Organized At Heart

March 30, 2009 by titiw  
Filed under Books

Seorang teman pernah berkata pada saya: “Ti, lo itu aneh ya. Di satu sisi, lo Sangunis abis, tapi elo juga terorganized dengan baik layaknya orang melankolis. Dilihat dari buku-buku lo yang disampul, elo buat agenda, dll dsb dst..” *lirik2 mas Anggit yang lagi wakuncar di Pondok Gede*. Eh, kamu tau tentang 4 kepribadian ini kan? Kalau belum, baca deh “Personality Plus”, buku karya Florence Litteaur, atau sekalian isi tesnya di sini. Well, nampaknya omongan teman saya itu ada benarnya juga. Sisi sangunis saya yg berteriak adalah cheerful, ingin diperhatikan, banyak ngemeng, dan so un, eh so on (soun mah semacem emih ya?). Sedangkan sisi melankolis yang tampak malu2 pada saya adalah: Mudah terpana oleh hal2 kecil macem matahari terbenam, autis kalau udah nyampul buku, seneng nulis agenda, ataupun gampang nangis kalo nonton termehek2 (contoh terakhir mohon tidak usah dipertanyakan).

Intinya sih saya bukannya mau ngomongin tentang 4 macem kepribadian itu. Secara juga saya emang kepribadiannya udah buruk, jadi apa boleh bulat. Yang mau saya bahas kali ini adalah pentingnya kamu mendokumentasikan atau mendata apa2 saja yang kamu punya secara terorganisasi. Misalnya buku, DVD, dan sebagainya. Pertama2 yang saya data adalah buku-buku saya (komik tidak termasuk). Bikin di Microsoft Excel aja, dengan kolom2 yang terbagi dari: “Pengarang”, “Judul”, “Penerbit” “Tahun Terbit & Cetakan”, “Jumlah Halaman”. Oh ya, sembari mendata buku2, saya juga menamakan buku2 yang belum diberi nama, dan menyampulnya dengan sampul mika (he eh. Sampul yang bisa bikin rambut kamu berdiri2 seksi tanpa jeli dengan aliran listrik statisnya). Dan voila, saya menemukan fakta2 menarik maupun mendorong sebagai berikut.

  1. Saya ternyata sudah terjangkit yang namanya “Book-shopaholic”. Mungkin dari keseluruhan jumlah buku saya, 30% belum terbaca dan 20% baru dibaca setengah. D’oh!
  2. Dari keseluruhan buku sastra Indonesia saya, rata2 merupakan cetakan pertama, meskipun sudah dibuat sejak tahun 90an. Ayo beli danĀ  buku sastra Indonesia!!
  3. Kebangkitan sastra Indonesia dimulai di akhir tahun 90an dan tahun 2000an dengan adanya Ayu Utami dengan Saman (buku yg saya punya di tahun 2001 merupakan cetakan ke-18 sejak tahun 1998), Dee dengan Supernova-nya, dan tentu saja Andrea Hirata dengan Laskar pelangi yang rasanya membuat semua orang jadi tahu di mana letak Belitong yang pake “O”, bukan pake “U”. Buku karya Andrea Hirata yang saya punya merupakan terbitan Februari 2008, dan sudah sampai cetakan ke-19 sejak diterbitkan pertama kali di tahun 2005.
  4. Orang2 yang menerjemahkan buku, suka seenak jidat mengganti judul. Misalnya, buku Mitch Albom yang berjudul “The Five People You Meet In Heaven“, judul Indonesianya menjadi “Meniti Bianglala” (?!!).
  5. Ternyata saya memang penggemar Remy Sylado dilihat dari deretan itu.
  6. Buku terjemahan tertebal yang saya punya adalah “Musashi” karangan Eiji Yoshikawa yang jumlah halamannya 1143. Sedangkan buku indonesia yang tertebal adalah “Kremil”, sebuah buku sastra karangan Suparto Brata yang memiliki 782 jumlah halaman dan di-hard cover.
  7. Saya mulai berpikir untuk tidak beli lagi buku karangan penulis luar, sejak e-book-nya gampang didapat. Tapi akan selalu membeli buku karangan orang Indonesia, untuk membantu perekonomian Indonesia (halah, berat bener, tante!).
  8. Kok, buku2 LUPUS saya pada ilang? Huaaaa!!!! Kejarlah Daku Kau Kujitak.. Drakuli Kuper.. Sandal Jepit.. Makhluk Manis Dalam Bis.. Ke mana kamu??!
  9. Jadi kepikiran untuk ngumpulin buku2 karangan Roald Dahl (cuekin poin no.7, karena e-book itu gak ada ilustrasinya. I heart Quentin Blake’s drawing.
  10. Ternyata belom tentu buku yang terlihat tipis itu jumlah halamannya dikit.
  11. PT Gramedia Pustaka Utama, tolong bagi2 jatah untuk penerbit lain yaa..
  12. Ternyata buku2 anak keluaran Jerman itu keren2 ya..
  13. Mbak2 sama mas2 di penerbit Dian Rakyat dulu terbitin bukunya rajin, kok sekarang rada memble?

