Semur Sebagai Intangible Cultural Heritage UNESCO
Kemarin pas Sea Games rame-rame teriak maling ke negara tetangga yang mencuri emas dari olahraga sepakbola. Tapi mungkin gak sih kalo hal yang diklaim itu sebenernya lebih suka ke negara atau orang yang lebih menjaga mereka? Misalnya aja, si reog yang waktu itu diklaim negara tetangga lebih suka jadi kepunyaan mereka karena lebih dijaga & diwariskan..? Nah, ternyata setelah batik sempet berebutan punya si ini punya si itu, semur mau dikukuhkan sebagai Intangible Cultural Heritage UNESCO. Apakah semur akan menjadi satu perdebatan lagi?
Kerana eh kerana kemarin saya abis nulis tentang semur, penasaran dong nih.. Kenapa UNESCO mau mengukuhkannya? Ternyata semur memang sangat lekat dengan Indonesia, mulai dari bahan baku rempah yang Indonesia banget, penggunaan kecap manis yang juga terbuat dari rempah-rempah juga sangat mencirikan bahwa semur adalah masakan khas Indonesia.
Keanekaragaman rasa, macam-macam bentuk/jenis semur di Indonesia, sampe resep yang variatif, bisa dianalogikan sebagai perwujudan dari Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda, namun tetap satu jua. Sadis gak tuh? Maka kayak kata iklan-iklan layanan masyarakat, sudah sepatutnya kita mendukung warisan Indonesia ini sebagai Intangible Cultural Heritage UNESCO. Cara mendukungnya bagaimana? Ya dengan sering memperkenalkan semur kepada orang-orang yang belum tau bahwa semur adalah masakan asli Indonesia, pun memperkenalkannya juga dengan kerabat-kerabat di luar negeri. Pasti lebih ciamik.
Duh, jangan sampe deh kita kehilangan lagi satu warisan asli Indonesia. Biasa, penyesalan selalu datang sesaat kita kehilangan/kecolongan. Maka ayo bersama-sama kita perkenalkan semur sebagai masakan asli Indonesia, supaya bisa dikukuhkan di Intangible Cultural Heritage UNESCO, sebagai warisan makanan khas kita, INDONESIA KITA..
Sisa-sisa Kejayaan Benteng Somba Opu
Perjalanan ngukur Makassar saya nggak berhenti cuma di Taman Nasional Bantimurung. Sekarang saatnya jelajah sejarah Makassar! Dahulu, orang Makassar dikenal sebagai bangsa yang kuat dan gigih dalam mempertahankan kedaulatannya. Ini tampak dari benteng Somba Opu, benteng yang didirikan tahun 1525 oleh Sultan Gowa ke IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna. Meskipun sekarang bangunan ini bisa dibilang hanya tinggal sisa reruntuhan, siapa sangka benteng yang dulunya kokoh ini dibangun dari tanah liat? Semen untuk merekatkan batu-batu merah itu juga terbuat dari putih telur!
Konon (saaah, konon..) daerah ini sempat menjadi pusat perdagangan yang ramai oleh pedagang dari dalam dan luar negeri. Namun di abad 16, Belanda menguasainya dan dihancurkanlah Benteng Somba Opu. Benteng yang terletak di Jl Daeng Tata (bukan yang jualan Konro lho..), Kelurahan Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa tersebut ditemukan kembali tahun 1980an, dan mulai direkonstruksi pada tahun 1990.
Sekarang ini, kita hanya dapat melihat sedikit sisa reruntuhan benteng dan makam Raja Gowa ke IX di bagian atas. Dari atas, pengunjung bisa melihat padang rumput luas, yang terletak di sebelah sungai Jene’berang. Jadi, apa lagi yang bisa dilihat selain sisa-sia benteng? Jangan khawatir, kamera Anda akan puas merekam gambar rumah adat di sana.
Layaknya Taman Mini kecil, namun khusus rumah-rumah adat adat Sulawesi Selatan seperti Tongkonan dari Toraja atau Bola Soba dari Soppeng. Tak hanya itu, terdapat pula meriam Baluwara Aung (panjang 9 meter, berat 9.500 kg), dan museum Karaeng Pattingalloang berisi benda-benda peninggalan kesultanan Gowa. Meski benteng Somba Opu tinggal reruntuhan, namun dari reruntuhan itu lahir masyarakat-masyarakat baru yang berjalan ke depan mengikuti zaman.
