Melanglang di Gua Leang Leang

January 18, 2012 by titiw  
Filed under Traveling

Masih di hari pertama tiba di Makassar (20 Oktober 2011), saya dan tim hura-hura ACI Sulawesi 2 melanglang ke Gua Leang-Leang yang terletak sekitar 30 menit perjalanan dari TN Bantimurung. Tidak jauh, namun kendaraan menuju ke sana agak sulit, maka daripada itu kami mencarter pete’-pete’ (angkot) seharga Rp 100.000 bolak-balik (dari Bantimurung ke Bantimurung lagi). Akses jalan ke sana memang sudah diaspal, namun masih ada perbaikan di sana-sini sehingga kita harus sabar untuk bergantian jalan dengan mobil lain. Ati-ati aja ditikung sama temen sendiri. Uhuk.

Jalan Menuju Gua Leang-Leang

Namun tiada kata lelah dan gulana, karena pemandangan menuju Leang-Leang sangatlah ciamik! Bukit-bukit batu karst (kapur) menghampar indah, dengan polesan biru cerah di langit luas. Leang sendiri berarti Gua/Goa (liang), jadi sebenarnya bila kita bilang Gua Leang-Leang, kita berarti menuju Gua Gua Gua, bukan Gua-Gua Elu-Elu. *krik* Sesampainya di Taman Prasejarah Leang-Leang, saya terkesima dengan banyaknya batu-batu besar yang terbentang. Bahkan bisa dibilang, ini seperti Stonehege yang ada di Inggris.

Keren banget ya ya ya?

Ketika kami datang ke sana, Taman yang biasa disebut Taman Batu ini sedang dipugar. Katanya sih akan menambah tempat parkir & mushalla. Dengan dibantu Pak Muslimin selaku guide-polsus pengamanan, perjalanan kita sore itu sangat informatif & menyenangkan. Menurutnya, di sini sebenarnya ada ratusan gua prasejarah, namun letaknya berjauhan. Gua pertama yang kami datangi adalah Leang Petta Kere, yang berarti bangsawan tukang jagal. Jadi ceritanya, dulu ada bangsawan yang memiliki banyak sekali harta. Ia menyuruh anak buahnya menggali tanah & membuat gua untuk menyembunyikan hartanya, dan setelah selesai, ia penggal semua kepala anak buahnya. Bukan main pemerintah.

Yang sebelah kanan bentuknya kayak apa..? x)

Leang Petta Kere ditemukan pada tahun 1956 oleh arkeolog Belanda bernama Van Heikeren, dan diresmikan Daud Yussuf (Menteri Pendidikan) pada tahun 1980. Leang ini memiliki 64 anak tangga, dan dilarang naik jika tidak ada penjaga, karena letaknya cukup curam. Ketika sampai ke atas & menengok dindingnya, ternyata ada cap tangan manusia berwarna merah, dan ada semacam gambar hewan seperti babi yang melekat di dinding gua! Cap tangan yang hanya bergambar 4 jari menunjukkan bahwa 1 jarinya telah dipotong tanda berduka, sedangkan gambar babi adalah simbol bahwa dahulu, mereka mencari makanan dengan cara berburu. Diperkirakan gambar-gambar tersebut dibuat sejak 5.000 tahun yang lalu, menggunakan racikan daun yang menjadi pewarna alami yang meresap kuat ke dalam batu, yang konon tintanya disemprot dengan mulut.

Gambar Prasejarah

Pak Muslimin guide kita menambahkan bahwa tempat ini dulunya dijadikan tempat orang melakukan ritual. Bahkan satu program TV bertajuk Jejak Misterius juga pernah melakukan syuting di sini. Leang ke-dua yang kami sambangi ialah Leang Pettae yang letaknya hanya kira-kira 300 m dari Leang Petta Kere, dan tidak terlalu sulit untuk dimasuki. Di dalam Gua, terlihat serpihan-serpihan kerang yang menempel erat di dinding dan tanah. Ini menunjukkan bahwa manusia yang pernah tinggal di sana memakan kerang-kerangan, dan menggunakan cangkangnya untuk memudahkan aktivitas sehari-hari.

Kerang-kerang purba

Seperti biasa, masih saja ada yang tega mencoret-coret gua ataupun batu-batu yang berada di sana. Maka daripada itu petugas di sana lebih memperketat penjagaan. Salut. Saya pribadi sangat puas mengunjungi daerah ini, jadi jika kamu ke Makassar, khususnya Maros, jangan lupa melanglang ke Gua Leang-Leang ya!

Selamat Melanglang!

