Organized At Heart
Seorang teman pernah berkata pada saya: “Ti, lo itu aneh ya. Di satu sisi, lo Sangunis abis, tapi elo juga terorganized dengan baik layaknya orang melankolis. Dilihat dari buku-buku lo yang disampul, elo buat agenda, dll dsb dst..” *lirik2 mas Anggit yang lagi wakuncar di Pondok Gede*. Eh, kamu tau tentang 4 kepribadian ini kan? Kalau belum, baca deh “Personality Plus”, buku karya Florence Litteaur, atau sekalian isi tesnya di sini. Well, nampaknya omongan teman saya itu ada benarnya juga. Sisi sangunis saya yg berteriak adalah cheerful, ingin diperhatikan, banyak ngemeng, dan so un, eh so on (soun mah semacem emih ya?). Sedangkan sisi melankolis yang tampak malu2 pada saya adalah: Mudah terpana oleh hal2 kecil macem matahari terbenam, autis kalau udah nyampul buku, seneng nulis agenda, ataupun gampang nangis kalo nonton termehek2 (contoh terakhir mohon tidak usah dipertanyakan).
Intinya sih saya bukannya mau ngomongin tentang 4 macem kepribadian itu. Secara juga saya emang kepribadiannya udah buruk, jadi apa boleh bulat. Yang mau saya bahas kali ini adalah pentingnya kamu mendokumentasikan atau mendata apa2 saja yang kamu punya secara terorganisasi. Misalnya buku, DVD, dan sebagainya. Pertama2 yang saya data adalah buku-buku saya (komik tidak termasuk). Bikin di Microsoft Excel aja, dengan kolom2 yang terbagi dari: “Pengarang”, “Judul”, “Penerbit” “Tahun Terbit & Cetakan”, “Jumlah Halaman”. Oh ya, sembari mendata buku2, saya juga menamakan buku2 yang belum diberi nama, dan menyampulnya dengan sampul mika (he eh. Sampul yang bisa bikin rambut kamu berdiri2 seksi tanpa jeli dengan aliran listrik statisnya). Dan voila, saya menemukan fakta2 menarik maupun mendorong sebagai berikut.
- Saya ternyata sudah terjangkit yang namanya “Book-shopaholic”. Mungkin dari keseluruhan jumlah buku saya, 30% belum terbaca dan 20% baru dibaca setengah. D’oh!
- Dari keseluruhan buku sastra Indonesia saya, rata2 merupakan cetakan pertama, meskipun sudah dibuat sejak tahun 90an. Ayo beli danĀ buku sastra Indonesia!!
- Kebangkitan sastra Indonesia dimulai di akhir tahun 90an dan tahun 2000an dengan adanya Ayu Utami dengan Saman (buku yg saya punya di tahun 2001 merupakan cetakan ke-18 sejak tahun 1998), Dee dengan Supernova-nya, dan tentu saja Andrea Hirata dengan Laskar pelangi yang rasanya membuat semua orang jadi tahu di mana letak Belitong yang pake “O”, bukan pake “U”. Buku karya Andrea Hirata yang saya punya merupakan terbitan Februari 2008, dan sudah sampai cetakan ke-19 sejak diterbitkan pertama kali di tahun 2005.
- Orang2 yang menerjemahkan buku, suka seenak jidat mengganti judul. Misalnya, buku Mitch Albom yang berjudul “The Five People You Meet In Heaven“, judul Indonesianya menjadi “Meniti Bianglala” (?!!).
- Ternyata saya memang penggemar Remy Sylado dilihat dari deretan itu.
- Buku terjemahan tertebal yang saya punya adalah “Musashi” karangan Eiji Yoshikawa yang jumlah halamannya 1143. Sedangkan buku indonesia yang tertebal adalah “Kremil”, sebuah buku sastra karangan Suparto Brata yang memiliki 782 jumlah halaman dan di-hard cover.
- Saya mulai berpikir untuk tidak beli lagi buku karangan penulis luar, sejak e-book-nya gampang didapat. Tapi akan selalu membeli buku karangan orang Indonesia, untuk membantu perekonomian Indonesia (halah, berat bener, tante!).
