Pesta Blogger 2009, Ajang Kopdar Blogger Terbesar di Indonesia
Pesta Blogger menginjak usia ke-3 tahun. Di usia segini, jika diibaratkan seorang anak, maka giginya sudah pada tumbuh, sudah bisa mengunyah, dan sudah dapat sedikit mengucapkan kata-kata. Merangkak juga merupakan bagian dari tumbuh kembang Pesta Blogger, yang pada hari Sabtu, 24 Oktober diadakan di Gedung Smesco, Gatot Subroto dengan dihadiri 1378 orang (what a number, eh?!)

Ma Name Tag
Acara dimulai sejak pukul 9:00, namun saya baru sampai sekitar pukul 11:00. Di sana langsung bertemu dengan Jie, blogger spesialis kuliner asal Surabaya yang sudah menjadi teman dunia online saya sejak kira-kira 2 tahun yang lalu. Acara yang pertama saya lihat adalah Acara semacam ngobrol2 kecil antara mas Iman Brotoseno selaku chairman PB 2009 dan beberapa wakil dari komunitas blogger.

Para peserta PB 2009

Bersama Mas Jie yang bela2in terbang dari Surabaya
Setelah itu Ibu Prita, seseorang yang membuat geger dunia online karena dituntut oleh sebuah RS yang katanya internasional di Tangerang, hanya karena menyebarkan email pada temannya. Acara sedikit kurang fokus karena volume dari microphone tidak cukup besar untuk didengar orang segambreng yang ada di auditorium. Acara dilanjutkan dengan penyerahan hadiah sebesar 10 juta rupiah dari Nokia kepada “Coin a Chance” sebagai The Best Online Activism 2009.

Ibu Prita Berbicara

Penghargaan Untuk Coin a Chance
Abis itu ada hiburan nih, blogger dan rapper kondang kita, Pandji nyanyi kalo gak salah 3 lagu. Di tengah2 lagu, ada suara Tompi dan Pandji berteriak untuk memberi applaus terhadap Tompi. Daaan orang-orang di situ berbalik badan dan tepuk2 ceria. Nah, pas mereka balik badan nonton Pandji lagi, dengan kocaknya Pandji teriak “Kennna deh!’ DANG! Ternyata suara Tompi cuma rekaman, sodara!! Ahahaha.. Pandji juga mmengajak kita untuk mengangkat tangan di udara sebagai wujud solidaritas kita kepada sesama (dan masih ada ajaa orang yang nyuekin.. Fyuh.. those people..).

Pandji The Rapper

Put Your Hands In The Air, Yo!
Saatnya makan siang, ngantre dulu nih sama mas Jie, eh ketemu mas Tito, si tukang komik yang juga ngerangkep jadi dokter hewan. Makan sianglah kita bertiga di balik eskalator, hehe. Saya sempet minta pin buatan mas Tito, pin bergambar apa yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah itu, saya dan mas Jie ngevote di booth Acer supaya voting buat mas Jie tambah buanyag. Hoho.. Eh, saya belum mention ya kalo saya ikutan kontes Twitter 8 jamnya Acer..? Intinya, dari jam 6 pagi saya bangun dan kudu mantengin twitnya Acer, ngelakuin segala hal yang udah Acer suruh, dan semuanya sampe jam 2 siang.

Curi2 untuk naro pamflet, hihi

Bersama sang tukang gambar ngerangkep doter hewan
Abis makan siang, jalan2 ke beberapa booth dan ikutan games nutup mata sambil ngetik laptop di boothnya Speedy. Dan kalah. Mwahahah, maklum gak punya laptop, tapi lumanyan dapet kaos. Sempet juga foto sama Obama (kesannya Obama sekompleks). Di PB 2009, selain bertemu dengan 2 Mas-mas yang sudah tersebut tadi, saya juga bertemu dengan Senda, temen SMA yang sekarang juga blogger dan penulis buku, dengan Nonadita, si MC hari itu yang kerjasama dengan saya dalam memaintain websitenya XL untuk anak muda, ketemu juga dengan Ramaditya, blind blogger yang menjadi informan saya ketika membuat skripsi dulu. Oh ya, gak lupa ketemu si seleb blog dari Surabaya yang namanya Anangku itu, bukan Anangmu, hihi.

