It’s a rat! It’s a cat! No, it’s a falling attic!!
Rumah saya ramai karena lagi banyak saudara dari Makassar. Salah satunya adalah kak Nani, kakak sepupu yang kena kanker dan sakit tulang, mau berobat alternatif di Jakarta. Biasanya, saya yang emang punya darah kalong ini tidur di atas jam 2 pagi dan bangun ketika mushola udah mau ceksound untuk adzan Dzuhur. Itu biasanya kalo di kosan.. Kalo di rumah, teriakan histeris Mama yang bangunin adek saya untuk ke sekolah, jerit kesakitan dari Kak Nani di kursi roda dan erangan bocah2 sodara dari Semarang membuat saya selalu bangun pagi, tapi tidur tetep jam segitu.
Minggu pagi kemarin, saya terbangun dengan kepala yang sangat pening, mungkin karena kurang tidur. Setelah baca2 di teras, sarapan dan minum teh, saya kembali tidur ke kamar tidur Mama. Mata udah kriyep2, kepala pusing sangat, eh ada suara “krek.. krek..” di atep. Biasanya mah kucing atawa tikus ya, jadi saya kagak suudzon. Suara krek itu makin kenceng dan tanpa sadar saya udah bangun dari tidur. I get up, not only wake up. Dan sontak “Krek.. Krek.. Brash!!” Langit2 di atas saya runtuh, saya teriak dan melihat kaki2 yang korengan menjuntai dari atas. Anjrit, sedetik saya telat bangun, udah luka2 ini aset masa depan!! (baca: muka saya yg manis manja). Dammit, ternyata si Linda, pembantu yang dari Makassar dengan gemblungnya jemur baju di atep. Secara doi agak2 semok ya bo, jadi itu atep gak kuku menahan emosi batin untuk diinjek2.. Hohoho.

Ket: Sedetik sebelum runtuh masih tidur pas di sini..
Mei
“Hei! Mau kemana?”
Dia menjawab…tapi aku tak bisa mendengar suara yang keluar dari mulutnya dengan jelas. Suara kendaraaan yang lalu lalang di jalan ini terlalu bising.
“Hah? Kemana?”
“Flowers!”
Oh. Flowers adalah nama majalah tempat ia bekerja sebagai editor. Dia pernah menceritakan padaku tentang pekerjaan barunya itu.
“Pindah sini?!”
Aku menunjuk tempat duduk di sebelahku yang kosng.
Dia menggelengkan kepalanya. Lalu dia mengisyaratkan agar aku saja yang pindah ke tempat duduk di sebelahnya.
Aku diam.
“Lo aja yang pindah. Sini!”
Aku pun bangkit dari dudukku, lalu pindah ke tempat duduk di sebelahnya.
“Kemana?”
Suaranya kini terdengar jelas.
“Kampus”
Dia tertawa kecil, tapi masih terdengar renyah. Aku tahu kenapa Ia tertawa. Aku sudah sangat memaklumi itu.
Holy Cathedral
Kuliah radio semester kemaren saya dan teman sekelompok, yaitu Abim dan Andin bikin tugas yang mengangkat tema “Toleransi antar umat beragama Katedral-Istiqlal”. Iya, Gereja dan Masjid ini berhadapan namun cingcay2 aja tuh, paling ada bom2 kecil yang imut setaun sekali di depan Gereja, begitu pula sebaliknya.. Namun yang saya ceritain ttg Katedralnya aja yak, soalnya pas di Mesjid gak poto2.. Begitu masuk ke dalam gereja ini untuk pertama kali, bau kayu dan lilin kenceng bener. Wawancarain si Ibu Lisa yang ceritain ttg asal usul gereja, foto2, liat2 museumnya, sampe sempet ngeliat kawinan yang lagi berlangsung di dalem! Seru kan.. Ini foto2 Katedralnya, udah lama sih kemarinya, sekitar bulan Oktober 2007, just enjoy!

The Holy Cathedral tampak depan

Abim & Andin yang sempet naik ampe atas menara. Satu Jakarta keliatan dari sini lho!
Welcome to Titiw.com
Welcome to titiw.com. A complete reading menu, from appetizer to dessert.












Recent Comments