Celengan Lebaran dari Pasar Gembrong
“Hwaaa!!! Azis pengin, Mak! Pengin banget celengan!”
“Zis.. yang sabar ya nak, kamu kan lagi puasa..”
“Ya udah, Azis berenti nangis, tapi Emak beliin celengan buat Azis!”
Aku yang sedang menyetrika baju kantor melirik cermin yang merefleksikan bayangan Emak dan Azis yang sedang meraung. Duh.. Masih pagi si Azis sudah merengek minta dibelikan celengan, padahal aku tahu kalau Emak yang sudah 9 tahun menjanda belum punya uang. Duit upah dari mencuci sehari-harinya belum keluar sudah dua bulan. Entahlah, Ibu Ratri yang dari baju suaminya sampai behanya dicucikan oleh emakku belum mau memberi Emak uang yang menjadi haknya. Padahal, sekarang sedang puasa, apa-apa semakin mahal dan mahal. Terkadang orang kaya memang tidak mau melihat ke bawah, merasakan apa yang orang miskin seperti diriku rasakan.
Aku pun bertanya pelan-pelan kepada Azis sambil menggoda..
“Zis.. Emang buat apa kamu beli celengan..? Kayak punya uang banyak aja..”
“Abang emang gak ngertiin Azis! Azis itu pengen punya celengan biar duitnya kekumpul pas Lebaran! Biar kita bisa punya ongkos nengok kuburan Bapak!”
Tek. Hatiku tersentak. Ya, kuburan Bapak. Sudah bertahun-tahun lamanya tanah itu kering, tanpa ada doa-doa yang dikirim langsung di atas pusaranya dari kami bertiga.
Bapak meninggalkan kami bertiga 9 tahun yang lalu. Di mana aku masih duduk di kelas 2 SMP, dan Azis adikku baru berumur 3 bulan. Jarak umurku dengan Azis memang jauh, dan itu membuatnya sangat manja kepada diriku. Aku pun tak tega jika tidak menuruti keinginannya. Bapak meninggalkan kami untuk selamanya karena gerobak rumput yang dibawanya tiap sore ke peternakan sapi tiba-tiba saja ditabrak dari belakang oleh pengendara mobil mabuk yang tak bertanggung jawab. Hari itu adalah hari yang paling suram dalam sejarah kehidupanku.
Ramadhan itu aku merengek rengek tanpa henti kepada Bapak untuk dibelikan sepeda. Aku malu karena hanya aku satu-satunya murid di SMP 3 Karawang yang tidak naik sepeda untuk ke Masjid. Maka daripada itu, Bapak bekerja lebih giat untuk menuruti permintaanku. Jika biasanya pukul 4 sore Bapak sudah di rumah, 9 tahun lalu di bulan Ramadhan juga, Bapak belum pulang hingga pukul 7 malam. Untuk mencari rumput. Jika rumput yang dibawa ke peternakan makin banyak, makin banyak pula rupiah yang bisa ia bawa pulang. Namun malang tak dapat ditolak, Bapak tertabrak dan tewas seketika di jalan tanpa ada kata-kata terakhir untukku, Emak dan Azis. Aku merasa paling bersalah atas kematian Bapak.
Ingatan masa laluku terhenti dengan makin kerasnya suara Azis menangis. Dengan bercanda aku berkata pada Azis,
“Eh, emangnya Azis inget sama Bapak..? Bapak kan udah nggak ada pas Azis belom bisa ngomong, belom bisa ngapa-ngapain!”
“Azis inget. Bapak orangnya brewokan. Suka ketawa-ketawa sampe gigi ompongnya di depan keliatan.”
Tek. Sentakan kedua terhadap hatiku yang kudapat hari ini. Sungguh tak bagus untuk jantung, bisa membikin lemah dan mati mendadak.
“Eh.. Kok Azis tahu..? Diceritain Emak yaa..?“
Jawabku sambil masih berusaha menebarkan pesona canda dalam kalimat.
“Enggak. Emang Azis inget, titik. Abang nggak percayaan banget sih! Makanya, Azis pengin celengan biar bisa punya ongkos untuk ke Karawang!“
Duh, padahal Karawang tidak begitu jauh dari Jakarta ini, tepatnya di Jatinegara tempat kami tinggal. Namun jika harus ke sana bertiga, belum lagi ongkos menginap jika menginap, dan jajan-jajan untuk Azis, upah pembersih kuburan, air mawar untuk menyegarkan pusara, dan lain dan sebagainya, setengah gajiku bisa ludes hanya untuk sehari. Padahal, gajiku itu juga masih harus dibagibagi untuk uang sekolah Azis dan cicilan TV di rumah.
“Zis.. Makanya yang sabar ya.. nanti abangmu pulang bawa celengan, biar kita semua bisa sama-sama nengok Bapak.”
Emak berkata-kata dengan mata yang berkaca-kaca. Kulihat kulit tangan Emak yang kisut, bagaikan buah apel yang sudah dikupas dan dibiarkan selama berhari-hari tanpa ada yang memakannya. Ah, kasihan Emak. Dadaku sesak, karena uang gaji yang baru saja kuterima sudah dipakai untuk membeli sedikit daging sapi untuk sahur. Kasihan Azis yang tidak pernah makan rendang. Gajiku sebagai office boy di sebuah Agency model di bilangan Senen memang sangat sangat tidak seberapa. Belum lagi untuk ongkos kereta dalam kota, angkutan yang kunaiki sehari-hari. Aku memegang tangan kurus Azis dan berkata,
“Zis.. Sekarang sudah 2 hari lagi sebelum Lebaran. Azis doakan abang dapet THR ya, supaya abang bisa beliin Azis celengan di pasar Gembrong.”
“Hah..? Pasar Gembrong bang..? Pasar yang jualan-jualan mainan itu..? Eastern Promises hd
Mata Azis yang tadinya sendu mulai menampakkan semangat.
“Iya Zis, di pasar Gembrong. Azis mau celengan yang kayak gimana sih emangnya..?”
“Yang kayak gimana aja bang, asal bisa cukup sama semua duit Azis!”
Aku dan Emak tertawa dengan kepolosan Azis.
“Ah kamu, Zis, emangnya uang kamu banyak..?” sahut Emak sambil tersenyum lebih lebar.
“Ya banyak Mak, kalo ditabung!”
Ah.. Azis.. ia belum terlalu mengerti konsep menabung, bahwa ia harus punya uang sedikit-sedikit dulu untuk ditabung, agar celengannya bisa penuh. Setelah pakaian yang sudah kusetrika kupakai dengan rapih, aku pun siap untuk berangkat ke kantor.
“Ya udah, abang berangkat dulu ya! Assalamualaikum!”
***
Di kantor, makin banyak saja pekerjaanku. Mendekati hari Lebaran, para model dari Agency banyak yang dipakai untuk acara-acara spesial Lebaran. Dari yang peran utama, hingga peran ecek-ecek yang hanya 3 menit tampil, itupun hanya terlihat punggungnya saja. Sehingga aku harus mencuci gelas dan piring berkali kali dan berulang-ulang. Tak ada atmosfer Ramadhan di kantor ini, semuanya makan, semuanya minum. Yah.. Memang aku tidak boleh berpendapat seperti itu juga sih. Kan tidak semua orang berpuasa. Sampai pukul 4 sore di hari terakhirku kerja ini, tak ada tanda-tanda THR akan dibagikan. Fyuh.. Memang sih, aku baru 6 bulan kerja di sini, bisa jadi THR hanya didapatkan orang yang berkerja lebih dari setahun. Besok mulai libur, dan 4 hari setelah Lebaran, baru aku memulai kerja kembali.
Duh.. Azis.. Maafkan abangmu ini ya.. Duit di kantong hanya cukup untuk ongkos kereta sekali lagi. Hanya untuk pulang. Dan tiba-tiba, Mbak Dini, seorang model senior yang memang terkenal baik itu melihatku.
“Loh, Rahman belum pulang..?”
Wah, aku ditegur, jarang-jarang ada orang yang menegurku, apalagi sampai tahu namaku. Dengan canggung aku menjawab pertanyaannya
