March 9th, 2009 -- Posted in Blab |
“Aku juga mau dong”
“Hmmm?”
“Aku juga mau! Sekalian bikinin aku satu”
“Okey…”
Herman mengeluarkan dua lembar roti gandum dari bungkusnya. Lembar pertama dia taruh di atas piring di atas meja makan, yang satunya lagi dia lumeri dengan susu kental manis cokelat yg dia ambil dari lemari makan.
“Bentar ya?” Rita diam saja. Herman lalu berdiri mengambil selai cokelat dari lemari makan, lalu dia mulai mencari pisau roti di laci kitchen set. Dapur sebenarnya tempat yang agak “terlarang” bagi Herman, terutama lemari makan, laci kitchen set, dan rak piring.
“Yang, pisau rotinya dimana yah?”
“Ada di situ kok!” Rita menjawab seperlunya, lalu Ia kembali sibuk dengan remote control TV di tangannya.
“Ga ada”
“Iih!!! Aku taro situ kok. Cari yang bener!”
Possessed by the Night on dvd Karena tidak menemukannya yang dicari Herman berpindah mencari dari laci kitchen set menuju rak piring. Menyadari Herman mulai berpindah daerah operasi, Rita langsung menginterogasi Herman yang terlalu aktif beroperasi di daerah yg agak terlarang.
“Ngapain?”
“Nyari pisau roti…” jawab Herman enteng
“Ngga usah nyari di situ. Ntar bukannya barangnya ketemu, malah barang barang yang ada di situ kamu berantakin lagi” “Udah biar aku yang nyari. Kamu makan aja dulu roti kamu”
“Ngga ah, aku pengen bareng makan rotinya”
15 menit setelah Rita bangkit dari sofa di ruang tengah dan mulai mencari pisau dapur di seluruh penjuru dapur. Tapi ternyata yang dicari tidak juga ditemukan.
“Pasti hilang!”
“Masa sih? Udah bener nyarinya?”
“Iya! Aku selalu naro tu pisau di laci itu. Dan sekarang di laci itu pisaunya ga ada”
“Yakin kamu selalu naro di situ? Di tempat lain udah dicari?”
Herman yang kini sudah berada di ruang tengah bertanya setengah niat. Tapi pertanyaannya sama sekali tidak membantu. Sama sekali tidak membantu siapapun. Pisau roti yang dicari masih belum ditemukan.
“Udah, di tempat lain juga ngga ada. Lagian terakhir kali aku yang make tu pisau. Aku masih inget banget…”
Kalimat Rita terpotong karena ternyata Ia mengingat sesuatu yang dari tadi terlewat dari ingatannya.
“Eh, ga ding. Terakhir kali aku pake, pisaunya aku taro di atas meja makan, dibungkus napkin. Argh! Pasti kebuang deh sama kamu!” Rita cemberut.
“Loh, kok jadi aku yang salah sih?” Karena merasa disudutkan Herman mulai membela diri.
“Soalnya kamu kan yang terakhir kali beresin meja makan?”
“Iya sih. Tapi aku inget kok, aku ga nemuin pisau rotinya di situ”
“Bullshit! Kamu juga pernah kan ngebuang sendok makan perak kesukaanku. Kamu inget kan?”
“Inget sih. Tapi kan…” Belum sempat Herman menyelesaikan kalimat, Rita langsung memotongya.
“Nah kan! Waktu itu juga pas aku nuduh kamu ngilangin tu sendok, pertama pertamanya kamu ga inget karena kamu ga ngerasa. Tapi lama lama kamu inget juga kan?”
“Tapi bukan berarti pisau ini aku yang buang juga kan?”
“Kamu inget ga waktu kamu buang sendokku”
“Kan tadi aku udah bilang inget”
“Gimana?”
“Maksud kamu?”
“Gimana kamu ngilangin tu sendok. Kamu pake makan nasi goreng yang kamu beli di seberang kompleks…terus?”
“Trus aku masukkin kresek bekas nasi goreng, terus kreseknya aku buang. So?”
“So?”
“So?”
“So?”
“Kasusnya sama banget ama kasus ni pisau”
“Ya engga lah. Yang terakhir make tu pisau kan kamu, bukan aku. Jadi kasusnya beda dong?!”
“Tapi kamu yang beresein meja makan. Pasti kamu buang napkin dan pisaunya ke tempat sampah. Coba periksa tempat sampahnya!”
Dengan malas malasan Herman mulai mengaduk aduk tempat sampah dengan tangannya.
“Ga ada tuh”
“Ya udah. Berarti beneran ilang”
“Sorry…”
“Jadi sekarang kamu inget?”