Trivia
- Masyarakat sekitar terlihat sangat aktif beraktivitas. Dari latihan silat, lomba burung merpati, hingga komunitas pesepeda memenuhi komplek Somba Opu.
- Somba Opu merupakan alternatif tempat untuk mengejar matahari terbenam selain pantai Losari
- Kawasan Somba Opu juga sudah menjadi tempat untuk Outbond
- Menurut sopir becak motor yang kami tumpangi, akan dibuka Waterboom di bulan Desember ini, yang menimbulkan pro-kontra di beberapa kalangan
Belajar Dari Komik Lawas
Jaman kecil dulu, baca komik jepang adalah semacam lambang pergaulan dunia. Mau gaul? Ya baca komik Jepang. Apalagi kalo sempet bikin perpustakaan komik rame-rame sama temen kompleks. Ih, nama kita udah pasti langsung agak tenar, minimal di RT itu. Meskipun ujung-ujungnya berantem sama temen karena komik kita diilangin, dilecekin, dan lembaran-lembarannya lengket kena nasi, pasti kita masih inget komik-komik dulu yang kayaknya layak banget untuk dikoleksi. Kenapa layak koleksi? Karena komik-komik ini bikin saya belajar sesuatu dengan cara yang menghibur. Secara subjektif, ini dia komik-komik layak koleksi versi saya!
1. Kungfu Boy
Hoah.. Chinmi dari Kuil Dairin ini adalah alasan mengapa saya suka loncat-loncat di kali kecil deket rumah. Inget dong adegan pas Chinmi disuruh Pak Tua loncatin sungai kecil tanpa arus dan sungai berarus deras? Di sungai yang pertama, Chinmi dengan entengnya loncat, dan sungai yang ke-dua, Chinmi ragu. Padahal lebar sungai itu sama. Di sini saya belajar yang namanya kekuatan dari sugesti pikiran.
Takabur adalah musuh dari segala ilmu ~ Kungfu Boy
2. Si Cerdik Michael
Kalo kamu penggemar kucing.. Pasti gak rela banget kalo komik ini sampe ilang. Komik saya ini sempet ilang, tapi beli lagi dengan harga Rp 20.000 ajah komiknya lengkap 1-4 di blok M Square tempat jual buku-buku lawas. Di sini diceritain tentang seluk beluk kucing, cerita vampir yang gak takut bawang tapi takutnya kucing, sampe kucing bisa jadi gokil kalo makan sebuah pil bernama matatabi. Ilmu yang saya dapet dari sini ya tentunya hal-hal yang menyangkut kucing, misalnya kucing gak suka bau jeruk, kalo kita nunjuk kucing pake jari pasti dia endus-endus, sampe kucing juga bisa mati kalo didorong dari apartemen lantai 9.
3. Pop Corn
Persahabatan, sportivitas, keluarga, pendidikan, kepercayaan, dan cinta. Semua terangkum dengan sangat cantik dalam komik yang dibuat oleh Yoko Shoji ini. Sebuah kisah persahabatan sekelompok anak manusia yang kenal sejak SMP hingga dewasa. Kelompok Badung itu terdiri dari Nakki, Okita, Hatsune, Mamoru, Tamura, Maiko. Wah, nyeritain gini aja saya jadi haru.. Huks. Apa yang saya bisa pelajari dari komik ini? Baca kalimat pertama saya dalam paragraf ini.
Sebenarnya masih banyak komik yang layak koleksi dan ngasih pesan moral yang oke. Tapi saya lebih pengen tahu apa sih komik lawas yang ngasih kamu “ilmu?” Yuk share di sini. Arigatou Gozaimasu!
Weekly Photo Challenge: Opportunity
The girl on the chair is me. And the guy with the scissor is Rian, the man from a pricey beauty salon near my office. Before he worked there, he also worked in a place like that, but the affordable one, named Evergreen Salon. I used to go there, and as far as I remember, he’s the best barber who can cut my hair just like what I want. But since he moved, he cut my hair in the backyard of my office with cheaper price for sure. Such an opportunity for him to have a bunch of extra money rite? Way to go, Rian!