“Eh.. Iya Mbak.. Masih nunggu..”
“Nunggu apa..? Orang-orang udah pada mau balik lho.. Ada acara buka bareng di RCTI malem ini. Semuanya ke sana. Kamu ikut..?”
“Eh.. nggak Mbak. Saya mau buka aja di rumah sama Adik dan Emak saya.”
“Oh, kamu punya adik..? Masih kecil..? Emang rumah kamu di mana..? Bener gak mau ikut aja..?”
“Enggak Mbak, makasih. Iya adik saya masih kelas 3 SD.. eng.. Rumah saya di Jatinegara.”
“Jatinegara..? Oh yang deket pasar Gembrong itu ya..? Saya suka tuh beli mainan di sana kalo ada acara-acara 17 Agustusan di rumah. Lebih murah soalnya.”
“Iya Mbak, nggak jauh dari sana.”
“Ya udah kalo kamu gak mau ikut, kita ketemu lagi setelah Lebaran ya.”, ucap Mbak Dini dengan senyum manisnya.
“Iya Mbak.. Sampe ketemu, maafin kalau ada salah-salah ya Mbak..”
Mbak Dini pun melangkah ke luar dan aku hanya disisakan bunyi kletak kletok dari sepatu tingginya itu. Akhirnya aku juga keluar kantor dengan lunglai. Apa yang harus aku katakan kepada Azis nanti..? Kasihan Azis punya abang yang tidak dapat diandalkan seperti diriku. Begitu aku membuka pintu keluar, hampir saja aku menabrak orang yang mau masuk.
“Mbak Dini..? Kok kembali lagi Mbak..?”
“Iya, aku lupa. Kamu bilang tadi kamu punya Adik..? Nih sedikit hadiah Lebaran untuk adik kamu ya.”
Tangan halus Mbak Dini menyorongkan uang berwarna merah kepadaku. Seratus ribu.
“Mbak.. Aduh.. jangan merepotkan Mbak..”
“Nggak papa, soalnya tadi kita ngomongin pasar gembrong, saya jadi inget kalo anak-anak kan pasti seneng kalo dibeliin mainan untuk hadiah Lebaran. Yuk, sampai ketemu lagi ya, Man!”
Alhamdulillah.. Dengan dungunya aku hanya bisa terpaku melihat selembar uang yang berada di tangan dan tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada Mbak Dini.
***
Pukul 4.15 sore, kupercepat langkahku menuju stasiun kereta. Jika aku buru-buru naik kereta ke Pasar Gembrong, aku sempat membeli celengan, dan sempat pula berbuka dengan Azis dan Emak. Namun sesampainya di stasiun.. Orang-orang tumpah ruah di dalamnya. Wah, iya ya hari terakhir orang-orang bekerja, pantas jika stasiun penuh sekali. AKu bertanya kepada bapak-bapak gendut di sbelahku
“Kereta ke arah Jatinegara sudah lewat Pak..?”
“Wah.. bukannya sudah lewat! Saya nunggu hampir sejam itu kereta malah nggak lewa-lewat! Katanya sih ada gangguan dari stasiun yang ada di Kota.”
Oh.. Begitu.. Wajar kalau orang-orang memadati stasiun kecil ini. Eh, apa itu dari kejauhan..? Wah.. Kereta! Tapi.. Penuhnya… Masya Allah.. Bagaimana ini..? AKu harus mengejar waktu agar dapat membeli celengan Azis. Takutnya besok pasar Gembrong sudah tutup karena penjualnya pada mudik.
Dengan nekat akhirnya aku pun meringsek masuk kereta begitu kereta sampai di depanku. Upaya yang sangat sia-sia ternyata. Tunggu dulu. Mataku menangkap adanya tempat kosong. Tepat di atas badan kereta. Naik.. Tidak.. Naik.. Tidak.. Bayangan Azis yang menangis, tangan kisut ibu, pusaran Bapak yang kering, Mbak Dini, uang seratus ribu, semuanya berkelebat dan memecah batas antara kesadaran dan imajinasiku. NAIK. Aku nekat untuk naik ke atas kereta dengan upaya yang lumayan keras. Memanjat jendela kereta, dan hup. Sampai di atas. Kereta mulai beranjak pergi, wah tidak ada orang yang berani untuk naik ternyata. Tumben. Aku tersenyum dan semilir angin seperti menyambut mulutku yang kerontang. Aku tetap tersenyum tanpa menyadari orang-orang di bawahku berteriak-teriak ke arahku. Aku melihat bapak gendut yang tadi di sebelahku berteriak-teriak hingga bibir gendutnya ikutan monyong. Wah.. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka ucap. Let..? Oret..? Apa sih..? Orlet..? Ah sudahlah, aku pun memalingkan muka dari mereka dengan segenggam harapan di benakku sendiri.
“Mas!! Turun mas!! Keretanya Korslet!!! Di atas korslet!! Turun mas!! Nanti gosong!! Turuuunnn!!!” “Ya Allah.. Kawat di atas itu korslet!! Orang itu tidak dengar!!” Orang-orang berteriak panik kepada Rahman. “Allahuakbar!!!”
Kereta berhenti. Badan hangus diturunkan dari atas kereta dengan seruan-seruan kecil di sekelilingnya.
“Aduh.. Kasihan, padahal masih muda..” “Periksa KTPnya.. Di mana alamatnya..”
Seorang mas-mas berseragam pemda inisiatif merogoh kantong celana korban.
“Kosong, tak ada tanda pengenal. Hanya selembar uang yang ikut hangus nih.” “Wah.. gimana dong..? Eh sudah mau buka puasa nih.. Pulang ah.. Nanti juga keluarganya nyari”.
Mereka pun berbondong-bondong meninggalkan seonggok mayat hangus di pinggir rel kereta api untuk menuju ke rumah masing-masing.
***
“Mak.. udah Adzan Subuh kok Bang Rahman belum pulang..? Katanya mau bawain Azis celengan dari Pasar Gembrong..?”, tanya Azis dengan sedikit tersengguk.
“Sabar ya nak.. Abangmu itu orang sibuk, pasti ia sibuk cari duit biar bisa beli celengan buat Azis. Azis sabar ya.. Kan udah gede.. Bapak juga pasti seneng liat Azis puasanya penuh sampai hari ini. Sekarang hari terakhir, sahur yang banyak ya.. Ya nak ya..? Sabar ya.. Sabar.. Sabar..”
Emak mengulang-ngulang jawabannya sambil nanar menatap TV kecil cicilan mereka yang mengumandangkan Adzan Subuh di hari puasa yang terakhir.
(c) Gambar celengan
Buka Puasa Bareng Veteran Pejuang Kemerdekaan RI
Guys! Inget kan kalo saya seneng ngetrip kesana dan kemari..? Nah, kebetulan di bulan puasa ini temen2 ngetrip saya itu punya ide untuk buka puasa bareng sama orang2 yang mungkin sudah terlupakan oleh sejarah, padahal mereka merupakan orang2 yang ikut mengukir sejarah Indonesia kita tercinta. Heh? Mau bukber ama siapa sih Tiw..?! Saya dan temen2 mau ngadain buka puasa bareng Veteran Pejuang Kemerdekaan RI! Silakan liat briefnya di bawah ini..
Mungkin kita tidak akan merasakan alam kemerdekaan jika para pejuang kemerdekaan tak memperjuangkannya. Tak ada pamrih saat itu kecuali cita-cita Indonesia Merdeka. Meski harta, jiwa dan raga menjadi tumbalnya. Namun perjuangan mereka tidaklah sia-sia. Kemerdekaan bisa di raih dan penjajah dapat di usir dari bumi Indonesia.
Dilandasi semangat kemerdekaan dan keinginan berbagi di bulan suci sebagai apresiasi atas apa yang sudah dilakukan para pejuang kemerdekaan, kami dari Komunitas Merah Putih akan menggelar acara Buka Puasa Bersama Veteran dari Legiun Veteran Republik Indonesia.
Acara yang akan berlangsung tanggal 5 September 2009 ini bertempat di Markas Daerah Legiun Veteran RI Jl Raden Inten II Duren Sawit Jakarta. Acara akan di isi dengan pemutaran film, story telling, buka puasa, pemberian donasi dan sholat Magrib berjamaah. Acara akan dimulai pukul 14.00

