My Sister’s Keeper: Tear Jerker Movie Alert!
What:
Anna Fitzgerald (Abigail Breslin) yang masih berusia 11 tahun merasa muak karena seumur hidupnya ia selalu dan selalu dijadikan “donor berjalan” bagi kakaknya, Kate (Sofia Vassilieva). Ya, Anna memang sengaja dilahirkan Ibunya (Cameron Diaz) agar Kate yang memiliki penyakit kanker memiliki donor yang cocok. Karena Anna merasa seakan tidak punya kuasa akan badannya sendiri, maka ia menuntut ibunya sendiri agar berhenti menggunakan bagian-bagian dari tubuhnya untuk Kate. Ibunya yang marah luar biasa, setuju untuk membawa hal itu ke meja hijau. Siapakah yang akan menang di meja hijau? Apakah keputusan yang diambil Anna akan menghancurkan keluarganya?

My Sister's Keeper
“Most babies are accidents. Not me. I was engineered. Born to save my sister’s life”
Tiw’s Opinion:
Masing-masing tokoh menceritakan apa yang terjadi dalam hidup mereka dalam sudut pandang masing- masing. Terus.. Terus.. Scrap book yang dibuat Kate di rumah sakit baguuus banget! Ngeliatnya aja saya nangis. Eh, sebenernya dari awal sampai akhir film saya nangis. Film ini bener-bener menguras emosi jiwa saya yang rapuh. *krik*. Semua akting orang-orang yang bermain di sini “dapet” banget, sampai saya ngerasa apa si Kate bener2 sakit ya..? Yang jelas, 4 1/2 dari 5 saya beri untuk film yang akan mengocok2 kantong mata kalian hingga air di dalamnya minta keluar dengan deras. Bukan tipe film yang membuat adrenalin naik dan bikin ketawa tiwi gak jelas, tapi lebih ke film yang membuat kita berpikir dan bersyukur bahwa masih memiliki keluarga dan diberi nikmat sehat oleh yang di atas.
Cocok Untuk:
Kamu yang ingin melihat akting Cameron Diaz yang sedikit di luar “kebiasaannya”. Kamu yang “take your family for granted”. Kamu yang selama ini kurang akrab dengan saudara. Kamu yang merasa keluarga adalah hal yang sangat penting dalam hidup. Dan kamu yang selama ini merasa kurang bersyukur terhadap hidup..
Trivia:
- Film ini diangkat dari sebuah novel berjudul sama karangan Jodi Picoult
- Seharusnya yang main jadi adik-kakak di sini adalah Elle Fanning dan Dakota Fanning. Tapi nggak jadi karena Dakota gak mau rambutnya dipotong
Foto diambil dari marih
Laskar Pemimpi yang Cukup Menghibur
Apa?
Sri Mulyani (Tika Panggabean) si lugu dari kampung Maguwo, Jawa Tengah yang sedang bersedih hati karena bapaknya diculik oleh militer Belanda datang ke wilayah Panjen dan bertemu dengan pasukan gerilya Indonesia yang dipimpin oleh Kapten Hadi Sugito (Gading Marten). Karena tekadnya yang besar untuk membela negeri dan untuk mencari bapaknya, jadilah ia bergabung dengan pasukan tersebut. Di sisi lain, ada pula Jono (Udjo Project Pop), putra priyayi yang dipaksa bergabung pasukan militer oleh Wiwid (Shanty), pembantunya, kalau tidak ia akan dituduh sebagai mata2 Belanda.
Dalam pasukan, bertemulah mereka dengan macam-macam orang dengan latar belakang yang berbeda-beda pula. Ada Ahok (Odie Project Pop), Tumino (Gugum Project Pop), Toar si rabun (Yosi Project Pop), Yayuk (Masayu Lembu), adik dari Wiwid yang juga merupakan tunangan Kopral Jono (Dwi Sasono) si prajurit yang pangkatnya sering sekali diturunkan. Baru sehari mereka mendaftarkan diri menjadi gerilyawan, KNIL sudah menyerang Panjen & menculik kakak beradik Wiwid dan Yayuk. Atas bantuan Once (Oon Project Pop), anggota KNIL dari Manado yang sempat mereka tahan, para pasukan gerilyawan bergerak sendiri tanpa perintah dari sang kapten. Apakah Sri dapat membebaskan Ayahnya? Apa rencana KNIL dengan menculik orang2 tak berdaya? Apakah mereka dapat melawan kekuatan KNIL yang berjumlah banyak itu?

