Devil: Another Shyamalan’s Meh
Apa:
Perjalanan cerita dimulai dari ditemukannya seseorang yang diduga bunuh diri, loncat dari lantai atas sebuah gedung. Detektif Bowden (Chris Messina) dipanggil untuk mengusut kasus tersebut. Detektif ini merupakan pria yand sempat kecanduan alkohol, dan selalu teringat akan anak dan istrinya yang menjadi korban tabrak lari karena pengemudi mabuk. Cerita dilanjutkan di dalam gedung yang sama, ketika 5 orang masuk ke dalam lift, yang sialnya macet entah karena kendala apa.
Satu persatu kejadian mulai menimpa mereka. Darah di mana-mana. Kecurigaan membumbung tinggi. Mereka saling mencurigai, siapa yang melukai siapa. Jadi, sebenarnya.. Apa benang merah dari satu kejadian dengan kejadian lainnya..? Siapa sang PELAKU? Apakah ibu-ibu tua yang bawel? Satpam yang fobia tempat sempit, pria yang lama di Afganistan ketika perang berlangsung, si sales penjual kasur, wanita muda yang cantik itu, or.. Something beyond your imagination like.. Devil..?
Opini Titiw:
Another Shyamalan’s, bibeh! Sebagai penggemarnya, gak boleh gak nonton film ini, meskipun dia dicela abis setelah Avatar. FYI, film ini sendiri disutradarai oleh John Erick Dowdle, dan Shyamalan sebagai penulis cerita. Banyak toleransi yang saya gelontorkan ketika menonton. Semisal: Lho, kok cepet amat ya kejadian di lift? Kayak kurang intronya, tapi nggak apa2.. Lho, apa hubungannya orang yang jatoh dari atep gedung sama mereka2 yang di lift..? Tapi nggak apa2..
Masih banyak yang mau saya jelaskan, tapi takut spoiler euy. Yang jelas, film ini sih budgetnya pasti gak terlalu banyak. Secara, gak terlalu banyak make efek2 dan lala lili, serta pengambilan gambar kebanyakan di lift. Intinya, Shyamalan can do better than this one. Tapi lagi-lagi (sebagai penggemar), nggak apa2 deh..
Cocok Ditonton:
Kamu yang emang ngefans sama M Night Shyamalan, kamu yang mau kencan tapi pilihan film lain gak ada yang lebih ciamik, dan kamu yang gak fobia tempat sempit atau lift. Karena kalo pernah kejebak di lift kayak saya, yang bikin horor bukan filmnya tapi mengingat-ingat perasaan waktu terjebak dulu. Mending terjebak di hati kamyu.. Unyuu..
Misteri Penciptaan
December 10, 2010 by titiw
Filed under Titiw Inside
Semua orang bisa mengarang dari nol. Tidak ada ide. Misteri penciptaan akan datang di saat kita menulis. ~ Hamsad Rangkuti
No thinking – that comes later. You must write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is… to write, not to think! ~ William Forrester in Finding Forrester
If there’s a book you really want to read, but it hasn’t been written yet, then you must write it. ~ Toni Morrison
Kebahagiaan paling utama seorang penulis adalah dia yang menjadi orang pertama yang membaca tulisannya sendiri. ~ Rahmayanti Akmar
Write your first draft with your heart. Re-write with your head. ~ Another quote from Finding Forrester
Keep a diary and one day it’ll keep you. ~ Mae West
Kopdar Bareng Grandis & Roid
December 7, 2010 by titiw
Filed under Titiw Inside
Coba deh. Dari judulnya aja udah males gak sih..? Sekarang mari ditilik satu-satu nama -nama aneh itu. Yang 1 Grandis, kayak nama pesinden yang dulunya tenar, tapi pas udah tua dan semuanya udah peyot, dia cuma ditanggep sama sopir2 truk di Karawang yang gak kuat nyewa cabo. Yang 1 Roid, kayak nama mamang-mamang yang sama orangtua di kampung disuruh jadi petani tembako, trus berontak untuk ke ibukota, eh di Jakarta cuma jadi mamang-mamang yang ngangon monyet di lampu merah, pasan gmuka mangap dengan pasif.