Soekarno dan Para Pejuang Kemerdekaan RI
Akan ada sekitar 50 veteran yang akan berbagi cerita seputar perjuangan merebut kemerdekaan, dan romantikanya. Karena seperti kata Pak Daslan, salah satu pengurus LVRI bahwa kemerdekaan yang kita peroleh bukan pemberian penjajah namun harus di raih dengan pengorbanan seluruh jiwa dan raga. Event ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan masyarakat muda.
Sudah sepantasnya sebagai generasi muda, kita memberikan perhatian kepada mereka dan dalam balutan semangat peringatan kemerekaan RI yang ke- 64 ini serta bertepatan dengan Ramadhan 1430 H kami mengetuk seluruh anak negeri untuk dapat berpartisipasi.
Total biaya untuk pemberian donasi dan buka puasa berkisar Rp. 15 juta dengan 10 juta akan di alokasikan sebagai donasi ke 50 veteran, Rp 3,5 juta untuk buka puasa dan Rp. 1,5 juta untuk bingkisan kenang-kenangan untuk LVRI. Semakin banyak donasi terkumpul, semakin banyak yang dapat kita berikan kepada para pahlawan bangsa.
Donasi bisa di salurkan melalui:
- - Rekening BCA no 3011485918 a.n. Ricka Ristianti
- - Rekening Mandiri no 157-000-108-4566 an. Adrian Nugraha Indra
Bagi anda yang mempunyai waktu, bisa ikutan acaranya tapi bagi anda yang berhalangan, cukup dengan mengirimkan donasi anda ke rekening tersebut di atas.
Konfirmasikan donasi dan keikutsertaan anda melalui:
Inal di 95113647
YM: inaljtn
Email: inaljtn@yahoo.com,
FB: inaljtn@yahoo.com
Untuk info lebih lanjut hubungi:
Enti : 0818186421
Ricka : 08174835284
Ryan : 021-93314241
Inal : 0817288960
Jadi, cek kalender kamu, ada apakah di hari Sabtu, tanggal 5 September. Kalo lowong, langsung aja ikutaan! Hem.. sepertinya sih tanggal 5 September ini saya bakal bawa kue juga..
So.. no need to give me any surprises like last year pals..
Gimana..? Tertarik untuk ikutan nyumbang? Langsung aja ya kakak.. Hubungi nomor2 di atas. Oh ya, invitasi event ini ada di FB, dan foto serta brief acara di atas diambil dari invitasi FBnya. Kindly open: Facebook Event Bukber Bareng Veterang Pejuang
Ayo berbagi di bulan suci!
Panic Mode On: Teh Kotak Ultra 500 ml!