Kapan lagi bisa akrab sama doi
Mas Jie masuk ke kelas blog enterpreneur, saya masuk ke kelas break out session Creative Industry. Pembicaranya ada Mas Arief Budiman, Pandji (yang mana kebanyakan berbicara tentang hal-hal yang sudah saya baca dari blognya), Wahyu Aditya dari Hellomotion dan Widi Nugroho dari Telkom. Yak, sudah jam 2 siang, waktunya kuis Acer selesai. Daaan ternyata kontes lanjut ngelebihin dari jam 2, shoot! Ketika tugas terakhir harus foto depan gambar pesta blogger, saya pas. Harus twitpic soalnya dan HP busuk saya gak bisa melakukan hal itu. Saya kalah sebelum bertarung.

Break Out Session With Pandji

Break Out Session With Wahyu Aditya
Pas pengumuman pemenang segala lomba di akhir acara, saya duduk di dekat Nilla dan Ocha yang baru kenalan juga di ajang kopdar tersebut. Ya ya.. Nama saya tentu saja tidak tersebutkan sebagai pemenang netbook di lomba Acer tersebut. Apalagi kontes blog, karena nominasi pun tidak, hehe. Namun teman saya, mas Jie si blogger kuliner menag lho!! Saya teriak kenceng banget dan maju ke depan untuk foto2in doski.

With Nilla & Ocha

Congrats, Mas Jie!
Sekian cerita saya tentang PB 2009. Tapi tunggu dulu.. Sepulang dari sana, saya ke bengkel sepeda. Di jalan, sang pacar bilang gini ke saya yang rada gemanaa gitu sama kontesnya Acer “Ti, gak ada usaha yang sia2..” Di dalam pikiran saya sih yaa.. whateveeer. Pas di bengkel sepeda, iseng2 buka twitter dan ternyata nama saya ada di pemenang hiburan dari Acer bersama 5 orang lainnya! Dan keenam oran gini gak ada yang ngambil hadiahnya! Jadi penasaran apa ya hadiahnya.. Hehe.. Bener tuh kata pacar tadi.. “Tidak ada usaha yang sia-sia“. Meski saya gak ambil hadiahnya.. Tapi ngerasa bangga juga sama diri sendiri, hehe.. Weird.
As for Pesta Blogger 2009, ada beberapa masukan dari saya nih..
- Jangan pernah mengadakan kelas-kelas yang menarik secara bersamaan.
- Ruang kelas akan lebih minimal noisenya jika tidak digabung dalam satu ruangan yang hanya dipisahkan oleh tirai, bukan oleh tembok (yaa, mungkin saya orang ke 254 yang bilang hal itu)
- Wi-Fi nya tidak berjalan dengan baik, beberapa teman yang membawa laptop kesulitan untuk koneksi internet yang katanya ada.
- Jika ada hadiah hiburan, lebih baik diworo-woro di awal acara, agar orang-orang yang seharusnya dapet hadiah tetep dapet ambil hadiahnya *curhat*
Dan seperti pula dasarnya manusia, Pesta Blogger pun akan terus belajar hingga menjadi manusia seutuhnya. Hingga menjadi media temu para blogger seutuhnya. Sukses terus untuk PESTA BLOGGER!
U2 Concert – Live From the Rose Bowl
U2 on YouTube – Live from the Rose Bowl
One comment from You Tube:
One Frontman, One Guitar, One Bass and a Drummer mix with God Given Talent and Something to Express and no matter if Small Club or a Stadium same result = Great Rock Music.
Private Party with Maliq & D'Essentials
Jumat 23 Oktober 2009 kemarin, Fun & Relax Zone bersama Sosro Joy Green Tea, 97,5 Motion Radio dan Majalah Chic ngadain acara di Setiabudi One Kuningan. Acaranya lumayan seru, ada Foot Massage, Nail Art, dll yang katanya gratis. Namun sayang sejuta sayang, kudu beli segembol Joytea dulu sebelum gratisan itu semuah, hemph. Dan gong-nya adalah aksi dari Maliq & D’Essentials! Nontonnya outdoor, deket air mancur mini yang di plasanya itu loh.
Saya ke sananya sama Bang Fathul & Vina, tapi end up nonton bareng sama Vina, Nina, dan bosnya Nina, Bang Fathul dinner di dalem tuh sama pacar. Nonton Maliq kali ini berasa private party, dekeeet banget sampe jerawatnya si Angga keliatan, sampe merk kacamatanya Lale keliatan, dan sampe makeup tanpa celanya Indah (yang ternyata dilihat2 mirip Ardina Rasti) terlihat jelas. Here you go, beberapa foto yang saya rasa cukup layak ditaruh untuk bikin mupeng para fansnya Maliq & D’Essentials.

