Cars 2: Ketika Persahabatan & Spionase Dikawinkan
Apa
Lightning McQueen (Owen Wilson) sang mobil balap andalan Radiator Springs kembali ke daerahnya untuk beristirahat setelah lelah bertanding dari kompetisi ke kompetisi. Mater (Larry the Cable Guy) si mobil derek sahabat mcQueen tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia berusaha ada 24 jam untuk McQueen, sampai-sampai terjadi sebuah adegan yang membuat McQueen harus kembali bertanding. Bukan hanya di satu tempat, tapi 4 tempat sekaligus. Tokyo, Itali, Paris, hingga London.
Tentunya McQueen mengajak teman-temannya untuk menjadi team di pit stop pertandingan. Namun ternyata ada sabotase di sana-sini yang dapat membahayakan mobil-mobil yang ikut bertanding. Secara tidak sengaja, Mater terjeblos ke dalam intrik-intrik tersebut dimana ia bertemu dengan beberapa mata-mata yang juga membahayakan persahabatan McQueen dengan Mater. Apa yang terjadi? Bagaimana nasib pertandingan tersebut? Siapa dalang dari sabotase? Apakah McQueen & Mater akan tetap bersahabat setelah apa yang terjadi?
Opini Titiw
Pixar sangat lekat namanya dengan Cars, apalagi setelah Cars 1 memenangi Oscar untuk animasi terbaik beberapa tahun lalu. Ah, Pixar. Siapa yang tidak jatuh dan mencinta dengan Pixar? Karya-karya mereka yang menarik, karakter yang unik, sampai cerita yang kuat. Sangat-sangat loveable. Dan sekarang, Pixar kembali menampilkan sekuel Cars, yaitu Cars 2.
Warna-warna yang ditampilkan, humor yang dipilih, semuanya membuat kurva melengkung ke atas di bibir saya. Apalagi kalo kamu suka traveling, film ini makin terasa menyenangkan. Frankly speaking, I’m a very subjective person when it comes to pixar. Jadi menurut saya, film ini tidak ada celanya. Persahabatan, budaya, olahraga, dan spionase dikawinkan menjadi satu? Well.. Cars 2 is definitely a feast for your eyes and heart. Apalagi ada pesan-pesan untuk hidup hijau di film yang sedikit “menyerang” perusahaan minyak. So.. Kudos for you, hey John Lasseter the director & team!
Cocok Ditonton
Pecinta Pixar, kamu yang bingung ngajak anaknya ke mana di weekend ini, kamu yang suka balapan, kamu yang suka mempelajari budaya negara lain, ataupun kamu yang simply ingin nonton film yang bagus tanpa harus mikir ampe otak jontor.
PS: Jika ingin meninggalkan kesan lebih dramatis pada pikiran kamu, pilih mode 3D untuk menonton film ini! Jangan datang telat juga, karena bertepatan dengan 25 tahun Pixar, akan ditayangkan pula film pendek Toy Story yang -seperti biasa- hilarious, di awal film.
Captain America yang Amerika Banget
Apa:
Dunia dalam bahaya. Perang di mana-mana. Kami membutuhkan kalian, para pria muda yang gagah, berani, kuat, dan tidak sombong serta rajin menabung! America is calling, people! Masa gak ikutan ikut military service sih? Adalah Steve Rogers (Chris Evans), cowok cungkring yang berkali-kali gagal menembus tes untuk bergabung dalam pasukan berani mati tersebut. Entah mengapa, seorang Dokter bernama Dr. Erksine (Stanley Tucci) bersikeras merekrutnya ke tempat yang terus-terusan menolak Steve itu.
Ternyata, sang dokter memiliki project rahasia yang dapat membuat Steve menjadi “SESUATU BANGET” dan (wacananya) bisa menolong Amerika! Waw. Apakah percobaan Dr Erksine berhasil? Siapa nantinya musuh Steve? Apakah ada bumbu-bumbu percintaan dalam film ini? Apakah jagoannya mati? Apakah musuhnya menang? APAKAH?!