Opini Titiw:
- Sebagai film pertama dimana semua anggota Project Pop bermain di dalamnya, film ini cukup menghibur.
- Dwi Sasono sebagai Kopral Jono yang biasanya saya demen banget, eh di sini bisa jadi mas2 yang super njijiki. Haha.. IMHO, akting paling ciamik berasal dari doi.
- Oh, tidak hanya Dwi Sasono saja yang aktingnya ok, Oon dari Project Pop juga dapet 2 jempol atas aktingnya yang mengharukan itu.
- Marcell si ganteng cocok jadi Pak Harto! Sipit2nya itu lho..
- Lagu2nya Project Pop sangat menyenangkan untuk menjadi soundtrack film musikal ini. Apalagi lagu yang didendangkan di depan api unggun ketika mereka merayakan malam terakhir sebelum mereka menjadi tentara Panjen.
- Inilah untungnya film komedi, tidak harus mengutamakan detail, karena biasanya orang akan maklum dengan kekurangan ini itu di sana sini.
- Sutradaranya Monty Tiwa nih.. Bolehlah..
- Masayu Lembu gak penting banget ektingnya di sini.. Meh..
Cocok Ditonton:
Kamu yang pengen tahu lagu2 baru Project Pop, kamu yang memang suka sama Project Pop, kamu yang mau nonton film ringan tanpa mikir yang susah-susah.
Review Sang Pencerah
What
Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memiliki nama asli Muhammad Darwis, sejak kecil (Ihsan Indonesian Idol) memiliki pandangan berbeda dengan Islam yang dianut masyarakat tempat ia tinggal di Kauman, Yogyakarta. Ia menganggap bahwa tradisi-tradisi Jawa tidak sesuai dengan syariat Islam yang sejatinya itu memudahkan, bukan malah menyulitkan. Karena kegundahan hatinya itu, ia berangkat haji. Sepulang haji (Lukman Sardi), Darwis yang telah berganti nama menjadi Ahmad dahlan menikahi Siti Walidah (Zaskia Mecca) yang merupakan sepupunya sendiri.
Makin banyak yang dipelajari, makin banyak pula aturan2 Mesjid Besar yang tidak sesuai dengan pikirannya, misalnya saja arah kiblat. Dianggap membangkang, surau kecil milik Dahlan dirobohkan masyarakat. Namun hal tersebut tidak membuat Dahlan putus asa, ia makin belajar dan belajar lagi sampai merasa bahwa pendidikan adalah faktor penting dalam hidup beragama. Lalu, bagaimana sampai Muhammadiyah didirikan? Bagaimana ia bergabung dengan Budi Oetomo? Apakah pertikaiannya dengan tradisi Jawa dapat berakhir dengan akur?
Tiw’s Opinion
This movie was beyond my expectation. Saya tidak terlalu mengharapkan sesuatu yang megah, yang membuncah dan yang meriah atas film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini. Bukan, bukan karena saya apatis dengan film Indonesia, namun lebih karena saya kurang berminat dengan film-film sejarah. Jujur, saya memilih film ini karena tidak ada pilihan, dan orang2 di twitter bilang film ini bagus. Ternyata, selepas dari menonton film ini, saya jadi mengerti sejarah Muhammadiyah tanpa merasa digurui!