Notes:

  • Bebatuan karst di Maros Pangkep merupakan karst ke-2 yang paling indah di dunia setelah Cina.
  • Menurut beberapa arkeolog, gua-gua di sini telah didiami sejak 8.000 – 3.000 tahun SM.
  • HTM:
    - Turis Asing : Rp. 10.000/orang
    - Turis Lokal : Rp. 3.000/orang
    - Anak sekolah/rombongan : Rp.2.000/orang
  • Kalau mau kasih uang ke guide: 20.000 kalo puas, 10.000 kalo gak puas. Jangan bayar kalo kena gigi. Eaaa..

Air Terjun Bantimurung yang Tersohor

January 13, 2012 by titiw  
Filed under Traveling

Jika kamu jomblo, seringnya di rumah sendiri aja sambil nonton acara jalan-jalan di televisi, pasti kamuh kamuh pernah mendengar nama Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di daerah Maros, Sulawesi Selatan yang terkenal dengan kupu-kupu dan air terjunnya. Setelah saya membahas museum dan penangkaran kupu-kupu, saatnya bercerita tentang air terjunnya yang sohor!

Air terjun Bantimurung Bulusaraung

Alkisah, di daerah tersebut ada manusia pertama yang datang dan bertapa selama 40 hari 40 malam. Namanya? Karaeng Bantimurung. Itulah asal-usul nama Taman Nasional yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari airport Sultan Hasanuddin ini. Iya segitu doang emang asal usulnya, gak usah minta nambah. Sekilas saya melempar pandangan, Bantimurung betul-betul cantik penataannya, namun kurang dipelihara kayak bini ke-2. Misalnya saja, kolam renang untuk anak-anak kurang bersih, belum lagi minimnya tempat sampah sehingga membuat pengunjung makin terjustifikasi untuk buang sampah sembarangan.

Kolam renang anak

Musholla Bantimurung yang desainnya unik

Dari bawah, kami menyusuri TN ke atas. Jadi kalau ke sini, bisa melihat-lihat museum kupu-kupu terlebih dahulu, ke arah kolam renang anak-anak, barulah sampai ke air terjun dengan tinggi 15 m dan lebar 20 m, yang bentuknya seperti seluncuran kolam renang yang besar. Terlihat banyak anak-anak sekolah yang main seluncuran dengan ban besar. Hati-hati saja, karena saya tidak melihat ada orang yang berjaga-jaga di sana.

Ini dia air terjunnya!

Selepas dari air terjun, kita harus menaiki anak-anak tangga lagi, dan berjalan menelusuri pohon-pohon besar dan aliran air berwarna hijau gradasi biru yang indah. Menurut para penjual minuman di sana, jika sedang musim buah (seperti rambutan, mangga, sukun hutan), maka monyet-monyet sering muncul. Malah katanya waktu dulu ada monyet sebesar manusia!

Jalan setapak Air Terjun - Gua Batu

Pemandangan beginian nih seiring kita ke atas. Keren!

Sampai di atas, kami akhirnya bertemu dengan danau Toakala (arti: tempat orang tua mandi), dan danau Kassi’kebo yang bagus banget, kayak segara anakan di Sempu, Malang! Jadi pengen mandi-mandi di situ deh.. Tapi tunggu dulu. Sejak tahun 2009, danau Kassi’kebo ditutup untuk umum karena.. Selalu makan korban! Ya, tiap tahun pasti ada 1 orang yang meninggal di sana. Kenapa? Karena danau ini terlihat tenang, namun ada bagian yang berbentuk palung dan pasir hisap yang membuat orang sulit keluar dari sana. Whoa!

Danau Kassi'kebo. Perhatikan kupu2 yang berkumpul

Masih kurang cukup dengan kupu-kupu, air terjun, dan danau, naik sedikit lagi, dan kamu akan menemukan Gua Batu. Di mulut gua, banyak orang yang menawarkan penyewaan senter untuk masuk ke dalam gua yang dingin tersebut.

Gua Batu

Total perjalanan dari bawah ke atas memakan waktu kurang lebih 30 menit ditemani angin semilir, kepakan kupu-kupu dan suara tonggeret. Oh ya, jika ingin bermalam di Bantimurung, bisa coba penginapan Bungawana dengan harga 100.000/malam. Sayang agak kotor padahal view-nya oke. That’s all for Bantimurung, nantikan tulisan selanjutnya, masih dari Makassar!

Notes:

  1. Dari bandara Sultan Hasanuddin, kami menyewa angkot seharga Rp 90.000 untuk ke sini. Bisa juga dari bandara sewa Avanza seharga Rp 150.000
  2. Lebih baik berkunjung ke sini di pagi hari agar tidak terlalu panas. Selalu pakai sunblock dan siapkan juga topi dan uang receh untuk jajan.
  3. Harga Tiket Masuk Taman Nasional Bantimurung: Rp 10.000
  4. Harga minuman rata-rata 1,5 kali lebih mahal dari harga normal

Bandara: Kesan Pertama Sebuah Kota

December 27, 2011 by titiw  
Filed under Traveling

Ada yang mengatakan, jika mau menilai sebuah kota, tengok dulu kualitas bandaranya. Menurut saya, Makassar menerapkannya dengan baik dengan Bandara Sultan Hasanuddin yang terletak sekitar 17 km dari kota Makassar. Lihat saja bandar udara bertaraf internasionalnya yang dibuka pada tahun 2008 itu. Tidak ada kesan kumuh, riuh, kotor. Desain arsitekturnya pun sangat elok dipandang mata.

