Java Jazz 2011 – Day 3
Akhirnyaa.. Bagian ke-tiga alias terakhir dari Java Jazz Festival 2011 akan saya gelontorkan di sini setelah Day 1 & Day 2 kemarin. Sebenarnya agak galau sih mau dateng ke sini, karena mau datang ke kawinan seorang kawan. Namun karena partner in crime di Curipandang, si Nyonyah Dhita nggak dateng, saya wajib meliput hari terakhir festival akbar ini. Jiyeh.
Di sore yang gerimis, pertunjukan pertama yang saya pantengin adalah Farah Di and The Band. Pertamanya sih band yang dimotori oleh anak-anak muda tersebut belum ada vokalnya. Lagu pertama: Spain. Not bad at all. Dan ketika vokalis yang namanya Farah Di muncul, saya terkesiap. Dia masih.. Bocah! Maksimal 12 tahun lah. Tapi suaranya itu.. Suaranya sadis! Dengan vokal yang cenderung mengeluarkan nada-nada alto, ia juga menggandeng vokalis lain yang lebih dewasa bernama Caca. Intinya sih, they were nothing but awesome!

Farah Di & The Band
Setelah selayang pendengaran.. Mampirlah ke Hall Kemendag yang mana lagu-lagu yang bergaung di dalamnya merupakan lagu-lagu yang berirama latin. Betul saja, Los Amigos yang pianisnya merupakan orang India itu cukup mendengarkan untuk didengar dan dibuat joget. Buktinya, ada pasangan yang nari salsa dengan asoynya di bibir panggung. Kalo tante Venna melinda ngeliat, pasti haru dengan kapabilitas mereka.

Los Amigos
Mau dengerin Bonita & The Hus Band, tapi kok masih ditutup ya tempatnya? padahal di jadwal sih seharusnya udah main. Jadilah saya melipir ke tempat di mana hawa nostalgia pasti akan sangat kental. Yak, ke mana lagi kalau bukan mau nonton KA.HIT.NA! Oh Waw! Band yang saya tonton dari eSDe manggung?! Langsung pepet baris depan ciyn! Performance mereka dibuka oleh lagu-lagu fusion tanpa vokal. Ternyata, kata Yovie Widianto salah satu personel Kahitna, aslinya Kahitna memang band yang membawakan lagu-lagu jazz fusion sampai akhirnya beralih ke lagu-lagu cinta yang kita semua suka!!

Hail Tembang Kenangan!
Tak salah saya ambil tempat agak depan. Kahitna benar-benar menyenangkan! Mereka semua (terutama vokalis, terutama akang kasep Hedi Yunus) sangat-sangat sincere kepada penonton. Lagi di panggung, Mario, Hedi, dan Carlo sempet-sempetnya foto-foto lewat HP yang diacungkan fans-fans di barisan depan. Ah.. Saya benar-benar sing along dari hati deh pokoknya. Belum lagi aksi-aksi panggung mereka yang tak kalah menarik. Gak salah mereka tetap bertahan hingga 25 tahun, yang mana konser usia perak mereka akan dihelat September ini. Sakses terus Kahitna!
Dari Kahitna, mari beralih menuju Indonesia NuProgressive tribute to Harry Roesli. Dari namanya aja udah provokatif nih. Dan ternyata betul! Mereka sangat-sangat menghibur dengan lagu yang dilengkapi oleh aksi-aksi teatrikal. Konyol, segar, indah, haru, senang, kocak, semuanya lengkap di sini. Saya memang kurang akrab dengan lagu-lagu Harry Roesli, namun ada satu lagu yang saya tau, yaitu Malaria. Gak itu aja, Danny Java Jive yang saya kagumi ituh juga hadir sebagai guest vocal! Di akhir performance, salah satu personel mengatakan bahwa misi mereka adalah agar Indonesia dilihat sebagai bangsa yang kreatif. Salut untuk Indonesia NuProgressive!