“Inget apa?”
“Inget kalo kamu ngebuang pisaunya!”
“Ngga”
“Trus kenapa minta maaf?”
“Im just sorry for your lost aja kok beib”
“Kamu nih, sorry aja bisanya. Bosen deh ama teledornya kamu!”
“Loh kok nuduh aku lagi sih?”
“Trus siapa lagi, anak buahmu? Mereka kan ngga boleh masuk sini!”
Wuthering Heights movie “It could be you kan yang ngebuang tu pisau?”
“Ga mungkin kali”
“Yeeey! Mungkin aja kaleee!”
“Udah ah. Kamu makan aja roti kamu sanah!”
“Gak ah, aku mau makan bareng”
Rita lalu menyambar botol selai roti dari meja makan, mengambil sendok teh dari laci kitchen set, lalu mulai mengoleskan lembaran rotinya dengan selai cokelat tebal tebal dengan menggunakan sendok teh secara merata.
Rita pun melahap rotinya begitu rotinya jadi. Herman yang mulai melihat Rita mulai makan, akhirnya ikut melahap rotinya.
Di ruang tengah, Herman sedang khusyu menonton berita di sebuah saluran TV luar negeri saat Rita keluar dari dapur setelah merapikan peralatan bekas makan tadi. Rita lalu naik ke sofa. Herman sedikit menggeser posisinya yang terlalu tengah ketika menyadari kehadiran Rita di sofa. Sambil membenarkan posisi duduknya, Rita mulai menggerutu (lagi).
“Aku sedih deh”
“Kenapa?” sergah Herman sambil tetap memandang serius televisi.
“Sedih karena pisauku hilang…” jawab Rita tertahan.
Sadar kalau kalimat Rita masih ada kelanjutannya, Herman lalu mengecilkan sura TV dengan remote ccontrol lalu menaruhnya di atas rak di sebelah sofa.
“Terus…?”
”Iya. Aku kan apik banget ama barang, ga kaya kamu…jadi rasanya kesel banget kalo ada barangku yang hilang. Emang kurang apik apa sih aku?”
“Hahahaha, kamu lucu deh”
“Apanya yang lucu?!” Rita mulai terpancing emosinya.
Suasana hening sejenak.
“Iya sih kalo kamu hilang barang aku nyuruh kamu ikhlas. Tapi kan kamu emang sering kehilangan barang karena kamu emang teledor. Jadi gampang aja buat kamu untuk ngikhlasin barang yang kamu hilangin itu” Nada bicara Rita sudah mulai tenang sekarang.
“Kata siapa ikhlasnya gampang?” Sangkal Herman
“Kamu kan teledor”
“Emang! So?”
“Yaaa, aku kan apik!”
“So?”
“Ya jadi pasti beda lah rasanya kalo kamu ilang barang ama kalo aku yg keilangan barang”
“Yakin?”
“Ya iyalah!”
“Emang kamu pernah jadi aku?”
”Argh!”
Keesokan harinya, di halaman sebuah koran kuning Ibukota tertulis headline: Bertengkar Hebat Istri Tusuk Suami Yang Juga Hakim Agung Pake Pisau daging Sampai Mati.
Popularity: 7% [?]
November 1st, 2008 -- Posted in Techno |
Berapa banyak dari anda yang masih akrab dengan fasilitas bernama telepon umum??? Coba anda ingat kapan terkahir kali anda menggunakan sarana ini! Mungkin jawaban yang paling banyak adalah: Satu millenium lalu.
Well yeah…sepertinya teknologi ini kian tersingkirkan. Awalnya oleh maraknya usaha wartel…lalu kini oleh teknologi telepon seluler. Padahal di jamannya, teleponn umum adalah teknologi yang cukup happening. Liat saja film-film Warkop!!! Setting di telepon umum sering sekali muncul. Atau ingatkah ketika anda menelepon rumah cinta monyet jaman SMP anda dengan telepon umum di komplek rumah anda??? Biar ngantri juga, tetep dijabanin. Asal bisa mendengar suara kekasih hati. Atau ketika anda masih duduk di bangku SD…dimana anda sering memencet nomer-nomer darurat (which is ga pake koin) untuk iseng??? Coba ingat-ingat lagi bagaimana dulu kita begitu akrab dengan telepon umum!!!
Sekarang sih semua gampang. Tinggal SMS atau nelepon dari HP CDMA…komunikasi pun lancar. Tapi hidup memang naik dan turun. Ada kalanya kita ngga punya pulsa. Ada kalanya batre HP lowbat dua-duanya. Dan ketika usaha wartel sudah banyak yang tumbang (lagi-lagi oleh teknologi bernama ponsel)…bagaimana cara kita berkomunikasi???
