The Most Common Questions during Lebaran

September 10, 2010 by apy  
Filed under Blab

Silaturahmi ke kerabat dan keluarga dekat selalu jadi prioritas setelah selesai menunaikan shalat Ied. Menyenangkan bertemu saudara apalagi yang seangkatan, tapi kadang-kadang depresi juga karena banyak pertanyaan andalan yang kerap kali dijadikan andalan para bu de, bu lik, dan sesepuh-sesepuh lainnya.

Berikut ini adalah pertanyaan yang paling sering dilontarkan pada saat silaturahmi lebaran:

  1. Untuk yang belum lulus, pertanyaannya: “Kamu sudah semester berapa? Lulusnya kapan?”
  2. Untuk yang sudah lulus, pertanyaannya: “Kamu sudah bekerja belum, nak?” Jika yang bertanya adalah saudara sepupu yang seangkatan kita, pertanyaan tersebut lebih menghujam hati kita lagi. “Mas/Mba, itu ada lowongan di PT Anu,” kemudian ada lagi “Kayaknya Kemkominfo lagi buka lowongan deh, Mas/Mba coba aja”.
  3. Untuk yang sudah bekerja, pertanyaannya: “Kamu sudah punya pacar?”.
  4. Untuk yang sudah lama pacaran dan sang pacar sudah diketahui keberadaannya oleh keluarga besar, pertanyaannya adalah: “Kamu kapan nikah, nak?” Untuk kebanyakan perempuan, pertanyaan ini sebetulnya cukup mengganggu. Malah kadang-kadang walaupun sudah putus dari pacar, pertanyaan-pertanyaan itu masih saja terlontar: “Lho, si Anu mana? Kok ndak pernah kelihatan?”
  5. Untuk yang sudah menikah pertanyaannya adalah: “Kamu sudah isi?” atau bisa juga: “Anakmu wis gede ya?” Yang terakhir adalah asumsi yang cukup mengganggu karena para sesepuh sudah lama tidak bertemu dan berasumsi sang cucu/keponakan sudah dikaruniai putra/putri.

Tapi sebetulnya, para sesepuh kita seperti, mbah, kakek, nenek, bude, bu lik dan sepupu-sepupu kita cuma peduli dan mencoba berempati pada kita. Lebih baik dihadapi dengan senyum dan sedikit cengengesan juga nggak papa kok. After all mereka adalah saudara sedarah kita, mereka pasti mengerti sekali keadaan kita kok. Ketemu juga setahun sekali.

Happy Eid, everybody.

Tips Lebaran Hijau

September 9, 2010 by titiw  
Filed under Green Act

Lebaran tiba! Saatnya shalat Ied, makan enak, silaturahim, dan lala lili bersama keluarga dan kerabat. Dan sekarang, saya ingin bagi-bagi tips Lebaran dengan cara yang lebih hijau. Sekedar share.. Kita kan care.. ;)

Selamat Lebaran Semuanya! :)

1. Ketika shalat Ied, daripada bawa koran untuk melapisi sajadah, lebih baik bawa tikar sendiri. Malahan karena tiker bisa buat rame-rame, silaturahim jadi lebih luas karena tikernya bisa dipake orang-orang di samping kita.

2. Kalau pas shalat Ied ternyata hujan dan becek, pake aja sendal jepit atau sepatu dari bahan jel (cewek2 pasti ngerti nih). Kenapa? Karena lebih mudah dibersihkan tanpa harus dicuci. Dicuci = butuh air lagi, butuh tenaga lebih.

3. Mengirimkan ucapan melalui kartu memang lebih manis. Tapi tidak cukup manis untuk pohon-pohon di luar sana yang harus ditebang untuk dibuat jadi kartu lebaran. Manfaatkan teknologi. Ucapkan selamat lebaran via sms, bbm, email, twitter, ataupun facebook. Ucapannya jangan yang template ya, biar lebih gemanaaa gitchu..

4. Gak usah mudik kalo gak penting2 banget. Gak ikut macet-macetan, gak menghabiskan bahan bakar, trus duit buat mudik bisa ditransfer aja buat keluarga di kampung.

5. Baju baru identik dengan Lebaran? Ya nggak dong, di sini kreativitas kamu dituntut. Pake baju lama, tapi tambahin scarf, kalung, atau kerudung yang bikin penampilan nampak beda.