Yah, di balik keburukan itu, mereka adalah teman-teman yang saya kenal pertama kali di dunia maya, yang disambung rasa di salah 1 mall paling hip di Jekardah, Senayan City. Pertama kali disambangi bocah-bocah yang profesinya adalah PNS tersebut, kalimat yang keluar dari bibir mereka adalah: “Titiw..? Buset, bagusan aslinya ya..”. Et dah. Malah di blognya Grandis, saya dikirain punya bodi keker karena demen olahraga dan traveling. Bah.
Selain ketemu dengan Grandis & Roid, ketemu juga sama PNS lain bernama Banu yang manis dan malu-malu ala pembantu baru yang baru aja dateng dari Jombang. Ah, rasanya pengen tante cemek2 saat itu juga, untung tante lagi di bawah pengaruh obat sehingga kesadaran tetap terkontrol. *shiiiit.. keceplosan* Eng.. Eh, maksudnya si Banu itu lucu, pengen tante uwel2 pipi bakpaunya itu..
Klaar makan-makan dan ketawa tiwi di futkor, foto2 deh kita sebelum pulang. Ets, saya sempet dikasih G String buatan sendiri sama Grandis yang jauh-jauh dari Jayapura lho. SENANK! Kapan-kapan kita lala lili bareng lagi ya kakak!
Soundtrack Galau
Pernah gak sih kalian tuh lagi ngerasa biru..? Atau kalo bahasa anak sekarang.. GALAU? Eyaa.. Santai.. Jangan langsung pada angkat tangan dan curhat gitu dong kamyu.. Menurut saya, galau itu gak harus dihilangkan. Kadang dengan menyelam di dalamnya malah menimbulkan sebuah sensasi tersendiri. Lagipula, untuk menahan suatu perasaan itu kadang-kadang capek banget.
Gak usah ditahan-tahan, lebih baik perasaan tersebut diaduk-aduk sekalian, sehingga gumpalan gula-gula galau tersebut larut dan bikin teh kehidupan kita lebih manis. Berikut lagu yang secara subjektif saya kategorikan sebagai lagu galau saya pribadi. Enjoy your Galau moment!
Ini lagu paling juara untuk menemani kegalauan saya. Tiap mendengarkan lagu ini, saya selalu teringat dengan guru bahasa Inggris saya bernama Miss Nina. Kami pernah diberinya tugas untuk mencatat semua semua semua yang kita alami dan rasakan di dalam sebuah buku yang dinamakan “diary”. Saya sebagai bencong curhat di diary, kerap menulis kesedihan inilah itulah, tanpa mengacuhkan bagaimana imej saya di depan guru ini.
Sampai suatu saat, Miss Nina menuliskan lirik Everybody Hurts sambil berkata: “Dear Titi.. You know.. Everybody hurts sometimes..” Dan saya merasa konyol telah misuh2 akan hal2 kecil, padahal di luar sana masih banyak orang2 yang lebih tidak beruntung dan lebih terluka daripada saya. Well.. Everybody hurts sometimes.. So hold on..
![]()
Lagu tanpa vokal ini masuk juga dalam lagu galau saya selain jadi lagu yang selalu saya dengarkan berkali-kali di dalam playlist HP. Keheningan yang diciptakan benar-benar bikin saya merasa sendiri, tapi tanpa merasakan kesepian. Salah satu masterpiece dari petikan senar gitar Tohpati yang bening dan menenangkan.
