Asal Usul Patung di Jakarta

April 25, 2011 by titiw  
Filed under Titiw Inside

Kenapa patung pancoran tangannya ngadep ke arah Jakarta Pusat? Kenapa namanya patung Selamat Datang? Kenapa ada patung Pak Tani? Well well well.. Berapa pertanyaan ini pasti pernah berkelibat di otak kamu yang tidak terlalu penuh itu. Apa dan bagaimana sejarahnya sih sampai ada patung-patung ataupun monumen di Jakarta? Bertumpu dari situ, saya pengen bagi-bagi sedikit ilmu perpatungan yang dulu saya pernah baca di majalah Provoke kalo gak salah. Enjoy!

1. Patung Selamat Datang a.k.a Patung Bunderan HI

Di jaman olahraga masih menjadi harapan bangsa, patung ini dibuat untuk menyambut para peserta Asian Games IV tahun 1962. Patung yang terbuat dari perunggu tersebut ialah hasil karya Edhi Sunarso dan dirancang oleh mantan Gubernur Jakarta, Heng Ngantung. Yup, jaman itu, mantan gubernur BENER-BENER PUNYA KERJAAN dan punya sense of art yang cukup tinggi.

Mengapa patung yang berada tepat di tengah air mancur bunderan HI ini menghadap utara? Dikarenakan, jakarta bagian utara dalah pusat bisnis & tempat dimana tamu-tamu datang dari pelabuhan waktu itu. Lima formasi air mancur di sekeliling patung juga katanya menandakan ideologi negara kita, yaitu Pancasila.

2. Patung Dirgantara a.k.a Patung Pancoran

Betul! Nama asli patung pancoran adalah patung Dirgantara, nak! Masih dirancang oleh Edhi Sunarso, patung yang dibuat sekitar tahun 1964 ini menyimbolkan betapa perkasanya kekuatan angkatan udara bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh arah tangan si patung yang menunjuk ke bekas Bandar Udara Internasional Kemayoran. Denger-denger sih, Bung Karno dulu kudu melego mobilnya demi biayain pembangunan patung ini.

Manna ekspresinyaaa?!

3. Patung Pemuda Membangun a.k.a Patung Bunderan Senayan a.k.a Pizza Man

Penampilan pemuda kekar dengan perut yang akan membuat iri cowok-cowok yang ikut kontes susu kesehatan khusus cowok ini dibuat sebagai penghargaan atas pemuda dan pemudi yang sudah membangun Indonesia. Api yang diangkat melambangkan semangat pembangunan yang tak pernah padam. Dulunya, patung yang entah mengapa digambarkan hanya pake seperti celana sobek-sobek itu direncanakan untuk diresmikan saat hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1971. Tapi karena belum klaar, jadinya diresmikan pada bulan Maret 1972.

4. Patung Arjuna Wijaya/Patung Asta Brata a.k.a Patung Delman

Dibangun bulan Agustus 1987, patung ini menggambarkan Arjuna dalam perang Baratayudha yang kereta perangnya ’disetirin’ sama Batara Kresna. Pembuat patung ialah Nyoman Nuarta, seorang seniman asal Bali juga membuat Garuda Wisnu Kencana. Delapan kuda yang menarik kereta menyimbolkan 8 ajaran kehidupan yang disukai oleh Presiden Soeharto, yaitu falsafah bahwa hidup harus mencontoh bumi, matahari, api, bintang, samudra, angin, hujan dan bulan. Di bagian patung ada prasasti yang bertuliskan ‘Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan dengan pembangunan yang tidak mengenal akhir.’

Asal tahu aja, karena alasan klasik, yaitu keterbatasan dana.. Patung dibuat dari bahan poliester resin. Setelah keropos di sana sini, tahun 2003 patung ini direnovasi lagi dan materialnya diganti dengan bahan tembaga, hingga menghabiskan dana 4.000.000.000 (silakan dicerna sendiri berapa nol-nya).

5. Patung Pahlawan a.k.a Patung Pak Tani & Bu Tani

Kaget kan kalo nama patung sebenernya ini bukan patung Pak Tani? Maaf untuk semua petani di luar sana, ternyata belum ada patung yang dibuat untuk menghormati Anda. Dilambangkan dengan seorang laki-laki yang menyandang senapan dan minta restu sama wanita di sisinya untuk maju ke medan perang, patung ini dibuat sebagai penghargaan pada para pejuang kemerdekaan Indonesia. Orang-orang aja yang nyebut patung Pak Tani karena doi pake caping.