6. Lebaran biasanya sowan ke rumah sodara. Jangan lupa bawa tas kain sendiri, siapa tau ada oleh2 atau makanan yang bisa dibawa pulang sehingga gak membutuhkan kantong plastik tambahan.. ;)

7. Kalo disuguhin makan di rumah tetangga atau keluarga, ambil secukupnya. Menyisakan makanan itu banyak mudaratnya. Makanan tersia-sia, dan piring lebih susah dibersihkan jika makanan masih sisa. Otomatis perlu lebih banyak air dan sabun untuk membersihkan. Untuk yang minum dari kemasan gelas, diinget-inget gelasnya yang mana, biar gak main ambil yang baru padahal minumannya belum abis.

8. Kalo kamu udah punya kewajiban bagi-bagi angpau, kasih duitnya gak usah pake amplop ya. Keponakan kamu juga ngerti kok..

9. Ke rumah tetangga anuh, ke rumah tetangga ituh, berkunjung ke rumah sodara sana , berkunjung ke rumah sodara sini. Lelah dan haus pastinya. Biasakan bawa botol minuman sendiri yang diisi penuh dari rumah biar tenggorokan kering kalo di tempat kita namu lupa nawarin minum.

10. Jalanan super lengang di kala Lebaran bisa dimanfaatkan dengan silaturahim ke rumah tetangga dan kerabat naik sepeda!

Sekian tips-tips berlebaran hijau dari saya. Monggo kalo ada yang menambahkan. Dengan postingan ini juga, Titiw mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriah. Minal Aidin Walfaidzin. Mohon Maaf dari Lahirnya dan Batinnya! :)

(c) Kartu Lebaran1 & Kartu Lebaran 2

Celengan Lebaran dari Pasar Gembrong

August 29, 2009 by titiw  
Filed under Blab

Hwaaa!!! Azis pengin, Mak! Pengin banget celengan!”
“Zis.. yang sabar ya nak, kamu kan lagi puasa..”
“Ya udah, Azis berenti nangis, tapi Emak beliin celengan buat Azis!”

Aku yang sedang menyetrika baju kantor melirik cermin yang merefleksikan bayangan Emak dan Azis yang sedang meraung. Duh.. Masih pagi si Azis sudah merengek minta dibelikan celengan, padahal aku tahu kalau Emak yang sudah 9 tahun menjanda belum punya uang. Duit upah dari mencuci sehari-harinya belum keluar sudah dua bulan. Entahlah, Ibu Ratri yang dari baju suaminya sampai behanya dicucikan oleh emakku belum mau memberi Emak uang yang menjadi haknya. Padahal, sekarang sedang puasa, apa-apa semakin mahal dan mahal. Terkadang orang kaya memang tidak mau melihat ke bawah, merasakan apa yang orang miskin seperti diriku rasakan.

Aku pun bertanya pelan-pelan kepada Azis sambil menggoda..

“Zis.. Emang buat apa kamu beli celengan..? Kayak punya uang banyak aja..”
“Abang emang gak ngertiin Azis! Azis itu pengen punya celengan biar duitnya kekumpul pas Lebaran! Biar kita bisa punya ongkos nengok kuburan Bapak!”

Tek. Hatiku tersentak. Ya, kuburan Bapak. Sudah bertahun-tahun lamanya tanah itu kering, tanpa ada doa-doa yang dikirim langsung di atas pusaranya dari kami bertiga.

Bapak meninggalkan kami bertiga 9 tahun yang lalu. Di mana aku masih duduk di kelas 2 SMP, dan Azis adikku baru berumur 3 bulan. Jarak umurku dengan Azis memang jauh, dan itu membuatnya sangat manja kepada diriku. Aku pun tak tega jika tidak menuruti keinginannya. Bapak meninggalkan kami untuk selamanya karena gerobak rumput yang dibawanya tiap sore ke peternakan sapi tiba-tiba saja ditabrak dari belakang oleh pengendara mobil mabuk yang tak bertanggung jawab. Hari itu adalah hari yang paling suram dalam sejarah kehidupanku.