Angga in Action

Sponsor

Indah tuh maniiis ya..

Penonton yang pada apal-apal banget lagunya Maliq

Jawa & Ifa

Lale, Amar, Jawa

Angga nganuh bener di sini. Btw backing vocalnya rada sok iye. HA

Hola, Gals

Riang
PS: Pas klaar, ada cewek kecemplung di air mancur! DANG! Setengah mati nahan diri supaya gak ketawaaaaaa.. Btw ketauan gak saya duduk di mana dari angle yang itu-itu aja..? hehe..
Mengapa Saya Anti Berkata “Indo”
October 26, 2009 by titiw
Filed under Titiw Inside
“Ya ampun.. di sana mah harga nih makanan bisa nyampe 20 dolar! kok bisa ya di Indo cuma 3 dolar..”
Kurang familiar dengan kalimat2 ini? Ini adalah tipikal kalimat2 yang menyembur dari mulut anak2 Indonesia yang setahun dua tahun kuliah (biasanya bisnis) di Ostrali atau Amerika. “Di sana” dimaksudkan dengan negara tempat dimana dia kuliah dulu, dan “Indo” refers to Indonesia. Indonesia.. tanah air beta, dimana sekarang agama yang paling dihayati di negeri ini adalah fulus. Dimana orang2 yang dapat bertanggung jawab sangat langka untuk ditemukan. Menjawab saja sih bisa, namun untuk menanggung? tunggu dulu..
Dulu (kurang tau sekarang), pasti orang2 tak dikenalpun selalu tersenyum dan berkata “Mampir dek.. mampir neng.. Bade kamana?” dan semacamnya ditambah embel2 senyum manis di bibir yang sangking manisnya udah kayak gula ilegal. Kalo sekarang mah, ditegor dikit kita pasti udah setel wajah kendur sambil meringsek menjauh dari yang empunya suara. Belum lagi ditambah berita2 miring, kriminil dan mbalelo dari program2 tivi semacam buser, derap, tikam, yang membuat ketakutan orang2 Indonesia semangkin paripurna.
Mud saya selalu mengencang dan mengulur jika membicarakan hal2 tentang Indonesia. Banyak sekali agonia yang terjadi di dalam dan luar diri si Ibu pertiwi.
Ia selalu memperhatikan anak-anaknya yang terkadang gembira sehabis makan daging rendang dari nasi kotak 1000 harian si mbah di komplek sebelah..
Anak2nya yang terkadang sedih sampai mukanya bagaikan lembaran seribu yang sobek..
Anak2nya yang sedang terjepit hatinya sampai mukanya terlihat bagaikan pengungsi Vietnam yang nahan berak sampai 11 hari..
Namun apakah anak-anaknya memperhatikan rautnya yang lelah sangat..?
Lara dan lelah mukim di hatinya sampai air mata itu hablur dalam senja di batas sana..
Indonesia.. dimana orang2 menjadi sangat religius jika pesawat yang ditumpangi melewati ruang hampa udara..
Indonesia.. yang katanya 2 dari 3 orang cowok menyeleweng.. namun berarti ada juga 2 dari 3 orang perempuan yang menampung tindakan tersebut..
Indonesia.. dimana masing2 orang mempunyai trufkaart orang lain..
Indonesia.. dimana kebanyakan orang mengambil kesempatan orang lain selayaknya sambil menyelam minum air dan sekalian kencing..
Indonesia.. dimana para pemerkosa hanya didenda 5 juta rupiah, yang jelas2 uang itu sangat jauh dari biaya pembangunan lift monas seharga 540 juta. Padahal untuk harga diri yang terinjak, tersia, sampai masa depan kelam dan hancur, perlu lebih dari sekadar perbaikan, tapi juga restorasi nama baik..
Makanya saya males ngomong “Indo”, kesannya kayak pernah kuliah di luar negeri aja. Lagipula wajar saja kalo kepercayan kita kepada Indonesia setengah-setengah. Wong menyebut namanya saja cuma setengah. Tapi tunggu dulu.. Tentu tidak semuanya begitu.. jangan selalu under estimate dengan bangsa sendiri.. siapa yang membangun negara ini kalo bukan kita2 juga.. Sedikit kasih kepercayaan lah sama si Indonesia ini..
Namun.. tetap.. di balik kekecewaan yang ungu.. terdapat sebuah kerinduan yang biru..