Pak Tani pembawa senapan

Ide pembuatan patung dilontarkan Pak Karno yang abis dari Moskow dan terkesan dengan patung-patung di sana. Maka, dibuatlah patung oleh seniman bernama Rusia Matvei Manizer dan anaknya Otto Manizer. Patung yang berasal dari tembaga ini dibuat di Rusia dan dibawa ke Indonesia pake kapal laut. Di tahun 1963, patung diresmikan dengan tulisan “Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah bangsa yang besar”.

Yak, sekian pelajaran sejarah kita tentang beberapa patung di Jakarta ya anak-anak. Kalo ada yang masih kurang jelas, langsung tanya ke patungnya atau ke Bung Karno sekalian. Have a good day all! :)

Trip Pertama 2011: Pulau Gusung Pandan

January 24, 2011 by titiw  
Filed under Front, Traveling

Semangat siang semua! Ah.. Bertemu lagi dengan saya yang ingin menghamburkan cerita mengenai perjalanan saya yang lalu, ke Pulau Gusung Pandan. Di manakah pulau Gusung Pandan itu? Ah, pertanyaan kamu kok sama dengan 274 orang lain yang bertanya kepada tante sih? Biar jelas, sini tante jabarkan secara komprehensiif!

Di manakah Pulau Gusung Pandan?
Pulau Gusung Pandan terletak di Jakarta. Tepatnya masih merupakan bagian dari Kepulauan Seribu. Kalo dari Muara Angke, sekitar 2,5 – 3 jam ke Pramuka, disambung dengan perahu lebih kecil (muatan 20-25 orang) sekitar setengah jam ke pulau yang dimaksud. Berdasarkan @tsa_rd yang googling sana-sini, pulau ini merupakan pulau pribadi seseorang yang kuaya, yang memberikan pulau ini kepada anaknya atas prestasi si anak yang bernama Marc tersebut. Halah.

Sampai Pulau Gusung Pandan!

Our cottage

Kapan ke Pulau Gusung Pandan?
Baruuuu aja cin. Sabtu-Minggu tanggal 15-16 Januari kemarin sama bencong-bencong ngetrip tante yang biasa. Ada Nikka, Dita, Cut, Ami, Ony, Babang, Wida, Tessa, mas Ui, dll. Ada pula tambahan pasukan seperty Ucy, Grace, Berty, Martin, Ulfa, Nana, Tomo, Mas Nikko, dan yg termuda dari semuanya: Bimo! :)

Trio chop chop poh poh piyek piyek

Gemana sih penampakan pulau Gusung Pandan?
Pulaunya keciiiil. Buset deh, istilahnya, tawaf a.k.a muter-muter di sono mah, 15 menit juga kelar. Itu udah pake poto-poto. Penginapannya cuma ada 1, yang berisikan 4 kamar (kapasitas 3-4 orang) dengan view langsung ke laut. Ada juga sih semacem kapal yang dibikin jadi kayak penginapan gitu, tapi kemaren pas ke sana nggak dibuka, nggak tahu bisa disewain atau nggak.

Sea view from our room!

Teras kamar yang asoy dipake menggalau malem2

Fasilitas di sana apa aja?
Yang jelas sih gak ada tepi pantai, jadi tante gak punya spot untuk foto-foto koprol alias meroda yang biasa tante praktekkan di tiap pantai yang tante singgahi. WCnya ada, tapi ya sanitasinya sedikit kurang lah dengan air yang payau. Tapi landscape pulaunya itu sebenarnya ciamik kalo mau dipelihara lebih baik lagi. Catet baik-baik, nggak ada listrik di sini, jadi puas-puasin ngecharge apa yang perlu dicharge deh. Tapi tenang, di pulaunya sendiri disediain 2 lampu gas yang lumayan terang. Meski demikian, senter menjadi barang wajib untuk dibawa.

Sisi samping pulau Gusung Pandan

Kepiting mati nyangsang di puun

Pulau Gusung Pandan ini cocok didatengin siapa?
selama kamu nggak dateng rombongan 100 orang, ngetrip ke sini enak! Ya, maksimal sekitar 20 orang, lah. Pas banget buat ngetrip sama temen-temen komplek, ataupun sama saudara-saudara deket. Buat kamu yang mau menggalau dan membiru, demi Tuhan tempat ini cocoook banget untuk menumpahkan segala rasa itu. *Tsaaah*.

Cuco banget kalo kumpul2 bocah di sini cuit..

Selain di Gusung Pandan, kemaren ke mana aja?
Selain di penginapan, tante dan temen-termen sempet snorkelingan di APL (Area Perlindungan Laut) dan Tanjung Penyu. Spot snorkel lebih bagus APL sedikit dibanding Tanjung Penyu. Mayan tante punya foto underwater garaaaa garaaa, si Pak Bence eh Beni ngedorong saya secara paksa supaya saya bisa nyelem! Kan maen, ini paru2 udah keisi aer asin 7 liter gw rasa. Sebenernya sih, yang bikin hooh tuh emang penginapan Gusung Pandannya sendiri dibandingin acara snorkelannya.