Indonesia NuProgressive

LOL!
Setelah dari situ, penasaran sama Hall yang orang-orang sampe ngantre. Ternyata New York Voices yang manggung. Masuk, duduk, bosen. Keluar. Siapa sih mereka? Saya gak pernah denger tapi kok rame nian ya? Nah.. Lanjut pengen nonton George Benson lagi nih saya kak. Maklum, udah gratisan masa gak didatengin yang Special show, hehe.. In Your Eyes, Kissing In The Moonlight, dibawakan dengan ciamik. Suasana di ruangan itu lebih santai karena tidak disediakan kursi seperti kemarin. Namun setelah ia membawakan Greatest Love of All dan Nothing’s Gonna Change My Love For You, saya keluar karena lagu-lagu itu sudah ia bawakan kemarin.

New York Voices
Keluar-keluar hall.. Saya ngeliat ada cewek berkacamata, bertato dan agak kurus. Oh oh oh.. itu Sashi! Sashi Gandarum vokalisnya band Drew yang awesome itu! Oh, dan saya pun memberanikan diri untuk minta foto bareng. Padahal sebelumnya saya udah pernah foto bareng juga di Kemang. Ehehehe.. Aku padamu Sashi..
Setelah itu, ke booth Axis untuk Live Blogging dari sana untuk ngedapetin merchandise berupa 3 CD love song & thumbler. Ditawarin meet & greet juga sih sama Sandy Sondoro.. Thanks, but no, thanks.

Me & Sashi!
Setelah dari situ, saya pun pulang dengan hati riang sambil memikirkan apa yang akan saya tulis dari liputan 3 hari yang menyenangkan ini. Anyway, tahun depan kan JJF dilaksanakan tanggal 2,3, dan 4 Maret 2012. Kenapa nggak gandeng perusahaan rokok dengan angka 234 itu ya? Hehe.. semoga kita semua diberi sehat dan umur panjang supaya JJF tahun depan bisa bersua lagi yes. AMEN! Oya, yang mau liat lebih banyak foto-foto Java Jazz 2011 saya, sila buka Album Java Jazz 2011. Kiss Kiss for you all!

Sun Basah! xD
Java Jazz 2011 – Day 2
Heyya folks! Setelah Java Jazz Day 1, kembali lagi bersama saya Rahmayanti Akmar untuk membahas Java Jazz 2011, hari ke-2! Oke, nama di atas itu memang nama asli saya, dan saya gak akan mengulangnya lagi, sehingga camkan itu baik-baik. Nah, untuk JJF hari ke-2 ini, pertunjukan pertama yang Rahmayanti Akmar datengin adalah Special show of the day: George Benson.
Dengan langkah mungil dan senyum semanis gula ilegal, saya buru-buru ke Hall tempat special show dengan harapan akan mendengar George benson melantunkan lagu-lagu indah garapan Nat King Cole. Tak dinyana, ternyata pers gak boleh masuk! Siyok banget dong! Katanya sih, ruangan sudah sangat penuh, dan mereka mendahulukan orang-orang yang membeli tiket. Memble deh kite! Saya dan Dhita (partner curipandang eiks) pun kongkow di depan dengan tatapan ngarep pengin masuk. Dan sekitar 15 menit kemudian, barulah pers boleh masuk. Hamdalah.

Such An Evening With George Benson
Ternyata, di pertunjukan George Benson ini disediakan bangku sehingga penonton tidak umpel-umpelan. Lagu When I Fall In Love, Smile, Ramblin’ Rose, Nature Boy, Greatest Love of All, dan Nothing’s Gonna Change My Love For You dinyanyikan dengan semangat olehnya, diiringi sing along dari saya dan Dhita yang memang menggemari lagu-lagu tembang kenangan macem ini. Sayang, ia menutup penampilannya tanpa ada encore, padahal saya udah teriak-teriak “Curanmor” dengan napsu agar ia mau balik dari balik panggung untuk nyanyi lagu terakhir. Katanya Dhita sih, mungkin di jaman doski belum jaman yang namanya encore. LOL! xD
Seperti tahun-tahun sebelumnya, crowd JJF di hari Sabtu pasti penuhnya udah kayak orang lempar jumroh di Mekkah *sotoy*. Ilang sinyal? Yah, harus pasrah, daripada hilang dompet. Dari departemen makanan, sejumlah resto-resto tenar ikut jualan di sini dengan harga yang sedikit didongkrak. Bayangkan, ada Bebek Kaleyo yang nendang itu! subhanallah! *lost focus*.