Boulevard De Clichy
Ditulis kembali untuk Remy Sylado
-Depok, 2007-
The Age of Stupid: Hentikan Perubahan Iklim Atau Kita Semua Akan Benar-benar Menjadi Stupid
Pada hari Sabtu sore yang cerah, berangkatlah saya ke sebuah tempat yang bernama Tugu Proklamasi, yang beralamat di Jalan Proklamasi tentunya. Untuk apa saya jalan-jalan sore ke sana? Apakah saya merasa akrab sama Bung Karno? Atau mau kongkow aja sambil melihat-lihat patung para proklamator itu berdiri tegak di ruang hijau terbuka? Ternyata ada perhelatan yang cukup penting, yaitu pemutaran perdana Film dokumenter Age of Stupid di Indonesia yang digelar oleh Greenpeace, WWF & Oxfam. Sebuah film yang mengisahkan tentang bagaimana bumi ini sesudah benar-benar membutuhkan pertolongan. Bukan sekedar pertolongan, namun pertolongan yang segera dan mendesak. Film ini sendiri sudah diputar secara serentak di Inggris bulan Maret dan di New York tanggal 21 September yang lalu.

Suasana Tugu Proklamasi
Sebelum film diputar pada pukul 19:00, saya berjalan-jalan dulu melewati stand-stand yang ada. Banyak orang yang datang dengan mengendarai sepeda, saya juga pengin sih, tapi jauuh.. huhu.. Hijau merupakan warna yang mendominasi stand, namanya juga Green Bazaar. Ada stand WWF, Greenpeace, sepedaku.com, sekolah alam Cikeas, Majalah Greener, TransJakarta, Green Map, dan beberapa stand yang menjual baju bertuliskan quote-quote dari seseorang (yang tentu saja tenar seperti Gandhi, gak cukup kalo hanya quote dari Jaja Miharja seperti “eng ing eng”).

Stand WWF, Para pengendara sepeda, dan baju quote
Di stand WWF, diajarkan bagaimana membuat kantong belanja memakai kertas koran, di sepedaku.com saya membeli kaos yang dapat menemani saya berjalan2 dengan sepeda saya sendiri (ya iya, masa sepedanya Akbar Tanjung), Green Map yang memetakan tempat2 di Jakarta seperti taman terbuka, tempat pertunjukan seni, ataupun danau-danau yang ada. Sekolah alam Cikeas juga nice brosurnya.. Saya ambil, siapa tahu nanti anak saya mau dimasukin situ, hehe.

Tanaman gratis dari sekolah alam Cikeas
Dan ada satu komunitas yang berhubungan dengan hewan, yaitu Jakarta Animal Aid Network (JAAN) itu yang keren, mereka punya program perawatan terhadap burung elang di Pulau Kotok dan ada pula acara jalan bareng anjing peliharaan. Lutu yaa.. Sayang saya takut banget sama asu. Dan gak lupa saya tandatangan untuk menyetujui agar pasar burung ditutup. Kenapa? Karena banyak satwa liar yang dilindungi diperjualbelikan di sana.

Stand2 Hijau

Another Green Booth
Setelah duduk tenang dan denger talkshow antar entah siapa dan entah siapa serta Davina (si model yang duta WWF), acara mulai ramai. Yang bertanggung jawab atas keriaan tersebut adalah Jamaica Cafe, sebuah grup acapella yang memang bersahabat dengan lingkungan. Bayangkan saja, tidak perlu alat, tidak perlu listrik, tidak perlu checksound alat, dan tentunya hemat listrik dan segala-galanya. Beberapa kali saya liat penampilan mereka, tapi baru malam itu kayaknya mereka ngocol banget. BANGET. Denger lagu Bendera, Welcome to My Paradise, dan beberapa lagu mereka sendiri, pemutaran film pun dimulai.