Opini Titiw:
Film ini benar-benar tipikal Amerika. A.M.E.R.I.K.A. AMERIKA! Kenapa saya bisa bilang begitu? Mungkin dengan adanya pointers bisa memetakan apa yang saya rasakan setelah menonton film ini.
- Kamu kurus, kecil, pendek, sakit-sakitan, dan bisa menjadi pahlawan? Bisa aja, asal kamu mau jadi kelinci percobaan seperti Steve. Dan ujung-ujungnya percobaan tersebut bikin badannya gede, tinggi, gagah, dan hooh. Tetep aja hati yang baik gak bisa ngalahin fisik yang oke dalam hal ini.
- Amerika di sini ditempatkan sebagai victim. Hadeuh, plis deh mas boy.
- Amerika itu selaluuu aja pengen imejnya keliatan baik. Caranya? Masukin orang dari ras yang berbeda-beda sebagai teman 1 tim, seperti apa yang terjadi dengan si Captain America. Minimal ada yang keliatan Cina dan ada satu lagi yang kulitnya geseng.
Sebenernya masih banyak lagi sih, tapi nanti spoiler gede-gedean. Jadi, lebih baik langsung tonton filmnya yang masih tayang di bioskop-bioskop kesayangan Anda!
Cocok ditonton:
Kamu yang menganggap luar negeri (khususnya Amerika) adalah Dewa dan kiblat untuk semua hal, kamu yang udah lama gak nonton filem bioskop, kamu yang comic freak, dan kamu yang gak tau mau ke mana weekend ini.
PS: tulisan dicopy plek2an dari Curipandang
Review Catatan Harian Si Boy
Apa:
Nuke sakit keras. Barang yang selalu ia dekap di dekat tubuhnya yang sakit hanya 1. Diary mantan pacarnya. Boy. Tasha (Carissa Putri) anak Nuke merasa harus mencari si Boy ini. Si Boy yang digambarkan sangat mencintai ibunya, Boy yang tampan, jagoan, tapi juga tetep bisa alim. Dalam pencarian itulah ia bertemu dengan Satrio (Ario Bayu) dan teman-teman seganknya. Dari Andi (Abimana) yang sok playboy, Nina (Poppy Sovia) bos bengkel tempat Satrio kerja, dan Heri (Albert Halim) yang beberapa bagian di tubuhnya agak “ngetril”. Dalam proses itu, Tasha juga bertemu dengan potongan masa lalu ibunya dan Boy seperti Emon (Deddy Petet) dan adik Boy (Btari Karlina).
Namun, yang namanya niat baik itu emang pasti gak selalu mulus. Ada aja halangannya. Pacar yang cemburuan, perkelahian sana sini, hingga cinta yang tak berbalas. Jadi, bagaimana kisah persahabatan mereka? Di manakah Boy? Berhasilkan mereka menemukan Boy?
Opini Titiw:
“PUNGUT!” Sepertinya akan menjadi satu pick up line yang dipakai beberapa orang akhir-akhir ini. Secara adegan “pungut” itu memang lumayan tercerap dalam otak saya yang udah lamaaaaa bangeeet gak nonton film bagus. Jadi, sekalinya nonton film yang lumayan macem Catatan Harian si Boy ini saya jadi haru-haru gemana gitchuh. Ngomongin akting.. Semua yang berperan di sini cukup baik dalam memerankan karakternya masing-masing. Kecuali: Carissa Putri. Apakah dia masih jadi ambassador tempat pengurus badan itu sehingga sepertinya dia sangat sesak dan tidak nyaman dengan badannya sendiri? Saya gak mau main fisik, tapi suaranya dia emang rada annoying. Sebelas dua belas sama Shandy Aulia.
Untuk pemeran lain, si semi bule yang jadi pacarnya Tasha juga gak oke oke banget. Tapi karena ditulis di opening “Memperkenalkan: Paul Foster” Jadinya saya lumayan maklum deh. Sedangkan Ario Bayu.. What can i say? As delicious as he can be, lah. Dan Poppy Sovia.. Hooh to the max! Kalo dia agak “belok” dikit gw kecengin dah. Ahay. Bintang 4 dari 5 buat tim wardrobe. In the other hand, kudos untuk si film maker Putrama Tuta. Baru debut udah segini? Keep up the good work, man! Yang sedikit kurang dari film ini: Soundtrack yang kurang nendang kayak Catatan si Boy. Tapi.. To sum up, ini adalah film Indonesia yang layak tonton, kalo nggak ada pilihan lain selain “Ada Apa Dengan Pocong”, “Kepergok Pocong “, ataupun “Tusuk Jailangkung” yang posternya kayak kalender bergambar cowok2 gay yang dijual di Mirota Jogja.
Cocok ditonton:
Kamu yang merasa bahwa film bagus hanya bisa dibuat oleh film maker yang udah tua, kamu yang udah lama gak ke bioskop karena keki abis sama film-film yang ada, kamu yang gak pengen keliatan ketinggalan sama orang-orang di timeline Twitter kalo belum nonton film yang dipuja puji sana sini, dan kamu yang pengen tahu apa kabarnya Onky Alexander.
(c) Image
Masalah Film di Indonesia: Sebuah Komik.
Pasti masih pada banyak yang belum tahu ini itu tentang kisruhnya perfilman kita kan..? Kalo dibuat jadi komik gini, mudah-mudahan jadi lebih hooh ya. Seluruh gambar adalah karya Eko Bimantara, yang juga membuat Komik Anti Korupsi dimana saya hanya ingin menyebarkan sahaja. Selamat membaca dan tertawa, karena orang yang menertawakan diri sendiri sesungguhnya adalah orang yang bijak. Kthxbai.