Selamat datang di Makassar! :)

Selayang pandang Bandar Udara Hasanuddin

Secara ya, pintu pertama yang dilihat oleh wisatawan yang datang menggunakan pesawat pastilah adalah airportnya. Secara subjektif, bandar udara Soekarno Hatta memang tidaklah semodern bandara ini. Wajar, karena tempat ini juga baru saja dibangun. Tapi meskipun modern, ia tidak meninggalkan budayanya begitu saja. Terlihat dari replika kapal Pinisi yang menjadi tempat berfoto bagi pengunjung yang datang. Jika Makassar bisa, mengapa yang lain tidak?

Kapal Pinisi mini tempat pengunjung berfoto

Makassar, apa kareba?!

Notes:

  1. Jika mau beli oleh-oleh khas Makassar, bandara ini bisa jadi pilihan. Barang-barang cukup lengkap, dengan harga relatif normal.
  2. Di luar bandara, ada juga bus Damri seharga Rp 15.000 dengan rute Bandara hingga lapangan Karebosi. Ada pula shuttle bus gratis untuk bandara dan sekitarnya.

Weekly Photo Challenge: Hidden & Windows

December 7, 2011 by titiw  
Filed under Pictures

I’ve been pretending busy these past few weeks, so I can have an excuse to skip several challenges in “Weekly Photo Challenge” from WordPress. As for now, I’d give you the pictures from about 6 weeks ago, not just one, but two. Here you go:

Where's Oke?

Hidden
Where’s my friend Oke? That’s him on the other side of the rock! What? Rock? Yep, I took this picture in a place like a big garden called “Gua leang-Leang” in Makassar. So many rocks here like in Stonehenge, that I lost  sight of my friends as the rocks are so tall and tough. Will give you more comprehensive story about this site very very soon. ;)

Komplek Adat Kampung Pulo

Windows
Taken at an odd village named Komplek Adat Kampung Pulo, in  Garut West Java. Odd, because only 7 nuclear families can stay there. If they happen to have children and the children got married, the elders should get out of the village.

PS: Do you realize that I mostly use photos of my travels around Indonesia for this challenge? :)

Sisa-sisa Kejayaan Benteng Somba Opu

November 30, 2011 by titiw  
Filed under Traveling

Perjalanan ngukur Makassar saya nggak berhenti cuma di Taman Nasional Bantimurung. Sekarang saatnya jelajah sejarah Makassar! Dahulu, orang Makassar dikenal sebagai bangsa yang kuat dan gigih dalam mempertahankan kedaulatannya. Ini tampak dari benteng Somba Opu, benteng yang didirikan tahun 1525 oleh Sultan Gowa ke IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna. Meskipun sekarang bangunan ini bisa dibilang hanya tinggal sisa reruntuhan, siapa sangka benteng yang dulunya kokoh ini dibangun dari tanah liat? Semen untuk merekatkan batu-batu merah itu juga terbuat dari putih telur!

Bagian samping Benteng Somba Opu

Konon (saaah, konon..) daerah ini sempat menjadi pusat perdagangan yang ramai oleh pedagang dari dalam dan luar negeri. Namun di abad 16, Belanda menguasainya dan dihancurkanlah Benteng Somba Opu. Benteng yang terletak di Jl Daeng Tata (bukan yang jualan Konro lho..), Kelurahan Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa tersebut ditemukan kembali tahun 1980an, dan mulai direkonstruksi pada tahun 1990.

Makam Raja Gowa IX

Padang rumput di dekat sungai Jene'berang

Sekarang ini, kita hanya dapat melihat sedikit sisa reruntuhan benteng dan makam Raja Gowa ke IX di bagian atas. Dari atas, pengunjung bisa melihat padang rumput luas, yang terletak di sebelah sungai Jene’berang. Jadi, apa lagi yang bisa dilihat selain sisa-sia benteng? Jangan khawatir, kamera Anda akan puas merekam gambar rumah adat di sana.

Bola Soba dari Soppeng, salah satu contoh rumah di Somba Opu

Layaknya Taman Mini kecil, namun khusus rumah-rumah adat adat Sulawesi Selatan seperti Tongkonan dari Toraja atau Bola Soba dari Soppeng. Tak hanya itu, terdapat pula meriam Baluwara Aung (panjang 9 meter, berat 9.500 kg), dan museum Karaeng Pattingalloang berisi benda-benda peninggalan kesultanan Gowa. Meski benteng Somba Opu tinggal reruntuhan, namun dari reruntuhan itu lahir masyarakat-masyarakat baru yang berjalan ke depan mengikuti zaman.