Ini foto dipaksaa!

Keren banget ya..?

Berapa total biaya yang dikeluarkan?
ALL IN Rp 280.000, yang manage Nikka, sohib ngetrip tante juga. Itu udah termasuk transport kapal dari Muara Angke, penginapan, makan 3 kali, BBQ ikan & cumi malem2, dan transport pulang ke Muara Angke lagi, dan diesek2 dikit. Sori gak bisa kasih detail, karena tante nggak ngeteng. :D

Thx for this lovely cloudy trip, guys! :)

Notes:

  1. Saya sukaaa banget dengan perjalanan kali ini. Teman-teman yang asyik, atmosfer liburan yang kental, semuanya terblender dengan halus dalam trip Gusung Pandan.
  2. Mungkin yang sedikit disesali adalah cuaca yang tidak terlalu bagus sehingga ombaknya besar, cuaca yang dingin, matahari malu-malu menampakkan diri. Dan itu semuanya bermuara kepada tidak menghitamnya badan saya! *memble gak item2*
  3. Makanan yang disediain Nikka cocoook banget di mulut! Makasih Om Ciin..
  4. Nikka, Ony, Bimo dan mas Nikko ketinggalan kapal karena mau ngeliat penangkaran penyu! Jadi pesan moralnya: Be on time, guys!
  5. Kalo laper2, siapin roti, popmie, dll ya, soalnya di Pulau kan gada warung.
  6. Keliatannya cocok ngetrip ke sini diprospek untuk lalalili sama anak-anak komplek. Yak yuk!
  7. Foto-foto selengkapnya bisa dilihat di FB saya. Sekian.

Jakarta Urban Society & Megapolitan

November 29, 2010 by titiw  
Filed under Events

Note: Maaf-maaf nih sebelumnya kalo tulisan saya ini seriyes. maklum tulisan buat kerjaan. Ahiy! ;)

Pameran Perupa Jakarta 2010 bertajuk “Jakarta Urban Society and Megapolitan” baru saja selesai dihelat di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat. Pameran yang diikuti oleh 19 perupa tersebut dilaksanakan sejak 20-29 November 2010 dengan menampilkan karya-karya bertema urban.

Jakarta yang merupakan ibukota negara yang mana berbagai macam manusia ada di dalamnya, ditampilkan sebagai subjek utama dalam pameran ini. Bisa dibilang Jakarta merupakan “melting pot” dimana masyarakat yang datang dari berbagai penjuru, daerah, luar negeri, berasimilasi dengan penduduk asli dengan kualitas hidup, profesi, golongan, ras dan etnis berbeda-beda.

I Am Super Indomiesian

Perubahan Jakarta yang begitu cepat dan spektakuler, ditambah budaya siap saji di sana sini, menambah terang kemilau Jakarta untuk dibahas dan diinterpretasikan dalam bentuk lukisan. Misalnya saja lukisan karya Bibiana Lee yang berjudul: “I Am Super Indomiesian” yang memajang merk-merk mie instant asal Indonesia di dalam lukisannya. Ini adalah fenomena yang menarik, siapa orang Indonesia tdk suka Indomie?

Petruk = Spiderman

Lalu, ada pula lukisan cat minyak karya Lugiono yang menjadikan tokoh pewayangan Petruk menjadi super hero. Di sini tersirat bahwa Jakarta dengan segala kejahatan dan kemegahannya, seakan-akan rindu dengan sosok super yang dapat menyelamatkan orang-orang dengan mimpi-mimpi semu di dalamnya.

Pak Bambang, seorang pelukis yang saya wawancara. Setengah jam saya dikuliahin ttg seni ABSTRAK!

Peserta pameran yang berjumlah 19 orang adalah:
Achmad Sopandi | Aisul Yanto | Ary Okta | Bibiana Lee | Budi Karmanto | Dan Hisman | Gogor Purwoko | Idris Brandy | Indah Asyrad | FX. Jeffrey Sumampouw | KaNA Lugiono | Melly Kemala| Neneng Ferrier | Joheng Jauhari | Patrick CW | Sarnadi Adam | Sem C. Bangun | Sudita | S. Wito

Foto-foto dapat dilihat di: Facebook Ekonomi Kreatif Indonesia

Green Fest 2010 yang Kurang Green

November 26, 2010 by titiw  
Filed under Green Act

Jumpa lagi di hari Jumat yang bersemangat. Tau Green Fest gak? Iya, festival tahunan yang mengusung tema hijau di segala aspek kehidupan. Kemaren sih diadakan tanggal 6-7 November di Senayan lagi. Tahun lalu, saya juga datang ke Green Fest 2009 yang penuh gambar-gambar Benny & Mice di sana sini.

