Hard Disk Clock
This Do It Yourself Hard Disk Clock really suits your style if you’re in to Computer Technology. Made from Hard Disk drive of course. It was Maxtor 8 GB HDD and I salvaged it from my attic where I keep all of my garbage, computer garbage especially. So, I guess this clock won’t make it into industry and big manufacturer and that makes this clock really special. Not everyone owns it.
Happy 3rd Anniversary My Lovely Blog!
June 16, 2010 by titiw
Filed under Titiw Inside
Setelah 495 postingan..
Setelah 8655 komentar..
Setelah 1095 hari..
Setelah berganti-ganti themes..
Setelah utak atik categories..
Setelah ubah-ubah page..
AKHIRNYA, Blog ini merayakan hari jadinya yang ke 3! Ihiy! Ibarat kata bocah, umur 3 tahun lagi lutu-lutunya.. Lagi pengen-pengennya mengetahui sesuatu yang baru.. Ah, jadi inget tulisan pertama di sini adalah review film “3 Hari Untuk Selamanya”. Untuk tahu rekam jejak yang lain langsung aja buka ARSIP TITIW.COM
Sekedar share, blog ini dibuat saya berdua oleh seorang karib bernama Mas Anggit. Tentu ia yang membuat segala rupa jeroan blog ini sedangkan saya tinggal nyampah, hehe.. Sempet dilirik agency khilaf yang naro iklan di sini. Gak gede bayarannya, tapi lumayan untuk bayar hosting. Pekerjaan saya sekarang pun didapat karena orang-orang tahu saya menulis blog.
Blog ini bisa dibilang sebuah kitab besar yang merefleksikan siapa dan bagaimana saya. Dokumentasi suci yang menggambarkan “film” kehidupan saya dan menyuarakan “soundtrack” kehidupan saya pula. Secara tidak langsung, saya berterima kasih untuk blog ini yang kerap menjadi tempat untuk mengaktualisasikan diri. Jadi, kata apa yang paling tepat untuk berterima kasih? Tentunya: Terima kasih. Selamat hari jadi!
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.
(Pramoedya Ananta Toer – Anak Semua Bangsa)
Luna Maya Berbulu Tangkis? She Rocks!
Ariel memecahkan kamera wartawan. Cut Tary yang katanya dipecat dari Insert menemui wartawan memberi laporan dengan suaminya kalau dia bukan si gadis dalam video itu. Luna Maya ke mana? Katanya sih pergi ke luar negeri. Tapi tunggu dulu, siapa itu yang datang ke sebuah lapangan bulu tangkis buatan di Grand Indonesia hari Sabtu kemarin?
Saudara-saudara, Luna Maya datang ke lapangan itu dengan gagah berani untuk main bulu tangkis bersama para atlet dan penonton! Tidak hanya 1 pertandingan, dia memainkan 2 pertandingan! Pertandingan pertama, dengan berpasangan dengan idola saya Ricky Subagja, mereka melawan orang Jepang yang ecek2 banget mainnya. Luna juga terlihat tidak bisa main, tapi dia total. Mau mengejar bola ke sana dan ke sini, meskpiun kakinya kelihatan sedikit sakit.
Di pertandingan ke-2, dengan berpasangan dengan atlet Vita Marissa, ia melawan Terry Puteri yg berpasangan dengan Greysia Polii. Entah faktor apa, tapi ia dan pasangannya memenangi dua pertandingan itu. Setelah partai yang ia mainkan selesai, SEMUA wartawan di sana mengejar dia. Mengejar dengan cara berlari, berteriak, dan mendorong. Fyuh.
Katanya ia sudah terlanjur dikontrak perusahaan rokok yang menjadi sponsor sehingga tidak bisa absen dalam acara ini. Katanya ia sok tegar supaya dianggap sebagai pihak yang tidak bersalah. Katanya.. Katanya.. Katanya.. Apapun konspirasi teori di belakang itu semua, saya dengan sepenuh hati mengangkat topi dan berani berkata salut tanpa tedeng aling-aling buat Luna. Salam olahraga!
PS: Cerita lengkap acara ini dr sudut pandang lain bisa dilihat di SINI
Review E-Book Nasional.Is.Me Pandji

E-book Nasional.is.me
Pandji, sang rapper slash MC slash penyiar radio slash macem-macem telah meluncurkan bukunya yang berjudul Nasional.Is.Me bulan lalu. Uniknya, buku ini tidak dijual, berbentuk soft copy (ebook), dan dapat diunduh dari websitenya, pandji.com. Membaca ebook si penggiat Indonesia Unite ini, saya merasa membaca diary, membaca blog pribadi seseorang, dengan bahasa sehari-hari yang mengalir.