@Class, captured by Nduty
JGTC 2007
@ The Office

Kereta Jakarta - Cirebon

Di pondokan lama

Abis Tanding Basket
On The Cycle
Well, dari foto2 di atas terlihat kalo saya memang pencinta teh, yg bahasa rada kasarnya sih adiktif. Daan.. Kemaren saya panik banget pas ngeliat beginian di salah satu supermarket.. Jeng jeng jeng jeng!!!

Teh Kotak Ultra 500 ml. Subhanallah.
TEH KOTAK ULTRA KEMASAN 500 ml!!! desainnya lucu, bisa dibuka tutup!! Akh.. Tuhan, kuatkan imanku di bulan puasa yang dihiasi oleh Teh Kotak 500 ml yang menggoda ini di toko2 kesayanganku.. *pingsan*
Festival Palang Pintu, Kemang
Palang Pintu dijadiin FESTIVAL??! Apaan sih?? Jelaskan dengan komprehensif dooong!!! Festival Palang Pintu yang diadakan tanggal 2 Agustus 2009 merupakan festival yang diadakan dalam rangka mensosialisasikan kultur betawi terhadap masyarakat. Pertamanya, saya pikir festival ini adalah festival Kemang seperti yang biasa diadakan setiap tahunnya. Karena, festival ini juga menutup akses jalan di Kemang dan sekitarnya, namun jalan yang ditutup tidak sepanjang yang biasanya seperti jika festival Kemang diadakan.

Panggung Utama. Jakarta berprestasi ya..

Et dah mpok, kan maen!
Saya datang ke festival tersebut dengan Vina dan Mbak Moi sekeluarga, langsung dari Garage Sale. Hehe, belom puas belanja belanji di Garage Sale, Festival ini dihajar juga. Variasi barang yang dijual rupa2 banget. Dari makanan, minuman, mainan, sampe binatang peliharaan. Ada pula makanan2 khas betawi kayak bir pletok, kerak telor, dan lain sebagainya. Meskipun begitu, kalo mau dibandingkan lagi sama festival Kemang, barang-barangnya kurang banyak, dan kurang “anak muda”.

Kuwa kuwa
Dalam festival ini juga ada panggung, menampilkan kesenian tradisional betawi, dan ada juga Bang Fauzi Bowo, yang gak sempet saya liat. Lagi asik2 sikat2 mata di situ, tiba2 aje nih ada mas2 yang wawancarain saya. Damn. Divideoin pula. Udah tahu eike kurang video genic. Katanya sih buat sebuah portal berita, di suatu website yang saya lupa namanya. Tenang aja mas, bukan saya doang yang situ dapatkan gambarnya. Situ juga saya foto. Cekrek!

Mas2 yg wawancarain saya
Di sana saya agak amazed dengan varian barang-barang yang dijual. dari barang super baru, baru dibikin di situ, sampe barang bekas. Eh saya ketemu sahabat saya yang namanya Ayu. Ayu ini akan buka bisnis jualan gendongan bayi, yang dia kasih merk “AUBREY”. Haha, saya tahu nih asal muasal nama ini, kalo kamu tahu ada band namanya Bread, carilah lagu Aubrey yang mereka bawakan. Ayo teh Ayu, kalo mau mempromosikan barangnya blog aku terbuka sekali lho, hehe..

Ayuning si pemilik Aubrey

Pengunjung interlokal. LHO?!
Hasil buruan di Festival Palang Pintu:

Celana mantai yg melorot mulu

Masker 10.000 dapet 3
Engkau liilin lilin wangiii

Kerudung Merah Kirmizi! FINALLY!
- – 2 celana pendek buat mantai @ Rp 10.000
- - Masker Rp 10.000 dapet 3 bijix2. Parohan deh sama Vina.
- - Lilin wangi Rp 5000 dari Kedaung. Saya beli for old times sake aja, dulu pertama kali beli lilin ginian di Kedaung juga soalnya.
- - Best buy: buku 2nd Remy Sylado dengan kondisi 85% baik “Kerudung Merah Kirmizi” seharga Rp 10.000! HUAAA!! Kenapa saya seneng banget, karena buku ini udah discontinued. Alias gak diterbitin lagi sama Gramedia, dan saya belum pernah punya. Entah kenapa, padahal buku ini dapet Khatulistiwa Award lho.
Sekian laporan pandangan mata saya dari Festival Palang Pintu, Kemang. Selamat menjalankan ibadah puasa dan tabik.
Dolphin Hunting @ Teluk Kiluan, Lampung: Part 2
Eh tante, ketemu lagi. Kemaren cerita di Teluk Kiluan Part 1 gak puas ah. Masa di sana cuman berenang-renang di pantai doang Tante? Apa bedanya sama trip-trip tante yg sebelumnya?
Eh kamyu lagi! Eish. Jangan salah. Berbasah2 itu hanya hari Sabtunya aja. Oh iya lupa, Sabtu sore itu juga kita hunting sunset di tepi pulau, dan ngeliat koloni bintang laut berwarna biru. Aww.. Lucu sangat, anak2! Belum lagi kayak tebing2 mini macem di Tanah Lot Bali yang makin mempermanis pemandangan tepi laut. Semanis kamu.