Background: Wall Batik di Hall Kemendag
Dari George Benson, saya mengunjungi pertunjukannya East Mania feat Kai Eckhardt yang bassisnya jagoan. Sepertinya, malam itu memang menjadi malamnya Elfa Secioria. Hall D2 yang guede banget itu didesaki penonton yang ingin menonton pertunjukan tribute to Elfa Secioria. Peter F Gontha sendiri sampai membuka acara ditemani oleh istri Elfa. Dari choir yang muda, ABG, hingga Elfa’s Singer dan Titi DJ ikut berpartisipasi di sini. Tampak sekali bahwa mereka menyanyi dari hati. Elfa Secioria & his legacy lives on!

Elfa's Singer
Hari ini juga, masih ada special show Santana dengan antrian yang mengular naga panjangnya. Artis yang saya tonton setelah tribute to Elfa Secioria ialah Jamie Lidell yang joged-joged cacing, dan Tohpati Bertiga , sebuah kolaborasi baru antara Tohpati, Indro, dan Bowie dari Gugun Blues Shelter. Terlihat abg-abg yang berlari-lari ingin menonton Maliq, namun saya yang sudah tidak abg lagi undur diri dari Java Jazz hari ke-2. See you on Java Jazz Day 3!
Java Jazz 2011 – Day 1
Java Jazz Festival selalu menciptakan kurva melengkung ke atas pada bibir saya setiap tahunnya. Sebagai penikmat lagu Jazz seperti Gerimis Mengundang dan Mencari Alasan, tentu saja saya merasa terakomodir dengan baik dengan adanya festival musik terbesar di Indonesia ini. Apalagi, sudah beberapa tahun belakangan saya selalu bisa masuk acara musik yang dipromotori oleh Peter F Gontha & partners dengan gratis. Cuma kasih paha aja. Terima kasih saya haturkan kepada curipandang.com yang bisa bikin saya mendapatkan kartu sakti bertuliskan “PERS”. Hah? Yang pake baju oren itu ya kak? Duh, catet ya adek-adek. Yang pake baju oren itu PERSija, bukan pers!

Paviliun Kemendag
Di Java Jazz kali ini, pertunjukan pertama yang saya tonton adalah Danjil. Bukan, bukan yang buat buka puasa, itu mah Tajil. Siapakah mereka? Ditilik dari sini, mereka adalah musisi asal Maluku yang sempat malang melintang di Belanda. Alunan irama lagu-lagu mereka cukup manis, namun banyak yang cover version dari musisi lain. Satu titik yang bikin saya merinding adalah ketika mereka membawakan lagu dari almarhum Chrisye berjudul Damai Bersamamu yang dibawakan secara akustik. Perfecto.

Danjil
Dari Danjil, saya buru-buru menuju hall D2 karena band jazz non-vocal favorit saya perform di sana. Siapakah mereka? Acoustic Alchemy, people! Ah.. Petikan-petikan gitar nan jernih seperti yang biasa saya dengar dari album mereka mengapung di udara. Jamaica Heartbeart, Overnight Sleeper, semuanya bikin saya menggila! Kalo yang gak tau siapa ini Acoustic Alchemy, lagu-lagu mereka suka dipakai kalo ada acara-acara bertajuk “Rumah Asri” di channel tivi kesayangan Anda.