Ramadhan itu aku merengek rengek tanpa henti kepada Bapak untuk dibelikan sepeda. Aku malu karena hanya aku satu-satunya murid di SMP 3 Karawang yang tidak naik sepeda untuk ke Masjid. Maka daripada itu, Bapak bekerja lebih giat untuk menuruti permintaanku. Jika biasanya pukul 4 sore Bapak sudah di rumah, 9 tahun lalu di bulan Ramadhan juga, Bapak belum pulang hingga pukul 7 malam. Untuk mencari rumput. Jika rumput yang dibawa ke peternakan makin banyak, makin banyak pula rupiah yang bisa ia bawa pulang. Namun malang tak dapat ditolak, Bapak tertabrak dan tewas seketika di jalan tanpa ada kata-kata terakhir untukku, Emak dan Azis. Aku merasa paling bersalah atas kematian Bapak.

Ingatan masa laluku terhenti dengan makin kerasnya suara Azis menangis. Dengan bercanda aku berkata pada Azis,

“Eh, emangnya Azis inget sama Bapak..? Bapak kan udah nggak ada pas Azis belom bisa ngomong, belom bisa ngapa-ngapain!”
“Azis inget. Bapak orangnya brewokan. Suka ketawa-ketawa sampe gigi ompongnya di depan keliatan.”

Tek. Sentakan kedua terhadap hatiku yang kudapat hari ini. Sungguh tak bagus untuk jantung, bisa membikin lemah dan mati mendadak.

Eh.. Kok Azis tahu..? Diceritain Emak yaa..?

Jawabku sambil masih berusaha menebarkan pesona canda dalam kalimat.

Enggak. Emang Azis inget, titik. Abang nggak percayaan banget sih! Makanya, Azis pengin celengan biar bisa punya ongkos untuk ke Karawang!

Duh, padahal Karawang tidak begitu jauh dari Jakarta ini, tepatnya di Jatinegara tempat kami tinggal. Namun jika harus ke sana bertiga, belum lagi ongkos menginap jika menginap, dan jajan-jajan untuk Azis, upah pembersih kuburan, air mawar untuk menyegarkan pusara, dan lain dan sebagainya, setengah gajiku bisa ludes hanya untuk sehari. Padahal, gajiku itu juga masih harus dibagibagi untuk uang sekolah Azis dan cicilan TV di rumah.

“Zis.. Makanya yang sabar ya.. nanti abangmu pulang bawa celengan, biar kita semua bisa sama-sama nengok Bapak.”

Emak berkata-kata dengan mata yang berkaca-kaca. Kulihat kulit tangan Emak yang kisut, bagaikan buah apel yang sudah dikupas dan dibiarkan selama berhari-hari tanpa ada yang memakannya. Ah, kasihan Emak. Dadaku sesak, karena uang gaji yang baru saja kuterima sudah dipakai untuk membeli sedikit daging sapi untuk sahur. Kasihan Azis yang tidak pernah makan rendang. Gajiku sebagai office boy di sebuah Agency model di bilangan Senen memang sangat sangat tidak seberapa. Belum lagi untuk ongkos kereta dalam kota, angkutan yang kunaiki sehari-hari. Aku memegang tangan kurus Azis dan berkata,

Zis.. Sekarang sudah 2 hari lagi sebelum Lebaran. Azis doakan abang dapet THR ya, supaya abang bisa beliin Azis celengan di pasar Gembrong.”
“Hah..? Pasar Gembrong bang..? Pasar yang jualan-jualan mainan itu..?
Eastern Promises hd

beverly hills chihuahua 2 online hd

Mata Azis yang tadinya sendu mulai menampakkan semangat.

“Iya Zis, di pasar Gembrong. Azis mau celengan yang kayak gimana sih emangnya..?”
“Yang kayak gimana aja bang, asal bisa cukup sama semua duit Azis!”

Aku dan Emak tertawa dengan kepolosan Azis.

“Ah kamu, Zis, emangnya uang kamu banyak..?” sahut Emak sambil tersenyum lebih lebar.
“Ya banyak Mak, kalo ditabung!”

Ah.. Azis.. ia belum terlalu mengerti konsep menabung, bahwa ia harus punya uang sedikit-sedikit dulu untuk ditabung, agar celengannya bisa penuh. Setelah pakaian yang sudah kusetrika kupakai dengan rapih, aku pun siap untuk berangkat ke kantor.

“Ya udah, abang berangkat dulu ya! Assalamualaikum!”