Blue Patrick
Ah.. Tante tuh bisa banget deh godain aku, udah itu doang selain main air, tante..?
Jangan seneng dulu. Daaan pada hari Minggu pagi, tante ke tengah laut dengan jukung yg penumpangnya gak boleh lebih dari 3 orang. Ngapain ke tengah laut..??! Hunting LUMBA-LUMBA!! HUAA!! Panik banget ngeliat puluhan lumba2 berenang2 di depan mata kepala sendiri. Sangking paniknya, tiap moto tangan tante tremor. Ih ternyata tante bisa salting juga ya, hihi. Oh iya sekedar share, satu jukung kan bertiga, kamu ambil tempat yang paling depan ya. Emang paling basssah sih, tapi paling ngeliat dolphins dan gak mabok ngisep asep dari mesin jukung.
Eh kalo tiap trip kan kadang2 ada OSTnya nih, nah OST tante tuh apa sih pas mau liat lumba2..?
Lagu2 islami men. Sumpah. Pas ke tengah laut itu tante takut banget, ombaknya gede, airnya item. Biasalah yg namanya manusia kan baru inget Tuhan kalo bayang2 kematian/sesuatu yg buruk udah nempel di depan matanya. Jadi Tante berdendang lagu2nya Opick dalem hati sama nyanyi lagu2nya Rayhan.
Mandinya gimana tante..? Terus kalo mau beol..?
Kamar mandi cuma 1! Terus itu bisa dikatakan kamar mandi jaman globalisasi. TERBUKA. Dan otot2 kamu harus dikaryakan untuk nimba dari sumur yaa. Sehingga lebih oke kalo kamu mandi bareng sama temen2 kamu. Kalo kata orang jerman, lebih epektip. Mau beol juga rada susye, jadi makannya jangan kayak babi ya biar bisa ditahan dikit itu fesesnya.

Nah lo liat dah tuh muke gw yang angot kebelet eek
Oh iya, berarti kamera baru diperkosa secara brutal dong tante?
Of course. Tante lebih banyak ambil foto2 Makro. Tapi sayang, tante lupa ngecharge batre, jadi minta batre sama temen, dan kudu nunggu malem untuk ngecharge, karena pasca jam 6 sore generator baru dinyalain, itu berarti baru ada listrik jam segitu. Jadi ingetlah untuk mencharge penuh2 batre HP dan kamera kamu.
Pulangnya kapan tante?
Hari Minggu siang tgl 09 Agustus 09. Kita berangkat kira2 jam 2 siang dari Pulau Kelapa. Sempet foto2 rumah penduduk setempat dan foto sama ikan tangkapan nelayan, lho! Oh iya, menurut kepercayaan di situ, lautnya kudu diruwat biar selamat.
Rute pulangnya tetep sama Tan..?
Rute yang sama, cuma aja kapal ferinya beda sama yang pas berangkat. Feri kepulangan ini sucks, dan klas bisnis ACnya malu2 untuk berhembus. Sehinga tante lebih memilih untuk tidur di ELF. Tapi di Feri ini ada orgen tunggal lho (gak penting abis). Tante nyampe rumah jam 03.30 pagi, hari Senin tgl 10 Agustus 09. Result: Bodi berantakan.
Terakhir nih tante, ada tips2 gak nih buat kita2 yang mau lala lili juga di Teluk Kiluan?
Oh tentunya ada dong, nih simak baik2:
- Kalo bisa, ke sana jangan musim ujan. Musim panas aja jalanannya gak kuku.
- Di pulau Kelapa ada satu anak kecil namanya Resti, kesian gak punya temen. Oke banget kalo kamu bawain cemilan atau buku untuk dia
- Bawa cemilan, indomie sendiri, karena harga di sini relatif mahal dan gak ada warung. Kecuali kalo mau naik perahu lagi
- Jangan mengharapkan sesuatu yang bersifat DINGIN. Ndak ada kulkas bo! Kecuali kalo kalian mau menatap ke dalam hati tante yang dingin bagai es karana lama tak tersentuh..
Segitu aja deh tante, kalo ada trip2 lain jangan lupa dishare sama kita2 ya!
Pastinya darlin’.. Sekedar share.. Kita kan care. Happy traveling!

See ya guys!! Eh, dugongs!
Nostalgia Burger Blenger
“Gemana kalo kita makan Burger Blenger aja?” Wah.. Ajakan makan Burger Blenger di hari Sabtu sore yang cerah tidak saya tampik, bahkan saya sambut dengan suka cita. Burger Blenger..? Tempat makan burger para ABG di Selatan Jakarta itu..? Ih.. Udah berapa lama ya saya gak ke sana..? Mungkin ada kali 4 tahun yang lalu, hihi. Saya dateng bersama pasangan gembul (baca: makan mulu) bernama Vina & Whery, disingkat bisa jadi VW. Pasangan ini nih yang memperkenalkan saya kepada makanan2 uenak di Jakarta dan sekitarnya. Seinget saya, yang namanya Burger Blenger yangn sekarang harganya Rp 12.000 untuk varian isi daging dan keju ini adalah pionir dari burger2 gendut dengan porsi mayones membuncah yang ada sekarang. Dan seingatan saya lagi, kalo makan di sini itu antre luar biasa. Itu bertahun-tahun yang lalu, kawan. Ketika saya makan di sini sekitar minggu2 lalu, MASIH ANTRE AJA DULU!!! Gokil ya, masih benderang aja nih hokinya Burger yang kalo dimakan satu, bisa gak makan lagi sampe besok sangking kenyangnya.