Kurang lebih begitu, Ki Sanak. Mungkin setelah mendata buku klaar, saya akan mendata E-book saya serta DVD. Namun jika saya sudah benar2 jobless, mungkin saya akan mendata pula ID3v Tag saya. Saya sarankan untuk hati2. Hal ini adalah candu!! Candu!!! CANDUUUU!!!! *teriak2 di tengah jalan sambil nyampul buku*.

PS: Jangan lupa urus NPWP.. tenggat akhir besok. Sekedar share.. Kita kan care..

(c) Flying books

PERSEPOLIS

December 14, 2008 by titiw  
Filed under Movies

Persepolis merupakan film animasi karya perempuan Iran yang bernama Marjane Satrapi dan beberapa animator Perancis. Film ini ditayangkan di Jakarta Internasional Film Festival (JIFFEST) 2007 dan membuat pecinta film berbondong2 (lebay..) untuk menontonnya (Saya ingin sekali menonton tahun lalu, tapi kehabisan tiket, huhu..). Film ini dibuat berdasarkan novel grafis, yang bisa dibilang merupakan memoar Marjane Satrapi sendiri.

Star Trek: The Motion Picture

Wuthering Heights download Pertama-tama, saya ingin bercerita dahulu mengenai bukunya. Persepolis bercerita mengenai kisah masa kecil Marjane hingga ia beranjak dewasa yang dibalur dengan atmosfer revolusi Iran di kala itu. Unik merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan bukunya. Di sini, Marjane tidak menjual keindahan visualisasi. Goresan penanya yang sederhana merupakan kekuatan tersendiri, namun di beberapa gambar, ia dapat menjadi sangat detail. Hubungannya dengan teman-teman, pacar, dan khususnya kepada keluarganya dideskripsikan dengan jujur dan tidak bertele2. Ironi dan keabsurdan terblender dengan halus di dalamnya. Perhatikan setiap kata maupun kalimat, ada banyak punch line yang dapat menjadi bahan perenungan kita. Saya sendiri paling ingat kalimat di bagian terakhir buku itu, “Freedom had a price”.

Persepolis

Untuk filmnya, jangan khawatir. Meskipun tidak semuanya ia tuangkan di sini, namun dengan adanya gerakan dan audio, kamu bisa tetap tertawa ketika menontonya. Ya, Persepolis menjadi lebih lucu di film. Tapi seperti saran saya sebelumnya, jangan pernah membandingkan novel dengan filmnya Major Payne movie , karena buku & film itu merupakan hal yang berbeda. Pilihan Audio di film ini ada dua, yaitu bahasa Perancis atau Inggris. Sedangkan untuk teks, pilihannya adalah bahasa Inggris dan Spanyol. Itu kalo nonton DVD yang aseli ya.. hyehehehe.. (tumben amat Tiw lo nonton yg asli, ya iya minjem..).

