My Blueberry Nights

January 22, 2010 by titiw  
Filed under Movies

What:
Merasa sakit hati karena dikhianati oleh pacarnya, Elizabeth/Lizzie (Norah Jones) serta merta datang ke cafe dimana pacarnya pernah berkunjung ke sana dengan selingkuhannya. Dengan histeris, ia menitipkan kuncinya kepada Jeremy (Jude Law) si pemilik kafe, yang mempunyai satu pot besar berisi kunci dari orang-orang yang pernah mampir ke kafenya dengan latar belakang yang berbeda-beda. Berkali-kali Lizzie kembali ke kafe itu, dan berkali-kali pula ia menemukan kuncinya tetap tak diambil oleh orang yang ia inginkan. Dengan rasa kesepian dan tanda tanya besar dalam dirinya, ia curhat dengan Jeremy kenapa orang memilih orang lain. Dengan bijak dan menganalogikan jawabannya dengan makanan, Jeremy berkata kalau Pie Apple di kafenya selalu habis, namun pie Blueberry sangat jarang disentuh. Mengapa? Bukan karena orang tidak suka Blueberry, tapi terkadang.. Orang memang lebih memilih rasa lain.

Sejak saat itu, tiap malam Lizzie selalu datang dengan menu yang sama, pie Blueberry. Waktu berjalan, Lizzie pun bekerja keras di kota lain untuk mengenyahkan perasaan sakit hatinya, namun tetap berhubungan dengan Jeremy lewat postcard ataupun surat yang ia kirim. Di kota tempat ia bekerja, ia bertemu pribadi-pribadi yang membuat ia lebih memahami hidup. Bertemu Arnie si polisi pemabuk, Leslie (Natalie Portman) si pemain poker, dan lainnya. Bagaimana akhir cerita ini? Lizzie bertemu pacar baru, jadian lagi dengan pacar lamanya, atau..?

Tiw’s opinion:
My Blueberry Nights. Sungguh judul yang catchy dan resmi membuat saya menonton film keluaran tahun 2007 ini hanya karena judulnya, bukan karena orang-orang yang bermain di dalamnya. Penampilan dari Norah Jones meraih perhatian saya. Aktingnya alami dan mentang mentang dia penyanyi, tidak membuat ada adegan ia menyanyi, meskipun dalam soundtracknya, terdengar lamat-lamat suara lembutnya itu. Ada beberapa gerakan slow motion yang bukan slow motion yang agak ganggu buat saya, tapi mungkin itu yang dianggap SENI ya. Surprisingly, saya suka sekali dengan akting Rachel Weisz yang memainkan tokoh bernama Sue Lynne. Poni keriting di rambutnya yang menggantung di depan mata seakan menekankan simbol kesepian di dirinya. In the other hand, Natalie Portman yang biasanya bermain ciamik kali ini bermain “tidak segitunya”. Tapi saya beri jempol untuk sedikit aksen selatan yang ia pakai di sini.

My fav quote:

“I just wanted him let go of me.. Now that he has.. It hurts me more than.. Anything else in the whole world..”

Cocok ditonton oleh:
Orang-orang kesepian yang terkadang hanya ingin didengarkan tanpa diberi nasihat. Untuk orang-orang yang sakit hati, ditinggalkan, dan tidak tahu bagaimana cara untuk melepaskan semuanya. Orang yang menganggap kalo Jude Law itu hanya bisa berperan sebagai playboy macam di film Alfie. Para pencinta film-film “lambat” dari Wong Kar Wai, ataupun kamu yang menginginkan film yang manis seperti es krim, sedikit kecut seperti Blueberry, tanpa topping berupa adegan sex nan liar ala film Hollywood.

half baked review film

Sherlock Holmes ala Guy Ritchie yang Menghibur

December 31, 2009 by titiw  
Filed under Movies

Kota London menjadi chaos karena adanya kekuatan yang tidak “biasa” dari seseorang bernama Lord Blackwood. Ia diburu karena telah membunuh beberapa gadis muda, berkaitan dengan ilmu hitam yang konon ia miliki, dan beberapa catatan kriminal lainnya. Polisi London, khususnya yang berada di daerah Baker Street ketakutan, namun Sherlock dengan duet mautnya bersama Watson sukses meringkus Lord Blackwood ke penjara, dan ia dihukum mati dengan cara digantung setelah keputusan pengadilan keluar. Namun kota London geger karena Lord Blackwood bangkit kembali dan berkeliaran di kota yang suasananya selalu mendung itu.

Di sinilah reputasi Watson & Holmes dipertaruhkan. Reputasi Watson, karena ia yang memastikan Lord Blackwood sudah mati setelah digantung, dan reputasi Holmes karena ia khusus diminta untuk menangkap Lord Blackwood oleh pihak Kementrian. Dalam film, sekilas terbahas tentang profesor Moriarty, si nemesis bagi Holmes, dan Irene Adler, wanita yang selalu dapat memperdaya Holmes. Lalu bagaimana cara Holmes & Watson membuat kota London kembali aman, dan yang lebih penting lagi, menangkap dan menyingkap rahasia Lord Blackwood yang “bangkit dari kubur..?”

Kurang lebih jalan certanya begitu. Namun.. APAKAH yang ada di pikiran orang yang memilih Robert Downey Jr yang kekar sebagai Sherlock Holmes si tokoh detektif kurus rekaan Sir Arthur Conan Doyle? Mengapa harus Jude Law si pria cosmo nan cantik yang dipilih menjadi John Watson, seorang dokter sekaligus sahabat Sherlock? Well, itu sih subjektif banget ya, secara saya emang lumayan pembaca novel-novel Sherlock Holmes, sehingga pemilihan peran itu terasa kurang “dapet”.

yogi bear video download

Saya bukan membandingkan buku dan film layaknya orang2 norak di luar sana. Okelah untuk karakter Watson, meski Jude Law terlalu ganteng untuk menjadi Watson, tapi somehow ada bagian di mana karakternya cocok memerankan dokter itu. Namun, dalam film ini.. Sherlock bisa ber-teng-kar! Yep, bertengkar secara fisik! Duh, Sherlock itu kan cupu dalam berantem! Dan di bukunya secara implisit diceritakan kalo dia itu pemakai obat-obatan. Sehingga, ia selalu memakai otaknya dibandingkan fisiknya. Seingat saya, tidak pernah ada adegan berkelahi dalam buku novelnya. Sherlock selalu main bersih karena ia TIDAK MAMPU untuk berantem!

Tapi yaaa, film yang disutradarai oleh Guy Ritchie ini memang menghibur, lho. Sangat-sangat menghibur. Khas Guy ritchie seperti di film Snatch & Lock, Stock and Two Smoking Barrels. Cukup direkomendasikan untuk ditonton kalian2 yang bingung memilih mau nonton film ini, atau film “Toilet 105“. Happy Watching!

Tulisan ini sudah diposting juga di sini, sedangkan gambar diambil dari marih

PS: Kayaknya ini posting terakhir saya di 2009, so kiss you later next year! ;)

movie down load