Si Hitam Manis Asli Indonesia
Setelah sebulan yang lalu nulis tentang resep semur cihuy dan dikomentari macem-macem sama temen-temen yang gak percaya saya bisa masak, saya diceritain pacar (yang mana lebih JAGO masak daripada saya, saudara!) tentang asal-usul semur.
Ada yang tahu semur berasal dari mana? Ada yang tahu? Yang di depan? yang di belakang? Masih bisa goyang?! *lost focus* Yang jawab semur itu asli masakan Indonesia, dapet kecup manis manja grup dari pacar saya, karena kamu betuuul! Nama semur sendiri berasal dari kata smoor (bahasa Belanda) yang artinya masakan tersebut telah direbus dengan tomat dan bawang secara perlahan (dalam waktu yang cukup lama).
Dulunya, semur itu kayaknya ada di perhelatan-perhelatan tertentu aja ya. Tapi sekarang udah jadi lauk sehari-hari aja. Dibuat dari daging sapi, kambing, telur, tahu, semur, jengkol, widiih.. Banyak.. Lagi ujan-ujan gini, kok ya jadi bayangin kuah kecoklatan, dipadu bawang merah, bombay, pala, cengkeh, kecap manis, dan kamu yang manis.. Halah.
Meski identik sama Betawi, beberapa daerah lain di Indonesia, seperti Aceh, Ternate, Samarinda, punya resep semur tersendiri. Walau bahan baku rempah serta kecap manis tetap digunakan, mereka melakukan beberapa modifikasi hingga rasa semur tersebut agak berbeda dibanding semur betawi yang biasa saya makan. Misalnya aja, di Ternate kecap manis diganti dengan cuka, namun penggungaan rempah-rempah seperti cengkeh dan pala itu menegaskan bahwa semur adalah asli makanan tradisi Indonesia.
Jadi, pendapat saya, semur adalah masakan asli asal Indonesia, meski penamaannya diambil/diserap dari bahasa Belanda. Semoga tulisan ini bisa menambah khasanah kamu-kamu bahwa Indonesia memiliki masakan lezat lainnya yang tak kalah enak dibandingkan masakan luar negeri yang hampir serupa, yaitu steak. Sekian share dari saya yang hitam manis, tentang asal usul semur yang juga hitam manis.
Papilio Nan Cantik Dari Bantimurung
Hari pertama petualangan ACI saya dimulai di Makassar Sulawesi Selatan, tepatnya di bandara internasional Sultan Hasanuddin yang keren banget. Dari situ, kami bertemu dengan pendamping asli Makassar yang bernama Indra, dan langsung meluncur ke tempat yang terkenal dengan air terjun dan kupu-kupunya.
Kapankah terakhir kamu melihat kupu-kupu dengan jumlah yang cukup banyak? Jika menjawab pertanyaan saya dengan jidat berkerut yang bisa diartikan “Wah, kapan ya.. Sepertinya sudah lama sekali..“, berarti kamu harus mengunjungi Taman Nasional (TN) Bantimurung!
Sudah lama Bantimurung Bulusaraung terkenal dengan banyaknya kupu-kupu yang menghiasi tempat wisata alam yang berlokasi di Maros, Pangkep, Sulawesi Selatan. Di sana, Anda akan disambut dengan patung kupu-kupu besar seakan menyambut tamu-tamu yang datang. Belum lagi berbagai souvenir seperti anting, bros, liontin, gantungan kunci, pigura, dan masih banyak lagi yang bertema ataupun berbentuk kupu-kupu.
Tempat pertama yang menjadi tujuan kami sesampainya masuk ke Bantimurung adalah museum Kupu-kupu. Museum itu mungil, namun dapat mendokumentasikan banyak sekali jenis dan ragam kupu-kupu. Tidak hanya dari yang berasal dari Bantimurung saja, namun juga dari Timor, Pulau Seram, dan berbagai tempat yang menjadi habitat kupu-kupu.