Apaan tuhh..?


















Review Tanda Tanya “?”
Apa:
Di suatu daerah kecil di kota Semarang, tinggallah berbagai macam manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Menuk yang beragama islam dan memakai jilbab, bekerja di restoran Cina engkoh yang menjual makanan halal & non halal. Rika yang dijauhi orang-orang karena menjadi janda dan pindah agama menjadi Katolik, sedangkan anaknya Abi tetap menganut Islam. Persoalan demi persoalan bergulir, persamaan dan perbedaan dipertanyakan. Namun, dari apa yang dipertanyakan, apakah bisa hal tersebut melebur menjadi cinta dan kedamaian?
Opini Titiw:
Setelah menyutradarai Sang Pencerah yang berbau islami dan surprisingly sangat bagus, kembali ia menyuguhkan sebuah film satire yang cukup baik. Untuk kalian yang biasa menonton film rumit & SANGAT-BAGUS-SEKALI-ALA-HOLIWUT, mungkin film ini terlalu cheesy, atau biasa banget. Namun menurut saya, film ini adalah satu gebrakan baru di Indonesia. Film ini mengajarkan bahwa berbeda tidak harus bersatu, namun tetap bisa tersenyum dan bergandengan tangan bersama.

Cast yang dipilih pas, dan akting mereka pun tidak berlebihan, meskipun pastilah ada beberapa adegan yang dinilai lebay oleh para pengkritik film yang kebanyakan menonton DVD-DVD bajakan berstempelkan 4 bintang dari Roepert & Ebert. Film ini Islam, sekaligus Kristen, sekaligus Cina, sekaligus Jawa, sekaligus miskin, sekaligus kaya. Sekali lagi, saya harus angkat topi untuk Hanung Bramantyo.
Cocok ditonton:
FPI, MUI, mereka yang menganggap jalan menuju surga adalah dengan cara kekerasan dan pemaksaan, anak-anak yang jiwanya masih bersih tanpa ada bisikan dari kanan kiri, siapapun, dimanapun, tanpa ada tendensi apapun. Lakum Dinukum Waliyadin.
Bulan Film Nasional di Kineforum
Bulan Maret pasti selalu dinanti oleh para pecinta film. Karena di bulan inilah Kineforum rutin mengadakan acara bertajuk “Sejarah Adalah Sekarang”. Dalam sebulan penuh, kita bisa menonton film-film Indonesia dengan tema yang bervariasi. Tahun 2009, saya sempat menonton film-film Bing Slamet. Tahun 2010 saya lupa. Dan untuk tahun ini, karya-karya Usmar Ismail sebagai penggiat film pertama di Indonesia yang diangkat, bersanding dengan film-film lain yang tak kalah seru.