Acoustic Alchemy
Setelah menikmati musik-musik dari musisi luar, rasa nasionalisme saya tergelitik dengan penampilan dari Minangapentagong Sawahlunto yang tampil dengan warna merah mengilap. Sangat Minang. Jazz, fusion, tradisional, sampai tari piring terblender halus di dalamnya. Jangan salah, mereka aseli diterbangkan dari Sawahlunto untuk tampil di Javajazz, dengan performance tak kalah dari musisi nasional ataupun internasional. Kenapa saya tau? Karena mereka yang ngomong terima kasih kepada pemerintah Sawahlunto dong. Salut!

Minangapentagong Sawahlunto
Java Jazz tak hanya menyediakan lagu-lagu ataupun musisi baru. Ketika mau sedikit bernostalgia, saya pun melipir ke panggung outdoor yang mana KSP tampil di sana. KSP guys! Ini kan band pas saya SMP banget! Tapi kok muke mereka gitu-gitu aja ya? Apa cemilannya sehari-hari botox cah kecap? Entahlah.
Dan.. Akhirnya.. Special show hari itu saya sambangi pula dengan semangat 2011. Siapakah dia? Itu loh, musisi gaek newlywed yang pernah duet sama Michelle Branch. Yak, betul. Carlos Santana a.k.a SANTANA! Opa yang satu ini outfitnya memang selalu khas dengan topi dan baju-baju longgar ples aksesoris emasnya yang bikin tambah kental keMEKSIKOannya. *halah*. Black Magic Woman terngiang, ada pula Oye Como Va, dan tentunya yang paling ditunggu-tunggu oleh para ABG adalah MARIA MARIA! Sebelum lagu ini, ia berkata “This is for the ladies. We are deeply commited to make you happy. Cuz when women happy, everything happens.” Dan.. bergemuruhlah ruangan segede ego itu.

Santana
Dari sana, saya sempat menonton Ruben Hein, si pria bertampang mirip Fachry Albar dan bertangan hooh (ok, saya emang fetish sama tangan cowok) yang surprisingly sangat nice. Oh dan tentunya, tak lupa saya silaturahim ke ruangan dimana Fourplay manggung! Ah, Opa Bob James.. Meski dirimu sudah toku, jari-jarimu masih lincah di atas keyboard yamaha itu. Meskipun om Lee Ritenour sudah tidak bergabung lagi, lagu-lagu mereka tetap menyegarkan hati saya yang hampa selama ini. *double halah*. Niat hati mau menyambangi Corinne Bailey Rae juga, tapi sayang dia manggung jam 12 malem lebih sehingga saya memutuskan untuk pulang sahaja. Thx JJF, lanjut ke tulisan saya mengenai JJF Day 2!

Sebagai penutup, harus ada foto saya dong.
Road To Java Jazz 2011
Hell-O World! Februari udah nyampe di tengah-tengah aja nih, yang mana berarti Maret akan segera datang, shoudara! Ah, sungguh bahagianya hati dan jiwa saya ini. Mengapakah? Apalagi kalo bukan karena di awal Maret itu tepatnya tanggal 4, 5 dan 6 ada event tahunan musik jazz yang hampir tiap tahun saya datengin, Java Jazz!
Jazz sendiri merupakan genre musik kesukaan saya, yang alhamdulillahnya bisa terakomodir dengan baik sama event ini. Di tahun pertama, saya sempet nonton Earth Wind and Fire, di tahun ke-tiga saya bisa nonton Level 42, dan tahun lalu, saya sakses nonton Manhattan Transfer! Gila ya, dari kecil saya selalu suka sama lagu-lagu mereka, dan saya berkesempatan untuk melihat mereka secara L-A-N-G-S-U-N-G!
Selain musisi papan atas yang penontonnya pasti bejibun itu, saya juga suka dateng ke Java Jazz dari pagi. Ya maksudnya bukan literally pagi saat ayam jantan berkokok dan Sangkuriang gak berhasil bikinin candi buat Dayang Sumbi.. *krik* Misalnya acara Java Jazz mulai jam 14.00, jam 14.30 saya udah dateng. Kenapa ekenapa saya rajin amatan dateng kala pagi? Ya selain orang belum kayak cendol alias penuh banget, saya seneng banget nontonin musisi-musisi muda yang mainnya awal tersebut.
Biasanya yang nonton mereka nggak terlalu banyak nih, tapi skill mereka gokil! Dari situ saya bisa ngeliat yang mana kira-kira yang punya harapan untuk jadi the next rising star.. *sadeees*. Nah, dari mana kah kiranya musisi-musisi tersebut muncul? Pernah denger Road to Java Jazz? Yak, pre event Java Jazz ini biasanya diadakan sebelum Java Jazz (Ya iyalah, malih! Namanya juga PRE EVENT!), dan dihelat di beberapa tempat supaya bibit-bibit baru itu muncul.