Sayangnya, festival yang mengangkat gaya hidup hijau yang banyak sponsor di sana sini itu malah terlihat kotor. Sampah yang berserak sepertinya kurang cepat ditangani. Belum lagi pembelian2 barang yang masih memakai banyak plastik ataupun styrofoam. Beda jauh sama Kumkum, acara komunitas yang tanpa banyak sponsor besar dapat benar-benar mengimplementasikan apa itu HIJAU yang sebenarnya. Mudah2an di tahun berikutnya lebih baik ya. Berikut foto2 yang saya tangkap yang semoga dapat membuat kamu mengerti dan mengimplementasikan bagaimana menjalani hidup dengan lebih hijau.

Efek Global Warming

Untuk Mengangkut 72 orang di Jkt, dibutuhkan...

 

Simulasi Lampu Hemat Energi

Pemilihan sampah dengan lampu dan suara jika kita benar/salah memilah sampah

Cegah Tenggelamnya Jakarta!

Coba diitung berapa luas kamar kamu? Jgn sampe terjadi pemborosan pemakaian AC

Tips Hijau untuk Kulkas

Mengapa lebih baik pakai kipas? Berapa daya terpakai untuk Microwave?

Konservasi

Bersepeda Pagi ke Taman Mini

July 15, 2010 by titiw  
Filed under Green Act, Traveling

Gairah saya bersepeda ke tempat-tempat jauh yang akhir-akhir ini menurun karena meluapnya aktivitas, seakan terbangun lagi. Ini dikarenakan beberapa teman terdekat saya sudah membeli sepeda dan mengajak saya gowes. Pemanasannya ketika saya berdua mas Anggit sok2 chasing sunrise hari Jumat lalu. Jalan-jalannya nggak jauh2 amat, dari rumah kami di Pondok Bambu II, meluncur ke Duren Sawit, Banjir Kanal Timur slash Kanal Banjir Timur, dari jam 5.30 hingga 7.30. Sehat, murah, ramah lingkungan, pas, tidak berlebihan. Bersepedahan hari itu ditutup dengan sarapan bubur di ayam di depan SMP kami, SMP 51, dengan oleh-oleh sepotong fajar yang merekah.. :)

Pagi, matahari.. :)

Dua hari ke depannya, masih dengan mas Anggit, saya menggowes ke Taman Mini Indonesia Indah. Personel bertambah 2 orang, yaitu Jayeng dan mas Thalique yang berbulan2 cari sepeda, namun setelah sehari saya komporin, besoknya langsung beli sepeda. Hoho.. Perjalanan ke TMII agak siang, yaitu 06.30 karena Jayeng kesiangan. Maklumlah malemnya semi final piala dunia. Dari rumah di Pondok Bambu, menggoweslah kita ke tempat tujuan lewat Jatiwaringin, Pondok Gede.

Markiber! Mari Kita Berangkat!

Setelah terakhir ke TMII 3 th yang lalu, akhirnya ke sini lagi. HTM untuk pesepeda sebesar Rp 5.000, dan TMII di jam 7 pagi memang sangat-sangat penuuh! Kadung lapar, nyareplah kita roti yang dibawa Jayeng di anjungan Lampung. Lanjut ngelilingin TMII, foto2 di anjungan Jawa Timur, makan bubur ayam enak, ngeliat bazar2 yang ruame, liat2 tempat latihan inline skate dan skate board, sampe foto2 di depan keong Mas.

Monas Mini & Keong Mas

Pagi-pagi Nyabu

Pukul 9.30, pulanglah kita ke rumah. Mau lewat Halim, tapi provost yang sengak itu gak bolehin kita lewat sana, katanya ada acara. Padahal kita kan naik sepeda, mamen! Gak ada polusi udara, suara, atau kerusakan yang berarti, bukan..?! Jadi inget pas ke Bogor, eh sepeda gak boleh masuk Kebun Raya. Tapi yaah.. Orang2 kecil emang lebih sengak daripada bos2 sehingga kami pulang dengan rute yang sama. Aah.. Senang sekali bersepeda dengan mereka. Tujuan selanjutnya sih sudah kita wacanakan, yaitu ke Lubang Buaya. Tunggu tanggal mainnya, happy biking! :)