Masih ngantri sejak bertahun2 yang lalu

Gemeteran moto Burger ini. CK.
Eh tunggu dulu, lokasinya sih masih di Jalan Lamandau, tapi posisinya udah berubah toch..? Huaaa.. Lama banget saya gak G4UL kemari. Interiornya lucu, ada batu2 yang menjadi “tembok” dari resto ini, luas bangunan pun minimalis kalo nggak mau dibilang sempit. Bicara tentang rasa, seingat lidah 4 tahun lalu saya, Burger ini enak, tapi eneg. Tapi eh tapi, pas makan kemari ini kok gak enek ya..? Apa karena laper? Hehe.. Porsi mayonesnya pas, meskipun udah pasti muncrat muncrat di sela2 jari kapalanmu Sehingga produk bernama tisu menjadi signifikan berada di tiap meja. Dagingnya pun matang dengan kekenyalan yang cukup. Biasanya kan kalo daging2 giling buat burger rasanya rada kurang mateng tuh. Segitu aja ulasan saya tentang Burger Blenger yang berada di Jalan Lamandau, Jak-Sel. Patokannya mah deket SMA 70, deket tukang2 bunga Mahakam. Tanya ajalah sama orang2 setempat, mayoritas orang situ pada tahu kok. Kecuali kalo kamu nanya sama mamang2 yang baru dateng dari Brebes tadi malem. So, happy eating!

Interior Burger Blenger dengan batu2 sebagai "tembok"

Vina, Tiw, Whery di depan Burger Blenger. Ngantri ampe luar bo!
PS : Jangan lupa nyobain jus stroberinya yg seger!
17 Agustusan di Garut. MERDEKA!
Apa yang ada di kepala kamu ketika pertama kali mendengar nama “GARUT“? Dodol? Kabupaten di sebelah onohnya Bandung yang hawanya masih semriwing? Atau bahkan pemandian khas air panas yang ditawarkan. Jangan salah, Garut masih memiliki banyak lagi objek atau tujuan wisata yang mungkin kalian belum tahu. Sebelum saya menjelaskan perjalanan nekat saya ke Bandung kemarin ini, yuk kita mengenal Garut terlebih dahulu.
Garut terletak sekitar 64 km sebelah tenggara kota Bandung dan berjarak sekitar 250 km dari Jakarta. Perjalanan ke Garut dapat ditempuh selama kurang lebih 3,5-4 jam dari Jakarta jika tidak ada aral melintang. Garut bagian utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Sumedang, sedangkan bagian selatannya berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia dengan garis pantai memanjang sekitar 90 km. Bagian barat laut berbatasan dengan Bandung, bagian barat berbatasan dengan kabupaten Cianjur, dan sebelah timurnya berbatasan dengan kabupaten Tasikmalaya.