Kudos juga untuk Tya Subiakto yang menjadi penata musik. Pilihan pemain juga nyaris sempurna, semuanya terlihat wajar dan tidak dibuat-buat. Kenapa nyaris? Karena menurut saya, hanya Zaskia Mecca kurang mau menggali perannya di sini. Dialeknya tidak diusahakan medok, ia juga seperti tidak berusaha untuk menjadi orang Jawa pada abad 18an yang mana tidak ada wanita memakai tipe jilbab seperti yang dia pakai di tahun segitu. Tapi overall film ini BAIK. Tidak membuat saya menyadari bahwa durasinya 2 jam lebih. Dan warnanya.. Ah.. perhatikan pilihan warna dalam film ini. Abu-abu yang tidak sorrow, warna lembayung yang bersemangat.. Oh dan satu lagi, IMHO, Giring Nidji menjadi super HOT di sini. Ahay!
Cocok ditonton:
Anak-anak sekolah yang masih libur, kamu-kamu yang nilai sejarahnya waktu SD merah, dan siapapun yang ingin melihat film Indonesia bangkit, berkibar, dan merajai bioskop di negeri sendiri. Oh dan terakhir, film ini sangat cocok ditonton oleh: FPI DAN KONCO2NYA. Sekian.
(c) Gambar
Shanghai Review: Segitu Doang?
What?
Film dibuka dengan Paul Soames (John Cusack) yang datang ke Shanghai karena ingin menyelidiki kematian tidak wajar dari temannya, Connor (Jefrey Dean Morgan). Agar tidak terlihat mencurigakan, Paul yang merupakan agen rahasia Amerika menyamar sebagai wartawan di kota yang disebut-sebut sebagai Parisnya Cina tersebut.
Penyelidikan Paul membuatnya bertemu dengan Anna Lan-Ting (Gong Li), istri dari seorang penjahat berpengaruh di Shanghai Anthony Lan-Ting (Chow Yun-Fat). Seorang kapten Jepang yaitu Tanaka (Ken Watanabe) mencurigai kehadiran Paul yang mengakrabkan diri kepada keluarga Lan-Ting. Dari tujuan utama mengejar pembunuh temannya, Paul masuk ke dalam pergerakan yang ada di Cina, dan anehnya ia selalu melihat Anna Lan-Ting dalam kejadian-kejadian berbahaya dan membuatnya sedikit terlibat romansa dengan Anna. Lalu, siapakah pembunuh Connor sebenarnya? Siapa juga Anna Lan-Ting sebenarnya? Dan mengapa Tanaka sangat bernafsu untuk mengejar Paul? Read more
Sisi Sentimental yang Dijual Oleh Toy Story 3
June 21, 2010 by titiw
Filed under Movies, Titiw Inside, Video
Toy Story 3 sudah dibahas oleh beberapa teman di sana dan di sini. Namun saya yang emang hatinya sudah jatuh dan mencinta oleh Toy Story sepertinya harus memberi sedikit sentuhan pena dalam film ini. Halah. Review dari saya bukan dari sudut pandang filmnya, melainkan dari sudut pandang perasaan si penonton. Kalau kita lihat, review orang-orang yang sudah menonton film ini kebanyakan bernada positif. Kenapa demikian? Ya kalau diliat dari kualitas film, apalagi sih yang kurang dari film-filmnya Pixar? Tapi satu yang bikin film ini sukses adalah: sisi sentimentil yang dijual dalam film, apalagi bagi mereka yang “besar” dengan film ini.
Saya ingat ketika Toy Story 1 tayang waktu saya SD dengan sebuah produk makanan fastfood mengeluarkan pasukan mainan tersebut untuk mainan Happy Mealnya. Saya iri sekali ketika teman sepermainan saya dibelikan paket itu dengan Bo, si gadis gembala sebagai hadiahnya. Apa daya, orang tua saya bukan tipe orangtua yang dengan mudah membelikan makanan cepat saji bagi anak-anaknya, apalagi dengan alasan mau dapat hadiah. Untuk Toy Story 2, lagu “When Somebody Loved Me” dari Sarah Mchlachlan yang menjadi original soundtracknya menjadi favorit ketika saya dan teman-teman SMA ngumpul ngerjain PR sepulang sekolah. See? Ada satu perasaan sentimentil yang dijual di sini. Perasaan tumbuh bersama. Sama seperti ketika kamu sedih film seri F.R.I.E.N.D.S berakhir di season ke-10. Sama ketika kamu mengingat film seri Cosby Show, Mcgyver, The Simpsons, dll.
