MLM? Ah Mendingan Jadi Gigolo daripada ikutan!
October 20, 2008 by apy
Sebelum saya mulai menulis, saya ingin menekankan bahwa tulisan berikut ini subyektif. Ada juga saduran dari sumber-sumber lain. Tapi saya cuma memilih satu sisi saja, yaitu saya membenci MLM. Saya tidak akan berusaha membela, atau menulis berimbang bisnis tukang tipu ini. Tulisan ini adalah Bagian 1 dari rencananya beberapa bagian.
Multi Level Marketing atau MLM, selalu menjadi sumber debat yang tiada henti. MLM memiliki pengikut fanatik, dan kadang-kadang berperilaku seperti pengikut agama-agama aliran sesat (bener loh mereka fanatik, tepuk-tepuk tangan pas seminar, yelling-yelling freak,semuanya bikin saya merinding, takutnya saya dimutilasi keluar-keluar dari ruang seminar). Berapa kali sih kamu dideketin (dengan caranya yang aneh) sama tetangga, temen, atau yang lebih parah, keluarga yang bilang “Eh sini deh, Gw/ Aku/ Inyong/ Awak/ Pakde/ Bude (pilih aja deh) punya bisnis yang ok banget nih.” Habis itu tanpa kamu sadari tiba-tiba kamu diajak makan siang, makan malam, atau sekedar minum teh untuk “berdiskusi”. Jebakan Batman ini acapkali digunakan para MLMers menjebak mangsa-mangsanya.
Kebanyakan dari kita sih biasanya langsung merasa kalau “ada apa-apanya” dikala kita diajak ke suatu tempat untuk berdiskusi.
Biasanya yang ada di benak kamu nih; “Jangan-jangan saya mau diajak ketemuan membahas tentang produk MLM, nih?”
SEBENARNYA APA SIH YANG SALAH DARI MLM?
Pasti, kamu mengenal seseorang yang pada satu waktu dalam hidupnya yang kesian bener, pernah menjual Amway, Herbalife, CNI, Tianshi, Mary Kay, dsb. Kebanyakan dari mereka akan berkata seberapa banyak mereka mengeluarkan, seberapa kecil mereka mendapatkan, dan meeting-meeting rasanya mirip rapat kaum fundamentalis (berapi-api, saling membujuk, dsb), dan juga bagaimana tekanan yang dihadapi ketika mencari “distributor” baru.
Bagaimana MLM Bekerja?
Untuk bisa begitu membenci MLM, kita harus tahu cara kerjanya. Sebelum saya ditawari all things MLM, saya nggak pernah sebenci ini. Jadi, semakin saya menilik ke dalam, semakin saya membencinya.
Multi Level Marketing Plan (Rancangan MLM) – atau biasanya para MLMer tidak mau disebut MLM, mereka lebih suka menyebutnya network atau matrix marketing – adalah sebuah cara untuk menjual barang dan jasa melalui distributor. Rancangan ini biasanya menjanjikan bahwa jika kamu mendaftarkan diri menjadi distributor, kamu akan mendapatkan komisi – komisi untuk penjualan rancangan barang dan jasa DAN untuk orang-orang yang kamu rekruit menjadi distributor. Rancangan MLM biasanya menjanjikan komisi ke dua atau lebih level perekrutan, atau biasanya dikenal dengan “downline”.
Di dalam standar MLM atau perjanjian network marketing, seseorang yang berasosiasi dengan perusahaan induk bertindak sebagai kontraktor independen atau pemegang waralaba (franchisee) dan dibayar sesuai dengan penjualan produk atau jasa yang mereka lakukan – dan juga penjualan oleh orang-orang yang kamu rekrut (downline). Pada dasarnya ini mirip dengan perusahaan waralaba dimana royalti dibayarkan dari hasil penjualan operasional waralaba tunggal kepada pemegang waralaba (franchisor) dan juga kepada manajer area dan manajer regional.
Di perusahaan MLM yang legal (yeah right!), komisi didapatkan hanya dari penjualan produk atau jasa yang dihasilkan dari perusahaan itu. Ketika merekrut, tidak dikenakan bayaran (“sign up fees”) tapi biasanya kita disuruh beli barang yang harganya bisa bikin Paman Gober sakit jantung. Jika, kamu menemui MLM dimana kita harus membayar pada saat mendaftar tanpa produk yang dijual ke kamu, jangan ragu-ragu… tusuk aja orang yang nawarin ke kamu atau Lapor Polisi tanya apa mereka mau ikut MLM juga. Pasti polisi-polisi itu lebih memilih jadi Polwan semuanya, yang cowok juga.
Beberapa perusahaan yang legitimasinya masih meragukan, meraup untung dari menjaring anggota baru dengan iming-iming bonus kemudian menjual ke mereka produk dan jasa yang nilainya meragukan (mahal iya, bagus kagak, yang ada basi iya) dengan harga seakan-akan Indonesia lagi inflasi hingga 1000%. Kita harus cerdas mengamati apakah barang-barang yang dijual ke kita memiliki nilai jual sehingga kesempatan bisnisnya pun terbuka. Atau apakah cuma barang-barang standar yg diberi embel-embel barang bagus, ajaib, dsb. Jika misalnya si MLMer mencoba menjual sebuah sabun mandi batangan seharga Rp 20.000/pieces, jangan beli, pasti itu SCAM. Moso’ sabun buat cuci ‘burung’ doang harganya Rp. 20.000, mendingan pake sabun colek plus abu gosok, Gyaaahahaha.
MLM memilik banyak masalah citra mengingat sulitnya membedakan legal MLM dengan MLM jebakan batman.























mau jadi gigolo sejati
wahh wahh, sepertinya rame nih, hihi
dan orang2 MLM tetep aja ya kukuh sama pendiriannya, salut2…
sedikit pertanyaan aja nih buat yang ngejalani MLM,
1. apa kalian ga sadar kalo yang sebenarnya membeli produk dari perusahaan yg kalian promosikan itu?
2. apa ada orang yang telah sukse (menjadi kaya) dari bisnis MLMnya di indonesia?
saya pernah dengar tentang kapal pesiar yang dijanjikan buat orang yang mempunyai banyak anak buah atau level brapa gitu. kalau ada, siapa namanya ?
tolong di jabarkan ya mas-mas / mba – mba yang berbisnis di MLM…
terimakasih sebelumnya,