15 Things You May Not Know About The Simpsons

March 31, 2010 by titiw  
Filed under Entertainment

watch king of california film

PS: Pictures taken from someone’s FB album. He.. :)

Java Jazz Saga – Day 3

March 30, 2010 by titiw  
Filed under Musics

Akhirnya! Pagelaran Jazz paling akbar di Indonesia (bahkan di dunia kalau menilik MURI) selesai 7 Maret 2010. Dilihat dari sisi pengunjung, kuantitasnya tidak sebanyak hari ke-dua, dan lalu lintasnya tidak sekacau hari pertama. Pertunjukan pertama yang saya tonton adalah gitaris kawakan Indonesia, Oele Pattiselano yang membawakan lagu-lagu Stevie Wonder featuring Dira J Sugandi. Iya, mbak ini lagi, yang suaranya udah abis di hari ke-tiga. Lagu2 Stevie Wonder yang harusnya dibawakan dengan nada tinggi, ia bawakan dengan nada rendah. IMHO, suara Dira ini bagus, tapi kurang “khas”. Eh tapi ini menurut saya lho ya.. ;)

Ole Pattiselano "Tribute to Stevie Wonder"

Spotted, Dira Sugandi "Sexy Back". Uhuk.

Lalu kaki saya yang setia membawa saya menuju hall dimana Elfa’s Singer manggung. Luar biasa memang grup ini. Sebagai “Manhattan Transfernya Indonesia”, mereka sangat kompak dan mungkin lebih pantes jadi special show dibanding “John Legend” yang ternyata nggak terlalu “Legend” itu. Lanjut ke Griffith Frank. Cowok ini sempat berkolaborasi dengan mbak2 yang bawa Sax dan pianis Jeff Lorber. Ada yang familiar sama Griffith Frank? Intinya ada salah satu lagunya dia berjudul “Unusual Way” yang merupakan ost film musikal “Nine”. Ada salah seorang penonton bilang gini ketika menyaksikan Griffith Frank beraksi “Nah.. Gini dong lagunya yang gak terlalu Jazz.. Lebih Enak”. Krik.

The Legend, Elfa's Singer

Elfa's Singer, The Legend

Griffith Frank si "nggak terlalu Jazz"

Manhattan Transfer merupakan pertunjukan yang saya tonton setelahnya. Ya ya, saya tau kemarin udah nonton mereka, but I just can’t get enough of them! Malang melintang di dunia permusikan selama 40 th, membuat skill mereka SEMPURNA di dunia musik. Ndak lupa saya akhirnya foto2 sendiri juga di hari terkahir ini setelah dua hari sebelumnya terlalu saibuk untuk foto2 sendiri. HA. Sempet foto2 selain artisnya juga, misalnya jalan2 ke booth atau ke paviliun Indonesia Kreatif.

Manhattan Transfer dengan Ron King Big Band

VOTE KOMODO!

it’s kind of a funny story film image

Musik tradisional dengan Sasando Elektrik

Oh ya, Babyface yang jadi special show malam itu kan di jadwal manggung pukul 20:15 , namun dari pukul 18:30, orang2 udah pada antri!! Gokil! *ngelirik @Unee*. Dan antrian itu makin diperparah karena RI 2 alias Wapres kita mau nonton, sehingga penonton discan satu persatu. APAKAH masih kurang ketika kemarin RI 1 menonton Dianne Warren??! *garuk2 aspal*. Fyuh. Anyway, Babyface sangat dan sangat komunikatif kepada audience. Ia bercerita bagaimana cinta pertamanya dan menceritakan pula bagaimana ia bisa berteman dengan Michael Jackson, dan sebagainya. Bahkan ia menyanyikan salah 1 lagu Michael “Gone To Soon” sebagai tanda penghormatan. Daan saya gak punya foto Babyface yg bagus, semua bergojaaang!

Kagak dapet poto Bebifes, gueh foto juga ni Paspampres

Gak poto ama Bebifes juga, saya sama Unee jadi Hulk!