- Kok, buku2 LUPUS saya pada ilang? Huaaaa!!!! Kejarlah Daku Kau Kujitak.. Drakuli Kuper.. Sandal Jepit.. Makhluk Manis Dalam Bis.. Ke mana kamu??!
- Jadi kepikiran untuk ngumpulin buku2 karangan Roald Dahl (cuekin poin no.7, karena e-book itu gak ada ilustrasinya. I heart Quentin Blake’s drawing.
- Ternyata belom tentu buku yang terlihat tipis itu jumlah halamannya dikit.
- PT Gramedia Pustaka Utama, tolong bagi2 jatah untuk penerbit lain yaa..
- Ternyata buku2 anak keluaran Jerman itu keren2 ya..
- Mbak2 sama mas2 di penerbit Dian Rakyat dulu terbitin bukunya rajin, kok sekarang rada memble?
Kurang lebih begitu, Ki Sanak. Mungkin setelah mendata buku klaar, saya akan mendata E-book saya serta DVD. Namun jika saya sudah benar2 jobless, mungkin saya akan mendata pula ID3v Tag saya. Saya sarankan untuk hati2. Hal ini adalah candu!! Candu!!! CANDUUUU!!!! *teriak2 di tengah jalan sambil nyampul buku*.
PS: Jangan lupa urus NPWP.. tenggat akhir besok. Sekedar share.. Kita kan care..
(c) Flying books
UI Career Scholarship Expo VII 2009
Sekedar share untuk kamu2 yang masih belum menemukan chemistry di pekerjaan yang sekarang, udah mulai renggang sama pekerjaan sekarang, atau dari dulu masih jomblo dan gak pernah kenalan sama yang namanya pekerjaan.
What: UI Career & Scholarship Expo VII 2009
Who: Kamu, kita, semua.
Where: Gedung Balairung, Kampus UI – Depok
When: 27 – 29 Maret 2009, (09.00 – 17.00)
Why: Karena saya anuh (?!)
How: Dari Tebet, naik kereta ke arah depok, berenti di stapsiun UI. Harga tiket ekonomi 1500 aja kakak, tapi sesampainya rada bau kambing. Harga tiket ac ekonomi 5500, tapi jadwalnya gak jelas kayak hubungannya Dewi Sandra sama Glenn. Nyampe di UI? tanya2 aja sama orang2 di stasiun, sok asik dikit, banyak juga boleh kalo niatnya tulus (?!)
Penyelenggara : Career Development Center Universitas Indonesia (CDC-UI)
Bekerjasama dengan : JobStreet.com Indonesia
PERUSAHAAN PESERTA
3 (JARINGAN GSM MU)
ARTAJASA PEMBAYARAN ELEKTRONIS
BLUE BIRD GROUP
CHIC
CITA CINTA MAGAZINE
DETIK.COM
ExxonMobil Oil Indonesia, Inc
PT AXA MANDIRI
PT BANK BUKOPIN
PT BANK CENTRAL ASIA TBK
PT BANK INTERNASIONAL INDONESIA, Tbk
PT BANK MEGA
PT BANK OCBC NISP Tbk
PT BANK PERMATA TBK
PT GRAMEDIA CORPORATE
PT INFOMEDIA NUSANTARA
PT JAYA KONSTRUKSI MP, TBK
PT LAKSANA TATA INDONESIA
PT OBERTHUR CARD SYSTEMS
PT. BAKRIE TELECOM TBK
PT. BANK MANDIRI (PERSERO) TBK
PT. EMS PARAMITRA
PT. SUPRACO INDONESIA
RABOBANK
SCTV
SOHO GROUP
TELKOMSEL (TELKOM GROUP)
TOTAL E&P INDONESIE
TRANS 7
Informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
CDC UI
Telp : (021) 9826-4777, 9852-2842, 9852-2845
TipS:
- Bawa uang 20.000an, karena kayaknya biaya masuknya segitu (sotoy).