3. David Crosby & Phil Collins – Hero
I chose this one as my galau song simply because its melody. My favorite line: “The villain goes to jail, and the hero goes free. I wish it were that simple for me”
4. Sadao Watanabe – If I’m Still Around Tomorrow
Ah.. Sadao Watanabe.. Pekikan saxofon beliau di awal lagu ini sudah menyayat. Perhatikan juga liriknya yang super sedih. Lagu yang dinyanyikan oleh Roberta Flack ini pertama kali saya dengarkan di dalam mobil berbau solar, dari radio yang volumenya dibikin pol oleh pacar saya kala itu. Dan saya pun jatuh dan mencinta dengan lagu ini.
Lagu ini sedih, namun bukan sedih2 percintaan. Intinya seorang anak yang beranjak dewasa lalu meninggalkan orangtuanya. Sampai pada satu titik, sang anak pulang dan menemukan orangtuanya sakit. Namun orangtuanya tidak mau membuat hal itu bikin susah sang anak. Orangtuanya hanya berkata “I love you too much to make you stay.. Baby fly away”. *nangis kejer*
6. Alanis Morisette – That I Would Be Good
Di suatu pagi di perjalanan saya menuju bandara, lagu ini terdengar dari playlist HP dan saya memutuskan untuk memotong sebagian liriknya untuk dikirimkan kepada teman saya yang berulang tahun dengan sedikit modifikasi. Saya ingat kalau saya mengirimkan “Would you still be good if you lost your hair and your youth? Happy B’day..” Dan..
Saya tiba2 terasa ditonjok.. Dengan segala kesempurnaan yang dapat diberikan Tuhan sekarang.. Saya selalu merasa menjadi orang yang bahagia dan berusaha menjadi orang yang menyenangkan untuk sekitar saya tanpa melakukan effort yang berlebihan. Namun.. Apakah saya akan tetap menjadi orang yang “baik” ketika berat badan saya bertambah drastis? Apakah saya masih akan menjadi orang yang “menyenangkan” ketika saya kehilangan kemudaan dan rambut2 mulai beruban..? Lagu ini cocok banget jadi sontrek galau yang membuat saya menjadi cukup kontemplatif.
7. Silverchair – After All These Years
Sekitar 5 tahun yang lalu, entah apa yang membuat saya mengumandangkan lagu ini berulang dan berulang dari komputer kamar kosan. Saya yang waktu itu sedang bekerja di sebuah Event Organizer merasa.. Biru.. Dengan kerjaan, dengan kuliah, dengan percintaan.. Dan saya.. Yang sangat jarang mengeluh.. Dengan perasaan kalah.. Mengaku bahwa saya lelah dengan semua yang terjadi selama bertahun-tahun ini..
8. Lee Ritenour feat. Phil Perry – Malibu
Masa SMA saya cukup menyenangkan, dengan teman-teman dan kehidupan yang juga menggembirakan. Namun di suatu pagi, ketika saya mau berangkat ke sekolah.. Lagu ini terdengar di sebuah radio yang waktu itu segmennya hanya untuk business man, yang sekarang berganti jadi radio sejuta umat. Saya terpaku. Saya terduduk. Saya terlambat ke sekolah hanya karena mendengar lagu ini di kamar dengan penjiwaan yang penuh.
9. Alan Parsons Project – Old & Wise
Alan Parsons Project.. Lagu2 dari mereka ini selalu saja ada dalam tiap tapak kehidupan saya. Namun lagu yang cukup membuat galau tanpa pengalaman apapun di belakangnya ya memang lagu ini. Sesuai dengan judulnya.. Semoga saja saya beranjak tua dengan pundi-pundi bijak yang dapat saya kantongi. Amin.
Saya pernah tersakiti. Dan umumnya orang tersakiti, pasti mencari cara-cara agar bisa bangkit kembali. Entah dengan cara melupakan orang yang menyakiti, dengan cara menulis, dengan cara menggambar, dan semuanya. Sampai satu saat, orang yang menyakiti saya itu dengan gampangnya meminta maaf melalui media jaringan pertemanan.