AXIS Road to Java Jazz 2011
Untuk tahun ini, saya lihat si Axis sebagai sponsor itu ngadain AXIS Road to Java Jazz 2011 dari tanggal 24 Januari kemaren sampai 27 Februari 2011 di sejumlah kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Palembang, Medan, Makassar, dan Pontianak. Ih, pasti seru banget tuh kalo ada anak-anak daerah *sok kota* yang bisa tampil satu panggung untuk nge-jam bareng sama musisi-musisi nasional maupun internasional yang udah pada tenar itu. Eits eits eits, untuk selengkapnya, nggak usah kirim wesel ke kakak, dibaca dengan khusuk aja nih FAQ tentang AXIS Road to Java Jazz 2011.
Jadi coba ya buat kelian-kelian yang merasa punya bakat dan talenta dan hobi jazz, ikutan sonoh Road to Java Jazz. Kakak doain dari jauh ya dek. Oya, dalam menyambut Java Jazz ini, ternyata ada juga lomba blog. Bisa dilihat selengkapnya di SINI. Ikutan yuk yak yuk.. Hadiahnya lumayan lho, dapet tiket nonton Java Jazz gretong dan Galaxy Tab mak! G-H-R-A-T-E-S-H! Jadi, selamat berkarya dalam menulis blog dan bermusik. Sampai ketemu di Java Jazz 2011!
Java Jazz Saga – Day 3
Akhirnya! Pagelaran Jazz paling akbar di Indonesia (bahkan di dunia kalau menilik MURI) selesai 7 Maret 2010. Dilihat dari sisi pengunjung, kuantitasnya tidak sebanyak hari ke-dua, dan lalu lintasnya tidak sekacau hari pertama. Pertunjukan pertama yang saya tonton adalah gitaris kawakan Indonesia, Oele Pattiselano yang membawakan lagu-lagu Stevie Wonder featuring Dira J Sugandi. Iya, mbak ini lagi, yang suaranya udah abis di hari ke-tiga. Lagu2 Stevie Wonder yang harusnya dibawakan dengan nada tinggi, ia bawakan dengan nada rendah. IMHO, suara Dira ini bagus, tapi kurang “khas”. Eh tapi ini menurut saya lho ya..

Ole Pattiselano "Tribute to Stevie Wonder"

Spotted, Dira Sugandi "Sexy Back". Uhuk.
Lalu kaki saya yang setia membawa saya menuju hall dimana Elfa’s Singer manggung. Luar biasa memang grup ini. Sebagai “Manhattan Transfernya Indonesia”, mereka sangat kompak dan mungkin lebih pantes jadi special show dibanding “John Legend” yang ternyata nggak terlalu “Legend” itu. Lanjut ke Griffith Frank. Cowok ini sempat berkolaborasi dengan mbak2 yang bawa Sax dan pianis Jeff Lorber. Ada yang familiar sama Griffith Frank? Intinya ada salah satu lagunya dia berjudul “Unusual Way” yang merupakan ost film musikal “Nine”. Ada salah seorang penonton bilang gini ketika menyaksikan Griffith Frank beraksi “Nah.. Gini dong lagunya yang gak terlalu Jazz.. Lebih Enak”. Krik.