Selama masih ada telepon umum di luar sana…selama Telkom masih mau menyediakan telepon umum koin (soalnya telepon umum kartu kayanya udah punah deh kayanya)…dan selama kita mau peduli dan menjaga keberadaan telepon umum di sekitar kita…kita masih bisa berkomunikasi jarak jauh.
Tinggal masukan koin 100, 200, atau 500 Rupiah…pencet nomer tujuan anda…lalu…halo…komunikasi terjalin kembali. Sayangnya telepon koin ini ngga bisa dipake nelepon ke nomer HP GSM. Cuman bisa ke nomer provider CDMA tertentu (Telkom Flexi).
Sudah saatnya kita menjaga telepon umum dari kepunahan. Menggunakannya dengan benar agar tidar merusaknya adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan. Karena percayalah…secanggih apapun teknologi yang ada di genggaman anda, akan datang suatu masa dimana anda akan membutuhkan “pilihan terakhir untuk berkomunikasi ini”. Percayalah…akan datang suatu masa dimana anda akan berkata dalam hati:
“Terima kasih, telepon umum…
Popularity: 10% [?]
September 18th, 2008 -- Posted in Blab |
Masih dengan pisau di tangan, kugenggam erat-erat. Bersembunyi. Menanti saat yang tepat. Tarik, bekap, tikam.
02.22. Dia masih belum nampak. Aku masih menanti. Bersembunyi dengan hati-hati. Di gang kecil ini. Aku bersembunyi di balik gerobak kosong yang terparkir begitu saja di mulut gang. Brrr…udara pagi ini dingin sekali.
Calon korbanku namanya Widiyanto. Wartawan politik sebuah surat kabar terkemuka di kota ini. Berita-berita yang ia tulis kerap kali bikin kuping panas orang-orang yang punya kuasa di kota. Pejabat pemkot, petinggi instansi pemerintah, anggota DPRD, petinggi parpol, Camat, Lurah, Kades…asal jabatan itu berhubungan dengan kekuasaan dan birokrasi, sering ia serang dengan tulisannya yang memojokkan dan mengancam kedudukan mereka. Kasus korupsi, penyelewengan jabatan, suap menyuap, birokrasi yang bobrok, pokoknya hal-hal yang melenceng pasti dia tulis.
Aku tak mengerti soal kekuasaan, birokrasi, apalagi politik. Asal aku dibayar dengan jumlah uang yang masuk akal, aku mau melakukan apa saja. Termasuk menghilangkan nyawa. Tapi aku bukan orang yang asal dapat duit lantas senang saja. Aku masih punya nurani. Aku pembunuh bayaran yang punya hati nurani. Terdangar sangat tidak masuk di akal memang. Tapi memang begitu adanya.
Aku butuh alasan lain untuk membunuh. Aku tidak pernah asal bunuh. Bagiku uang bukan satu-satunya alasan. Aku cuma mau membunuh orang yang memang tidak layak hidup. Setidaknya menurut nuraniku begitu. Aku hanya membunuh orang-orang yang merugikan orang lain. Orang-orang yang kalau dibiarkan hidup akan menyusahkan banyak orang nantinya. Seperti si Widi ini.
Aku sama sekali tak keberatan kalau dia suka memberitakan tentang pejabat-pejabat korup di kota ini. Itu hal yang bagus. Biar masyarakat tahu siapa-siapa saja pejabat di kota ini yang curang. Dan biar para pejabat curang itu mendapat imbalannya nanti. Masalahnya Widi juga curang. Dia sering memeras para pejabat di kota ini dengan ancamannya. Jika mereka tak memberinya sejumlah uang, maka dia akan menulis berita tentang borok mereka. Bahakan berita bohong sekalipun. Semua berita yang Widi tulis hanyalah untuk keuntungan dirinya semata. Semakin banyak ia menulis, semakin banyak orang yang dirugikan. Mengambil kesempatan dalam kesempitan…dasar manusia licik!!! Dia layak mati.