Saya yang kala itu sedang bekerja di tengah malam merasa tercekat. Bagaikan tahu tuannya sedang galau, playlist di laptop saya mengeluarkan lagu ini. Saya merinding denger awalnya. Kayak lagu gospel, dengan lirik yang “membangun”. Dan saya pun hanya tersenyum melihat pesan singkat itu tanpa membalasnya sedikitpun. “Just look in my hopes. Look at my dreams building bridges from these scenes. Now, I’m ready to rise again.”
11. Stevie Wonder – Never Dreamed You’d Leave In Summer
Sudah nonton film kartun UP? Bagus banget ya.. Carl yang ditinggalkan Ellie di usia senja merasa sangat kehilangan dan lagu ini cocok sekali menjadi soundtracknya. Sayangnya, ini bukan ost aslinya. Adalah seorang teman saya bernama Dimas yang membuat “Non Original Soundtrack of UP” di blognya. Dan ketika saya mendengar lagu2 yang dia buat, saya merasa lagu ini paling cocok di adegan yang sudah saya sebut di awal.
Masih jaman SMA, lagu ini cocok sekali menemani perjalanan pulang saya ke rumah yang harus berjalan kaki sekian jauh menuju ojek, ataupun benar2 jalan sampai rumah. Dengan efek angin semilir dan daun2 gugur, Chrisye memang jempolan membuat kegalauan saya makin dalam.
Sudah beberapa lama saya memiliki lagu ini, namun baru2 saja saya menyetelnya berulang-ulang. Entah kenapa, dalam kegalauan saya akhir2 ini, lagu yang dibawakan Hotma ini sangat pas menjadi musik latarnya. Dalam tautan ini, ada beberapa lagu Hotma Roni yang lain, pilih yang “Ke Sana” ya.
Acara festival jazz malam itu memang membawa kenangan yang menggebu. Baju garis-garis biru yang saya pakai seakan meleleh ketika dari panggung itu mengalun lagu ini dan pasangan saya waktu itu memeluk saya dari belakang. . Birunya baju itu meleleh hingga ke jiwa. Semua menjadi biru..
15. The Carpenters – Rainy Days and Mondays
Hati-hati jika mendengar lagu ini di hari Senin yang hujan. Bisa-bisa kamu mengalami galau akut. The Carpenters dengan segala lagunya selalu membuat saya menghirup udara melankolis yang menyenangkan. Dan lagu ini dibawakan dengan sempurna oleh Karen Carpenter untuk menemani kegalauan-kegalauan itu.
PS: Gambar diambil tanpa ijin dr google. Tiap lagu saya beri link unduh agar kalian dapat merasa galau yang saya rasakan. Sadees. Terima kasih dan selamat mendengarkan dan selamat menggalau.







Sampai suatu saat, Miss Nina menuliskan lirik Everybody Hurts sambil berkata: “Dear Titi.. You know.. Everybody hurts sometimes..” Dan saya merasa konyol telah misuh2 akan hal2 kecil, padahal di luar sana masih banyak orang2 yang lebih tidak beruntung dan lebih terluka daripada saya. Well.. Everybody hurts sometimes.. So hold on..
Saya tiba2 terasa ditonjok.. Dengan segala kesempurnaan yang dapat diberikan Tuhan sekarang.. Saya selalu merasa menjadi orang yang bahagia dan berusaha menjadi orang yang menyenangkan untuk sekitar saya tanpa melakukan effort yang berlebihan. Namun.. Apakah saya akan tetap menjadi orang yang “baik” ketika berat badan saya bertambah drastis? Apakah saya masih akan menjadi orang yang “menyenangkan” ketika saya kehilangan kemudaan dan rambut2 mulai beruban..? Lagu ini cocok banget jadi sontrek galau yang membuat saya 
Hati-hati jika mendengar lagu ini di hari Senin yang hujan. Bisa-bisa kamu mengalami galau akut. The Carpenters dengan segala lagunya selalu membuat saya menghirup udara melankolis yang menyenangkan. Dan lagu ini dibawakan dengan sempurna oleh Karen Carpenter untuk menemani kegalauan-kegalauan itu.