17 Agustusan di Garut. MERDEKA!
August 21st, 2009 -- Posted in Traveling | 29 Comments »Apa yang ada di kepala kamu ketika pertama kali mendengar nama “GARUT“? Dodol? Kabupaten di sebelah onohnya Bandung yang hawanya masih semriwing? Atau bahkan pemandian khas air panas yang ditawarkan. Jangan salah, Garut masih memiliki banyak lagi objek atau tujuan wisata yang mungkin kalian belum tahu. Sebelum saya menjelaskan perjalanan nekat saya ke Bandung kemarin ini, yuk kita mengenal Garut terlebih dahulu.
Garut terletak sekitar 64 km sebelah tenggara kota Bandung dan berjarak sekitar 250 km dari Jakarta. Perjalanan ke Garut dapat ditempuh selama kurang lebih 3,5-4 jam dari Jakarta jika tidak ada aral melintang. Garut bagian utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Sumedang, sedangkan bagian selatannya berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia dengan garis pantai memanjang sekitar 90 km. Bagian barat laut berbatasan dengan Bandung, bagian barat berbatasan dengan kabupaten Cianjur, dan sebelah timurnya berbatasan dengan kabupaten Tasikmalaya.

GARUT
Setelah mengenal sedikit letak geografi garut, bagaimana kalo kita tahu juga apa aja sih yang dihasilkan Garut selama ini? Garut merupakan penghasil sayur, buah, akar wangi, sutra alam, domba unggulan, serta makanan paling khas dari sini, yaitu dodol. Sebagai daerah agraris dengan sumber air panas yang melimpah, Garut terus berkembang menjadi daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi turis. Untuk menunjang hal tersebut, pemerintah telah mengagendakan “Festival Garut” yang dilaksanakan setiap bulan Maret, yang juga untuk memperingati hari jadi kota Garut.
Gambar Festival Garut
Sudah merasa akrab dengan Garut? Yuk mari saya mau cerita perjalanan sekelompok dugongs yang dengan nekatnya berangkat ke Garut pada hari Minggu, 16-08-09 tanpa persiapan matang. Bersama Mbak Nyanyu, Mbak Atiek, Ime, Erick, Mas Nug, dan si ucil Epi, kami berangkats jam 6 sore ke Garut, tanpa ada yang tahu jalan. Saya sendiri sebenernya rada gak enak ati karena di rumah ada acara 17 Agustusan, dan besoknya Ayahanda berulang tahun. Tapi setelah hadiah ultah doi saya cepetin sehari, Papa bolehin juga tuh anaknya melanglang lagi setelah minggu sebelumnya melacur di Teluk Kiluan, Lampung.
Jam 8 malam, kita sampai di Sumedang, ternyata ikuti saja Jalan Tol Padalarang yang ke arah Bandung. Tapi alih2 belok kiri, kita ambil kanan sampe mentok Tol Cileunyi. Setelah makan malam di resto Padang, kita lanjut merayapi malam menuju Garut, si kota tujuan. Jangan malu untuk bertanya kalo rada seret ilham untuk nyari jalan. Sekedar tips, tanyalah pada orang2 di Alfamart yang bertaburan sepanjang jalan. Nanti pasti dikasi tau jalan, tapi dengan embel2: “Oh, mau ke Cipanas? Dari sini, Alfamart pertama sebelah kiri langsung belok kanan. Jangan lupa belanja lagi di Alfamart itu ya.” Kenapa juga patokannya harus ALfamart..?!

Nongkrong Asik? Ya Alfamart. CUIH.
Setelah survey 2 penginapan di Cipanas, kami memilih untuk menginap di penginapan “BanyuTirta” yang tarifnya Rp 160.000 semalam (nett). Di dalamnya ada 2 tempat tidur, kamar agak luas, 1 tv, dan kamar mandi yang dilengkapi mini jacuzzi berbentuk kotak di dalamnya. Harga segini udah lumayan, karena kita survey tempat2 lain sampe 400 ribuan semalam, dengan tempat gak jauh lebih bagus dari BanyTirta. Eh tapi penginapan ini kalo peak season (after Lebaran/Natal) harganya jadi Rp 750.000 lho, ahaha.. Beneran, ada tulisannya. Setelah buking tempat, kami lanjut lagi jalan2 malam untuk ngemil2 lucu, dan memutuskan untuk nongkrong asik dan makan Batagor endang di depan alfamart (lagi?!) yang buka 24 jam. Saya perhatikan, tukang parkir di sini gak maksa untuk minta duit lho, malah udah kita kasih duit dia nolak. Ck ck ck.. Mungkin sebenernya doi udah tajir, jadi tukang parkir karena males aja di rumah, mati gaya. Dari situ, kita jalan dikit menuju Tugu Juang 45, yang kata si Bapak tukang parkir, sebutannya adalah Tugu Simpang 5, karena letak tugu itu di tengah-tengah 5 persimpangan jalan.