***

Di kantor, makin banyak saja pekerjaanku. Mendekati hari Lebaran, para model dari Agency banyak yang dipakai untuk acara-acara spesial Lebaran. Dari yang peran utama, hingga peran ecek-ecek yang hanya 3 menit tampil, itupun hanya terlihat punggungnya saja. Sehingga aku harus mencuci gelas dan piring berkali kali dan berulang-ulang. Tak ada atmosfer Ramadhan di kantor ini, semuanya makan, semuanya minum. Yah.. Memang aku tidak boleh berpendapat seperti itu juga sih. Kan tidak semua orang berpuasa. Sampai pukul 4 sore di hari terakhirku kerja ini, tak ada tanda-tanda THR akan dibagikan. Fyuh.. Memang sih, aku baru 6 bulan kerja di sini, bisa jadi THR hanya didapatkan orang yang berkerja lebih dari setahun. Besok mulai libur, dan 4 hari setelah Lebaran, baru aku memulai kerja kembali.

Duh.. Azis.. Maafkan abangmu ini ya.. Duit di kantong hanya cukup untuk ongkos kereta sekali lagi. Hanya untuk pulang. Dan tiba-tiba, Mbak Dini, seorang model senior yang memang terkenal baik itu melihatku.

“Loh, Rahman belum pulang..?”

Wah, aku ditegur, jarang-jarang ada orang yang menegurku, apalagi sampai tahu namaku. Dengan canggung aku menjawab pertanyaannya

“Eh.. Iya Mbak.. Masih nunggu..”
“Nunggu apa..? Orang-orang udah pada mau balik lho.. Ada acara buka bareng di RCTI malem ini. Semuanya ke sana. Kamu ikut..?”
“Eh.. nggak Mbak. Saya mau buka aja di rumah sama Adik dan Emak saya.”
“Oh, kamu punya adik..? Masih kecil..? Emang rumah kamu di mana..? Bener gak mau ikut aja..?”
“Enggak Mbak, makasih. Iya adik saya masih kelas 3 SD.. eng.. Rumah saya di Jatinegara.”
“Jatinegara..? Oh yang deket pasar Gembrong itu ya..? Saya suka tuh beli mainan di sana kalo ada acara-acara 17 Agustusan di rumah. Lebih murah soalnya.”
“Iya Mbak, nggak jauh dari sana.”
“Ya udah kalo kamu gak mau ikut, kita ketemu lagi setelah Lebaran ya.”
, ucap Mbak Dini dengan senyum manisnya.
“Iya Mbak.. Sampe ketemu, maafin kalau ada salah-salah ya Mbak..”

Mbak Dini pun melangkah ke luar dan aku hanya disisakan bunyi kletak kletok dari sepatu tingginya itu. Akhirnya aku juga keluar kantor dengan lunglai. Apa yang harus aku katakan kepada Azis nanti..? Kasihan Azis punya abang yang tidak dapat diandalkan seperti diriku. Begitu aku membuka pintu keluar, hampir saja aku menabrak orang yang mau masuk.

“Mbak Dini..? Kok kembali lagi Mbak..?”
“Iya, aku lupa. Kamu bilang tadi kamu punya Adik..? Nih sedikit hadiah Lebaran untuk adik kamu ya.”

Tangan halus Mbak Dini menyorongkan uang berwarna merah kepadaku. Seratus ribu.

“Mbak.. Aduh.. jangan merepotkan Mbak..”
“Nggak papa, soalnya tadi kita ngomongin pasar gembrong, saya jadi inget kalo anak-anak kan pasti seneng kalo dibeliin mainan untuk hadiah Lebaran. Yuk, sampai ketemu lagi ya, Man!”

Alhamdulillah.. Dengan dungunya aku hanya bisa terpaku melihat selembar uang yang berada di tangan dan tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada Mbak Dini.

***

Pukul 4.15 sore, kupercepat langkahku menuju stasiun kereta. Jika aku buru-buru naik kereta ke Pasar Gembrong, aku sempat membeli celengan, dan sempat pula berbuka dengan Azis dan Emak. Namun sesampainya di stasiun.. Orang-orang tumpah ruah di dalamnya. Wah, iya ya hari terakhir orang-orang bekerja, pantas jika stasiun penuh sekali. AKu bertanya kepada bapak-bapak gendut di sbelahku

“Kereta ke arah Jatinegara sudah lewat Pak..?”
“Wah.. bukannya sudah lewat! Saya nunggu hampir sejam itu kereta malah nggak lewa-lewat! Katanya sih ada gangguan dari stasiun yang ada di Kota.”