Untuk pertunjukan terakhir, band asal Indonesia yang telah malang melintang di luar negeri ialah Gugun Blues Shelter. Dengan 3 personelnya yaitu Gugun, Bowie dan Jono, mereka terlihat sekali menguasai panggung, dan menjadi favorit kebanyakan penonton pria. Sekedar share, mereka mentas akhir Maret ini di Singapura yaitu dalam acara Timbre Rock & Roots 2010. Mereka satu-satunya musisi Indonesia di antara sekian banyak musisi level dunia dalam event itu. Okaaaay, sekian laporan pandangan mata saya di Java Jazz hari terakhir. Semoga tahun depan acaranya lebih sakses dan lebih lancar jaya. Cheerio!

Jono "Gugun Blues Shelter"

YAY! Foto sama mbak Endah "EndahNRhesa"!

Bersepeda di Jakarta Dengan Tetap Gaya

March 28, 2010 by titiw  
Filed under Front, Green Act

Jakarta kota polusi memang tidak bisa dipungkiri. Asap di sana serta asap di sini jamak dijumpai. Bagaimana jika dari diri kita sendiri mengurangi asap dan polusi itu? Caranya adalah dengan berkendara dengan sepeda. Jadi coba deh umpetin dulu kunci mobil kamu jauh-jauh, karena ini saatnya kita BER-SE-PE-DA! Iya, Bersepeda!

“Tapi, kalo naik sepeda pasti kan keringetan, terus jadi kumel, pokoknya culunnya pol! Gemana mau tetap hidup hijau namun juga tetep gaya?“. Tenang anak-anak, di sini saya akan memberikan tips-tips untuk kamu yang ingin naik sepeda, namun ingin tetap bergaya dan merona.

  1. Siapkan kebugaran. Apakah hari itu kamu fit..? Jika tidak, lupakan bersepeda nak. Dengan tangan dan kaki loyo, mata sembab, kamu tidak akan terlihat cantik di atas sepeda lipat nan manis itu.
  2. Apakah sepeda kamu sudah siap untuk mengarungi kejamnya ibukota? Ban tidak kempes, rem berfungsi, helm sudah dipakai, dan segalanya sempurna? Tariiik!
  3. Untuk outfit bersepeda, paling pas jika atasannya kamu memakai baju berbahan kaos lengan panjang supaya tangan terlindungi dari terik matahari. Untuk bawahannya pake bicycle pants ataupun celana pendek/panjang dengan bahan yang tidak kaku, agar kaki-kaki itu bisa mengayuh dengan leluasa.
  4. Sunblock is a must, darling! Meskipun hari sedang mendung, sinar UV itu tetap bisa merasuk dan menggerogoti kulit dan kemudaan kamu.
  5. Pakai sepatu running dengan kaos kaki, atau sendal gunung yang terikat kencang. Kalo ada sarung tangan, boleh juga dikenakan. Biar kinclong, cari sarung tangan yang warna warni biar hari-hari kamu terlihat makin berwarna.
  6. Kacamata cengdem alias sun glasses juga benda wajib. Selain melindungi mata dari teriknya matahari, doi juga berguna untuk melindungi mata dari debu jalanan. Ngomong-ngomong debu jalanan, masker juga ok dipakai untuk kamu yang gak mau ngemil debu. Disarankan pake masker yang bisa dicuci ulang, jangan yang sekali pake, apalagi masker bengkoang.
  7. Untuk naro barang2 kamu, bawa aja tas pinggang yang gak ribet ataupun tas ransel berbentuk serut yang ringan. Pas sepedahan, gak disarankan bawa benda-benda ribet macem kipas angin, boneka kesayangan, ataupun bed cover. Cukup bawa handphone, handuk kecil, minuman, uang secukupnya, jas hujan dan kamera poket untuk tetap eksis dimanapun kamu berada.
  8. Jika kamu memutuskan untuk menggowes sambil mendengarkan musik, pastikan kalo volumenya gak ngalahin volume panggung dangdut di kampung sebelah. Hal ini supaya kamu tetap mendengar klakson2 dari belakang ataupun suara-suara misteri yang lain.
  9. Selalu berada di lajur kiri dan tetap perhatikan rambu-rambu lalu lintas.