Kalau kamu sempet, tonton juga behind the scenenya, lumayan menarik. Menonton ataupun membaca Persepolis mengingatkan saya akan buku A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini yang bersetting di Afghanistan. Sebagai perempuan, kita diinjak seperti bangkai dan dilepeh bagaikan ludah. Meskipun di Indonesia sendiri perempuan terkadang masih dianggap rendah, tapi percaya deh, kalau kamu sudah membaca kedua buku yang saya sebutkan, kamu akan sangat2 berterima kasih pada Tuhan kalau kamu lahir di Indonesia.

Oh ya, alasan Marjane membuat novel ini ada di Introduction di halaman pertama bukunya. Intinya, ia ingin mengatakan pada dunia kalau image yang selama ini ditampilkan tentang orang-orang Iran tidak selamanya benar. Jangan karena beberapa ekstremis, maka semua orang Iran dianggap sama. Hem.. Ring a bell? To sum up, either the book or the film was great! or you can say EXCELLENT. Bukan hal yang mencengangkan kalau film ini menjadi nominasi Oscar untuk “Best Animated Feature” di tahun 2007.
Ok, happy watching!!

Books vs Movies Ala Remy Sylado

November 24, 2008 by titiw  
Filed under Movies

Kita masih saling argue dengan hal2 seperti ah-kerenan-bukunya-daripada-filmnya cliche atau sebaliknya? Pasti berasa banget tuh untuk film Laskar Pelangi, Harry potter, dll. Nah.. Saya yg orang awam perfilman atupun perbukuan akan sedikit

For the Moment film

banyak mengutip catatan Remy Sylado ketika duluuuu banget dia pernah menghadiri seminar di kampus saya, sewaktu dia membahas tentang novelnya yang difilmkan, yaitu Ca Bau Kan. Nggak semuanya saya tulis, karena ada beberapa paragraf yang kurang sesuai dengan tema kita kali ini. Btw, doi nulisnya pake mesin tik lho, hehe.. Semoga membantu memperluas pandangan kamu2 selama ini. Cheers!

-Catatan seadanya untuk seminar “Novel Mampir Ke Bioskop”, di FISIP UI, 22 November 2006-

Muppets from Space

BAHASA TEKSTUAL KE BAHASA PIKTORIAL

Casablanca psp

Terlebih dulu harus dikatakan untuk diingat, bahwa bahasa novel sebagai bahasa tekstual tidak muradif dengan bahsa film sebagai bahasa piktorial. Dalam bahasa anglo-Amerika, kita dapatkan pengertian teoritis akan wujud asasi film, yaitu, sebagai piranti budaya yang dapat dinikmati masyarakat luas dalam waktu yang bersamaan. Film adalah sebuah “motion picture”, artinya lukisan atau gambar bergerak yang menceritakan kehidupan. Sebelum istilah “motion picture”, pada 1905 orang masih menyebut film sebagai “story picture”, dihubungkan dengan film yang dibuat oleh Edwin S. Porter pada 1903, The Great Train Robbery. Di Indonesia, sampai 1960-an orang pun masih lazim menyebut film sebagai ‘cerita gambar” atau “gambar hidup”.

movie season of the witch trailer

Yang segera kita pahami dari istilah-istilah itu adalah, bahwa film merupakan cerita dramatik -apapun jenisnya- yang dinikmati penonton melalui aktor-aktor yang menafsir peri kehidupan insani melalui alat-alat tubuhnya, yang digali dari sumber eksternal dan internal, lewat seni aktingnya, dibantu oleh kamera yang merekamnya dengan berbagai sisi kepandaian. Mulai dari konsep artistik sutradara, teknikalitas di bidang suara, cahaya, penyuntingan, sampai ilustrasi musiknya, dst.

Bahwa sebuah film sangat ditentukan oleh bintang, memang tak disangkal. Tetapi setelah itu, sebuah film tak akan menjadi sebuah “motion picture” jika pengerjaannya tanpa skenario, tanpa sutradara, tanpa pekerja pandai di bidang lampu, suara, kamera, musik, dst, juga tak disangkal. Yang sedang kita bahas di sini adalah gambaran kehidupan yang ditafsir dari novel. Sejarah melintasnya novel menjadi film, sebagai tontonan teater, kira-kira sejalan dengan rangsangan naskah drama yang awalnya diperagakan di teater, lantas dibentuk sebagai film di bioskop.