Copenhagen, Lil Heaven for Bikers
As a bicycle rider, I’d love to live in Copenhagen, for this place is a truly heaven for bicycle riders. I want to make a swoosh sound in the air wearing my chiffon gown, and I want to ride my bike with a bold statement using my leather boots.. God please please please make my dreams come true. I’m begging you with all my heart. At least if I can’t make a living there, can you consider a month for me to stay in this capital city of Denmark? No? Ok, a week. It’s a deal! Love you God.
All these fab pictures are taken from: HERE
Perkenalkan: MICEL
June 7, 2010 by titiw
Filed under Pictures, Titiw Inside
Sepertinya saya belum memperkenalkan gumpalan hitam sedikit abu-abu dengan campuran putih yan bisa bergerak ini ya. Kenalkan, ini Micel, kucing usia 5 bulan yang diberikan secara gratis oleh tetangga yang jualan kucing beberapa waktu lalu. Kenapa bernama Micel? Pertamanya mau dikasih nama Obama karena dia hitam. Tapi setelah dicek, ia berjenis kelamin cewek sehingga nama itu berubah menjadi Michelle. Tapi masa namanya sama dengan ibu negara dan terdengar terlalu londo..? Maka itu panggil dia Micel tanpa H. Dengan em, dan i dan ce dan e dan el yang tebal. MICEL. Welcome to our family dear..
Road Trip 1: Jakarta – Pekalongan
Eh, kelian-kelian ini tau ndak bulan April lalu saya abis road trip sama temen2 tim Earth Hour dari WWF..? Nyeh?! Bulan April?! Basi banget lo kayak kue subuh yg dijual di Senen, tapi baru dimakan besoknya!! Ya, gemana dong kawan, saya kan juga punya kehidupan dan kerjaan.. Gak kayak situ yang masih jadi benalu orang tua & kerjanya hanya kirim2 lamaran kerja terus tanpa ada hasil.. *dilempar swallow dari 5 penjuru mata angin*.
Intinya, saya bersama 11 orang lain yang telah berjuang bersama menyukseskan Earth Hour 27 Maret lalu Road Trip Jawa Bali untuk menyambangi daerah-daerah yang telah mensupport Earth Hour. Jadi perjalanan kali ini gak untuk seneng2 aja (meskipun menyenangkan sangaat!), tapi juga sedikit “bekerja”. Kenapa saya yang notabene hanyalah volunter ecek2 WWF bisa diajak..? Mungkin karena saya yang megang akun twitternya Earth Hour Indonesia (@EHindonesia) dengan sukarela dan segenap hati, sehingga mereka khilaf untuk ngajak saya. Tambahan lagi, saya hanyalah pekerja paruh waktu yang tidak harus ngantor tiap hari. Jadilah saya mengiyakan ajakan 10 hari lepas dari kandang tersebut.
DAY 1 -Jumat, 2 April 2010-
Jumat sore ini, kita udah kongkow dah tuh di depan kantor Panda di kuningan bareng semuanya. Semuanya means: Kakak Verena, Kakak Putry, Kakak Priska, Kakak Rera, Kakak Doyok, Kakak Rere, Kakak Totox, Kakak Gunawan, Kakak Galih Aristo, Kakak Ayu, Kakak Galih Aji, dan yang terakhir, Kakak Liza. Meskipun kita beda-beda umur, kita semua tetep manggil kakak. Entahlah kenapa, mari kita tanya.. Galileo.. *bujug.. Ketauan banget angkatan sayah..*
Setelah poto2 keberangkatan dan nangis-nangisan, kita naik bus Royal samting gitu dengan kapasitas 25 orang, padahal yang ikut hari 1 ini: 13 orang! Jadilah kita penumpang durhaka dengan slonjor sana sini ini itu dan seenak jidat. Berangkat jam 8 pake kedinginan yang meraja di bus sambil nonton 3 idiots dan Waterboys, kami nyampe di Pekalongan kira2 pukul 1.30 pagi hari berikutnya dengan disambut teh anget yang rasanya enak nian. Saking enaknya jadi nggak inget rumah. Pengen terus didekap dengan kehangatan teh itu. Halah.
Day 2 -Sabtu, 3 April 2010-
Setelah tidur yang dirasa sangat kurang, saya jalan2 pagi tanpa makna sekitar penginapan yang dipenuhi oleh pedagang batik yang nyamperin kita. Abis itu berangkuts deh menuju kawinan kakak Dian yang berbahagia di gedung klasik bernama Kopindo. Yang saya inget banget sih, es jeruk di kawinan ini JUARA banget, saya kenyang karena nenggak, bukan karena ngunyah. Selamat berbahagia kakak Dian & kakak Prima! Sekarang waktunya kita menuju: SEMARANG!
~ To Be Continued ~
Money for Dummies
Kita semua tahu bahwa uang adalah alat tukar yang sah dan dapat digunakan untuk membeli berbagai keperluan dari yang konsumtif (berbelanja) hingga yang produktif (investasi). Tapi sebetulnya bagaimana sih asal muasal orang menggunakan uang kertas yang kalau dilihat nilai intrinsiknya (nilai produksinya) tidak ada harganya sama sekali?