Pulau Pramuka Trip: Praja Muda Karana

October 14, 2009 by titiw  
Filed under Traveling

Pulau Pramuka di gugusan Kepulauan Seribu merupakan pulau pertama yang saya sambangi di bulan Oktober kelabu ini. Bersama rombongan yang dibawa oleh John Bawean seorang junior saya di kampus (ciye.. numpang tenar lo John di sini..), saya melancong ke sana bersama Nugi, Widya, dan MG. Meeting Point di Mc.Do Tebet dan kita berangkuts ke Muara Angke jam 5 subuh teng dengan Metro Mini yang sudah dicarter. Sesampainya di sana, kita2 nggak naik kapal ke Pramuka yang semacem angkot alias antar pulau itu. Kita naik kapal carteran, tapi yang dicarter bareng2, sehingga lumayan lah sehingga pas tidur sebelah saya bukan jenggot kambing, pantat ayam, ataupun sebuntel bawang.

Muara Angke & Pulau Pramuka

Muara Angke & Pulau Pramuka

Jam 7:30, kapal kita ciao dan sampe di Pulau Pramuka kira2 jam 10:00. Yes, perjalanan emang makan waktu 2,5 jam yang saya habiskan dengan ketawa2 golblok di atas kapal dengan Widya Amelia, seorang hamba Tuhan yang kesepian karena ditinggal suaminya untuk menuntut ilmu di negeri Jiran (Jiran itu apa sih..? Selama ini saya gak ngerti apa itu Jiran). Pulau Pramuka sendiri merupakan pulau yang menjadi pusat pemerintahan di Kepulauan Seribu. Nyampe penginapan tanpa AC dan listrik yang baru nyala jam 5 sore sampai jam 7 pagi, saya langsung ganti baju untuk cibang cibung, dan melangkah menuju tempat penyewaan snorkel dan pelampung. Snorkel? Check. Fin ukuran 37? check. Pelampung? Eits, eike udah bawa milik sendiri  yang beli 10.000 perak aja kakak di Pasar Senen dengan ukuran full pressed body. Ahoy.

Sampai! Langsung Cek Alat

Sampai! Langsung Cek Alat

the chronicles of narnia: the voyage of the dawn treader online movie
Anak Pramuka di Pulau Pramuka

Anak Pramuka di Pulau Pramuka

Sebelum nyemplung, kita naik kapal kecil dulu nih ke Pulau Karya untuk makan siang. Di pulau ini banyak kantor2 pemerintahan macem Telkom, Pemadam Kebakaran, dan juga Taman Pemakaman Umum. Makan siang klaar, foto foto dulu sambil kelilingin Pulau Karya. Okeh, ready banget nih kite mau nyemplung!

Menggila di Pulau Karya

Menggila di Pulau Karya

Perjalanan dilanjutkan dengan si kapal menuju Pulau Air kecil. Kenapa gak langsung ke Pulau Air yang emang tenar buat snorkeling? Karena eh karena kita2 yang amatir enih mau diajar gemana sih make dan menggauli snorkel secara baik dan benar. Pulau Air kecil sendiri hanyalah pasir yang terbentang yang kadang muncul kadang terbenam. Suka2 dia aja kalo moodnya lagi enak. Karena letaknya yang di tengah laut tapi dangkal, jadilah kita berlatih di sana. Setelah dirasa ilmu kita udah 11-12 sama Yoko, meluncur deh ke Pulau Air yang bener.

Berdiri di tengah laut bak Nabi Musa

Berdiri di tengah laut bak Nabi Musa

Ke tempat mau snorkel, ngelewatin lagoon dan pulau Air yang berbentuk letter U (Sebenernya bentuk asli pulau air bukan gini, tapi si empunya pulau yaitu keluarga Sutowo yang bikin doi jadi begini). Sampe deh nih kita di perairan yang dimaksud. Berbekal latihan snorkel seadanya dan pelampung 10.000, saya bercinta dengan binatang2 laaut di kedalaman 3 meter tersebut (hum.. kedengarannya nakal sekali ya..). Best snorkeling moment I ever had ya di sini ini. Hehe.. Ya iyyalah, secara gak punya snorkel, jadi biasanya renang2 seadanya pake kacamata spido. Sayang gak ada kamera underwater *tiba2 kangen Ricka*. Moment berkesan tersebut diwarnai huru hara yang gak wajar antara saya, Widya, Si Sotoy dan Si Pembela Kebenaran. Siapakah mereka..?