 

Bergayalah meskipun di depan kali

Yak, itu semua tips dan trik dari saya untuk hidup sehat dan hijau dengan bersepeda di ibukota. Dengan persiapan yang matang dan fisik yang okeh, siapa sangka perjalanan kamu yang dimulai dari komplek rumah, tiba2 dari kejauhan kamu melihat plang “Selamat datang di kota Bogor”. Yo wes, selamat menggowes! ;)

Citra Earth Hour di Mata Jakarta

March 21, 2010 by titiw  
Filed under Events, Green Act

Hampir semua orang membicarakan Earth Hour di berbagai media. Berbagai portal online, radio, blog, hingga layanan twitter yang notabene layanan update status agar tetap eksis. Saya tidak akan membicarakan Earth Hour yang akan diadakan selama satu jam hari Sabtu 27 Maret 2010 pukul 20:30 – 21:30 dan ini itunya karena semuanya sudah dibahas lengkap di website resminya, yaitu di Earth Hour Indonesia

the social network torrent

.

how to watch the hurt locker film

Dalam tulisan ini, yang ingin saya angkat adalah citra Earth Hour di mata dunia, khususnya di Indonesia, dan lebih khususnya lagi di Jakarta. Memang Earth Hour dipuja dan dipuji di sana dan di sini, karena dengan gerakan global ini, banyak hal yang bisa dihemat maupun diselamatkan oleh program mematikan lampu selama satu jam dalam 1 hari. Tapi apakah Anda tahu, bahwa banyak juga orang di luar sana yang memandang sini bahkan mencemooh gerakan ini dengan kasar?

Saya Pilih Bumi Selamat

Dalam level rendah, beberapa orang asyik bercanda bahwa untuk semenit saja mereka tidak dapat hidup tanpa listrik, bagaimana dalam satu jam? Dalam level menengah, ada orang yang gembar gembor dan berpendapat bahwa Earth Hour hanyalah sebuah gerakan ritual yang tidak ada artinya. Dan dalam level lebih tinggi lagi, saya menemukan orang yang mengeluarkan kata-kata kotor dan mencaci serta memaki Earth Hour dengan meminta orang-orang untuk tidak berpartisipasi dalam gerakan ini. Wah wah.. Betapa egoisnya manusia yang sejak lahir telah “dibesarkan” oleh alam?!

Earth Hour bisa dianalogikan dengan berpuasa. Dengan berpuasa, bumi akan sedikit “istirahat” untuk memberikan sesuatu yang lebih baik lagi bagi manusia. Apa artinya satu jam dibandingkan ribuan jam yang telah bumi berikan untuk kita manusia beraktivitas dan bernafas? Dalam pandangan saya, saya tetap lebih berterima kasih untuk bapak-bapak pejabat gendut yang cengangas cengenges dan ibu-ibu bersasak tinggi dengan batu akik segede gaban melingkar di jarinya yang menyumbangkan uangnya untuk membantu dunia dan sekitarnya ditambah berpuluh-puluh media yang menyorot mereka, dibandingkan orang yang hanya bisa menghina dan merasa suci tanpa melakukan apa-apa untuk dunia.

Ingat, bumi sangat cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan manusia, tapi tidak mencukupi untuk kerakusan manusia. Earth Hour. Jam Bumi. Satu jam untuk bumi. Dengan ini, saya menyatakan untuk berpartisipasi.