Salah satu novel yang termasuk banyak menantang sutradara untuk membuatnya menjadi film adalah karya Nathaniel Hawthorne, The Scarlet Letter, cerita tentang Hester Prynne yang membayang zina di Salem, berselingkuh dengan Hanson. Terakhir, pada 1995 cerita ini disutradarai oleh Rolland joffe dengan bintan Demi Moore, Gary Oldman, Robert Duvall, dll. Sebelumnya, pada 1973 cerita ini disutradarai oleh Wim Wenders dengan bintang Senta Berger, Lou Castle, Hans-Christtian Blech, dll. Mundur 40 tahun ke belakang lagi, pada 1934 cerita ini disutradarai oleh Robert G. Vignola dengan bintang Colleen Moore, Hardie Albright, Henry B. Walthall, dll. Dan mundur satu dasawarsa di belakangnya lagi, pada 1926 cerita ini disutradarai oleh Victor Seastrom dengan bintang Lillian Gish, Lars Hanson, Henry B. Walthall, dll.

Dari gambaran selintas ini kita mendapatkan jawaban yang telah disinggung di atas, sebagai bukti, bahwa novel sebagai pustaka bisa awet di semua masa dalam berbagai waktu. Sementara pandangan-pandangan filmis menyangkut estetika sinematografis, bisa berubah-ubah menuruti prayojana mode, selera, dan gaya hidup yang berlangsung di dalam progresi budaya, dan di situ mau tak mau orang mesti pula menghiraukan semboyan-semboyan kepentingan pasar.

Saya rasa, dengan melihat gambaran ini, maka pernyataan tentang novel sebagai bahasa tekstual dan film sebagai bahasa piktorial, bisa berarti: Saya bisa memahami terjadinya tafsir yang beda, dan bahkan menyimpang atas film Ca Bau Kan yang berangkat dari novel. Ca Bau Kan bukan novel pertama saya yang dibuat film, Pada 1977 novel saya Gali Lobang Gila Lobang, ditulis pada 1970, difilmkan dengan skenario yang dibuat oleh Sjumandjaja dan sutradara Abrar Siregar. Bayangkan, cerita yang memakai set kota Manila lengkap dengan benturan-benturan kultural bangsa Pilipina -yang sosoknya seperti Cina, namanya Spanyol, dan bahasa resminya Inggris- dipindahkan ke Banten karena alasan-alasan biaya dan perizinan di sana.

Ca Bau Kan

Ca Bau Kan

Yang hendak saya katakan di sini, bahwa saya bisa mengerti perbedaan visi dalam menafsir sebuah latar bahasa tekstual menjadi bentuk bahasa piktorial. Untuk itu malah saya bisa memberi apresiasi khusus, sejauh bahwa yang diejawantahkan itu adalah suatu karya interpretasi terhadap kehidupan insani disertai dengan pelbagai aspek menyangkut ciri-cirinya secara sosial, etnikal, kultural. Terhadap masalah ini, lumrah terjadi sikap dan visi yang berjalan seiring denga progresi tatanan yang berubah atas mode, selera, dan gaya hidup tersebut.

Barangkali contoh paling evidensial mengenai kasus ini adalah menonton film Mutiny On The Bounty. Saya memberi contoh film Amerika, sebab pameo sinis yang berlangsung di antara pekerja film Indonesia, adalah: Jika orang Indonesia menonton film Amerika, sikapnya menjadi murid, sementara jika menonton film Indonesia sikapnya menjadi guru yang sok-pintar.

Dua kali novel Mutiny On The Bounty karya Charles bernard Nordhoff & James Norman Hall ini difilmkan di Hollywood. Keduanya bertolak belakang pada teks aslinya. Yang pertama, pada tahun 1935, cerita disutradarai oleh Frank lloyd dengan bintang Charles Laughton, Clark Gable, dll. Di situ Clark Gable pulang ke Inggris untuk diadili. Lalu, pada 1962 cerita ini disutradarai oleh Lewis Mitchell dengan bintang Marlon Brando, Trevor Howard, Richard Harris, dll. Di situ Marlon Brando ngumpet di sebuah pulau kawasan Pasifik bersama kekasihnya Tarita.