Buku jadwal pertunjukan dengan desain keren!
FYI, di tahun-tahun sebelumnya, acara ini seperti tak ada peminatnya. Adem & lemes kayak kerupuk kulit dikuahin sayur yang gak dianget-angetin. Mo dateng jam berapapun, pasti kebagian tiket yang gratis itu. Namun setelah Kineforum tidak lagi memakai salah 1 studio 21 dan menggunakan ruangan sendiri yang hanya memiliki 45 seat.. Animo pengunjung menukik naik. Sering sekali mereka tidak dapat tiket karena kehabisan. Apakah ada campur tangan social media seperti Twitter di sini? Walhasil,film-film yang sempat saya tonton seperti Fiksi, Rumah Dara, Tiga Dara, Rama Superman Indonesia, Beranak Dalam Kubur, maupun Anak 1000 Pulau selalu penuh dengan wajah-wajah sumringah yang memang niat menonton.

Ngantre ciyn!
Selain pertunjukan film, ada pula pameran sejarah bioskop & kebijakan film nasional sebulan penuh. Tempat duduk-duduk di Kineforum juga asoy untuk sekedar kongkow, buka-buka laptop mini kamu sambil nyolong listrik yang emang tersedia di situ. Santai, dan cenderung gak bikin jajan banyak. Air mineral di sini juga dijual dengan harga normal, gak semahal di 21. Seharusnya pemerintah bikin lebih banyak tempat-tempat seperti ini. Yah sekedar share.. Kita kan care.. Terakhir dari saya, maju terus film Indonesia!

Pameran Poster Film Jadul
PS: Iya maaf saya baru infoin sekarang, padahal acaranya udah selesai. Tabik.
Warkop Night
Familiar dengan Warkop DKI? Kelompok lawak yang berjaya di jaman radio Prambors dan sukses wara wiri di layar lebar selama 15 tahun untuk menghibur masyarakat Indonesia pastinya sudah tidak asing lagi, saudara! Jumat (28/1) lalu, Obrolan Langsat (Obsat) ngadain Warkop Night yang diisi dengan menonton film lawas Warkop yaitu Dongkrak Antik, dan tentunya dibarengi dengan diskusi santai seputar Warkop dan dunia lawak Indonesia doong.
Afandi Abdul Rahman (Sutradara Heartbreak.com), Indro Warkop, Denny Sakrie, Eddy Suhardy merupakan pembicara malam itu, dengan Ewink dari Bicarafilm dan Edwin sebagai moderator. Ada pula Mbak Hana Kasino yang ikut jadi pembicara dadakan. Setelah nonton film absurd yang bersetting di Hotel kartika Chandra Jakarta dengan Meriam Bellina sebagai cewek bernama Anunia, diskusi pun dimulai. FYI ya, tamu-tamu yang datang ke Black Studio ini kebanyakan anak-anak muda usia 20an (kayak saya. *ditebas pelepah pisang*) yang sangat antusias dengan diskusi yang dilengkapi dengan humor-humor segar dari Indro dan teman-teman.

Suasana Nobar
Acara yang diadain malam hari di rumah Zeke Khaseli itu super menyenangkan dengan atmosfer menyenangkan pula. Ada martabak khas Obsat, dan puding apaan tau enak banget yang disuguhin Zeke. Pas diskusi, saya nanya dong nih.. (intinya sih biar dapet buku Warkop gretong. Hehe..). “Om Indro, sebagai pelawak, ada nggak tekanan harus selalu lucu dalam masyarakat?” Beliau menjawab kalo dia ketemu temen-temennya ya pasti becanda, karena itu sekaligus ajang latihan. Tapi kadang2 orang suka nggak liat tempat, misalnya dia dateng ke pemakaman terus diteriakin “Wah Indro.. ngapain lu Ndro kemari?” Menurut lo??!”