Setelah dari museum, kami pun beranjak menuju ke penangkaran kupu-kupu. Berdasarkan keterangan Bapak Rusman penjaga museum yang juga penangkar kupu-kupu, ada 2 cara mengawetkan kupu-kupu. Dengan formalin (warna kupu-kupu jadi pudar, namun cara ini relatif cepat dilakukan oleh orang-orang yang tidak care), dan dengan memberikan alkohol 100% dan dijemur 2-3 hari di bawah sinar matahari.
Saat saya ke sana, tidak terlalu banyak kupu-kupu yang terbang menari di hadapan saya. Menurut Pak Rusman lagi ketika saya tanya tentang hal tersebut, kupu-kupu tidak punah, namun ia hanya bertelur di saat-saat tertentu, sehingga keberadaanya akan lebih sering terlihat di bulan Januari, Mei, maupun Agustus. Menurut saya sih, kupu-kupu memang tidak berkurang hanya karena faktor manusia (yang mematikan kupu-kupu semata-mata untuk keuntungan pribadi), namun juga faktor-faktor alami seperti makin turunnya kualitas tempat kupu-kupu tinggal. Bagaimana menurut kamu, kamu, dan kamu?
Trivia:
- Rata-rata usia kupu-kupu adalah selama 3 bulan
- Tidak boleh menangkap kupu-kupu di cagar alam Bantimurung. Namun jika ada yang ketahuan, hukumannya “hanya” dikejar dan alat menangkap kupu-kupu tersebut disita.
- Kupu-kupu yang ditangkar hanyalah yang betina
- Tips agar kupu-kupu cepat bertelur: air yang diberikan dicampur dengan gula
Notes:
- Harga Tiket Masuk Taman Nasional Bantimurung: Rp 10.000
- Harga Masuk Museum Kupu-kupu & penangkaran: Rp 5.000
Hello World!
November 16, 2011 by titiw
Filed under Titiw Inside
Bukan berarti dengan judul postingan begitu, berarti ini adalah postingan pertama. Hal tersebut hanya menggambarkan betapa merindunya saya dengan nulis di blog yang banyak banget pembacanya ini. AMIN YA ALLAH. *nari lenso*
Pastinya saya akan mengebom blog ini dengan tulisan-tulisan yang dihasilkan dari jalan-jalan gratis dari ACI. Ada juga cerita-cerita seru Sea Games, kuliner khas Indonesia, weekly photo challenge, tulisan-tulisan traveling di luar ACI yang belum dishare juga, serta beberapa workshop di luar kota bertema lingkungan sehubungan kerjaan saya. Duh duh duh.. Gateeel banget buat cerita, tapi besok harus udah ke Jogja lagi urusan kantor.
Segini dulu update saya yang masih dikejar-kejar deadline nulis artikel ACI, report-report kantor, livetweet bulutangkis live dari Istora, dan juga dikejar kawin. Will get back to you guys ASAP dengan tulisan-tulisan ciamik. Adios amigos!
Sekilas Info Dari Sulawesi
Hwaaa! Udah berminggu-minggu blog kuning ecek-ecek ini tidak saya tengok. Kenapa? Karena saya sedang berada nun jauh di pulau Sulawesi untuk menunaikan tugas sebagai salah seorang petualang ACI 2011.
Posisi saya saat ini ada di Sulawesi Tenggara, tepatnya Kendari, setelah belasan hari menempuh perjalanan darat laut dan udara. Sekilas info saja bahwa Sulawesi seringnya berlangit biru, berawan putih, dengan landscape pemandangan yang memukau.
Dari awal perjalanan tanggal 20 Oktober, saya insya Allah akan tiba kembali di Jakarta tanggal 6 November dengan kulit menghitam, senyum yang cerah, dan ribuan foto-foto perjalanan serta cerita-cerita yang menakjubkan tentang Indonesia. Sampai ketemu lagi semuanya!
“Traveling mengajarkan kita untuk bertoleransi. Kepada teman seperjalanan, kepada orang lain di jalan, kepada alam, dan kepada diri sendiri.” ~ Rahmayanti Akmar, 1 November 2011, di atas kapal dari Wakatobi menuju Kendari.


