Oh.. Begitu.. Wajar kalau orang-orang memadati stasiun kecil ini. Eh, apa itu dari kejauhan..? Wah.. Kereta! Tapi.. Penuhnya… Masya Allah.. Bagaimana ini..? AKu harus mengejar waktu agar dapat membeli celengan Azis. Takutnya besok pasar Gembrong sudah tutup karena penjualnya pada mudik.

Dengan nekat akhirnya aku pun meringsek masuk kereta begitu kereta sampai di depanku. Upaya yang sangat sia-sia ternyata. Tunggu dulu. Mataku menangkap adanya tempat kosong. Tepat di atas badan kereta. Naik.. Tidak.. Naik.. Tidak.. Bayangan Azis yang menangis, tangan kisut ibu, pusaran Bapak yang kering, Mbak Dini, uang seratus ribu, semuanya berkelebat dan memecah batas antara kesadaran dan imajinasiku. NAIK. Aku nekat untuk naik ke atas kereta dengan upaya yang lumayan keras. Memanjat jendela kereta, dan hup. Sampai di atas. Kereta mulai beranjak pergi, wah tidak ada orang yang berani untuk naik ternyata. Tumben. Aku tersenyum dan semilir angin seperti menyambut mulutku yang kerontang. Aku tetap tersenyum tanpa menyadari orang-orang di bawahku berteriak-teriak ke arahku. Aku melihat bapak gendut yang tadi di sebelahku berteriak-teriak hingga bibir gendutnya ikutan monyong. Wah.. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka ucap. Let..? Oret..? Apa sih..? Orlet..? Ah sudahlah, aku pun memalingkan muka dari mereka dengan segenggam harapan di benakku sendiri.

“Mas!! Turun mas!! Keretanya Korslet!!! Di atas korslet!! Turun mas!! Nanti gosong!! Turuuunnn!!!” “Ya Allah.. Kawat di atas itu korslet!! Orang itu tidak dengar!!” Orang-orang berteriak panik kepada Rahman. “Allahuakbar!!!”

Kereta berhenti. Badan hangus diturunkan dari atas kereta dengan seruan-seruan kecil di sekelilingnya.

“Aduh.. Kasihan, padahal masih muda..” “Periksa KTPnya.. Di mana alamatnya..”

Seorang mas-mas berseragam pemda inisiatif merogoh kantong celana korban.

“Kosong, tak ada tanda pengenal. Hanya selembar uang yang ikut hangus nih.” “Wah.. gimana dong..? Eh sudah mau buka puasa nih.. Pulang ah.. Nanti juga keluarganya nyari”.

Mereka pun berbondong-bondong meninggalkan seonggok mayat hangus di pinggir rel kereta api untuk menuju ke rumah masing-masing.

***

“Mak.. udah Adzan Subuh kok Bang Rahman belum pulang..? Katanya mau bawain Azis celengan dari Pasar Gembrong..?”, tanya Azis dengan sedikit tersengguk.

“Sabar ya nak.. Abangmu itu orang sibuk, pasti ia sibuk cari duit biar bisa beli celengan buat Azis. Azis sabar ya.. Kan udah gede.. Bapak juga pasti seneng liat Azis puasanya penuh sampai hari ini. Sekarang hari terakhir, sahur yang banyak ya.. Ya nak ya..? Sabar ya.. Sabar.. Sabar..”

Emak mengulang-ngulang jawabannya sambil nanar menatap TV kecil cicilan mereka yang mengumandangkan Adzan Subuh di hari puasa yang terakhir.

(c) Gambar celengan

Tips Mudik

October 9, 2007 by titiw  
Filed under Traveling

Mudik atau “Mulih ke Udik” (pada baru tahu kan kalo ini kepanjangannya..??) adalah sebuah ritual tahunan yang terjadi di Indonesia. Mudik ini meliputi eksodus besar-besaran dari kota besar (khususnya Jakarta) ke daerah lain di Indonesia. Biasanya sih sekitar pulau Jawa dan Sumatera. Peristiwa ini hanya terjadi pada bulan Ramadhan atau kira-kira 7 hari mendekati 1 Syawal. Interestingly enough, event ini hanya khusus milik Indonesia. Di negara lain yg juga mayoritasnya Islam, Idul Fitri tidak semeriah Idul Adha. Jadiii.. demi menyambut ritual yang buat Jakarta jadi lengang ini, allow us to give you a few tips based on our little experiences.