- Jangan pake baju ribet2, karena orang2 sedang melirik pekerjaan, bukan mencari jodoh. (Lagipula sampe sekarang setau saya balairung belon pake ase..)
- Bawa CV dan surat lamaran beberapa lembar, beberapa lembar foto2 kece ala foto buru2 di studio deket pasar yang ukuran 3×4 atau 4×6.
OK, Happy hunting!
(c) Job Fair picture
Thesaurus
Membuang bisa jadi mengenyahkan
Menatap bisa jadi memperhatikan
Terlena bisa jadi terbuai
Senang bisa jadi riang
Rampas bisa jadi curi
Serpihan bisa jadi kepingan
Kaca bisa jadi cermin
Bedak bisa jadi talek
Diam bisa jadi hening
Mimpi bisa jadi khayal
Perasa bisa jadi peka
Ayah bisa jadi Papa
Sharpshooter psp
Ibu bisa jadi Mama
ARGHHH!! Aku ingin ingin ingin sekali punya kamus tesaurus Bahasa Indonesia!!!!!!
ARGHHH!! Saya mau mau mau banget memiliki kamus tesaurus Bahasa Indonesia!!!!!!
(c) Thesaurus
Kaka's Tongue Slip
He ini baru aja nih. Jadi pengen berbagi. Di TransTV pagi-pagi kan ada acara derings yang dipandu Desta dan Ringgo. Terus satu lagi cewek nggak tahu sapa namanya, lupa.
Nah, hari ini nih (liat aja tanggal postingan) bintang tamunya Kaka Slank. Pokoknya ngebahas video klip Slank yang judulnya Kamu harus pulang. Tapi bukan video klip aslinya melainkan plesetannya. Di video klip ada Desta, Ringgo sama cewek tadi.
Singkatnya, setelah ditanya pendapatnya mengenai video plesetan tadi Kaka bilang: “Tapi kok kayak orgy”. Pokoknya something like that lah. Nah karena ini acara Live, kontan saja Desta, Ringgo langsung panik. Desta bilang: “Namanya juga rocker, bebas aja”. Sambil ketawa-tawa.
Ahahaha yah mudah-mudahan ada orgy beneran di TV.
(c) Too much tongue
Jazz On A Rainy Afternoon
March 22, 2009 by titiw
Filed under Titiw Inside
Dear Sore,
Sore selalu menjadi bagian waktu yang romantis bagi saya yang entah kapan atmosfer itu mula-mula tercipta. Tapi jika mau meraba-raba, SMA merupakan jenjang dimana saya ingat bahwa sore lebih utama dibandingkan waktu yang lain. Dulu, jika pulang sekolah tidak ada tambahan pelajaran atau les-les ini itu, saya lebih memilih tidur siang. Tinggal membuka jendela di samping ranjang dan berganti baju sekolah, mimpi di siang bolong langsung memanggil-manggil saya untuk terlelap. Bagi saya, tidur siang itu sakral seperti sakralnya pernikahan para artis kelas 2 yang melarang wartawan untuk menginjak tempat ia menikah dan meliput dengan siapa ia menikah.
Sampai sekarang, saya lebih toleransi dengan dering telpon genggam yang berteriak di malam hari ketimbang dengan bunyi beep pelan tanda pesan singkat di siang hari. Bangun kira-kira pukul 4 dengan leleran peluh di tubuh, membikin tidur siang terasa lebih nikmat. Upacara menyembah sore hari pun dimulai. Dengan perlahan saya berjalan menuju teras rumah dengan membawa sebuah buku yang belum usai dibaca dan tak lupa membawa pemutar lagu portable (baca: walkman). Tentu saja sepiring pisang gorang dan segelas teh manis hangat buatan ibunda menjadi hidangan utama. Sore akan terasa lebih lengkap jika cuaca sedikit mendung dan rintik itu menetes sedikit.