Bukannya sok kritikus film, tapi sejauh pengetahuan saya yang kurang jauh, belum ada film Indonesia yang bisa menyentil sisi sentimentil tersebut jika membuat film. Faktor laris/tidaknya sebuah film bukan saja dilihat dari canggihnya pembuatan film, atau jeniusnya naskah film tersebut. Terkadang, ego dan nostalgi penonton harus sedikit dielus sehingga membuat mereka setia dan akan membela film tersebut, meskipun dari sisi-sisi teknis film, si film tidak canggih2 amat. Sampai sini, saya belum bisa menemukan film layar lebar yang membuat rasa sentimentil itu muncul. Film apa ya yang membuat kita kangen akan masa kecil, karena kita besar dengan film itu..? Ada yang bisa share di sini..?
Biar puas, sila liat video dari Toy Story 1, 2 & 3!
Toy Story 1
Toy Story 2
Toy Story 3
Dear John..

Dear John..
Aku tahu kamu dibuat berdasarkan novelnya Nicholas Sparks, pengarang yang udah menelurkan berbagai karya spektakuler yang juga telah difilmkan seperti “Walk To Remember”, “The Notebook”, dan masih banyak lagi. Intinya aku tahu benang merah dari cerita-cerita dia. Kesedihan, percintaan, dan juga ada kematian.
Dear John..
Karakter jadi cowok army kamu tuh cocok banget dimainin sama Channing Tatum, tapi dia kelihatan kurang total jadi cowok macho ya, dia lebih terlihat menikmati pas memainkan karakter penari di Step Up. Amanda Seyfried aktingnya lumayan, tapi dengan muka dan rambut dan badan seperti itu, dia gak cocok jadi cewek baik-baik, lebih cocok jadi cewek yang kerjanya bullying junior di sekolah. Stereotip, aku tahu itu tidak baik, but I can’t help it. Setidaknya aku kan bukan motivator yang punya banyak folllower.
Dear John..
Kamu gak jelek2 amat, tapi tolong dong orang wardrobenya. Nyadar gak sih si Savannah sering banget pake baju yang sama dengan scene yang berbeda..? Oh ya, satu kata yang terlintas ketika melihat kamu. Boooorrriiing. Kurang klimaks gitu lho. Apa bener kamu ini yang menggeser Avatar dari singgasana nomor satu itu? Atau Avatarnya aja yang udah bosen selalu dielu-elukan?
Dear John..
Pesen terakhir untuk Lasse Hallström yang bikin kamu, meski kali ini kamu kurang sukses, tapi soundtrack yang didendangkan luar biasa. Segitu aja deh John, moga-moga untuk ke depannya kamu bisa lebih baik ya. Sun basah. Cup.
My Blueberry Nights
What:
Merasa sakit hati karena dikhianati oleh pacarnya, Elizabeth/Lizzie (Norah Jones) serta merta datang ke cafe dimana pacarnya pernah berkunjung ke sana dengan selingkuhannya. Dengan histeris, ia menitipkan kuncinya kepada Jeremy (Jude Law) si pemilik kafe, yang mempunyai satu pot besar berisi kunci dari orang-orang yang pernah mampir ke kafenya dengan latar belakang yang berbeda-beda. Berkali-kali Lizzie kembali ke kafe itu, dan berkali-kali pula ia menemukan kuncinya tetap tak diambil oleh orang yang ia inginkan. Dengan rasa kesepian dan tanda tanya besar dalam dirinya, ia curhat dengan Jeremy kenapa orang memilih orang lain. Dengan bijak dan menganalogikan jawabannya dengan makanan, Jeremy berkata kalau Pie Apple di kafenya selalu habis, namun pie Blueberry sangat jarang disentuh. Mengapa? Bukan karena orang tidak suka Blueberry, tapi terkadang.. Orang memang lebih memilih rasa lain.