Foto sama Om Indro! Oyeh!
Mulai pukul 19.00, acara bener-bener klaar pukul 23.30 ndro! Sadistis! Ah, senang sekali dapat hadir ke acara seru ini. Udah dapet buku Warkop “Dari Main Main Jadi Bukan Main”, dapet tanda tangan 3 penulisnya yang hadir malam itu, serta dapet foto bareng dong. Sebenernya masih banyak cerita-cerita dan trivia Warkop malam itu yang masih bisa diceritakan. Tapi nantinya tulisan ini akan jadi panjang sekali seperti ingus saya yang sedang meler ini. Jadi buat anak-anak muda sekarang, “Tertawalah Sebelum Tertawa itu Dilarang!”
Kami bertiga itu sangat berbeda. Namun perbedaan itu yang membuat kami kuat. Dan ada satu yang membuat kita sama, yaitu komitmen. Pengkhianatan tehadap komitmen berarti pengkhianatan terhadap diri sendiri. ~ Indro Warkop
Tulisan Nyampah Kok Diplagiat
January 19, 2011 by titiw
Filed under Titiw Inside
“Nyaris tersedak baca review Skyline di @divemag_indo Vol.1 Desember 10. 90% tulisannya @TitiwAkmar tapi creditnya words by Ipep de Rellik”.
Saya yang lagi diterpa angin pantai kencang di Kepulauan Seribu tiba-tiba mau tersedak juga membaca sebuah mention twitter dari sohib saya @anienmd alias Anin-si-gembul-yang-makannya-udah-kayak-babi.
What? Apa nih maksudnya? Belum klaar otak kosong saya loading, twitter saya udah ada mention baru lagi yang isinya screen shot tulisan di Divemag Indonesia bersama link tulisan saya di Curipandang mengenai review film Skyline. Yak, betul sodara-sodara, ternyata ada orang tidak bertanggung jawab yang menjiplak tulisan saya di sebuah majalah bulanan tersebut. Lagian, kenapa juga yang dijiplak tulisan saya yang nyampah, tentang film nyampah pula?!
Saya pribadi sih gak terlalu nanggepin ya, sampe Editor in Chief-nya sendiri, Riani Djangkaru, follow Twitter saya dan minta saya follow dia supaya bisa saling mengirim Direct Message. Intinya yang bisa saya rangkum dari beberapa DM yang masuk, dia minta maaf yang sebesar-besarnya dan akan menindak tegas si penulis yang menjiplak. Dia juga bilang kalo permintaan maaf baru bisa diletakkan di Divemag edisi Februari karena yang Januari sudah naik cetak. Fine. Ingetin saya untuk ngelihat majalah itu di bulan Februari yes.

Screenshot dari majalah Divemag
Pas saya sampe rumah dan baru bisa bener-bener melihat tulisan orang yang menjiplak tersebut.. Gokil.. Itu bukan 90% lagi ngejiplaknya. Dia cuma ganti judulnya aja! Sampe kata “Mamen” ataupun tulisan yang typo tidak dia edit lagi. Mbok ya kalo mau begonoan agak pinter dikit atuh oom. Gak cuma itu, temen saya Ricka yang temenan sama orang di majalah Divemag bilang kalo saya direferensiin ke Rianti untuk nulis review film di sana. Haha.. I’m flattered, really. Tapi, nggaklah ya kalo saya dapet rejeki dari kejatohan orang lain.
Semua orang pernah punya kesalahan. Saya mafhum kalo Divemag itu ribet dengan deadline dan lala lili sehingga nggak bisa cek & ricek. Yang saya kurang terima, si penulis yang ngaku-ngaku itu sama sekali gak minta maaf sama saya. Karena biar bagaimanapun, dia dapet duit dari tulisan saya. Tapi ya sudah lah.. Terkadang, plagiarisme itu adalah bentuk tertinggi apresiasi orang terhadap kita kok..
“Semoga yang plagiat tulisan @TitiwAkmar seumur idup tiap malam mimpiin Skyline” (Mas Sandi) –> Nah itu sendiri menurut saya udah hukuman beraat banget. LOL!