GARUT
Setelah mengenal sedikit letak geografi garut, bagaimana kalo kita tahu juga apa aja sih yang dihasilkan Garut selama ini? Garut merupakan penghasil sayur, buah, akar wangi, sutra alam, domba unggulan, serta makanan paling khas dari sini, yaitu dodol. Sebagai daerah agraris dengan sumber air panas yang melimpah, Garut terus berkembang menjadi daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi turis. Untuk menunjang hal tersebut, pemerintah telah mengagendakan “Festival Garut” yang dilaksanakan setiap bulan Maret, yang juga untuk memperingati hari jadi kota Garut.
Gambar Festival Garut
Sudah merasa akrab dengan Garut? Yuk mari saya mau cerita perjalanan sekelompok dugongs yang dengan nekatnya berangkat ke Garut pada hari Minggu, 16-08-09 tanpa persiapan matang. Bersama Mbak Nyanyu, Mbak Atiek, Ime, Erick, Mas Nug, dan si ucil Epi, kami berangkats jam 6 sore ke Garut, tanpa ada yang tahu jalan. Saya sendiri sebenernya rada gak enak ati karena di rumah ada acara 17 Agustusan, dan besoknya Ayahanda berulang tahun. Tapi setelah hadiah ultah doi saya cepetin sehari, Papa bolehin juga tuh anaknya melanglang lagi setelah minggu sebelumnya melacur di Teluk Kiluan, Lampung.
Jam 8 malam, kita sampai di Sumedang, ternyata ikuti saja Jalan Tol Padalarang yang ke arah Bandung. Tapi alih2 belok kiri, kita ambil kanan sampe mentok Tol Cileunyi. Setelah makan malam di resto Padang, kita lanjut merayapi malam menuju Garut, si kota tujuan. Jangan malu untuk bertanya kalo rada seret ilham untuk nyari jalan. Sekedar tips, tanyalah pada orang2 di Alfamart yang bertaburan sepanjang jalan. Nanti pasti dikasi tau jalan, tapi dengan embel2: “Oh, mau ke Cipanas? Dari sini, Alfamart pertama sebelah kiri langsung belok kanan. Jangan lupa belanja lagi di Alfamart itu ya.” Kenapa juga patokannya harus ALfamart..?!
Setelah survey 2 penginapan di Cipanas, kami memilih untuk menginap di penginapan “Banyu Artha” yang tarifnya Rp 160.000 semalam (nett). Di dalamnya ada 2 tempat tidur, kamar agak luas, 1 tv, dan kamar mandi yang dilengkapi mini jacuzzi berbentuk kotak di dalamnya. Harga segini udah lumayan, karena kita survey tempat2 lain sampe 400 ribuan semalam, dengan tempat gak jauh lebih bagus dari Banyu Artha. Eh tapi penginapan ini kalo peak season (after Lebaran/Natal) harganya jadi Rp 750.000 lho, ahaha.. Beneran, ada tulisannya. Setelah buking tempat, kami lanjut lagi jalan2 malam untuk ngemil2 lucu, dan memutuskan untuk nongkrong asik dan makan Batagor endang di depan alfamart (lagi?!) yang buka 24 jam. Saya perhatikan, tukang parkir di sini gak maksa untuk minta duit lho, malah udah kita kasih duit dia nolak. Ck ck ck.. Mungkin sebenernya doi udah tajir, jadi tukang parkir karena males aja di rumah, mati gaya. Dari situ, kita jalan dikit menuju Tugu Juang 45, yang kata si Bapak tukang parkir, sebutannya adalah Tugu Simpang 5, karena letak tugu itu di tengah-tengah 5 persimpangan jalan.
Pulang ke penginapan, tidurlah kita. Tewas semua, gak ada yang ngeh dengan bunyi alarm, jadi baru bangun jam 6.30 untuk foto2 kolam di belakang penginapan yang cukup nice. Gunungnya juga keliatan bersih, dengan ikan-ikan di kolam yang super banyak. Lanjut jalan kaki ke atas, mau nyari pemandian yang terbuat dari batu2 alam, yang ternyata ndak ada. Adanya cuma pemandian gitu yang dibuat dari ubin2 biasa, hihi.. Jadilah kita tur di kampung Cipanas itu, lewati lembah, foto2 tembakau yang lagi dijemur, dan nyabu alias nyarep bubur yang agak tawar rasanya.
Saya dan Ime masuk ke sebuah Bungalow megah bernama Sumber Alam. Masuk doang dan hunting foto di dalemnya. Tempatnya lucuu!! Batu-batu alam, kolam ikan natural, nah ini nih yang kite cari! Katanya sih, penginapan ini adalah “First environmental aware resort” yang sebenernya eike agak2 kurang paham juga apa maknanya.
Balik ke penginapan karena udah puas jalan2 di sekitar kampung, kita semua mandi dan bebenah untuk melanjutkan trip. Jam 9 pas kita ciao, dan menuju ke Pujasega, Pusat Jajanan Serba Garut. Gak ding, Pusat Jajanan Selera Keluarga, gyehehe.. Makanan2 di sini kocak2 lho, ada dodol rasa kelapa, dan yang paling pol, ada COKODOT. Coklat isi dodol! Pilihan rasa ada 3, coklat putih, milk, dan dark. Di sini beliin mama dodol2 mini dikit doang (dasar anak durhaka!) dan anak2 juga pada beli oleh2 di sini.
Klaar balanja *sok nyunda*, kita meluncur menuju Situ Bagendit, sebuah danau terluas di Garut (128 ha). Harga masuknya Rp 2000 untuk 1 orang dewasa, dan Rp 1000 untuk anak2. Tapi kalo HTM untuk orangtua macem kamu, kurang tau juga ya, beib.. Langsunglah kita panik mau naik rakit seharga Rp 30.000 (per rakit, bukan per orang). Setelah kita nanya sama si Bapak yang bawa rakit, Bagendit sendiri berarti orang pelit. Duh jadi gak enak tadi udah nawar rakit, hoho. Alkisah, dulu ada Nyi Bagendit, seorang kaya yang sedang mengadakan pesta. Ketika itu, datanglah seorang fakir (jiyeh, fakiir..) yang minta minum. Nyi Gendit menolak permintaannya dan si fakir tersebut mengutuk sehingga datanglah hujan besar yang membentuk Situ Bagendit. Pertanyaan kami para dugongs: “Kenapa juga kalo si fakir bisa ngeluarin aer sebanyak itu dia malah minta air ke orang lain?”
Belom puas cuma naik2 rakit doang, kita kongkow di sekitar yang lagi ada perayaan 17 Agustusan. Mas Nugi foto2 orang lagi pencak silat yang lagunya “Tujuh belas agustus tahun empat liima..”. Eh gak dinyana ada bocah yang bilang “Sir, take my picture, Sir!” Lha.. diliat dari segala penjuru mata angin juga laki gue itu kagak ada bule2nya, tong! Ahahaha.. abis makan rujak, bakso, dan teh botol seperti biasa, kita lanjutin perjalanan menuju “Candi Cangkuang”. Karena jalan menuju candi ternyata elok nian, kami putuskan untuk berhenti dan menggila. Hamparan sawah menghijau, gunung menjulang, dan bunga2 matahari yang menatap malu2 langsung habis didera oleh lensa2 kamera kami. Duh, gerah2 gini jadi pengen nyanyi.. “Sunny.. Sunny..” *BCL mode: on*
Matahari mulai sombong, baru kita sampe di tempat wisata Candi Cangkuang. Untuk ke Candi, kita harus naik rakit dengan membayar Rp 3000, setelah sebelumnya membayar tiket masuk sebesar Rp 2000. Jangan lupa untuk minta brosur mengenai objek wisata Garut di tempat membeli tiket. Oh iya, harga Rp 3000 untuk rakit menyebrang kalo kita bareng dengan orang2 lain sebanyak 25 orang. Macem angkotlah. Tapi kalo kita mau sewa sendiri rakitnya untuk pulang pergi, harganya Rp 50.000. Tapi mendingan nunggu aja kok, gak lama rakitnya juga udah penuh. Di seberang, setelah foto2 lacur seperti biasa, nemu penjual suvenir. Eh ternyata harga yang ditawarkan gak mahal, lho! Jiwa nawar saya yang berkobar2 tiba2 langsung padam ketika saya nanya harga topi ala Londo. Harganya cuma Rp 15.000, eh penjualnya langsung bilang “Tapi harga pasnya Rp 10.000″. Lah, saya kan jadi ngerasa turunannya B*k*ie kalo masih nawar lagi. Iya, straw hat bagus dan keren yang saya pakai dalam foto2 di bawah ini!