Penginapan BanyuTirta

Mini jacuzzi dalem kamar mandi

Tugu Juang 45/Tugu Simpang 5
Pulang ke penginapan, tidurlah kita. Tewas semua, gak ada yang ngeh dengan bunyi alarm, jadi baru bangun jam 6.30 untuk foto2 kolam di belakang penginapan yang cukup nice. Gunungnya juga keliatan bersih, dengan ikan-ikan di kolam yang super banyak. Lanjut jalan kaki ke atas, mau nyari pemandian yang terbuat dari batu2 alam, yang ternyata ndak ada. Adanya cuma pemandian gitu yang dibuat dari ubin2 biasa, hihi.. Jadilah kita tur di kampung Cipanas itu, lewati lembah, foto2 tembakau yang lagi dijemur, dan nyabu alias nyarep bubur yang agak tawar rasanya.

Morning view di belakang penginapan

Jalan2 pagi di kampung Cipanas
Saya dan Ime masuk ke sebuah Bungalow megah bernama Sumber Alam. Masuk doang dan hunting foto di dalemnya. Tempatnya lucuu!! Batu-batu alam, kolam ikan natural, nah ini nih yang kite cari! Katanya sih, penginapan ini adalah “First environmental aware resort” yang sebenernya eike agak2 kurang paham juga apa maknanya.

Suasana penginapan Sumber Alam
Balik ke penginapan karena udah puas jalan2 di sekitar kampung, kita semua mandi dan bebenah untuk melanjutkan trip. Jam 9 pas kita ciao, dan menuju ke Pujasega, Pusat Jajanan Serba Garut. Gak ding, Pusat Jajanan Selera Keluarga, gyehehe.. Makanan2 di sini kocak2 lho, ada dodol rasa kelapa, dan yang paling pol, ada COKODOT. Coklat isi dodol! Pilihan rasa ada 3, coklat putih, milk, dan dark. Di sini beliin mama dodol2 mini dikit doang (dasar anak durhaka!) dan anak2 juga pada beli oleh2 di sini.

CHOKODOT! Coklat lokal isi dodol
Klaar balanja *sok nyunda*, kita meluncur menuju Situ Bagendit, sebuah danau terluas di Garut (128 ha). Harga masuknya Rp 2000 untuk 1 orang dewasa, dan Rp 1000 untuk anak2. Tapi kalo HTM untuk orangtua macem kamu, kurang tau juga ya, beib.. Langsunglah kita panik mau naik rakit seharga Rp 30.000 (per rakit, bukan per orang). Setelah kita nanya sama si Bapak yang bawa rakit, Bagendit sendiri berarti orang pelit. Duh jadi gak enak tadi udah nawar rakit, hoho. Alkisah, dulu ada Nyi Bagendit, seorang kaya yang sedang mengadakan pesta. Ketika itu, datanglah seorang fakir (jiyeh, fakiir..) yang minta minum. Nyi Gendit menolak permintaannya dan si fakir tersebut mengutuk sehingga datanglah hujan besar yang membentuk Situ Bagendit. Pertanyaan kami para dugongs: “Kenapa juga kalo si fakir bisa ngeluarin aer sebanyak itu dia malah minta air ke orang lain?”

Situ Bagendit

On the Raft @ Situ Bagendit

Tukang rakit
dan warung apung
Belom puas cuma naik2 rakit doang, kita kongkow di sekitar yang lagi ada perayaan 17 Agustusan. Mas Nugi foto2 orang lagi pencak silat yang lagunya “Tujuh belas agustus tahun empat liima..”. Eh gak dinyana ada bocah yang bilang “Sir, take my picture, Sir!” Lha.. diliat dari segala penjuru mata angin juga laki gue itu kagak ada bule2nya, tong! Ahahaha.. abis makan rujak, bakso, dan teh botol seperti biasa, kita lanjutin perjalanan menuju “Candi Cangkuang”. Karena jalan menuju candi ternyata elok nian, kami putuskan untuk berhenti dan menggila. Hamparan sawah menghijau, gunung menjulang, dan bunga2 matahari yang menatap malu2 langsung habis didera oleh lensa2 kamera kami. Duh, gerah2 gini jadi pengen nyanyi.. “Sunny.. Sunny..” *BCL mode: on*

Indonesia Negara Agraris. Terbukti.