Green Lagoon

Green Lagoon

Jadi gini ceritanya.. Saya itu penasaran sama orang2 yang bisa nyelem pake snorkel, dan lama banget di bawah air. Bertanyalah saya sama si Bapak Keriting (the future Si Sotoy) gemana caranya.. dia ngajarin kalo ya itu tinggal ditiup doang snorkelnya.. pasti bisa napas di bawah air.. berkali-kalilah saya nyoba, dan berkali-kali pulalah saya minum aer laut sampe 8 liter. Setelah akirnya saya tahu kalo saya dikibuli (entah dikibuli apa emang si sotoy gak mudeng), datanglah si Bapak berkulit legam, yang kami panggil Si Pembela Kebenaran. Melihat saya sesenggrukan nelen aer asin.. dia dengan jumawa dan bilang “Oh.. kalo nyelem ke bawah itu mah masalah nahan napas Mbak.. gak bisa napas dari snorkel..” ANJRIT!! Pas saya mau misuh2 sama si sotoy.. eh doski udah melanglang untuk nyari mangsa baru.. DAMN! Jangan seneng dulu, pas saya bilang “Iya pak, soalnya kan kayaknya bapak itu kuat banget nahan napas di bawah air..” Eh di nyamber “Wah, kalo masalah kuat2an mah, saya bisa lebih kuat..” *gak mau kalah mode: on* Daaan menyelamlah dia di laut itu dengan waktu yang cukup lama. Hwwaaa.. Ketawa saya dan widya gak bisa reda dalam beberapa waktu. Gokiiil banget!! Ahahaha..

Snorkeling @Pulau Air, tetep bahagia meski minum air 8 liter

Snorkeling @Pulau Air, tetep bahagia meski minum air 8 liter

Waktunya foto2!

Waktunya foto2!

Lanjut dari situ dengan badan menggigil (tips: selalu bawa anduk atau sarung bali kalo ada kegiatan cibang cibung macem gini), kita snorkel lagi, tapi saya, Wid dan mas MG lebih memilih untuk fota foto ampe bego. Dan untuk mengejar sunset (tapi sepertinya kita lebih fokus untuk makan popmie), kita bersauh di Pulau Semak Daun. Di pulau ini, banyak tanaman Mangrove dan terlihat ada beberapa orang yang kemping di sini.

Pulau Semak Daun

Pulau Semak Daun

Ayo berfoto, kiddo!

Ayo berfoto, kiddo!

Sunset On My Landscape (biar berima aja..)

Sunset On My Landscape (biar berima aja..)

Magrib2 kembalilah kita ke penginapan yang berada di Pulau Pramuka, dengan terburu2 karena Widya kebelet eek dan kita emang mau mandi duluan. Klaar semua, nyari es batu sama mas MG untuk minum es teh, dan kongkow bentaran sama yang lain2 untuk cerita2 bego, dan terungkaplah kenistaan masa lalu kita yang suka ngerekam lagu di Kaset LIA. HAKS. Sebelum tidur, curhat on air lah eike sama Widya, dan tidur rada keganggu karena mati lampu saat malem2 buta. Duh.. nyamuk2 langsung membombardir muka, hati dan jiwa saya tanpa kenal ampun dije.

Para Pria Malam

Para Pria Malam

Pagi hari datang, langsung deh siap2 untuk ke Pulau Karya, ngejar Sunrise dan makan pagi. Duh, sunrise gak gitu keliatan, tapi hawa pantai pagi itu enaaak bener.. Abis makan sempet tiduran di tepi pantai, tidur yang bener2 tidur!Eh, gak lupa gaya andalan saya tiap di tepi pantai, yaitu gaya gunting di udara diimplementasikan di sini. Cihuy. Eh iya, terlihat juga ada ibu2 yang mau nyuci, katanya sih mereka dari Pulau Panggang, yang nyuci di Pulau Karya karena keterbatasan air tawar di Pulau Panggang.

Chasing Sunrise

Chasing Sunrise

Taidur setelah sebelumnya gaya andalan diimplementasikan

Taidur setelah sebelumnya gaya andalan diimplementasikan

Trio Ibu Pencuci Baju

Trio Ibu Pencuci Baju

Dari situ, kita menuju ke Pulau Panggang, pulau terpadat di sana. Bayangkan aja, dengan luasnya yang cuma 9 hektar, 5000 jiwa ada di sana, bandingkan dengan pulau Pramuka yang luasnya 16 hektar, hanya ada 1000 jiwa di Pulau itu. Kenapa bisa begitu..? Karena emang penduduk asli pulau2 di sekitar kepulauan Seribu memang kebanyakan berasal dari Pulau Panggang ini. Asal muasa nama Pulau Panggang..? katanya dulu ada bajak laut yang bunuh anaknya “sesorang” deh, nah alih2 dibunuh crot gitu pake golok, doi dipanggang bo! Sesampenya di Pulau Panggang, duh rada kotor ya pulaunya.. berasa datengin kampung2 di Jakarta yang kumuh. Pas kita lagi jalan ngelilingin pulau, ternyata ada orang yang lagi nikah, sehingga diarak keliling pulau. Namuuuuun.. Pengantin perempuannya menimbulkan fitnah yang amat sangat!! perutnya geda bo! Kayak udah hamil 4 bulan!! Tapi lagi2 Si pembela kebenaran datang dan berkata “Biasanya, nikahnya udah lama.. Kalo udah punya duit aja baru diarak kayak gini”. Hmph.. Eh gak lupa, pas lagi keliling pulau, saya sempet ngeliat tempat orang yg mau ngejual hewan2 laut ke Jakarta. Ada ikan buntel (yes, I’m talking ’bout blowfish!), lilia laut, bintang laut, anemon, dll.

