Hola Holland

April 24, 2009 by titiw  
Filed under Titiw Inside

Ngapain aja sih Belanda di negeri kita sampe ratusan tahun? Kenapa mereka sangat betah untuk menjajah kita dan beranak pinak di negeri yang suhunya bisa bikin muka mereka merah kayak kepiting rebus? Oh.. Negara kita kaya akan remah-rempah.. Oh, mereka senang karena orang Indonesia gampang dibodohi.. Setidaknya, itu gambaran yang saya tangkap ketika masih berada di dalam selubung baju seragam berwarna merah dan putih sembari makan es teh kenyot dengan aksesori ingus yang menghiasi hidung pesek saya.

the soloist online film

Ketika es teh kenyot itu sudah mulai tidak fashionable lagi di dunia perjajanan saya, komplek saya kedatangan orang bule. Tepatnya orang Indo-Belanda. Namanya Dilla. Dilla adalah keponakan dari Tante Ardha, orang komplek saya yang memang Indo-Belanda. Dilla ini tinggal di Belanda, dan lahir pula di Belanda. Ketika saya pura-pura lewat depan rumah bernomor C-3 itu dengan pandangan mencuri-curi *maklum, jarang liat bule*, tante Ardha berteriak “Kenapa Ti? Kok di depan rumah tante aja? Sini masuk dong, main sama Dilla!” Nahlo, saya yang tidak siap mental untuk undangan tersebut seakan tertarik untuk berlari pulang ke rumah yang hanya berjarak 2 rumah dari situ, tapi badan ini juga terdorong ingin masuk rumah Tante Ardha.

Akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tante Ardha. Setelah dipikir-pikir, selama kurang lebih 10 tahun saya hidup, saya belum pernah sekalipun masuk rumah Tante Ardha yang punya anak cowok bernama mas Roy yang mirip sekali dengan Elvis Prestley muda. Perkenalan pun dimulai. Ternyata Dilla datang ke Indonesia untuk berlibur dan ingin lebih mengenal Indonesia. Langsung saja saya yang lebih muda dari Dilla bercerocos tentang komplek ini, tentang jajanan yang sedang digemari, tentang permainan yang sering kami mainkan di lapangan dekat rumah, sampai rasanya bibir ini penuh dan sesak dengan cerita yang membanggakan tentang Jakarta, Indonesia. Khususnya Pondok Bambu.

Seingat saya, kami tidak ada kesulitan dalam berkomunikasi. Bahasa Inggris sedikit-sedikit, sedikit bahasa Indonesia asal yang saya ajarkan ke Dilla, dan sedikit bahasa Belanda yang ia ajarkan kepada saya. Bahkan ia mengajarkan permainan anak kepada kami (anak-anak perempuan di komplek seperti Mutia, Anis, dll) dengan lagu Belanda yang sampai sekarang iramanya masih terngiang di pikiran saya. Sampai beberapa waktu setelahnya, Dilla pulang ke Belanda. Dua-tiga helai kartupos dilayangkan ke alamat saya. Kartupos ucapan selamat Idul Fitri yang bergambar anak kucing, kartu pos selamat ulang tahun yang bergambar kartun sapi, dan beberapa lembar surat yang ia tulis dengan bahasa Indonesia. Ada pula liontin berbentuk sepatu klompen yang ia kirimkan bagi kami.

Hola Hola Hola

Hola Hola Hola

Setelah itu.. Saya jadi berpikir apa rasanya jika sekolah di luar negeri, bagaimana jika saya bersekolah di Belanda? Di negeri yang mayoritas penduduknya menggunakan sepeda? Di negeri yang ternyata rata-rata manusianya paling tinggi di dunia? Di negeri dimana jumlah penduduk yang mengakses Internetnya tinggi?  Di negeri dimana nasi goreng ada di mana-mana? Di negeri yang hampir semua rumah teman saya yang pernah ke sini, selalu berfoto ala Belanda tradisional? Negeri di bawah permukaan laut yang pernah membangun bendungan-bendungan di Jakarta untuk menangkal banjir? Gejolak ingin tahu makin membuncah ketika Agil teman saya di kampus baru pulang dari sana dengan muka lebih sumringah dan tubuh lebih segar bercerita mengenai indahnya pemandangan dan hangatnya suasana pertemanan di sana.

Apakah jika saya mendapatkan kesempatan untuk studi di Belanda, saya akan lebih banyak mengenal orang-orang dari seluruh penjuru dunia? Mengerti lebih banyak bahasa Belanda di luar kata “rok” dan “verboden”? Apakah saya dapat belajar bahasa Perancis dari Jean, belajar bahasa Jerman dari Ernest, belajar bahasa Itali dari Gio, ataupun belajar bahasa Belanda dari Erik?

Perasaan senang saya sewaktu kecil ketika bermain dengan Dilla dan teman-teman lain, ingin saya putar kembali. Tentu saja dengan kaset yang lebih baik, sehingga ingatan akan pengalaman berteman dengan orang-orang berbagai kalangan di Belanda dapat lebih segar di ingatan dan dapat menjadi kenangan yang tak terlupakan. Siapa tahu juga bisa curi ilmu bagaimana bikin bendungan yang baik supaya tidak lagi ada kejadian seperti di Situgintung. Siapa tahu juga opini miring saya ketika kecil tentang Belanda dapat dicounter oleh hal-hal baik yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Semoga saja hal itu dapat terwujud, ketika saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Schiphol.
Semoga.

(c) Gambar