Elfa's Singer, The Legend

Griffith Frank si "nggak terlalu Jazz"
Manhattan Transfer merupakan pertunjukan yang saya tonton setelahnya. Ya ya, saya tau kemarin udah nonton mereka, but I just can’t get enough of them! Malang melintang di dunia permusikan selama 40 th, membuat skill mereka SEMPURNA di dunia musik. Ndak lupa saya akhirnya foto2 sendiri juga di hari terkahir ini setelah dua hari sebelumnya terlalu saibuk untuk foto2 sendiri. HA. Sempet foto2 selain artisnya juga, misalnya jalan2 ke booth atau ke paviliun Indonesia Kreatif.

Manhattan Transfer dengan Ron King Big Band

VOTE KOMODO!

Musik tradisional dengan Sasando Elektrik
Oh ya, Babyface yang jadi special show malam itu kan di jadwal manggung pukul 20:15 , namun dari pukul 18:30, orang2 udah pada antri!! Gokil! *ngelirik @Unee*. Dan antrian itu makin diperparah karena RI 2 alias Wapres kita mau nonton, sehingga penonton discan satu persatu. APAKAH masih kurang ketika kemarin RI 1 menonton Dianne Warren??! *garuk2 aspal*. Fyuh. Anyway, Babyface sangat dan sangat komunikatif kepada audience. Ia bercerita bagaimana cinta pertamanya dan menceritakan pula bagaimana ia bisa berteman dengan Michael Jackson, dan sebagainya. Bahkan ia menyanyikan salah 1 lagu Michael “Gone To Soon” sebagai tanda penghormatan. Daan saya gak punya foto Babyface yg bagus, semua bergojaaang!

Kagak dapet poto Bebifes, gueh foto juga ni Paspampres

Gak poto ama Bebifes juga, saya sama Unee jadi Hulk!
Untuk pertunjukan terakhir, band asal Indonesia yang telah malang melintang di luar negeri ialah Gugun Blues Shelter. Dengan 3 personelnya yaitu Gugun, Bowie dan Jono, mereka terlihat sekali menguasai panggung, dan menjadi favorit kebanyakan penonton pria. Sekedar share, mereka mentas akhir Maret ini di Singapura yaitu dalam acara Timbre Rock & Roots 2010. Mereka satu-satunya musisi Indonesia di antara sekian banyak musisi level dunia dalam event itu. Okaaaay, sekian laporan pandangan mata saya di Java Jazz hari terakhir. Semoga tahun depan acaranya lebih sakses dan lebih lancar jaya. Cheerio!

Jono "Gugun Blues Shelter"

YAY! Foto sama mbak Endah "EndahNRhesa"!
Java Jazz Saga – Day 1
Java Jazz hari pertama telah selesai Jumat 5 Maret kemarin. Walaupun pertunjukan baru dimulai pukul 18:00, Kemayoran sudah terlihat pada sejak sore. Acara yang diadakan tiap tahunnya itu kini mengambil tempat di JiExpo Kemayoran, setelah 5 tahun sebelumnya dilaksanakan di JCC Senayan. Kali ini, saya berkesempatan untuk datang tiga hari full karena ditugaskan untuk ngetweet salah satu produk perawatan pria dan juga sebagai pewarta dari curipandang.com .

Penampil malam itu yang mengambil perhatian paling banyak tentunya adalah Mr. John Legend. Mas asal Amerika yang sohor karena hitsnya Ordinary People ataupun PDA. Meskipun jadwal tampilnya agak mundur, hal itu tidak mengurangi antusias orang-orang yang menonton. Menurut saya pribadi, penampilan cowok yang dibilang mirip sama Tommy Soeharto ini memang lumayan, tapi tidak se “WAH” yang saya bayangkan. Apa mungkin karena terlalu banyak orang ya? Saya jadi cuma bisa melihat dia dari layar besar yang berada di samping panggung. Huhu..

Hon Leghend..
Melaney Ricardo si MC dan penyiar radio jadi sorotan malam itu karena dia sempat naik ke atas panggung, meluk John Legend dan terakhir John Legend memberinya bunga mawar! Terdengar suara “Huuuu!!” penonton yang membahana. Yah, keirian itu memang wajar sih. Diliat dari twitnya Melaney, dia bilang “Ok gotta answer all d Q bout how was it feel got a kiss by@johnlegend..lol! its damn temptin! He’s so HOT n I liked his smells..“. Hohoho..

