Bamboo Ritual

June 22, 2007 by apy  

Malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Di sebuah warung kelontong kecil seorang anak laki-laki berkacamata sedang duduk sendirian. Sebuah buku novel tebal berjudul “Digital Fortress” karangan Dan Brown seakan tak mau lepas dari tangan kanannya. Sambil sesekali menyeruput kopi kapal api kesukaannya, anak laki-laki tersebut seakan tenggelam di dunianya sendiri.

Kira-kira 30 menit kemudian seorang anak laki-laki lainnya datang. Rambutnya tidak terlalu panjang tapi tidak juga bisa disebut pendek. Digenggamannya terdapat sebuah Telepon Genggam Nokia N-Gage. Melihat ada tamu, si kutu buku tadi menghentikan kegiatannya dan mulai bercakap-cakap dengan si tamu. Mereka bertetangga, rumah mereka hanya terpaut sebuah rumah dan sebuah jalan kecil.
Pemilik warung ini kelihatannya amat mempercayai para pelanggannya yang memang tetangga sendiri. Sebuah kulkas kecil tua tiba-tiba menjadi populer dikerubungi para pelanggan manakala hari sedang panas. Isinya tidak istimewa, hanya minuman-minuman ringan teh dan soda yang juga biasa dijual toko-toko lain. Tapi mungkin yang membuatnya istimewa adalah harganya yang sangat klasik. Teh Botol dan Tekita hanya dijual Rp. 1000. Genap dan mudah.
Sambil si pengunjung menyeruput teh botol yang diambilnya sendiri dari kulkas tua, dia bercerita mengenai tugas-tugas di kampusnya yang membebaninya. Si kutu buku hanya tersenyum kecil mendengar keluh kesah lawan bicaranya. Percakapan yang biasa terjadi.
Tak lama kemudian dua orang lagi datang, seperti biasa mereka mengambil posisi terbaik mereka dan langsung menuju kulkas, mengambil sebuah minuman ringan kesukaan mereka masing-masing.
Obrolan menjadi lebih umum, topik berubah menjadi topik yang populer bagi semua orang; Musik, film, gosip para pesohor atau selebriti. Sambil sesekali mereka menghisap rokok-rokok kesukaan mereka, perbincangan terus berlanjut. Ramai, santai, kekeluargaan, dan riang… Suara-suara sms masuk juga turut meramaikan malam itu. Ada yang tersenyum membacanya, ada yang kecewa membacanya, tapi tidak mengurangi rasa ceria malam itu.

Malam semakin larut dan semakin banyak pula yang datang. Ruangan kecil itupun sudah semakin sulit menampung tamu-tamu yang datang.

Biasanya setelah quota pengunjung sudah tercapai, mereka semua akan pindah ke tempat yang mereka sebut “pojokan”. Sebetulnya itu adalah sebuah jalan yang demi alasan keamanan di blok salah satu sisinya sehingga otomatis tidak ada orang maupun kendaraan yang bisa melewatinya.
Tanpa mereka sadari “pojokan” bagi mereka menjadi sebuah ritual, sebuah tempat berlindung, sebuah “Sanctuary” manakala tekanan meningkat. Di dunia “pojokan” ini tidak ada umur, tidak ada jabatan, tidak ada kelas sosial, yang ada hanyalah sebuah Neverland lengkap dengan tukang nasi goreng jebolan Menteng yang sekarang berjualan di lingkungan sekitar mereka.
Mereka ini adalah orang-orang yang beruntung… masalah sosial, interaktivitas dan ekspresi antar individu selalu terpenuhi melalui ritual ini.
Pukul 11.30. Mata-mata ceria itu mulai lelah… mulai diterpa rasa kantuk. Mereka semua pulang…. untuk keesokan harinya kembali melakukan ritual yang sama.

Comments

3 Responses to “Bamboo Ritual”
  1. jaja says:

    mas, yang nongkrong kagak ada ceweknya?

  2. titiw says:

    Ada aku.. tapi hanya di hari2 tertentu, seperti sabtu dan minggu. Karena hanya pada hari itu saya pulang dari kosku ke rumahku di pondok bambu..

  3. Tobias Ringga says:

    pondok bambu, tempat yang takkan terlupakan buat gua, 25 thn kita lalui bersama pahit dan manis, “pojokan” meskipun banyak nyamuk tapi tetep pewe or nyaman hehehe….

    dari tukang nasgor yang kalo laper tinggal di sms, tukang somay yang gila ada semua, anak”nya dari berbagai macam jenis ada semua lengkap huehuehue….

    tapi sekarang hari sabtu terlihat sepi, karena masing” mempunyai urusannya sendiri” tapi ritual itu mang ga bisa ilang, kadang lucu sendiri kalo gua ngingetnya huahuahua…

Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>