Warna warni Pulau Panggang

Warna warni Pulau Panggang

Para penghuni laut

Para penghuni laut

Klaar keliling Pulau Panggang, kite ngedatengin keramba. Semacem tambak2 ikan gitu, yang ada floating restonya juga. Ikannya macem2 dan katanya kalo sekali panen bisa berton2 ikan. Ck ck.. Ada bandeng, hiu, dll. Sempet juga ngeliat kolam renang di tengah laut. Maksudnya..? Iya, kolam renang, tapi dibikin sedemikian rupa sehingga meminimalisir ombak untuk yg renang di dalamnya. Airnya mah teteup air laut.

Shark Tale

Shark Tale

Ay Keramba!

Ay Keramba!

Si Kolam Renang

Si Kolam Renang

Balik lagi ke Pulau Pramuka, sekarang saatnya untuk: Ngeliat penangkaran penyuuuu!!! Hohoho.. so cutee!! Penyu atau tukik ini ditangkar dulu supaya populasinya bisa lebih banyak. Karena kalo mereka dibiarin gitu aja, banyak pemangsa yang ngincer telur2 penyu ini. Orang yang in charge di pengkaran ini adalah Pak Salim, yang beberapa kali sudah mendapatkan penghargaan atas jasanya dalam menyelamatkan lingkungan. Oh ya, selain penyu ini, beliau juga pemrakarsa pasir sebagai media tumbuhnya mangrove lho!

Rearing Area

Rearing Area

Mas MG & SI Pembela Kebenaran; Saya & Pak Salim

Mas MG & SI Pembela Kebenaran; Saya & Pak Salim

Bath time!! setelah mandi sebersih2nya umat, kita pulang deh setelah sebelumnya foto2 dengan kaos yang dibagiin dan makan siang di pulau Karya. Dan apakah kalian tahu??! Kita pulang ke Muara Angke naik kapal carteran rame2 lagi kayak waktu berangkat, tapi kita naiknya dari tengah laut karena hampir ketinggalan! Huohoho.. Sampe Muara Angke, naik metromini lagilah kita ke meeting point keberangkatan. Dadah2 sama anak2 dengan diiringi hujan. Alhamdulillah hujan baru meradang setelah kita pulang. Tiga hari ke depan setelah pulang, pala saya masih pushing seakan2 masih digoncang2 kapal! Hihi.. Sekali lagi, nice trip guys!! Can’t wait for another one! Buat kalian semua, Happy Traveling!

We Love Jak.Art.A

We Love Jak.Art.A

Double Date @ Passer Baroe

September 19, 2009 by titiw  
Filed under Traveling

“Gemana puasa di hari terakhir Ramadhannya anak-anak..? Tetep pada segeer..?”
“Masih seger kaak! Kita kan ngikutin kakak yang tiap siang minum Hore!!”
“BLEPOK!” *ngegampar si bocah yang bilang Hore*.
“Eh, elu ya kebiasaan panas2 bilang HORE! Lagipula emang sejak kapan gw minum HORE..? Gw itu biasanya tiap siang minum Marimas rasa mangga!” *tersadar*
“Eh nggak kok anak-anak.. masa sih kakak siang2 minum begituan.. Minum itu harusnya ya pas udah adzan magrib, okeh semua?” *jempol dan senyum 3 jari menatap kamera*

Aahaha.. Sekedar intermezzo aja nih, sebelum kita masuk ke jalan2 saya kali ini beberapa waktu lalu sebelum Ramadhan. Masih dengan jalan2 di dalam Jakarta juga, yang katanya indah dan megah. Setelah kapan itu saya sama Kangmas, V & W gegares Burger Blenger di daerah blok M, kita lanjut ke Gedung Kesenian Jakarta yang kata Whery ada acara festival video. Meluncurlah kami dengan hati riang dan perut kenyang. Nyampe sana.. Elho.. Kenapa banyak abegeh2 maih bau kencur gini yak..? Ternyataaaa.. Alih2 festival video, di GKJ yang lagi direnovasi itu sedang diadakan pertunjukan teater dari SMA 28.