Melaney Ricardo yang langsung dihujani teriakan "boo" oleh penonton
Sempet juga saya melihat penampilan Jeff Kashiwa si pemain Sax di lantai 6, dan pianis Bob James yang merupakan salah satu personil dari band jazz kenamaan, Fourplay. Namun yang sangat saya nikmati malam itu ialah penampilan dari seorang diva asal Malaysia, Sheila Majid. Sheila yang memakai kemeja putih dan bawahan hitam terlihat sederhana, namun tetap memukau. Malam itu ia membawakan hitsnya yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia, “Antara Anyer dan Jakarta” dan “Legenda”. Beberapa lagu tahun 80an dia bawakan dan membuat orang2 yang “berumur” terlihat terbawa perasaan nostalgia. Sempat juga dia berduet dengan Chandra membawakan lagu “Ingatlah diriku”.

Bob James

Sheila Majid duet
Sekian laporan pandangan mata untuk Java Jazz Festival hari pertama, semoga hari ini dan besok, kemacetan yang terjadi, antrian masuk nan lama, dan sinyal yang berantakan tidak terjadi lagi sehingga membuat timeline twitter penuh dengan umpatan orang-orang. Semoga.
Jazz On A Rainy Afternoon
March 22, 2009 by titiw
Filed under Titiw Inside
Dear Sore,
Sore selalu menjadi bagian waktu yang romantis bagi saya yang entah kapan atmosfer itu mula-mula tercipta. Tapi jika mau meraba-raba, SMA merupakan jenjang dimana saya ingat bahwa sore lebih utama dibandingkan waktu yang lain. Dulu, jika pulang sekolah tidak ada tambahan pelajaran atau les-les ini itu, saya lebih memilih tidur siang. Tinggal membuka jendela di samping ranjang dan berganti baju sekolah, mimpi di siang bolong langsung memanggil-manggil saya untuk terlelap. Bagi saya, tidur siang itu sakral seperti sakralnya pernikahan para artis kelas 2 yang melarang wartawan untuk menginjak tempat ia menikah dan meliput dengan siapa ia menikah.
Sampai sekarang, saya lebih toleransi dengan dering telpon genggam yang berteriak di malam hari ketimbang dengan bunyi beep pelan tanda pesan singkat di siang hari. Bangun kira-kira pukul 4 dengan leleran peluh di tubuh, membikin tidur siang terasa lebih nikmat. Upacara menyembah sore hari pun dimulai. Dengan perlahan saya berjalan menuju teras rumah dengan membawa sebuah buku yang belum usai dibaca dan tak lupa membawa pemutar lagu portable (baca: walkman). Tentu saja sepiring pisang gorang dan segelas teh manis hangat buatan ibunda menjadi hidangan utama. Sore akan terasa lebih lengkap jika cuaca sedikit mendung dan rintik itu menetes sedikit.
Pilihan lagu yang tepat untuk suasana tersebut adalah album “Jazz For A Rainy Afternoon“. Alunan saxophone dan denting piano yang melodis dan bertautan seakan menenggelamkan jiwa dalam euforia yang bangkit dalam rangka menikmati sore. Pekik anak-anak kecil yang wajahnya dibedaki dengan asal oleh para orangtua mereka bergaung dalam keindahan sore pula. Dalam video di otak saya, anak-anak itu berlari dan tertawa dalam gerakan lamban alias slow motion.

