Untitled
Kilau matahari senja perlahan menghilang. Lambat. Bayangan gedung-gedung tinggi lenyap tersapu gelap. 18.18. Dua puluh juta lampu dinyalakan. Beberapa masih padam. Beberapa sengaja dibiarkan padam. Angin malam mulai bertiup. Aku sendiri, berdiri di tengah hiruk pikuk kota ini. Aku benar-benar sendiri. Tak ada yang peduli. Bahkan tak ada satupun yang melihat atau memperhatikan keberadaanku di sini saat ini.
Kota ini bernama Jakarta. Dan sungguh aneh bagiku betapa kota ini telah menjadi magnit bagi jutaan manusia untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. Mimpi yang dibenamkan di dalam kepala mereka oleh televisi dan persepsi-persepsi. Mimpi-mimpi yang seringnya malah berubah menjadi tidak menyenangkan ketika mereka bangun.
Bangun atau tetap bermimpi. Bukankah itu pilihan yang sulit?
Aku hanyut dalam pikiranku. Tapi diam diam, dengan seksama, aku mengamati manusia-manusia yang lalu lalang di depanku. Beragam muka, beragam raut, beragam bentuk. Tapi tujuan mereka sama. Untuk tenggelam. Tenggelam dalam waktu yang memacu. Tenggelam dalam rutinitas. Tenggelam dalam kenyataan yang membenamkan harapan dalam-dalam. Tenggelam dalam hidup yang dibentuk secara sistematik oleh kepatutan-kepatutan dan nilai-nilai jutaan kepala-kepala asing. Tenggelam. Bukan menyelam.
Bedil Karo Kembang
“Dor! Dor ! Dor!”
Tiga kali lagi!
“Dor! Dor ! Dor!”
Dua kali lagi!
“Dor! Dor ! Dor!”
Sekali lagi!
“Dor! Dor ! Dor!”
“Pak, semua sudah lewat pak, lalu kembang-kembang ini harus diapakan?”
“Dasar bedinde bodoh! ya ditaburkan.. Didoakan.. Kita ini kan orang beragama?! Akh dasar keong kau, masih ada itu yang megap2. Nanti kalo dia mati pelan2, kita juga yang dosa. Tembak lagi!!!”
“Dor! Dor ! Dor!”
“Baguuss.. Sekarang sama2 kita bilang Innalillahi Wainna Ilaihi Raajiun..
Eit, jangan lupa taburkan kembang lagi biar wangii..
-’Bedil Karo Kembang’ dengan judul asli ‘Guns & Roses’-
Inflasi Jajan Anak Sekolahan
Ingat berapa harga chiki kesukaan anak Indonesia saat anda masih duduk di Sekolah Dasar petang yang panasnya menggarang? Atau harga Teh dalam kemasan botol pada saat anda berseragam putih biru? Ketika SD saya dulu (yang mana tahun 90an dinamakan dekade paling neo pada saat itu), tepatnya kelas 1, uang jajan saya 100 rupiah. Uang sebesar itu sudah cukup untuk saya yang membawa bekal dan termos minum dari rumah. Belum lagi ongkos telah dibebankan kepada Om Joko si tukang antar jemput. Jika Mamah saya hatinya sedang adem dan pikirannya lagi ayem, tidak segan beliau menambahkan 50 rupiah ke dalam saku. Oh.. sungguh, saya merasa detik itu juga saya adalah anak SD yang paling beruntung sedunia. Bagaimana tidak, uang 150 rupiah itu bisa dipakai untuk menjejali mulut dengan permen karet YOSAN banyak2, ataupun es teh kenyot sampai perut terlihat kembung seperti ikan.
Itu pada masa SD, dimana saat kelas 1 uang jajan sebesar 100 rupiah, dan ketika menginjak kelas 6, uang jajan saya sebesar 1000 rupiah. Masuk SMP, saya mogok ngomong dengan Mamah karena beliau hanya memberi saya nominal yang sama seperti ketika saya kelas 6 SD. Logis, karena SMP saya jalan kaki, sedangkan waktu SD, bemo menjadi cemilan sehari2. Namun pikiran saya yang sudah tertoksin dengan melihat uang jajan teman, keinginan untuk membeli majalah Kawanku, sampai makan bakso di samping pasar sepulang sekolah mengalahkan kelogisan itu. Saya ingin uang jajan ditambah, setambah2nya hingga sebesar 100% yaitu 2000 rupiah. Bukan main keegoisan saya kala itu. Bukannya alasan, namun setan2 konsumerisme memang sudah mulai merasuki jiwa saya yang sudah tidak polos lagi.
Welcome to Titiw.com
Welcome to titiw.com. A complete reading menu, from appetizer to dessert.



Recent Comments