Jamaica Cafe in Action & Selikui (Sepeda buatan anak UI yang akan dilelang)
Film Age of Stupid disutradarai oleh Franny Armstrong yang berkebangsaan Amerika. Di film ini, diceritakan tentang makin loyonya bumi menghadapi serangan konsumerisme dari manusia di dunia. Film dibuka dengan gambar seorang pria (Pete Poslethwaite) yang berada di atas menara pada tahun 2055, tahun krisis bumi di ambang kehancuran. Dari sana, ia meneliti beberapa literatur, film, dan banyak laporan yang ia kumpulkan dari mancanegara. Sebab2 datangnya jaman edan itu pun mulai terungkap, dan pria tua yang duduk sendiri di atas menara hanya bisa bertanya pada diri sendiri, mengapa Dari penelitian itulah ia menemukan penyebab-penyebab perubahan dramatis terhadap bumi. Ia pun bertanya-tanya, kenapa manusia tidak melakukan pencegahan ketika semuanya masih dimungkinkan. Angle-angle film dibuat secara variatif dan diceritakan dari sudut yang unik.
Ada cerita seorang pemandu para pendaki gunung yang berkata bahwa salju makin cair saja setiap harinya, ada anak-anak Iraq yang menjadi korban perang (yang tentunya MINYAK adalah alasan utama, bukan NUKLIR), seorang wanita muda yang ingin menjadi dokter di Nigeria, namun apa daya, Shell yang datang dan menghisap berjuta barel minyak di negaranya malah makin membikin negara itu semakin parah.
Pertanyaan yang muncul?
- – Mengapa hanya Amerika bersama Australia yang tidak menandatangani Potokol Kyoto untuk mengurangi emisi di negara masing-masing?
- - Mengapa tenaga surya yang ada di Gedung Putih dilepas..?
- - Mengapa sistem transportasi kereta di Amerika dihancurkan?
Hanya satu jawabnya. Karena Pemerintah bukan lagi hanya dikendalikan oleh perusahaan minyak. Perusahaan minyak itu sendiri yang sudah menjelma sebagai PEMERINTAH. Dengan adanya tenaga surya, perusahaan minyak akan berkurang keuntungannya. Dengan transportasi yang ramah lingkungan, perusahaan minyak juga dapat merugi. Gokil. Yang perlu dihilite, film dokumenter ini disertai oleh animasi yang ciamik. Tidak ada alasan bahwa anak-anak tidak dapat menontonnya. At least, mereka akan tertarik, dan film ini akan menjadi sarana diskusi yang baik bagi anak-anak dan orangtua.
Baru setengah film, kira-kira jam 20:00, hujan datang. Not only raining. It’s raining cats and dogs, people!! Thunders and lightnings were everywhere! gokil ya.. Climate change sucks! Baru aja liat teorinya di screen gede, alam seakan-akan memberikan kita contoh yang lebih nyata. Prakteknya. Kerusakan iklim. Dari pagi cerah, dan tiba-tiba hujan disertai angin kencang menghadang. Acaranya berhenti, orang-orang berteduh di tenda terbuat dari kain yang tentu saja tidak kuat menahan air. Well, what do you think guys…? Tik tok tik tok. Waktu tidak akan menunggu kita untuk berbuat sesuatu untuk ibu pertiwi. Sekarang saatnya. SEKARANG.