Beranjak ke bangku kuliah, saya sedikit kehilangan momen sore yang seharusnya dinikmati dengan pelan dan khidmat. Ini dikarenakan kuliah saya yang berjalan sejak siang hingga menjelang magrib. Namun sesering mungkin saya tetap meluangkan waktu untuk bercanda dengan diri sendiri dalam pelukan sore. Ya, waktu istirahat pukul setengah empat sore saya gunakan untuk minum segelas teh manis hangat (yang tentu saja tidak senikmat buatan ibu), serta roti seribuan yang cukup menenangkan cacing-cacing cerewet di dalam usus yang berjari 12.
Saya ingat ada seorang karib yang berkata :”Tiw, aduh lo tuh kemana aja sih.. Untung gw inget kalo tiap sore lo pasti di kafe sini kongkow sendirian”. Oh ya, kafe merupakan sebutan bagi kantin yang tidak terlalu ramai akan mahasiswa di situ. Bukan kafe yang sebenar-benarnya kafe. Jangan aneh loh, meskipun saya terlihat memiliki teman yang banyak, saya tidak ekslusif. Saya main dengan siapapun yang saya mau, dan kapanpun saya mau. Dan sore adalah waktu terlarang untuk bersosialisasi dengan mereka. Saya sangat egois dalam hal ini, karena saya ingin menikmati sore untuk diri sendiri.
Kalaupun saya sudah pulang kuliah di sore hari, perjalanan di dalam kereta tidak kalah romantis. Dengan tetap berbekal walkman di saku, perjalanan pulang dengan menatap senja dibalik kereta jendela berkarat itu tetap indah. Penjaja minuman riang yang bercanda dengan tukang koran sore, anak kecil yang bermain layangan dengan rambut kemerahan, hingga arak-arakan awan yang terlihat bagai unggunan kapas besar pun dapat membentuk senyum di bibir ini.
Saya pun membuat teori kecil-kecilan bahwa orang yang melewatkan sore tanpa senyum sedikitpun dan jamak mengucapkan kata S**T ataupun F**K pasti tidak pernah mendengar kompilasi lagu dalam “Jazz on A Rainy Afternoon”, ataupun merasakan nikmatnya teh bikinan ibu mereka.
Sekarang ini saya sudah bekerja di tempat yang tidak dapat menikmati sore yang layak. Namun sebisa mungkin saya membuat teh hangat yang rasanya tidak keruan di pantry yang berantakan sambil menunggu waktu yang menggambarkan jarum kecil di angka 5 dan jarum panjang di angka 12. Mudah-mudahan rasa penat itu luruh dan saya dapat bertemu lagi dengan sore yang saya kangeni. Semoga.
-Seseorang yang selalu merindumu-
-Pondok Bambu, 21 Januari 2009-
(c) Album cover
Jak Jazz 2008
Lawrence of Arabia the movie Actually.. I’ve never had an experience to go to this annual jazz event which organized by Ireng Maulana. The annually jazz event I’ve ever attend is Java Jazz, so it’s kinda my premiere moment I think *wink wink*. The reason I came here? Cuz I got a free pass from a friend of mine! YAY! Jak Jazz was held in Istora Senayan, and the performers played inside and the outside so that my shoes was becek all over it’s body (li’l bit rainy that day..).

By the time I arrived, Daniel Sahuleka was preparing the stage. You know what? I had this thought, since when does Daniel Sahuleka became a jazz singer? Hihihi.. Anyway, he did a nice performance, but sadly the audience was kinda bored because he sang all the hits in the end of the show.

Far Far Away
After 1 hour spending my time & sang along with the audience in some of Daniel Sahuleka’s song, I went downstairs. Took some silly pictures in some booths of course..

WWF Booth

Titi sapa nih? Titi Siuman?
I didn’t have a chance to watch the whole show because tomorrow morning I had to go to Onrust Island. So the last performance I saw is Andre Hehanusa. Yes, the jadul singer of Bidadari, KKEB, Kuta Bali.. Surprisingly, he was so entertaining!! Everybody in the room was singing along, and when Andre played “Karena Kutahu Engkau Begitu”, he said “Ok, confirmed ya, kalau semua laki2 itu.. SETIA”. Aahaha.. Bravo Jak Jazz, A Whole Lotta Jazz!!

Met my friend Nike (yg bukan Ardila) inside Amigos

Andre Hehanusa, cousin of Barack Obama (hee..)