Komunitas pesepeda di Somba Opu

Jingga di langit Somba Opu

Trivia

  1. Masyarakat sekitar terlihat sangat aktif beraktivitas. Dari latihan silat, lomba burung merpati, hingga komunitas pesepeda memenuhi komplek Somba Opu.
  2. Somba Opu merupakan alternatif tempat untuk mengejar matahari terbenam selain pantai Losari
  3. Kawasan Somba Opu juga sudah menjadi tempat untuk Outbond
  4. Menurut sopir becak motor yang kami tumpangi, akan dibuka Waterboom di bulan Desember ini, yang menimbulkan pro-kontra di beberapa kalangan

Papilio Nan Cantik Dari Bantimurung

November 17, 2011 by titiw  
Filed under Traveling

Hari pertama petualangan ACI saya dimulai di Makassar Sulawesi Selatan, tepatnya di bandara internasional Sultan Hasanuddin yang keren banget. Dari situ, kami bertemu dengan pendamping asli Makassar yang bernama Indra, dan langsung meluncur ke tempat yang terkenal dengan air terjun dan kupu-kupunya.

Kapankah terakhir kamu melihat kupu-kupu dengan jumlah yang cukup banyak? Jika menjawab pertanyaan saya dengan jidat berkerut yang bisa diartikan “Wah, kapan ya.. Sepertinya sudah lama sekali..“, berarti kamu harus mengunjungi Taman Nasional (TN) Bantimurung!

Gerbang Masuk TN Bantimurung

Sudah lama Bantimurung Bulusaraung terkenal dengan banyaknya kupu-kupu yang menghiasi tempat wisata alam yang berlokasi di Maros, Pangkep, Sulawesi Selatan. Di sana, Anda akan disambut dengan patung kupu-kupu besar seakan menyambut tamu-tamu yang datang. Belum lagi berbagai souvenir seperti anting, bros, liontin, gantungan kunci, pigura, dan masih banyak lagi yang bertema ataupun berbentuk kupu-kupu.

Koleksi kupu-kupu yang sudah diawetkan

Tempat pertama yang menjadi tujuan kami sesampainya masuk ke Bantimurung adalah museum Kupu-kupu. Museum itu mungil, namun dapat mendokumentasikan banyak sekali jenis dan ragam kupu-kupu. Tidak hanya dari yang berasal dari Bantimurung saja, namun juga dari Timor, Pulau Seram, dan berbagai tempat yang menjadi habitat kupu-kupu.

Museum Kupu-Kupu di dalam TN Bantimurung

Setelah dari museum, kami pun beranjak menuju ke penangkaran kupu-kupu. Berdasarkan keterangan Bapak Rusman penjaga museum yang juga penangkar kupu-kupu, ada 2 cara mengawetkan kupu-kupu. Dengan formalin (warna kupu-kupu jadi pudar, namun cara ini relatif cepat dilakukan oleh orang-orang yang tidak care), dan dengan memberikan alkohol 100% dan dijemur 2-3 hari di bawah sinar matahari.

Kupu-kupu di Penangkaran

Saat saya ke sana, tidak terlalu banyak kupu-kupu yang terbang menari di hadapan saya. Menurut Pak Rusman lagi ketika saya tanya tentang hal tersebut, kupu-kupu tidak punah, namun ia hanya bertelur di saat-saat tertentu, sehingga keberadaanya akan lebih sering terlihat di bulan Januari, Mei, maupun Agustus. Menurut saya sih, kupu-kupu memang tidak berkurang hanya karena faktor manusia (yang mematikan kupu-kupu semata-mata untuk keuntungan pribadi), namun juga faktor-faktor alami seperti makin turunnya kualitas tempat kupu-kupu tinggal. Bagaimana menurut kamu, kamu, dan kamu? :)

Kupu-kupu juga cinta Indonesia. :)

Trivia:

  1. Rata-rata usia kupu-kupu adalah selama 3 bulan
  2. Tidak boleh menangkap kupu-kupu di cagar alam Bantimurung. Namun jika ada yang ketahuan, hukumannya “hanya” dikejar dan alat menangkap kupu-kupu tersebut disita.
  3. Kupu-kupu yang ditangkar hanyalah yang betina
  4. Tips agar kupu-kupu cepat bertelur: air yang diberikan dicampur dengan gula

Notes:

  • Harga Tiket Masuk Taman Nasional Bantimurung: Rp 10.000
  • Harga Masuk Museum Kupu-kupu & penangkaran: Rp 5.000