Pilihan lagu yang tepat untuk suasana tersebut adalah album “Jazz For A Rainy Afternoon“. Alunan saxophone dan denting piano yang melodis dan bertautan seakan menenggelamkan jiwa dalam euforia yang bangkit dalam rangka menikmati sore. Pekik anak-anak kecil yang wajahnya dibedaki dengan asal oleh para orangtua mereka bergaung dalam keindahan sore pula. Dalam video di otak saya, anak-anak itu berlari dan tertawa dalam gerakan lamban alias slow motion.

Beranjak ke bangku kuliah, saya sedikit kehilangan momen sore yang seharusnya dinikmati dengan pelan dan khidmat. Ini dikarenakan kuliah saya yang berjalan sejak siang hingga menjelang magrib. Namun sesering mungkin saya tetap meluangkan waktu untuk bercanda dengan diri sendiri dalam pelukan sore. Ya, waktu istirahat pukul setengah empat sore saya gunakan untuk minum segelas teh manis hangat (yang tentu saja tidak senikmat buatan ibu), serta roti seribuan yang cukup menenangkan cacing-cacing cerewet di dalam usus yang berjari 12.
Saya ingat ada seorang karib yang berkata :”Tiw, aduh lo tuh kemana aja sih.. Untung gw inget kalo tiap sore lo pasti di kafe sini kongkow sendirian”. Oh ya, kafe merupakan sebutan bagi kantin yang tidak terlalu ramai akan mahasiswa di situ. Bukan kafe yang sebenar-benarnya kafe. Jangan aneh loh, meskipun saya terlihat memiliki teman yang banyak, saya tidak ekslusif. Saya main dengan siapapun yang saya mau, dan kapanpun saya mau. Dan sore adalah waktu terlarang untuk bersosialisasi dengan mereka. Saya sangat egois dalam hal ini, karena saya ingin menikmati sore untuk diri sendiri.
Kalaupun saya sudah pulang kuliah di sore hari, perjalanan di dalam kereta tidak kalah romantis. Dengan tetap berbekal walkman di saku, perjalanan pulang dengan menatap senja dibalik kereta jendela berkarat itu tetap indah. Penjaja minuman riang yang bercanda dengan tukang koran sore, anak kecil yang bermain layangan dengan rambut kemerahan, hingga arak-arakan awan yang terlihat bagai unggunan kapas besar pun dapat membentuk senyum di bibir ini.
Saya pun membuat teori kecil-kecilan bahwa orang yang melewatkan sore tanpa senyum sedikitpun dan jamak mengucapkan kata S**T ataupun F**K pasti tidak pernah mendengar kompilasi lagu dalam “Jazz on A Rainy Afternoon”, ataupun merasakan nikmatnya teh bikinan ibu mereka.
Sekarang ini saya sudah bekerja di tempat yang tidak dapat menikmati sore yang layak. Namun sebisa mungkin saya membuat teh hangat yang rasanya tidak keruan di pantry yang berantakan sambil menunggu waktu yang menggambarkan jarum kecil di angka 5 dan jarum panjang di angka 12. Mudah-mudahan rasa penat itu luruh dan saya dapat bertemu lagi dengan sore yang saya kangeni. Semoga.
-Seseorang yang selalu merindumu-
-Pondok Bambu, 21 Januari 2009-
(c) Album cover
Saturday Bloody Saturday
Hop hop hop
Berkali dan berkali terbangun dan tertidur lagi
Aku tau ini hari Sabtu
Namun hujan di luar sana tidak mau tahu
Mereka meleleh perlahan
Bagaikan lilin batangan yang sumbunya diberi api
Setiap kali PLN berkata listrik harus padam
Saturday bloody Saturday
Oatmeal bercampur susu segar di tangan kiri
Keping cewek yang selalu bergosip di tangan kanan
Radio menyiarkan tema sex yang dipandu dokter abal-abal
Jantung menjadi berdegup dan degup itu terjadi pula di hati
Pohon palem bergoyang centil disentil angin
Yang aku inginkan sekarang hanyalah makan salad
Dengan dressing yang mantap
Namun sepertinya kau tidak mau menemaniku ataupun menjadi dressing saladku
Sehingga aku pun menggelontorkan sayuran itu
Kepada kambing-kambing kelaparan di samping kuburan
Akhirnya kutiupkan saja rindu ini kepada bunga kamboja yang bergelantungan
Hop hop hop
-Pondok Bambu di Sabtu siang ketika adzan berkumandang-
Pemilihan Umum Telah Memanggil Kita!!