Tik tok tik tok waktu terus berjalan
PS:
- Diharapkan film ini menjadi bahan pertimbangan untuk pemerintah di seluruh dunia, khususnya di Indonesia mempercepat kesepakatan iklim yang akan dilahirkan dalam pertemuan UNFCC di Copenhagen Desember tahun ini.
- Guys, kalo ada yang tahu di mana bisa dapet DVDnya, kabar-kabari cek dan ricek ya kakak..
Menawar Arti Sebuah Persahabatan
October 21, 2009 by titiw
Filed under Titiw Inside
Di umur saya yang tidak dapat lagi dikatakan muda ini (Yaa.. Meski saya suka ngaku-ngaku masih ABG sama kapster di salon, atapun ngaku masih kuliah supaya dikasih diskon sama tukang ojek), saya mulai rancu apa arti persahabatan itu. Makin menanjak usia kita, makin kabur pendar-pendar keemasan di sekeliling kata “SAHABAT” yang bersinar terang di kala kita kecil dan dipakaikan bedak secara semena-mena oleh Mamah, ataupun di saat bangku SMA ketika diospek bareng-bareng sama teman-teman yang nantinya akan kita panggil “sahabat”. Arti sahabat tidak secemerlang dulu. Tidak sekinclong dulu. Dan tidak membuat rasa bahagia kita melonjak-lonjak lagi seperti dulu.
Dulu, di saat kita dengan sombongnya menantang dunia dengan sahabat-sahabat kita, tak ada harga yang tertempel di jidat para sahabat. Kita tidak ragu untuk bersahabat dengan siapapun, karena persahabatan memang tidak untuk dijual. Not For Sale. Namun sekarang? Sahabat kita mulai satu persatu meninggalkan kita. Untuk kuliah di luar negeri, pindah rumah, dan yang jamak untuk orang2 di umur saya, ditinggalkan untuk menikah. Kita merasa tertinggal hingga akhirnya pacaran dengan ABG kuliahan dan minta kawin ketika ia bahkan belum selesai kuliah. Sahabat kita mulai tidak membalas sms kita dengan alasan sibuk meeting dengan klien yang membicarakan prospek batu bara di Kalimantan. Ada apa dengan batu bara..? Dulu waktu pelajaran Geografi, dia orang paling sucks dalam batu-batuan, dan sekarang dengan sok mau bicara tentang batu bara..? Sahabat kita mulai tidak bisa kongkow2 lucu lagi di hari Sabtu karena suaminya melarangnya pulang malam. “Siapa yang nanti menjaga si adek Mam..? Papa kan udah capek kerja, masa masih Papa juga yang begadang ngebersihin popoknya“? Itu adalah kalimat-kalimat yang kita baca dengan tingkat kekepoan cukup tinggi ketika melirik isi sms seorang sahabat yang sedang terlihat panik ketika kita baru 5 menit ketemu dengannya di mall paling hip di Ibukota.
Kalimat-kalimat seperti “People change” dan “Dia berubah, aku ngerasa jalan kita udah beda“, dengan liar ngebut dengan cepat di lintasan otak kita. Sebenarnya.. Siapa yang berubah..? Sahabat kita..? Atau kita..? Atau sudut pandangnya yang sekarang sudah berbeda..? Dulu cekakak dan cekikik kita berkumandang di loteng sambil mendengar lagu “Bermimpi” dari Base Jam dengan lypsinc murahan yang disempurnakan dengan sisir sebagai mic yang tidak kalah murahannya. Dan yang paling murahan, memang gaya kita waktu itu. Kita sama2 bermimpi untuk meraih apa yang kita inginkan di hadapan bintang dan bulan di malam itu. Well, pada jamannya, langit di Jakarta masih banyak bintang lho, tapi bulannya tetep 1 kok.
Sahabat kita bermimpi jadi guru, kita bermimpi jadi atlet basket. Sahabat kita bermimpi untuk menjadi pemain seppatu roda terkenal, kita bermimpi untuk jadi dokter bedah plastik kalau-kalau si sahabat luka dan harus dioperasi. Di rumah lain pada masa yang sama, ada sahabat-sahabat yang berjanji untuk menanam semacam time capsule yang akan mereka buka 20 tahun kemudian, di saat umur mereka 30. Namun tampaknya, tidak ada lagi yang bersemangat untuk mengumpulkan serpih2 mimpi dari kapsul yang masih belum digali itu. “20 th lagi aku udah jadi Profesor”; “Pas kapsul ini dibuka, aku mau masih tetep temenan sama kalian berlima”; “20 th lagi, aku udah jadi pelukis terkenal yang bisa bikin karikatur presiden dan dipanggil sampe luar negeri untuk ngelukis“, hanyalah penggalan kata-kata bisu yang mungkin hanya dapat menghibur satwa dalam tanah. Seperti puisi gemerlap bagi belatung-belatung dan tikus tanah dalam ruang lingkup hidupnya yang gulita.
Kalau bisa menawar, saya ingin kalau sahabat itu dapat dibeli ataupun dijual. Agar hal-hal di dunia bisa menjadi lebih mudah. Membelinya dengan mahal agar kita tidak menyia-nyiakannya, ataupun menjualnya sajalah daripada ia hanya kita simpan di etalase bernama “kumpulan sahabat”, yang mana mereka sendiri mungkin tidak pernah mempertimpangkan sedikitpun untuk menjadikan kita sahabat. *menghela napas* Sampai sekarang, saya masih punya orang-orang yang saya pertimbangkan sebagai sahabat. Meskipun sekali dua kali mereka membatalkan janji temu karena ini dan karena itu. Hal itu menjadi biasa di umur segini dengan aktifitas yang segitu.
Terakhir, pesan saya terhadap anak jaman sekarang yang moncong tangannya masih berani untuk dikepalkan ke langit dan masih bisa nyolot dengan dunia: Hey nak, ingatlah baik2 hari ini. Hari dimana kalian menorehkan tulisan “Friendship Forever” di meja kayu dalam kelas komputer. Ingatlah detik ini dimana tulisan “TheGals” kalian jahit di sweater yang kalian beli kodian untuk dipakai bersamaan. Dan jangan pernah lupakan “nama kamu & nama sahabat kamu” yang ditulis dengan huruf besar2, keriting dan berdempet di agenda yang kalian tukar tiap jam istirahat. Karena, saat itulah.. Saat itulah dimana arti persahabatan adalah fixed price, harga mati yang tidak dapat ditawar. Ingat. Tawa. Canda. Sekolah. Kelompok. Best Friend. Forever. Selamanya.
Reuni SD @Bandung, Parijs Van Djava
Foto2 di bawah ini merupakan teman-teman SD saya seperti apa yang tertera di judul.
Jumat
21:00 : Dijemput Ewin sama Kinoy di rumah, di mobil langsung dihajar lagu-lagu yang ngetrend jaman kita SD macem Frente, sama Iwa K
21:40 : Nyampe rumah Anis, jemput dia dan menuju meeting point ke rest area
22:00 : Nyampe Rest Area, Kikih makan Aw dulu, nungguin DP yang dateng sama Vanny & Ferly.