Bermain2 di pelataran GKJ

Bermain2 di pelataran GKJ

Tapi daripada memble, yang untungnya tetep kece, kita nyebrang aja deh dari situ ke Passar Baroe yang dikenal juga dengan Pasar Baru. Eh kita jalan ke sana setelah sebelumnya foto2 dulu di GKJ dengan manipulasi cahaya yg cukup apik *cuih*. Jalan ke Pasar Baru, seniman2 jalanan yang biasa bikin gambar potret diri masih ada di sepanjang trotoar depan GKJ. Sesampainya di Pasar Baru, kita cuma jalan jalan lirak lirik kiri kanan ajah. Reuni perasaan nostalgi dengan diri sendiri. Ada Buccheri (bukan “Bule Ngecet Sendiri” *krik*), toko sepatu yang jaman kecil pasti saya selalu ke toko itu sama Papa untuk nemenin beliau nyari2 pantofel untuk kerja.

The legendary Passer Baroe

The legendary Passer Baroe


Toko Buccheri

Toko Buccheri

Sembari merasakan atmosfer Pasar Baru di malam itu, saya sempat bertanya pada diri sendiri.. Dulu waktu kecil kok kayaknya seneeeng banget kalo diajak orangtua ke Pasar Baru ini. Buat beli sepatu sekolah, buat makan di restoran Tropic, dan buat keperluan2 lain. Sekarang setelah semua bisa didapet di mol, mungkin terakhir saya bener2 belanja di Pasar Baru pas kelas 1 SMA, beli barang2 buat MOS. Eh tapi terakir bener-bener ke sini ya kira2 4 th lalu buat beli baju2 super murah di Pasar Atom. Macem di Senen gitu, cuma bedanya baju2 di sini lebih rapi dan bersih.

Riang melihat the famous gang kelinci

Riang melihat the famous gang kelinci

Jalan lagi, ada the famous Gang kelinci lho.. hehe.. inget lagunya gak..? Eits, jangan lupa ada pula Bakminya yang sohor. Wah, apa itu toko benderang dan kelap kelip bernama Go-Lo? Pas kita masuk, ternyata itu toko sagala aya dengan merk dan kegunaan yang kocak2 banget. Whery sama Vina beli kacamata item plastik harga goceng yang di bungkusnya ada kalimat “as seen on TV”, ada senter merk SANgKO, Kacamata merk Pclice, dll. Nyeheheh.. Eh ada pula kamera saya сайты эротического видео скачатьбесплатно yg dibandrol dengan harga Rp 150.000 lebih mahal daripada pas saya beli di JPC *sengak*.

Beda 1 urup beda arti beda harga

Beda 1 urup beda arti beda harga


Toko Sagala Aya

Toko Sagala Aya

Ngiter2 ngiter2, kita balik lagi ke GKJ dengan memutari belakangnya Pasar Baru. Ada bocah2 lagi jalan2 malem, yang terlihat gembira ria sampe gembira loka pas saya foto. Maklum saya kebiasaan bergaul sama anak2 SD< dengan segala suka dan dukanya

movie season of the witch

. Agak serem sih malem2 jalan nyusurin kali depan Pasar Baru yang lengket, item, dan bau.

Street Kiddo

Street Kiddo

Tunggu dulu, museum apa itu..? Waw, Museum Filateli! Kami mampir dan foto2 di depannya meski museumnya sendiri sudah tutup. Terlihat ada kios2 kecil yang jualan perangko. Eh kira2 mereka juga beli perangko gak ya..? saya punya koleksi perangko jaman kecil banyak bener tuh.. lumayan kalo dihargain mahal, hwehehe.. Gak lupa foto di halte Pasar Baru sebelum akhirnya pulang. Again, nice “little” trip with nice companion. Happy jalan2!!

Museum Filateli & Halter Pasar Baru

Museum Filateli & Halter Pasar Baru

the full megamind movie

Jakarta Waktu Para Engkong Lo Belon Kepikiran Bikin Anak

April 16, 2009 by apy  
Filed under Traveling

Haloo preen. Ini ada sedikit foto nih dari Jaman dulu waktu zaman engkongnya engkong lo masih naik sepeda roda tiga keliling Salemba. Mengherankan lihat Jakarta kayak begini. Jatinegara deket Jenderal Urip masih model gitu, nggak kebayang banget deh.

Kalo mau komplitnya bisa diliat disini:

http://forum.detik.com/showthread.php?t=19743

what is the film black swan about