Ericko dan Titiw wih their brand new hat.
Sebelum naik untuk melihat Candi, ternyata Komplek Rumah Adat Kampung Pulo terletak di sini pula! Itu lho, Kampung yang hanya boleh ditinggal oleh 7 keluarga. Jadi di sini cuma boleh tinggal 7 keluarga inti. Kalo ada yang kawin, harus ada yang pindah dari situ, dengan tenggang waktu yang diberi selama 2 minggu. Masuk ke komplek tersebut, rumah2nya klasik, cocok untuk foto2 dengan warna Sephia. Setelah lirak lirik dengan manja di situ, kita naik tangga menuju candi Cangkuang, si tujuan utama kita.
Pas naik tangga, banyak kupu2 terbang ke sana kemari. Lucunya.. Tepat di samping Candi, terletak makam Eyang Mbah Dalem Arif Muhamad. Menurut penjelasan penjaga museum yang ada di sekitar Candi, Eyang Arif Muhamad adalah orang dari Mataram yang menyebarkan agama islam ke daerah tersebut. Inget kompleks 7 keluarga tadi..? Mereka adalah turunan ke 8,9, dan ke-10 dari Eyang Arif ini. Masuk museum, selain melihat lembar2 AlQuran dari abad 17, ada juga foto “penampakan”, yang mana saya gak ngeh apa yang ditampakkan. Hoho.
Yak, waktu menunjukkan pukul 2 siang, kita harus pulang kalo gak mau kena macet. Di jalan pulang mau naik rakit, Erick-A sempet beli topi kayak saya (tapi yg model cowboy) seharga Rp 10.000 pula dan tas perca batik seharga Rp 18.000 buat pacarnya yang dia boongin. Pergi ke Garut bilangnya ke Bekasi. Halah. Oleh2 tas batik dari Bekasi? CUIH. Naik rakit lagi, dan cingcay ke mobil nan panas yang diparkir di sebelah rumah penduduk. Oh iya, sekedar share, di sini tukang parkir rada jarang bo. Gak terlalu komersil. Kasih Rp 1000 aja senengnya bukan main. Hem.. Menuju Jakarta, kita makan siang dulu di rumah makan Sunda daerah Sumedang. Di depan resto, ada acara panjat pinang sama band2 setempat. Buat Ime: “Bandnya bagus, me?” Kikikik..
Jam 3 pulang, eh nyampe di Jakarta lagi jam 6 sore! Super gak macet dan perjalanan Alhamdulillah lancar! Huehehe.. Mungkin orang2 juga kepikiran kalo bakal macet sehingga pulangnya gak jam2 segitu. Nyampe Jakarta, makan sop buah sambil itung2an pembayaran dulu nih. Setelah diitung2, per-orang saweran Rp 140.000. ALL IN. Penginapan, bensin, cemilan ampe muntah, makan siang, makan malem, masuk2 tempat wisata, SEMUANYA. Ah, satu lagi perjalanan menyenangkan bersama para dugongs. Thx guys! Dan untuk kalian yang udah membaca, gemana? Jadi tertarik untuk plesir ke Garut? So.. Happy Traveling!
PS: Sebagian foto diambil dari para dugongs. MInta ijin ya guys!
Sedikit sumber tulisan:brosur wisata garut dapet dari loket di Candi Cangkuang.
(c) Foto Garut, Festival Garut
Sifat Tuhan yang Ke-100
Menurut pendapat saya, sifat Tuhan itu ada 100.
1. AR-RAHMAN 2. AR-RAHIEM 3. AL-MALIK 4. AL-QUDDUS 5. AS-SALAAM 6. AL-MUKMIN 7. AL-MUHAIMIN 8. AL-AZIZ 9. AL-JABBAR 10. AL-MUTAKABBIR 11. AL-KHALIK 12. AL-BARI’ 13. AL-MUSHAWWIR 14. AL-GHAFFAR 15. AL-QOHHAR 16. AL-WAHHAB 17. AR-ROZZAQ 18. AL-FATTAH 19. AL-’ALIEMA 20. AL-QOBIDH 21. AL-BASITH 22. AL-KHOFIDH 23. AR-ROFI’ 24. AL-MU’IZZ 25. AL-MUDZILL 26. AS-SAMIE’ 27. AL-BASHIER 28. AL-HAKAM 29. AL-’ADLU 30. AL-LATHIEF 31. AL-KHOBIER 32. AL-HALIEM 33. AL-’ADHIEM 34. AL-GHAFUR 35. ASY-SYAKUR 36. AL-’ALIYA 37. AL-KABIER 38. AL-HAFIEDZ 39. AL-MUQIET 40. AL-HASIEB 41. AL-JALIEL 42. AL-KARIEM 43. AR-RAQIEB 44. AL-MUJIEB 45. AL-WASI’ 46. AL-HAKIEM 47. AL-WADUD 48. AL-MAJIED 49. AL-BA’ITS 50. ASY-SYAHIED 51. AL-HAQ 52. AL-WAKIEL 53. AL-QOWIYU 54. AL-MATIEN 55. AL-WALIYU 56. AL-HAMIED 57. AL-MUHSHI 58. AL-MUBDI’U 59. AL-MU’IED 60. AL-MUHYI 61. AL-MUMIET 62. AL-HAYYU 63. AL-QOYYUM 64. AL-WAAJID 65. AL-MAAJID 66. AL-WAAHID 67. AL-AHAD 68. ASH-SHOMAD 69. AL-QODIR 70. AL-MUQTADIR 71. AL-MUQODDIM 72. AL-MU’AKHKHIR 73. AL-AWWAL 74. AL-AAKHIR 75. ADH-DHAHIR 76. AL-BATHIN 77. AL-WAALI 78. AL-MUTA’AAL 79. AL-BARRU 80. AL-TAUWAAB 81. AL-MUNTAQIM 82. AL-AFUWWU 83. AR-RO’UF 84. MALIKUL-MULKI 85. DZUL JALAALI wal IKROM 86. AL-MUQSITHU 87. AL-JAAMI’U 88. AL-GHONIYYU 89. AL-MUGHNI 90. AL-MAANI’U 91. ADH-DHAARRU 92. ANN-NAAFI’U 93. AN-NURU 94. AL-HAADI 95. AL-BADIE’U 96. AL-BAQI 97. AL-WARITSU 98. AR-ROSYIEDU 99. ASH-SHOBURU
100. MAHA INTROVERT –> untuk Jodoh, Rejeki, dan Kematian.
Asmaul Husna didapat dari blog ini, gambar diambil dari sini