Disgrace movie
Aku profesional di bidangku ini. Aku harus memastikan banyak hal terlebih dahulu sebelum melakukan eksekusi. Langkah pertama adalah mencari tahu siapa si target. Aku harus mengetahui identitas dan latar belakangnya. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah target layak untuk dibunuh. Beberapa kali aku menolak tawaran untuk membunuh orang karena kupikir dia tidak punya cukup alasan untuk kubunuh. Selanjutnya aku harus mengetahui gerak-gerik si target. Memperhatikan semua kebiasaan dan mengetahui rutinitasnya. Tujuannya agar aku bisa menentukan kapan dan di mana waktu yang baik untuk melakukan eksekusi terhadapnya. Langkah kedua adalah merencanakan dan mepersiapkan eksekusi dengan rapi dan detil. Senjata apa yang akan kugunakan, jalur untuk melarikan diri, alibi, waktu dan tempat eksekusi yang pas, rencana cadangan dan lain-lain. Semua kupersiapkan dengan baik dan teliti. Ini kulakukan agar eksekusi berjalan lancar dan agar tidak timbul masalah setelahnya.
Widi adalah targetku yang ke-26. Eksekusi sudah kurencanakan dengan sangat matang. Sudah sebulan lebih aku merencanakan pembunuhan ini. Semua langkah sudah kulakuan agar eksekusi ini berjalan efektif. Keputusan finalnya adalah aku akan membunuh Widi malam ini.
Bronson video Setiap Jumat malam Widi menyambangi sebuah klub dangdut di tengah kota. Dia datang dan pulang sendirian. Masuk pukul 22.00, keluar pukul 02.15. 45 menit lebih cepat dari selesainya rangkaian acara di klub ini. Biasanya dia langsung pulang dengan menggunakan taksi. Taksi yang kebetulan lewat, bukan mangkal atau sebelumnya telah dipesan. Seringnya dia keluar dari klub dalam keadaan mabuk. Membuatku lebih mudah untuk membunuhnya.
Kupilih pisau sebagai senjata mengingat keterbatasan ruang gerak tempat eksekusi. Pisau akan lebih efektif digunakan untuk membunuh dari jarak dekat. Lebih fleksibel. Selain itu pisau tidak meninggalkan jejak seperti senjata api yang meninggalkan proyektil peluru.
Sudah pukul 02.29. Tapi Widi belum keluar juga. Aku mulai khawatir. Rencana akan gagal jika ia keluar pukul 03.00, karena tepat dengan waktu bubaran klub di mana kebanyakan orang keluar dari klub. Aku sangat menghindari membunuh di keramaian. Risikonya terlalu besar.
Aku masih menunggu. Sudah berbatang-batang rokok habis kuhisap. Yang terakhir sekitar 45 menitan yang lalu.
Aku mengintip lagi ke arah pintu klub. Beberapa menit berselang, lalu tampak seseorang keluar dari pintu tersebut. Itu Widi! Aku bersiap. Sebentar lagi dia akan melewati mulut gang ini. Yang harus kulakukan hanya menariknya masuk ke gang, membekapnya dari belakang, lalu menikamnya tepat di dada…berkali-kali sampai dia benar-benar mati.
Hei…tapi siapa perempuan sialan yang sedang bersama Widi itu? Sial, kalau begini rencanaku bisa gagal. Kuputuskan untuk menggunakan rencana cadangan.
Aku keluar dari mulut gang, lalu berjalan menghampiri mereka berdua. Pelan-pelan. Si perempuan melihat ke arahku. Lalu tiba-tiba ia mengambil sesuatu dari balik jaketnya. Sialan! Dia mengeluarkan sebuah magnum! Aku berlari sekuat tenaga mendekatinya. Sebelum ia berhasil membidikkan magnumnya ke arahku, tangannya berhasil kutebas. Crask!!! Tangannya yang menggenggam pistol putus lalu jatuh ke aspal. Darah berceceran banyak sekali di sekitarnya. Lalu wanita jalang itu menjerit keras sekali. Kuambil magnumnya yang kini tergeletak di aspal. Kusingkirkan tangannya yang masih menempel pada gagangnya.
Widi hanya bisa terdiam melihat semua itu. Mukanya pucat. Dia sekarang melihat ke arahku. Aku lalu mengarahkan laras magnum tepat ke titik tengah di antara kedua alisnya.
“Mati kau pendosa…”
Kutarik pelatuk magnum. Sepersekian detik kemudian darah memuncrat dari kepala Widi yang pecah. Wanita jalang itu masih menjerit dengan kerasnya. Aku harus pergi dari sini sebelum jeritan si jalang ini menarik perhatian banyak orang. Kugeletakan kembali magnum di aspal lalu ku pergi berlari ke dalam gang kecil tempatku bersembunyi tadi.
Kurasa akan banyak orang merasa senang ketika membaca koran esok pagi. Aku masih terus berlari. Bajuku berlumuran darah, nafasku terengah-engah, tapi aku bahagia.
Popularity: 6% [?]