Sun Flower in a Sunny Day
Matahari mulai sombong, baru kita sampe di tempat wisata Candi Cangkuang. Untuk ke Candi, kita harus naik rakit dengan membayar Rp 3000, setelah sebelumnya membayar tiket masuk sebesar Rp 2000. Jangan lupa untuk minta brosur mengenai objek wisata Garut di tempat membeli tiket. Oh iya, harga Rp 3000 untuk rakit menyebrang kalo kita bareng dengan orang2 lain sebanyak 25 orang. Macem angkotlah. Tapi kalo kita mau sewa sendiri rakitnya untuk pulang pergi, harganya Rp 50.000. Tapi mendingan nunggu aja kok, gak lama rakitnya juga udah penuh. Di seberang, setelah foto2 lacur seperti biasa, nemu penjual suvenir. Eh ternyata harga yang ditawarkan gak mahal, lho! Jiwa nawar saya yang berkobar2 tiba2 langsung padam ketika saya nanya harga topi ala Londo. Harganya cuma Rp 15.000, eh penjualnya langsung bilang “Tapi harga pasnya Rp 10.000″. Lah, saya kan jadi ngerasa turunannya B*k*ie kalo masih nawar lagi. Iya, straw hat bagus dan keren yang saya pakai dalam foto2 di bawah ini!

Rakit & TariP untuk menyebrang

Ericko dan Titiw wih their brand new hat.
Sebelum naik untuk melihat Candi, ternyata Komplek Rumah Adat Kampung Pulo terletak di sini pula! Itu lho, Kampung yang hanya boleh ditinggal oleh 7 keluarga. Jadi di sini cuma boleh tinggal 7 keluarga inti. Kalo ada yang kawin, harus ada yang pindah dari situ, dengan tenggang waktu yang diberi selama 2 minggu. Masuk ke komplek tersebut, rumah2nya klasik, cocok untuk foto2 dengan warna Sephia. Setelah lirak lirik dengan manja di situ, kita naik tangga menuju candi Cangkuang, si tujuan utama kita.

Komplek adat Kampung Pulo
Pas naik tangga, banyak kupu2 terbang ke sana kemari. Lucunya.. Tepat di samping Candi, terletak makam Eyang Mbah Dalem Arif Muhamad. Menurut penjelasan penjaga museum yang ada di sekitar Candi, Eyang Arif Muhamad adalah orang dari Mataram yang menyebarkan agama islam ke daerah tersebut. Inget kompleks 7 keluarga tadi..? Mereka adalah turunan ke 8,9, dan ke-10 dari Eyang Arif ini. Masuk museum, selain melihat lembar2 AlQuran dari abad 17, ada juga foto “penampakan”, yang mana saya gak ngeh apa yang ditampakkan. Hoho.

Kupu-kupu putih di sekitar candi

Makam Eyang Arif M & Candi Cangkuang

Museum candi Cangkuang 7 Gambar Eyang Arif M

Penampakan di Candi Cangkuang
Yak, waktu menunjukkan pukul 2 siang, kita harus pulang kalo gak mau kena macet. Di jalan pulang mau naik rakit, Erick-A sempet beli topi kayak saya (tapi yg model cowboy) seharga Rp 10.000 pula dan tas perca batik seharga Rp 18.000 buat pacarnya yang dia boongin. Pergi ke Garut bilangnya ke Bekasi. Halah. Oleh2 tas batik dari Bekasi? CUIH. Naik rakit lagi, dan cingcay ke mobil nan panas yang diparkir di sebelah rumah penduduk. Oh iya, sekedar share, di sini tukang parkir rada jarang bo. Gak terlalu komersil. Kasih Rp 1000 aja senengnya bukan main. Hem.. Menuju Jakarta, kita makan siang dulu di rumah makan Sunda daerah Sumedang. Di depan resto, ada acara panjat pinang sama band2 setempat. Buat Ime: “Bandnya bagus, me?” Kikikik..

Our Last Supper
Jam 3 pulang, eh nyampe di Jakarta lagi jam 6 sore! Super gak macet dan perjalanan Alhamdulillah lancar! Huehehe.. Mungkin orang2 juga kepikiran kalo bakal macet sehingga pulangnya gak jam2 segitu. Nyampe Jakarta, makan sop buah sambil itung2an pembayaran dulu nih. Setelah diitung2, per-orang saweran Rp 140.000. ALL IN. Penginapan, bensin, cemilan ampe muntah, makan siang, makan malem, masuk2 tempat wisata, SEMUANYA. Ah, satu lagi perjalanan menyenangkan bersama para dugongs. Thx guys! Dan untuk kalian yang udah membaca, gemana? Jadi tertarik untuk plesir ke Garut? So.. Happy Traveling!
PS: Sebagian foto diambil dari para sugongs. MInta ijin ya guys!
Sedikit sumber tulisan:brosur wisata garut dapet dari loket di Candi Cangkuang.
(c) Foto Garut, Festival Garut
Popularity: 17% [?]