Java Jazz Saga – Day 2

March 16, 2010 by titiw  
Filed under Musics

Sori nih late post, tapi gpp lah, daripada blogger yang sama sekali nyuekin blognya, ya toch..? *ditimpuk dari seluruh penjuru mata angin*. Keriaan Java Jazz Festival tetep berlangsung di hari ke 2, Sabtu 6 Maret 2010. Setelah mempelajari seluk beluknya di hari pertama, akhirnya di hari ke-2 saya jadi lumayan khatam dengan perpetaan JiExpo yang sangking gedenya saya selalu muter-muter kayak tawaf. Laporan pandangan mata di hari ke-2 ini lebih pada laporan foto. Sayang, saya gak dapet foto bapak presiden kita yang nonton pas pertunjukan Dianne Warren. Enjoy the pictures!

Poster2 yang dijual di JJF

Menyambut Senja Merah

Alexandra Sherling dari Russia. 4 Huruf buat beliau: S.E.X.Y

Dira J Sugandi. The Rising Star. Tapi bajunya agak gengges terus ciin..

Simak Dialog

Ivan Lins dari Brazil

Duh mbak Toni Braxton.. Lemaknya pada mau kabur tuh..

Manhattan Transfer yang sudah berkarir 40 th! SALUT BGT!

watch full knight and day movie in hd

And last.. Foto bersama si Diva Malaysia.. Sheilaaaa.. Majiiiiid!!

Relationship Status Symbols

March 14, 2010 by titiw  
Filed under Blab

Picture Credit: 9gag

Java Jazz Saga – Day 1

March 10, 2010 by titiw  
Filed under Musics

Java Jazz hari pertama telah selesai Jumat 5 Maret kemarin. Walaupun pertunjukan baru dimulai pukul 18:00, Kemayoran sudah terlihat pada sejak sore. Acara yang diadakan tiap tahunnya itu kini mengambil tempat di JiExpo Kemayoran, setelah 5 tahun sebelumnya dilaksanakan di JCC Senayan. Kali ini, saya berkesempatan untuk datang tiga hari full karena ditugaskan untuk ngetweet salah satu produk perawatan pria dan juga sebagai pewarta dari curipandang.com .

Penampil malam itu yang mengambil perhatian paling banyak tentunya adalah Mr. John Legend. Mas asal Amerika yang sohor karena hitsnya Ordinary People ataupun PDA. Meskipun jadwal tampilnya agak mundur, hal itu tidak mengurangi antusias orang-orang yang menonton. Menurut saya pribadi, penampilan cowok yang dibilang mirip sama Tommy Soeharto ini memang lumayan, tapi tidak se “WAH” yang saya bayangkan. Apa mungkin karena terlalu banyak orang ya? Saya jadi cuma bisa melihat dia dari layar besar yang berada di samping panggung. Huhu..

Hon Leghend..

Melaney Ricardo si MC dan penyiar radio jadi sorotan malam itu karena dia sempat naik ke atas panggung, meluk John Legend dan terakhir John Legend memberinya bunga mawar! Terdengar suara “Huuuu!!” penonton yang membahana. Yah, keirian itu memang wajar sih. Diliat dari twitnya Melaney, dia bilang “Ok gotta answer all d Q bout how was it feel got a kiss by@johnlegend..lol! its damn temptin! He’s so HOT n I liked his smells..“. Hohoho..

Melaney Ricardo yang langsung dihujani teriakan "boo" oleh penonton

Sempet juga saya melihat penampilan Jeff Kashiwa si pemain Sax di lantai 6, dan pianis Bob James yang merupakan salah satu personil dari band jazz kenamaan, Fourplay. Namun yang sangat saya nikmati malam itu ialah penampilan dari seorang diva asal Malaysia, Sheila Majid. Sheila yang memakai kemeja putih dan bawahan hitam terlihat sederhana, namun tetap memukau. Malam itu ia membawakan hitsnya yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia, “Antara Anyer dan Jakarta” dan “Legenda”. Beberapa lagu tahun 80an dia bawakan dan membuat orang2 yang “berumur” terlihat terbawa perasaan nostalgia. Sempat juga dia berduet dengan Chandra membawakan lagu “Ingatlah diriku”.

buy the film ‘tamara drewe’

Jeff Kashiwa

Bob James

Sheila Majid duet

Sekian laporan pandangan mata untuk Java Jazz Festival hari pertama, semoga hari ini dan besok, kemacetan yang terjadi, antrian masuk nan lama, dan sinyal yang berantakan tidak terjadi lagi sehingga membuat timeline twitter penuh dengan umpatan orang-orang. Semoga.