Sejak saat itu, tiap malam Lizzie selalu datang dengan menu yang sama, pie Blueberry. Waktu berjalan, Lizzie pun bekerja keras di kota lain untuk mengenyahkan perasaan sakit hatinya, namun tetap berhubungan dengan Jeremy lewat postcard ataupun surat yang ia kirim. Di kota tempat ia bekerja, ia bertemu pribadi-pribadi yang membuat ia lebih memahami hidup. Bertemu Arnie si polisi pemabuk, Leslie (Natalie Portman) si pemain poker, dan lainnya. Bagaimana akhir cerita ini? Lizzie bertemu pacar baru, jadian lagi dengan pacar lamanya, atau..?
Tiw’s opinion:
My Blueberry Nights. Sungguh judul yang catchy dan resmi membuat saya menonton film keluaran tahun 2007 ini hanya karena judulnya, bukan karena orang-orang yang bermain di dalamnya. Penampilan dari Norah Jones meraih perhatian saya. Aktingnya alami dan mentang mentang dia penyanyi, tidak membuat ada adegan ia menyanyi, meskipun dalam soundtracknya, terdengar lamat-lamat suara lembutnya itu. Ada beberapa gerakan slow motion yang bukan slow motion yang agak ganggu buat saya, tapi mungkin itu yang dianggap SENI ya. Surprisingly, saya suka sekali dengan akting Rachel Weisz yang memainkan tokoh bernama Sue Lynne. Poni keriting di rambutnya yang menggantung di depan mata seakan menekankan simbol kesepian di dirinya. In the other hand, Natalie Portman yang biasanya bermain ciamik kali ini bermain “tidak segitunya”. Tapi saya beri jempol untuk sedikit aksen selatan yang ia pakai di sini.
My fav quote:
“I just wanted him let go of me.. Now that he has.. It hurts me more than.. Anything else in the whole world..”
Cocok ditonton oleh:
Orang-orang kesepian yang terkadang hanya ingin didengarkan tanpa diberi nasihat. Untuk orang-orang yang sakit hati, ditinggalkan, dan tidak tahu bagaimana cara untuk melepaskan semuanya. Orang yang menganggap kalo Jude Law itu hanya bisa berperan sebagai playboy macam di film Alfie. Para pencinta film-film “lambat” dari Wong Kar Wai, ataupun kamu yang menginginkan film yang manis seperti es krim, sedikit kecut seperti Blueberry, tanpa topping berupa adegan sex nan liar ala film Hollywood.
Movie Club Wannabe Slash #Klubfilm
Akhirnya.. Klub Film yang digagas oleh curipandang.com terbentuk juga setelah kita mengadakan ngobrol2 dan tukar pikiran sesama penikmat film selama seminggu ini. Jadi intinya, Dhita si pentolan curipandang itu pengen bikin movie club yang bisa jadi media interaksi para pencinta film. Hari Sabtu 9 Januari 2009 kita nonton Princess & The Frog di FX sebagai film perdana bareng Dhita, Sofie, Toni, Tikabanget, Tika, Goenrock, Suprie, Tongki, Dita gigi, dan Endi. Orang-orangnya emang belum banyak karena kita mau cobain dulu aja, gemana enaknya klub film ini diimplementasikan. Setelah nonton, kita diskusiin film tadi dan melontarkan ide2 untuk film berikutnya yang mau ditonton, malah ada ide juga untuk ngundang pakar film, sutradara, ataupun wartawan film untuk jadi pembicara.
Lalu untuk film pertama ini juga kita bayar sendiri2 dulu, niatnya setelah klub film udah jejek, kita bakal nyari sponsor. Siapa tahu bisa dapet tiket gratis ataupun goodie bag lucu. Nanti kalo itu udah tercapai, baru deh kita ngajak kamu-kamu untuk gabung di klub film ini. Nonton gratis dan dapet goodie bag serta kenal sama temen-temen baru yang doyan film. Seru kan? Caranya gimana nih Tiw? Pantengin aja terus blog kesayangan kamu ini *cuih* dan curipandang.com. Pastinya akan saya umumkan dengan lantang kalo program kita ini udah final, okeh? Kiss you later guys!
PS: Princess & the Frog gak segitu “mewah”, tapi pasti menimbulkan kenangan akan menonton film2 Disney jaman dulu. Film ini KLASIK!