Titik temu
22:45 : Berangkats, semua oknum kecuali DP di mobilnya Ewin. Di jalan masih dihajar sama lagu2 90′s, sekarang lagunya Blind Melon sama Oasis yang berputar di udara.
Sabtu
00:20 : Nyampe Bandung! Anis dijemput temennya karena mau bikin surprise ke cowoknya yang ultah, jadi misah sama kita. Shoot, pada gak tau jalan, padahal cuma mau nyari roti bakar. Eh roti bakar Madtari yang rame itu udah gak ada ya..? Jaman eike basket ke Bandung tahun kapan itu masih eksis. Yodah akhirnya makan mie goreng enak banget (namanya juga laper) di daerah Dago agak ke atas.
01:00 : Baru bener-bener nyampe rumah Kinoy di deket Hotel Novotel. Bebenah dan masih diiringi gosip oleh Ewin yang emang seneng ngobrol ama wece wece, ciiin.

Rumah Kikih
02:00 : Berusaha tidur
02:15 : Baru bener-bener tidur kayaknya
06:30 : Vanny udah bangun duluan dan udah mandi pake aer panas yang dia masak. Doi bangunin kita udah kayak Gerwani. Sukur kuku gue masih utuh semua.
08:00 : Vanny & Ferly keluar rumah nyari sarapan, dapetnya bubur (eh bubur masih dalam famili sarapan bukan..?)
08:30 : Baru saya bener-bener bangun, nyabu, ngeteh, dan bangunin cowok2.
10:30 : Semuanya udah wangi, bersih, kasep, dan ready to go.
10:40 : Anak-anak clueless mau ke mana. Kawah putih..? Kejauhan. Festival Braga..? Kayaknya enakan malem deh. Ke Gua Jepang & Belanda? Masih pagi, Belanda masih jauh.
10:50 : Akhirnya memutuskan untuk ke Lembang, entah ke mananya.
11:20 : Udah di jalan Lembang, jalanan rada macet, ujan rintik dan kuping disuguhi lagu2 Ace of Base dan Alanis Morisette.

Nyebrang dan akhirnyaa.. kita..
11:30 : Memutuskan untuk foto2 di kebun teh yang udah deket sama Tangkuban Perahu.

Ketauan amat turisnya.. pake shades semua

DP

Ciyeeh.. Om keyen ama Tante van van

I've got us in your eyes
12:15 : Klaar lala lili di kebun teh, ciao ke sebuah resto yang nampaknya ramai lancar. Ternyata itu adalah resto yang dilengkapi aktifitas outbond macem flying fox. Daann yak, flying fox perdana saya (harga: Rp 15,000 aja, makasih) diimplementasikan di sini. Rasanya kayak pertama kali makan pete. Pertamanya takut, tapi abis itu ngerasa “segini doang.. boleh deh nambah..”. Btw flying fox ini cewek2nya doang yang nyoba. Cowok2 cupu.