Warna Warni Pantai Sawarna 2

March 5, 2010 by titiw  
Filed under Front, Traveling

Pantai Sawarna! Finally!

Setelah diceritakan bagaimana saya dan kawan-kawan nyampe Bayah dan Sawarna di Warna Warni Pantai Sawarna 1, kali ini saya akan menceritakan apa saja yang bisa dinikmati dan dilakukan di pantai Sawarna. Setelah lala lili di pantai Sawarna, kami berjalan ke arah Tanjung Layar sambil foto2. Sempet ngeliat kapal yang datang dari arah laut dengan ikan hasil tangkapannya. Suhu udara ya layaknya pantai ya, anget2 gemanaa gituh. Eh, apaan tuh? Ada gubuk yang ternyata warung, sodara! Bukan warung yang lengkap2 amat sih, tapi lumayan banget doi jual soda2 lucu untuk muasin dahaga yang meraba kerongkongan. Di sini, kami bener2 leyeh seleyeh leyehnya. Tiduran di bawah pohon, manjat pohon, dan tak lupa saya live tweet alias twitrip perjalanan #sawarna. Di sini, provider yang paling banyak dipake XL, tapi kalo kata tukang ojek, Telkomsel yang sinyalnya paling bagus. Terbukti, saya ngetwit dan ngecek email tanpa hambatan yang berarti. ;)

Warna warni Sawarna

Jam makan siang, ternyata si AA yang jaga warung bisa beliin ikan, nasi, dan lala lili lainnya. Jadilah kami makan ikan tongkol gede 2 biji ples nasi dan sambel kecap bawang cabe rawit yang dibakar sendiri. Semua itu harganya Rp 24.000, tapi kami tambahin karena dia yang bakar. Tongkol 2 biji yang gede tuh cukup banget lho untuk ber 5, bahkan bisa untuk ber 7 kalo makannya pada gak terlalu barbar kayak kita-kita. Kicauan burung, hembusan angin sepoy2, bikin kita semua sempet tertidur. Kalo mau melihat lebih teliti, banyak hal2 yang bisa difoto dengan oke, seperti misalnya saya yang moto2 beberapa hal dengan lensa makro pas-pasan dari kamera poket kesayangan, Canon PowerShot A480. Cuma saya sempet mau PENGSAN (literally), ketika lagi duduk2 santai ngetwitrip, eh ada sesuatu yang bernafas kencang di samping pipi saya. Ternyata itu anjing yg ngeluarin lidahnya!! HWAA!! Sekedar info, anjing adalah sesuatu yang saya takutin bener2 setelah Tuhan. Bahkan kadang saya ngerasa lebih takut anjing daripada Tuhan. Duh, maafkan aku ya Allah. Untung saya gak panik, cuma teriak dikit dan anjing itu pun akhirnya pergi ngeloyor sendiri. Tapi teriakan saya jadi bikin mas MG yang tidur jadi bangun, huhu.. Maafkeun aku ya mas..

I heart Macros

Pukul 15:00, langit mulai mendung dan kami memutuskan untuk jalan ke Tanjung Layar dengan ditemani sang AA penjaga warung. Si AA ini cerita kalo dia pernah bikin villa kecil-kecilan di sebelah warungnya dengan dimodalin bule Australia. Bahkan untung yang didapat dari situ dia sisihkan untuk perbaikan jalan, namun tanpa alasan jelas, pemerintah setempat membongkar villanya. Ia juga menambahkan kalo tanah di sekitar situ udah dimilii oleh orang asing, dengan harga beli sekitar Rp 32.000 – 35.000 saja. Dari warung itu ke Tanjung layar gak gitu jauh, hanya 10 menit jalan kaki, berpapasan dengan banyak kerbau2, dan beberapa di antaranya adalah kerbau albino yang kalo di Toraja katanya bisa dihargai hingga Rp 80 juta. Denger2 juga di deket situ ada kuburannya Jean Louis Van Gogh, keponakan dari pelukis tenar Van Gogh, yang ternyata dulu merupakan juragan perkebunan kelapa yang terdapat di sepanjang Pantai Sarwana.