Saya sih tidak akan menceritakan sejarah uang, sejarah cuma bikin ngantuk. Buat yang mau tahu, mungkin bisa Googling. Pasti ketemu. Saya cuma ingin memberikan sedikit pengetahuan tentang konsep uang kertas.
Nah, saya mau berdongeng dulu…
Zaman dahulu kala manusia melakukan barter alias pertukaran barang dan / atau jasa untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup. Hidup di zaman ini sangat sederhana. Amir adalah pengrajin kursi yang membutuhkan beras untuk memberi makan dirinya dan keluarganya. Karena Amir bukan petani beras, maka Amir pergi ke Badu yang petani beras untuk memperoleh beras. Amir cukup menukarkan kursi buatannya dengan beras yang dia butuhkan dari Badu. Ya, kebetulan saat itu Badu yang baru saja membangun rumah membutuhkan sedikit furniture untuk ruang tamunya.
Lain lagi dengan Ucok yang keahliannya memperbaiki dan membuat gerobak. Pak Ali yang gerobaknya rusak membutuhkan jasa Ucok dan membayar Ucok dengan ikan-ikan hasil tangkapannya. Gerobak diperbaiki dan Ucok bisa makan ikan. Di zaman ini mereka semua saling membantu dan tidak pernah ragu untuk menolong. Mereka juga tidak memikirkan apakah nilai barang A lebih kecil dari barang B, dan sebaliknya. Mereka hanya memikirkan fungsi barang itu. Selama kebutuhan terpenuhi, mereka santai-santai saja.
Beberapa tahun kemudian..
Logam mulia (emas, perak, dan perunggu) ditemukan. Karena bentuknya yang indah dan berkilau dan lebih berat daripada logam biasa, dengan cepat logam mulia digunakan sebagai alat tukar di zaman ini. Yang memiliki emas, perak atau perunggu boleh menukarkannya dengan sekarung beras misalnya. Yang tidak memiliki logam mulia masih tetap melakukan barter. Di zaman ini perlahan-lahan barang dan jasa mulai dinilai (di-benchmark) dengan logam mulia. Tapi jangan kuatir, barter masih tetap bisa dilakukan bagi mereka yang tidak menambang logam mulia.
Perekonomian di zaman ini sangat maju. Mereka selalu bergotong royong mengerjakan berbagai fasilitas. Ketika salah satu dari mereka membutuhkan pinjaman, ada saja yang dengan senang hati memberikan pinjaman. Mereka pasti mengembalikan dengan jumlah yang sama dan pasti akan berbuat hal yang sama jika ada yang membutuhkan.
Lama kelamaan….
Logam mulia menjadi lebih mudah dicari dan akhirnya banyak beredar, perdagangan antar wilayah pun bisa dimungkinkan dengan adanya logam mulia yang diakui dimana saja. Namun ternyata, membawa logam mulia kemana-mana ternyata sangat merepotkan. Tentu saja merepotkan karena lebih berat dari logam biasa.
Akhirnya timbul ide untuk menitipkan logam-logam mulia yang berat itu di balai desa. Mereka percaya Pak Kades yang kharismatik dan bijaksana itu pasti mau menyimpan logam-logam mulia itu. Tentu saja warga-warga yang baik hati itu tidak begitu saja menitipkan di rumah Pak Kades. Mereka bersedia membayar jasa penyimpanan karena telah merepotkan Pak Kades. Sejumlah kecil logam mulia masing-masing penyimpan langsung dipotong untuk keperluan Pak Kades membangun semacam lumbung penyimpanan logam mulia.
Untuk mempermudah administrasi Pak Kades memiliki cara yang jitu. Ketika seorang warga bernama Aji menyimpan misalnya emas sebanyak 100 keping, maka Pak Kades membuat sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa warga tersebut menyimpan emas sebanyak 100 keping. Surat pernyataan tersebut dibuat dengan sangat rapi dan diberi tanda resmi dari Pak Kades. Pak Kades juga membuatnya sebanyak 2 salinan. Yang asli diberikan ke sang pemilik dan salinannya disimpan di lumbung sebagai bukti kepemilikan emas. Pak Kades memberi nama surat itu dengan nama “Sertifikat”.
Suatu hari Aji ingin membeli seekor kerbau untuk keperluan membajak ladangnya. Kebetulan kerbau itu pas sekali harganya sejumlah 100 keping emas. Akhirnya, alih-alih Aji menukarkan sertifikat miliknya ke lumbung di rumah Pak Kades, ditukarkannya sertifikat itu dengan kerbau yang diinginkannya. Aji mengatakan kepada sang penjual untuk menukarkan sertifikan itu dengan emas senilai 100 keping di tempat Pak Kades.
Akhirnya… uang kertas pertama telah lahir di desa itu.
Selanjutnya: Kredit dan bunga pembawa bencana.














