngiang, ada pula Oye Como Va, dan tentunya yang paling ditunggu-tunggu oleh para ABG adalah MARIA MARIA! Sebelum lagu ini, ia berkata “This is for the ladies. We are deeply commited to make you happy. Cuz when women happy, everything happens.” Dan.. bergemuruhlah ruangan segede ego itu.

Santana

Dari sana, saya sempat menonton Ruben Hein, si pria bertampang mirip Fachry Albar dan bertangan hooh (ok, saya emang fetish sama tangan cowok) yang surprisingly sangat nice. Oh dan tentunya, tak lupa saya silaturahim ke ruangan dimana Fourplay manggung! Ah, Opa Bob James.. Meski dirimu sudah toku, jari-jarimu masih lincah di atas keyboard yamaha itu. Meskipun om Lee Ritenour sudah tidak bergabung lagi, lagu-lagu mereka tetap menyegarkan hati saya yang hampa selama ini. *double halah*. Niat hati mau menyambangi Corinne Bailey Rae juga, tapi sayang dia manggung jam 12 malem lebih sehingga saya memutuskan untuk pulang sahaja. Thx JJF, lanjut ke tulisan saya mengenai JJF Day 2!

Sebagai penutup, harus ada foto saya dong.