Sampe Tanjung Layar, langsung foto2 doong! Sebenernya Tanjung Layar itu sendiri apa sih? Liat aja di foto, semacam tebing yang tidak jauh dari bibir pantai dengan ombak yang memecah di kanan kirinya. Dekat situ juga ada warung minum yang lebih lengkap, secara ada es kelapa dan rujak. Karena katanya di Tanjung Layar ini bagus untuk liat sunset, jadi kita jalan kaki dulu menyusuri pantai menuju Lagoon Pari atau Laguan Pari, begitu penduduk menyebutnya, untuk kemudian balik lagi ke sini. Setelah naik ke tangga 1000 dan setengah jam berjalan, Laguan Pari yang dimaksud oleh si AA (yang bernama Galang) masih jauh lagi. Jadi kita memutuskan untuk balik lagi. Nah baliknya ini kita lewat sawah, bukan lewat pantai lagi. BEWARE: Super ultra banyak banget nyamuk di sini! Nyamuk belang yang nempel dan kemampuan ngisep darahnya bikin merinding. Jadi jangan lupa oles2 anti nyamuk yang BUANYAK ke sekujur tubuh. Gak ngepek seh, tapi lumanyan daripada lumanyun.

Ijo royo royo

Sampe lagi di Tanjung Layar pukul 17:40, kirain sunset gak keluar, karena tadi cuaca mendung. Eh ternyata Sunsetnya keluar banget dengan indah! Momen itu tidak kami sia-siakan. Bersegeralah kami poto2 ngocol dengan percobaan2 lompat yang norak. Menjelang Magrib gitu, air di pantai Tanjung Layar jadi kenceng, sehingga niat semula untuk bermain air gak jadi. Pukul 18:30, mas MG nelpon ojek yang tadi pagi nganter kita untuk jemput. Sebenernya bisa aja sih naik ojek dari situ, tapi karena udah terlanjur janji kita make ojek tadi dengan tarif Rp 20.000 ke penginapan, tapi jemput kita dari Tanjung Layar, bukan dari Pantai Sawarna kayak tadi pagi. Setengah jam kami nunggu mereka dan rute pulang sama kayak tadi pagi. Di perjalanan, ojek saya bilang “Neng, kalo saya bilang angkat kakinya, angkat kaki ya neng”. Saya: “Emang kenapa A?” *mikir dia mau ngajak saya sirkus* Ojek: “Iya, soalnya suka banyak uler tanah di sini, suka matok”. Astagpirulohalajim. Mayan deg deg ser juga dengernyah. Alhamdulillah kita nyampe penginapan Pada Asih lagi dengan selamat pukul 19:30. Setelah mandi dan bebersih, pukul 21:00 kita makan soto ayam yang rasanya not bad, bahkan bisa dibilang enak di warteg 24 jam deket terminal Bayah. Abis makan martabak manis dan teh anget serta mengeretek punggung masing2 antara kita yang bikin histeris kita menuju alam mimpi.

Tanjung Layar - Sawarna

Day 3, Minggu 28 Februari 2010
Santai2 bangun, jam 8:30 siap2 untuk pulang ke Jakarta. Sempet foto2 penginapan dengan tim lengkap, dan ciao ke terminal Bayah. Kali ini, kita mencoba untuk naik Elf , yang surprisingly gak lama kita naik, eh langsung berangkat. Kita berangkat pukul 10:30, dengan bayaran Rp 30.000 padahal nanya ama penumpang lain, bayarnya Rp 25.000, mungkin kita terlihat sangat turis ya. Yang ngeseliiin, sepanjang perjalanan si kenek minta kita geser teruuus! Akhirnya saya kesel dan bilang “A, saya gak masalah sama sempit2an, tapi ini kan masalahnya keselamatan juga, apalagi banyak bayi di sini. Lagipula, saya bayarnya BEDA kan sama penumpang lain?” Si kenek tanpa berani natep mata saya bilang “Neng, ini tuh udah biasa di sini. Emang biasa penuh dan bayarannya juga biasa segitu”. Saya cuekin dan saya tetep gak mau geser. Gila apa? Bodi guah udah tipis masih disuruh geser?