Place for lunch

Flying Fox!!!!
14:00 : Makannya ndak terlalu mahal, viewnya bagus, dan ngenyangiiiiin.. Foto-foto banyak di sini.

Dragon with no balls
15:30 : Perjalanan balik ke Bandung kota, macet dan ujan gerimis lagi. Tujuan awal ke Gua Jepang ditiadakan, jadi pengen kongkow yang bisa ngopi2. Ya di mana lagi selain di Selasar Soenaryo..?

Gak bosen2 ke Selasar Soenaryo
16:30 : Nyampe Selasar, baru mau liat2 Gallery, udah ditutup pas jam 5. Yodah kongkow aja sambil minum Hot Chocolate yang endang sambil bercengkrama. Aih mati. Gak lupa beli DVD untuk seorang kawan di tempat souvenirnya ples foto-foto ini itu. Tiap saya dateng ke sini kok adaaa aja karya2 baru di sini ya..? Nice..

Balancing

Teater terbuka

Foot Fetish
18:00 : Anis yang katanya abis mencret2 nyusul ke situ sama cowoknya.

Yang terlupakan
19:00 : Baru ciao dari Selasar Soenaryo, dan menuju ke Warung Lela. Pengen makan Sop Buntut tapi pricey juga, tapi males makan mie. Ah bodo ah makan sop buntut aja.

Warung Lela
20:00 : Rejeki mah gak ke mana, dinner kita dijajanin sama cowoknya Anis yang abis ultah. Hwehehe..
20:30 : Ke Jalan Braga yang katanya ada festival. Eh ternyata gak ada. DANG. Yodah jalan aja di sebuah Mol di Braga dan foto2 jalanan. Anak2 BT nungguin eike sama DP yang autis foto2 di situ.

Braga Street

Braga Malam Itu
21:00 : Ya udah, ciao lah kita di Paris Van Java. Gak jelas booo mau ngapain di situ. Mana rame banget bangetan. Ada acara apa ya..? Ada Fahrani si model di situ. Eh doi gak sekurus yang saya kira. Pahanya geda banget.

Depan toilet cewek

Suasana Paris Van Java
23:00 : Kongkow di sebuah Cafe, dan ketemu Ririe alias Achmad Fajri, temen SD kita juga yang ada di sana.
23:30 : Pulang ke rumah Kinoy setelah sebelumnya anter DP yang mau ketemuan temennya di Sixth Sense.

Di depan sebuah resto entah lupa di mana
Minggu
00:45 : Masih gosip kita ama si cowok-nggak-cowok, Ewin Prasetya.
02:00 : Taiduur!
05:00 : Alarm bunyi, smsin DP udah pulang belum. Kita emang mau pulang pagi karena saya ada kawinan temen, sedangkan DP juga mau pulang pagi karena mobilnya mau dipake.
06:15 : Pulang ke rumah bareng DP dan Ferly. Thanks for all guys!! Makasih juga buat mamangnya kinoy yang udah ngijinin kita2 nginep gratis di rumahnya.
07:30 : Nyampe rumaaah!!! Alhamdulillah.. Kapan2 lebih okeh kalo direncanain tujuan jalannya mau ke mana kali ya biar waktunya gak kebuang.. But anyway nice trip with ya, guys! Cup cup.
Laporan Pandangan Mata Hari Batik 2 Oktober 2009
October 17, 2009 by titiw
Filed under Titiw Inside
Tanggal 2 Oktober 2009 diakui Unesco sebagai Hari Batik Sedunia. Saya yang juga ingin ikut dalam event ini memotret orang2 di perkantoran Kuningan dan sekitarnya pada hari itu. Ada pegawai kantoran, orang-orang di restoran, ada orang2 yang sedang interview di sebuah majalah wanita, ada Mbak2 dan mas2 yang sekedar lewat, sampe ada anak sekolah yang emang kayaknya wajib pake seragam batik. Gak lupa, ada juga petugas Busway nan malu2 ketika saya foto, yang juga ikutan berbatik ria. Jangan cuma makenya doang, tapi juga dilestarikan dan dijaga ya.. Ada yang punya ide bagaimana menjaga atau melestarikan Batik Indonesia..? Share di sini doong..

Batik is All Around Me
Note: Di foto ini juga ada saya yang memakai Batik, ayo tebak yang mana..?