March 20, 2009 by titiw
Filed under Titiw Inside
Ow yeahh… Apa kabar kamu2 yang lagi harap2 cemas apa yang akan dikerjakan wiken nanti? Apa kabar kamu2 juga yang lagi buka Facebook sebagai situs wajib yang pertama kali ditengok sesampainya di kantor? Daaaann.. Apa kabar juga kamu yang sudah di atas 17 tahun, yang udah punya hak untuk ikut andil dalam PEMILU?”
Pembaca: “HAAAH???!! PEMILU??! Ihh.. si Titiw kok bahasannya sooo last year ya boo..” *kasak kusuk ala mpok2 Betawi latah*
Ha dan hi dan hu dan he serta ho. Hahihuheho. No no no.. Bahasan saya sekarang udah bukan soo last year melainkan udah soo.. *mikir* 54 years ago! Ya, secara Pemilu pertama memang diselenggarakan pada tahun 1955.
Sempet tuh jaman dulu pemilu diikuti oleh 55 nama partai dengan bendera yang serupa tapi tak sama, dengan warna2 yang berwarna warni biar berasa kehidupannya bahagia dan lebih berwarna. Nah, pernah lagi nih PEMILU diikuti oleh 3 partai yang mengusung warna merah, hijau dan kuning dengan jargon LUBER (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia). Nampaknya jargon tersebut menjadi seluber2nya luber ternyata. Karena, sesuatu yang harusnya dirahasiakan, jadi malah sangat tidak rahasia. Lha masa panitia kok tahu siapa milih siapa. Apa gak KeLUBERan itu namanya. Mana jaman dulu tuh kayaknya harus apaaall banget sama jadwal kampanye. Karena kalo sampe salah pake warna baju (misal: si partai hijau lagi kampanye, trus kita pake baju kuning). wah, bisa2 jadi korban dicemooh tuh di jalanan. Mending kalo cuma makian verbal. Kalo pake fisik? Ihh..
Ah, saya kok gak ngerasa berada di koridornya untuk ngomongin hal ini ya? Emangnya saya siapa? Wong terdampar di tempat nyoblos2 itu aja baru sekali *sok muda merona dan merekah*. Tapi denger2 nih ye.. *bisik2 tetangga* Partai Gerindra yang iklannya banyak bener artisnya itu pengen supaya Pemilu ditunda, karena ngerasa orang yang berhak ikut Pemilu belom didata dengan benar. Lah, kalo Pemilu ditunda.. semuanya ketunda, ntar pas Oktober SBY udah klaar jabatannya, sapa yang mau gantiin? Ih.. amit2 jabang beibi deh kalo kita gak punya Presiden. *Mulai ngerasa aneh, kenapa saya dalem banget sama urusan politik perpolitikan ini*

Ngenes juga sih, kalo orang2 ngomong “Ah, mau milih siapa juga yang penting dapet kaosnya/duitnya“. Atau yang saya pribadi rasakan tentang event akbar ini “YES!! tanggal 9 April libur!! Bisa long wiken ke Pulau Peucang!!” Hoho.. Pernah saya bilang kalo kaos partai tuh pasti panas, kayak dari bahan kain yang buat bikin spanduk, jelek banget dah pokoknya. Eh temen saya bilang “Yaelah, tergantung sapa yang make. Kalo Claudia Schiffer yang make trus tangannya bentuk peace gitu sambil tereak2 ‘Dua idolaku’ juga cocok2 aja.” Haha, ketauan gak berapa umur temen saya dari narasi di atas? Oh iya, kamu2 yang ngaku orang Indonesia, masih inget gak lagu PEMILU? Inget dikit? Inget banyak? Nih gua beri! (Kalo ada sale sale kate maapin aje)
Pemilihan umum telah memanggil kita
Seluruh rakyat menyambut gembira
Hak demokrasi pancasila
Hikmah Indonesia merdeka
Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
Pengemban Ampera yang setia
Di bawah Undang-undang Dasar 45
Kita menuju ke pemilihan umum
Aduh, jadi pengin makan pisang molen titipan saya ke temen kantor (apa hubungannya Pemilu sama pismol?). Enak banget, kecil2 dengan isi macem2, ada keju, coklat, ketan item, nyummy! Aduh.. Lama amat dia dateng. Eh, ada sms masuk, wah ternyata temen saya itu.. “Lo belom rejeki Ti. Secara ada yang borong untuk snack kampanye salah satu partai. Lain kali ya..“
Ah.. Pemilu oh Pemilu..