Tampak depan penginapan Pada Asih, Elf yang dinaiki, dan tim lengkap kita ;)

Tuhan Maha Adil. 10 menit kemudian, BANNYA MELEDAK! Iya, bannya meledak, DUER gitu, sodara2! Untung lagi gak ngebut! Dalem hati ngeri juga, tapi sisi hati lain pengen tereak “SEE??! I’VE TOLD YOU BEFORE, ASSHOLE!” Si Lidia bilang “Makan tuh udah biasa!“. Nyahaha.. Ketika dia ngedongkrak untuk ganti ban itu, saya sempet turun untuk numpang pipis di rumah penduduk. Panas, tangis bayi, dan bau badan mamang2 di dalam ELEP membikin kumplit kesengsaraan saya. Tapi ternyata memadang awan kumulus yang bergumpal dan mendengarkan lagu sangat amat membantu meredam emosi jiwa. Finally sampai Rangkasbitung jam 14:00! Perjalanan 3,5 jam, lebih cepat setengah jam dari perjalanan menuju Bayah di hari pertama. Setelah makan siang nasi padang seharga Rp 11.000, kami memutuskan untuk pulang ke Jakarta naik bus AC seharga Rp 20.000 jurusan Kebon Jeruk – Cawang – Jatibening – Cikarang. Tak dinyana, perjalanan super lancar, dan kita nyampe Jakarta 3 jam saja. Mas MG turun di Kb Jeruk, dan sisanya turun di Cawang. Dari Cawang, saya dan DP tinggal naik metromini sampe rumah dan Lidia serta Epi menuju Kp. Melayu. Fyuuh, Nice trip with nice companion. Makasih ya guys.. Perjalanan yang menyenangkan untuk mengisi long weekend kita. Jadi, ke mana lagi perjalanan kita selanjutnya? ;)

Nah ini nih pasti yang kelian tunggu2. Biaya lala lili untuk ke Sawarna dari Jakarta.

Hari 1:

  • Kereta Tanah Abang – Merak (turun Rangkasbitung): Rp 4000
  • Lunch nasi Padang + minum: Rp 13.000
  • Angkot (stasiun Rangkasbitung – Terminal Mandala): Rp 3000
  • Bus Rudi (Terminal Mandala – Bayah): Rp 30.000
  • Dinner nasi timbel: Rp 10.000

Total: Rp 60.000

Hari 2:

  • Patungan Hotel: Rp 25.000 (Rp 125.000 dibagi 5)
  • Ojek ke Sawarna: Rp 25.000
  • Lunch: Rp 20.000 (udah sama minum soda, pocari, dll)
  • Guide: Rp 5.000 (Rp 25.000 dibagi 5) –> si Aa Galang pemilik warung itu
  • Ojek ke Bayah: Rp 20.000
  • Dinner soto ayam: Rp 10.000

Total: Rp 105.000

Hari 3:

  • Patungan Hotel: Rp 25.000 (Rp 125.000 dibagi 5)
  • ELF (Bayah – Rangkasbitung): Rp 30.000
  • Lunch nasi Padang + minum: Rp 15.000
  • Bus Rudi ke Jakarta: Rp 30.000

Total: Rp 100.000

TOTAL PENGELUARAN: Rp 265.000. Ini pengeluaran dasarnya, tapi kalo sama minum2 di jalan, beli roti di mini market, dan lala lili, pengeluaran saya jadi Rp 290.000. Liburan gak harus yang mahal2 kan..? ;) Happy traveling!