Jangan kira hanya terhadap teks novel saja film Amerika menunjukkan imaginasinya yang liar dari interpretasinya yang berbeda tersebut. Malahan teks-teks yang peka bagi umat beragama, dalam hal ini Kristen, Hollywood bisa mekakukannya dengan bebas.

Ambil contoh sosok Kristus dalam teks Perjanjian Baru. jika kita menonton The Greatest Story Ever Told oleh sutradara George Stevens, The greatest Story Of All Time oleh sutradara Roger Young, King of Kings oleh sutradara Nicholas Ray, setidaknya boleh dikatakan alkitabiah. Artinya bersumber pada kitab-kitab kanonik, yaitu teks-teks yang diterima gereja sebagai kitab suci. Tetapi, dimulai dari Jesus Christ Superstar, opera rockyang ditulis oleh Tim Rice dan Andrew lloyd Webber dan disutradarai oleh Norman Jewison, kita lihat terjadinya interpretasi yang berbeda dengan teks kanonik. Dan terakhir, The Last Temptation of Christ, sungguh menyimpang dari injil kanonik, yang membuat penganut Kristen geram. Tetapi, sementara itu film yang membuat semua orang Kristen menerima dengan bulat hati, walaupun juga tidak tersurat detailnya di dalam injil kanonik, adalah The Passion of The Christ, yang disutradarai mel Gibson.

The Rudolph Red-Nosed Reindeer dvdrip

Dengan memberikan catatan kecil tentang ini, akhirnya saya bermaksud mengatakan bahwa “KITA MASUK KE BIOSKOP BUKAN UNTUK MENONTON NOVEL, TETAPI UNTUK MENONTON FILM”.

(c) Scarlet Letter, The Great Train Robbery, Ca Bau Kan, Mutiny on The Bounty, The Passion of The Christ Gambar buku True Colors release

TM Book Store

June 3, 2008 by titiw  
Filed under Books

Pameran buku merupakan ajang dimana saya selalu merasa tidak bersalah untuk mengeluarkan banyak duit dari duit saya yang tidak banyak. Dari jaman SMP dulu, Bentara Budaya Jakarta udah saya jajal dari ujung ke ujung. Senayan udah saya grepe2 dari atas ampe bawah juga kalo lagi ada hajatan tersebut. Pokoknya viva gigolo buku murah!! Dikarenakan aktivitas yang makin meraja, pengumuman pameran buku di surat2 kabar mulai saya abaikan, terlewat begitu saja tanpa rasa dosa. Rupanya keimanan saya untuk jendela2 pendidikan ini sudah mulai luntur.

Fist of Fury (aka Chinese Connection) buy

Karena saya kuliah dan kos di Depok, bertandanglah saya ke sebuah toko buku di dalam Depok Town Square, yang kalo bahasa Depoknya: Detos. Nama toko ini TM Bookstore, berada di lantai 2 dan terletak di pojok layaknya abg yang lagi indehoy. Ketika memasukinya, terlihat bahwa toko ini berkukuran sedang, bahkan cenderung kecil. Eit meski size matters di beberapa kondisi tertentu, namun kali ini tidak! Toko yg berukuran kecil ini memiliki diskon yg lumanyan daripada lumanyun! Read more

Doraemon Ending

June 24, 2007 by apy  
Filed under Books, Front

Hampir semua orang tahu kisah Doraemon si robot kucing masa depan yang dikirim ke masa Nobita berada. Setiap cerita mau tidak mau harus berakhir. Menurut saya, akhir kisah Doraemon di bawah ini paling pas dan fair diantara ending-ending lainnya yang sempat beredar.

Tanpa basa-basi lagi, inilah kisah akhir petualangan Doraemon dan Nobita yang mengharukan itu.

Read more