TIGA BURONAN dalam JAKARTA ADALAH SEKARANG
Tahun lalu, saya dan seorang kawan naik kereta Depok-Cikini untuk menyambangi si Bokir dalam salah satu film Suzanna di TIM, dalam rangka bulan film nasional. Sayang, acara filmnya belum mulai, sehingga kita terpaksa nonton film komersil aja, yg waktu itu bernama “Ayat2 Cinta”. Tahun ini, Memasuki tahun ke-3nya, acara “Jakarta Adalah Sekarang” yang diusung oleh KINEFORUM diadakan sebulan penuh dari tanggal 1-31 Maret 2009.
Penayangan film-film Indonesia ini gratis alias tidak dipungut bayaran. Hanya saja ada kotak kecil yang dapat diisi dengan rupiah sekedarnya untuk kamu-kamu yang mau menyumbang seiklasnya. Ets jangan lupa embat poster dan kartu2 pos yang direnceng di meja. Rabu kemarin, saya sempat menonton (dengan karib saya yg dulu itu juga) film berjudul “TIGA BURONAN”, film bergenre action komedi (kayaknya), yang dibintangi Bing Slamet. Silakan baca reviewnya di bawah ini. Oh ya, untuk tahun ini acaranya dilaksanakan di Taman Ismail Mardzuki (TIM) serta Komunitas Salihara. Di akhir bulan, ada pula pementasan musik dari SORE dan kunokini.
Jadwal selengkapnya dapat dilihat di KINEFORUM
TIGA BURONAN

Penduduk desa geger. Mat Codet (Bing Slamet), mantan napi yang sukanya membuat onar itu datang kembali ke desa dan meneror penduduk. Namun kesenangan Mat Codet agak terhambat dengan adanya Maman, seorang warga baru di desa. Maman yang terpincut oleh Ginah anak Pak Haji nampaknya punya misi lain di balik itu semua. Misi apakah itu?
Film produksi tahun 1957 ini masih hitam putih, mana gak ada sound effect, sehingga adegan tabok2an kalem2 aja. Tapi untuk ukuran tahun segitu mah, akting semua pemain mantep. Apalagi aktingnya Bing Slamet, sangat menghibur. Cuma, di tengah2 film, ada adegan orang nanem padi sambil nyanyi. Saya jadi rada bingung, ini musikal apa bukan? tapi adegan nyanyinya cuma di satu scene aja sih.
Oh ya, perhatikan juga lagu di awal sama akhir. Perhatikan liriknya baik2. Kawan saya, si Fathul sampe ketawa2 girang banget.. Pokoknya semua lucu2annya lucu. Iya. Relevan sama lucu2an sekarang. Tapi kata si Fathul “Ya tergantung Tiw.. kan yang nonton situ.. (baca: Remaja Jadul)”. Iya juga ya, kalo abegeh2 yang nonton mungkin malah kesel karena ada bunyi kresek2 sepanjang film. Yang jelas mah saya terhibur sangat! Senen besok mau nonton Badai Pasti Berlalu jam 5.30 sore. Care to Join?!
Yang namanya cinta itu kayak agama, gak bisa dipaksa
-Mat Codet dalam Tiga Buronan-
Tips: Bawa Jaket, asenya lumayan bikin semi hipotermia.