Mudik dengan kendaraan pribadi

  1. Jangan pernah mudik sendirian. Udah gak ada temen, navigasi sendirian, belom lagi kalo dihadang rampok2 di alas roban. Gak ada saksi hidup.
  2. Pastikan kondisi mesin kendaraan kamu dalam keadaan yang terbaik. Dari mulai rem, kaki2, karburator, ban, ac, tape (penting dong, masa gak ada kesenian di jalan..). Pokoknya jangan ada yang kelewat sedikitpun. You don’t want to stuck in the middle of nowhere, do you?
  3. Jika kamu menggunakan kendaraan beroda dua (of course motor dong, bukan sepeda..), kalo bisa stay in group dengan pengendara motor lainnya. Oh ya, jangan terlalu overload (kadang kan sampe berlima, udah kayak sirkus, buset..), kasian anaknyah.
  4. Jangan lupa bawa tools basic seperti peta (bukan yg buta, biasany dikasi gratisan dari koran, majalah, tabloid, atau site), P3K, obeng2, senter, kunci inggris, kunci pas, dongkrak, dan botol aqua kosong buat tempat pipis (male only, kalo cewek brakatak entar di mana2..)
  5. Pastikan semua alat komunikasi kamu dalam keadaan baterai penuh, jadi kalo kangen sama mami papi bisa telpon di mana aja. Et, jangan lupa harus ada pulsanya juga lho.. Pake fleksi enak lho bisa dipake di mana2 (buat gosok gigi juga bisa. Ahahaha..)
  6. Bawa juga makanan2 kecil kayak anakmas, permen jagoan neon, ciki2 cilik macem tic2, taro2an, dan juga minuman booster seperti Kratingdaeng, M 150, dan macem mana awak tak tahu semuanya.. Tapi ati2, minum gitu2an khusus pas di jalan aja, satu aja. Hindari makanan2 berkuah seperti bakso, mi rebus, ayam gulai. Bear in mind that those food can only be eaten on the tables.
  7. Kalo mudiknya konvoi jaga jarak aman, yang depan jangan terlalu terburu2 dan yang belakang keep up, man! Dasar mobil murahan.. Nah yang tengah jangan ciuman aja kerjanya. Kalo bisa tiap mobil dilengkapi dengan HT (Handy Talky) untuk solusi komunikasi yg murah dan cepat.
  8. Manfaatkan posko2 mudik untuk berbagai keperluan, seperti mesin dan logistik. Jangan lupa kasi Pak polisi sekecup dua kecup.
  9. Kalo kamu lelah, capek, ngantuk, horny, kebelet eek atau pipis, berenti dulu di bahu jalan. Yaa.. lakukan apa yg harus kamu lakukan untuk menghilangkan rasa2 itu.

Mudik dengan angkutan umum (darat)

  1. Bawa barang seperlunya supaya lebih ringkes dan nyaman ketika mau duduk di kendaraan yang penuh sesak itu.
  2. Jika tujuan mudik kamu bukan akhir dari terminal atau stasiun, sebaiknya tetep melek kira2 dua stasiun sebelum tujuan. BT beut kalo kelewat.
  3. Jangan lupa sarapan yg ringan2, jangan sarapan tumpeng. Nanti kamu bisa muntah dan dijauhi oleh penumpang yang lain. Oh ya, kalo begitu don’t forget to bring antimo obat anti mabok dong..
  4. Kalo naik kereta (terutama ekonomi), siapkan sebuah koran bekas, apa kek, koran BOLA, lampu merah, lipstik, pop. Karena most likely kamu gak akan dapet tempat duduk di situ, jadi siap2 ngemper.

Yah, kurang lebih begitulah pengalaman pribadi penulis. Yang satu pulangnya ke Makasar, suka bingung kalo mau lewat alat detektor, soalnya doi bawa Badik (semacam golok) ke mana2. Yang satu tiap tahun pergi ke Jawa Tengah menembus macetnya lalu lintas dan lautan manusia. Tidak lupa terpleset tumpahan mie ayam di stasiun Kober Purwokerto. Siapa tahu kamu2 ada pengalaman pribadi yang bisa dishare di sini.

Oh ya, ada pantun nih buat ente2 semua:

“Preman gondrong nongkrong di pengkolan, namanya si Amin anak tukang ikan asin.
Minta maaf dong di hari Lebaran, Minal Aidin Wal Faidzin!!”

Happy Lebaran dan Mudik semuanyaaa! :D

(c) Image