Mengapa Saya Anti Berkata “Indo”

October 26, 2009 by titiw  
Filed under Titiw Inside

“Ya ampun.. di sana mah harga nih makanan bisa nyampe 20 dolar! kok bisa ya di Indo cuma 3 dolar..”

Kurang familiar dengan kalimat2 ini? Ini adalah tipikal kalimat2 yang menyembur dari mulut anak2 Indonesia yang setahun dua tahun kuliah (biasanya bisnis) di Ostrali atau Amerika. “Di sana” dimaksudkan dengan negara tempat dimana dia kuliah dulu, dan “Indo” refers to Indonesia. Indonesia.. tanah air beta, dimana sekarang agama yang paling dihayati di negeri ini adalah fulus. Dimana orang2 yang dapat bertanggung jawab sangat langka untuk ditemukan. Menjawab saja sih bisa, namun untuk menanggung? tunggu dulu..

Dulu (kurang tau sekarang), pasti orang2 tak dikenalpun selalu tersenyum dan berkata “Mampir dek.. mampir neng.. Bade kamana?” dan semacamnya ditambah embel2 senyum manis di bibir yang sangking manisnya udah kayak gula ilegal. Kalo sekarang mah, ditegor dikit kita pasti udah setel wajah kendur sambil meringsek menjauh dari yang empunya suara. Belum lagi ditambah berita2 miring, kriminil dan mbalelo dari program2 tivi semacam buser, derap, tikam, yang membuat ketakutan orang2 Indonesia semangkin paripurna.

Mud saya selalu mengencang dan mengulur jika membicarakan hal2 tentang Indonesia. Banyak sekali agonia yang terjadi di dalam dan luar diri si Ibu pertiwi.
Ia selalu memperhatikan anak-anaknya yang terkadang gembira sehabis makan daging rendang dari nasi kotak 1000 harian si mbah di komplek sebelah..
Anak2nya yang terkadang sedih sampai mukanya bagaikan lembaran seribu yang sobek..
Anak2nya yang sedang terjepit hatinya sampai mukanya terlihat bagaikan pengungsi Vietnam yang nahan berak sampai 11 hari..
Namun apakah anak-anaknya memperhatikan rautnya yang lelah sangat..?
Lara dan lelah mukim di hatinya sampai air mata itu hablur dalam senja di batas sana..

Indo-Nesia

Indo-Nesia

Indonesia.. dimana orang2 menjadi sangat religius jika pesawat yang ditumpangi melewati ruang hampa udara..
Indonesia.. yang katanya 2 dari 3 orang cowok menyeleweng.. namun berarti ada juga 2 dari 3 orang perempuan yang menampung tindakan tersebut..
Indonesia.. dimana masing2 orang mempunyai trufkaart orang lain..
Indonesia.. dimana kebanyakan orang mengambil kesempatan orang lain selayaknya sambil menyelam minum air dan sekalian kencing..
Indonesia.. dimana para pemerkosa hanya didenda 5 juta rupiah, yang jelas2 uang itu sangat jauh dari biaya pembangunan lift monas seharga 540 juta. Padahal untuk harga diri yang terinjak, tersia, sampai masa depan kelam dan hancur, perlu lebih dari sekadar perbaikan, tapi juga restorasi nama baik..

download #1 cheerleader camp full

Makanya saya males ngomong “Indo”, kesannya kayak pernah kuliah di luar negeri aja. Lagipula wajar saja kalo kepercayan kita kepada Indonesia setengah-setengah. Wong menyebut namanya saja cuma setengah. Tapi tunggu dulu.. Tentu tidak semuanya begitu.. jangan selalu under estimate dengan bangsa sendiri.. siapa yang membangun negara ini kalo bukan kita2 juga.. Sedikit kasih kepercayaan lah sama si Indonesia ini..
Namun.. tetap.. di balik kekecewaan yang ungu.. terdapat sebuah kerinduan yang biru..

Boulevard De Clichy

Boulevard De Clichy

Ditulis kembali untuk Remy Sylado
-Depok, 2007-